
"Tenangkan dirimu, ma. Jangan mengambil langkah yang membuat kita celaka sendiri, mimpi itu hanya bunga tidur. Lita pasti tidak akan kenapa-napa." Ucap sang suami menenangkan istrinya.
Yaa... mama Lita tengah bermimpi jika Lita sedang di habisi orang-orang yang tidak di kenal. Tapi, memang mimpinya tidak sepenuhnya salah, karena memang Lita
tengah di habisi oleh Sean karena perbuatannya. Entah apa jadinya jika mama Lita tahu kalau Lita sudah tidak bernyawa lagi, mungkin dia juga akan mengambil langkah untuk balas dendam.
Kembali ke sisi Sean.
"Kau urus dia, berikan dagingnya pada peliharaan ku yang ada di sini." Perintah Sean lalu pergi meninggalkan ruang bawah tanah.
Sebenarnya, Sean belum puas menyiksa dan menghukum Lita. Tapi, dia juga sudah sangat muak melihat Lita yang ada di hadapannya, sehingga dirinya langsung saja menghabisi nyawa Lita.
Sean melangkahkan kakinya untuk kembali menemui sang buah hati agar tidak terlalu lama menunggunya.
Sean celingukan mencari karena tidak ada di ruang berkumpul di sana, biasanya jika dia di sana berdiam diri di tempat berkumpul.
Hingga pada akhirnya, Sean mendengar suara mainan piano dari ruangannya.
"Siapa yang memainkan pianoku?" tanyanya. Ia pun segera datang ke sana dan membuka pintu ruang tersebut. Sean melihat putrinya sedang asik memainkan piano di bantu dengan Riko.
Sean tersenyum melihatnya, "ehemmm." Sean berdehem karena melihat sang putri sangat asyik hingga dirinya tidak melihat papinya datang.
"Hai papii." Sapa Jennifer melihat kehadiran sang papi di sana. Riko menurunkan Jennifer di sana.
"Apa Jenni suka main piano?" tanya Sean mendekat ke arah putrinya.
"Jen sangat suka papi, apa boleh Jenni minta di belikan piano?" jawabnya antusias pada sang papi.
"Nanti papi belikan untuk Jenni. Sekarang kita kembali ke rumah sakit dulu, oke." Ajaknya kembali. Jenni mengangguk dengan ajakan sang papi.
"Dahh... uncle. Sampai jumpa." Jennifer melambaikan tangan pada Riko. Riko tersenyum gemas dengan nona kecilnya.
Anak dan papi itu pun melangkahkan kakinya keluar kembali ke mobil untuk menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Ana.
Dua hari sudah berlalu, tapi Ana belum menunjukkan tanda-tanda sadar. la masih terbaring di atas brankas dengan wajahnya masih terlihat pucat.
Sean memilih untuk tidak ke kantor karena menemani Ana dan menemani dua anak-anaknya yang memang sedang bertumbuh aktif. Baru dua hari tapi dirinya sudah kewalahan menjaga kedua anaknya.
Helaan nafasnya terdengar karena ia lelah, ternyata mengurus dua anak sekaligus tidaklah mudah baginya.
"Huuft.... Ternyata sangat tidak mengurus mereka berdua." Keluhnya.
__ADS_1
la berfikir bagaimana Ana menjaga kedua anaknya selama ini saat dirinya tidak di rumah, pasti sangat melelahkan. Apa lagi anaknya yang satu super jahil tidak ada obat.
"Kau hebat, Ana. Kau bisa mengurus mereka berdua sekaligus, di tambah lagi dengan adanya Diva." Gumam Sean.
Dirinya memang dulu merawat Diva dari kecil, tapi itu hanya satu anak. Dan sekarang, dia harus menghadapi dua anak sekaligus. Dia kewalahan, apalagi anak-anaknya sangat aktif.
"Juliiaan... ayo sini." Panggil Sean pada putranya. Pagi itu Sean sedang berada di mension bersama kedua anaknya, Sean mengajak mereka untuk mandi. Sean dan maminya bergantian untuk menjaga Ana di rumah sakit.
Julian yang tidak mau dengan panggilan sang papi itu pun berlari hanya menggunakan celana pendeknya, ia berlari ke sana ke mari tanpa menggunakan baju.
Jennifer yang memang penurut pun tidak perlu berlama-lama untuk bersiap.
"Kalau Julian tidak mau, nanti papi sama kakak tinggal Julian di mension sendiri. Mau?" Sean mencoba membujuk Julian yang berlari ke sana ke mari.
"Julian masih asik bermain, papi. Ayo kejar aku papi." Ujar Julian yang masih berlari.
Sean pun melangkahkan kakinya berlari mengejar Julian, ia berlari sangat cepat karena tahu jika sang papi mengejarnya.
Tawanya terdengar renyah, membuat Sean lupa akan dirinya yang sedang kalut memikirkan istrinya.
"Naah... kena juga akhirnya." Ucap Sean saat berhasil menangkap tubuh kecil putranya.
"Tidak, papi tidak curang." Sean menggelengkan kepalanya.
"Harusnya papi jalan saja, jangan ikut berlari." Protes Julian pada sang papi karena berlari kecil mengejar dirinya.
"Cepatlah, Jul. Kita mengunjungi mami." Jennifer sedikit kesal dengan sang adik.
"Celewet." Bantah Julian pada sang kakak. Jennifer hanya memandang sang adik yang di pakaikan baju oleh papinya.
Rumah sakit....
Papi dan kedua anaknya itu sudah tida di rumah sakit saat ini, mereka langsung saja menuju ke ruangan Ana.
Sean datang ke sana dengan muka lesu karena memikirkan Ana yang belum juga terbangun.
"Hai grandma, hai grandpa." Sapa twin J pada papi dan mami Sean.
"Hai cucu, grandma. Apa kalian sudah makan?" tanya mami Sean dengan penuh perhatian.
"Apa Ana belum bangun, mi?" tanya Sean.
__ADS_1
"Belum, dia masih terpejam." Jawab mami Sean.
"Kau makanlah dulu, son. Kau pasti belum makan." Perintah papi Sean.
"Sean tidak lapar, pi." Jawabnya malas.
"Sudah sana, kau pergi makan dulu. Dari kemarin dirimu tidak makan sama sekali." Sahut sang mami.
"Sean malas, mi." jawabnya dengan rasa malas.
"Jangan membantah, Sean. Dirimu juga harus makan," sambung sang mami.
"Iyaa...iyaa..." ucap Sean pasrah. Sedikit demi sedikit dirinya akhirnya memasukkan makanan ke dalam mulutnya, meskipun dia sangat malas untuk makan.
Selesai makan, Sean duduk di samping brankar milik Ana. la menggenggam erat tangan Ana dan mengelusnya secara lembut.
"Kenapa kau betah sekali memejamkan matamu, sayang. Cepat bukalah matamu, aku merindukanmu." Lirih Sean melihat keadaan Ana yang belum sadarkan diri.
"Mami... kami semua ada di sini. Mami cepat bangun ya, Jen janji tidak nakal lagi." Ucap Jennifer dengan sedikit sedih.
Dirinya juga merindukan sang mami yang biasanya menemani mereka di kala bermain.
Ana mulai mengedutkan kedua matanya dengan terdengar suara lenguhan kecil darinya.
"Eeengh.."
Sean seketika langsung saja melihat ke arah Ana. “ Ana, kau sudah bangun?" ucap Sean dengan antusiasnya. la segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi dari Ana.
Tidak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa kondisi Ana.
"Kondisi nyonya sudah membaik, tuan. Tinggal menunggu lukanya kering." Ujar dokter dengan tersenyum.
"Biarkan nyonya banyak beristirahat, kami permisi dulu." Pamitnya lalu meninggalkan ruang tersebut. Sean hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Apa sakit?" tanya Sean lalu mencium punggung tangan Ana.
"Berapa lama aku di sini?" bukannya menjawab Ana justru bertanya kembali pada Sean.
"Dua hari. Jangan fikirkan apapun dulu, biarkan dirimu pulih terlebih dulu." Ucap Sean dengan penuh perhatian.
"Bagaimana dengan twin?" tanyanya kembali.
__ADS_1