
Sepertinya dia sangat sibuk di sana, dia memintaku untuk mengajakmu berbelanja di luar. Dia sangat pengertian sekali, hidupmu pasti tentram bersamanya." Ucap Diva.
"Jennifer hanya menyahutinya dengan "Hmmm..." deheman.
"Kau tidak ingin bertemu dengannya?" Sambung Diva.
"Nanti kalau sudah waktunya juga akan bertemu sendiri," jawab Jennifer dengan santainya.
"Ck, tunangan macam apa kau ini? Cuek sekali," Diva berdecak mendengar jawaban Jennifer yang terlihat biasa saja.
"Lalu, aku harus bagaimana? Apa aku harus bilang' sayaaaang, kemarilah aku rindu ingin bertemu denganmu '," wajah Jennifer terlihat sangat konyol saat berbicara seperti itu. Diva yang melihatnya seketika tertawa dengan kencangnya, ia lupa di mana mereka berada saat ini.
"Hahahaha.... Kau lucu sekali." Tawanya dengan renyah.
"Kekanak-kanakan sekali seperti itu," Jennifer memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Aku bukan anak kecil lagi yang harus bersikap seperti itu, nanti kalau sudah waktunya juga bertemu sendiri. Kalau dia macam-macam di belakang ya siap-siap saja." Ujar Jennifer menikmati makanan miliknya.
"Memangnya mau kau apakan dia kalau macam-macam di belakangmu?" Diva mencoba bertanya apa yang akan di lakukan oleh Jennifer jika Gerald bermain-main di belakangnya.
"Tentu saja aku akan menghukum dirinya seberat-beratnya, bahkan mungkin penyesalannya nanti tidak akan cukup." Jawab Jennifer tegas.
"Apa kau tidak takut dengan Daddy-nya? Bukankah Daddy-nya juga mafia besar seperti Papimu?" Diva asyik mengunyah makanan yang ada di depannya.
"Aku tidak peduli seberapa besar mafia keluarganya, penghianatan tetaplah penghianatan. Bukankah seperti itu hukum di dunia mafia," Jennifer menjawabnya dengan santai, tapi setiap kata-katanya sangat dalam.
"Good girls, kau memang pintar." Puji Diva Jennifer dengan memberikan dua jempol padanya.
"Ini baru adikku, aku mendukung setiap apa yang kau lakukan. Wajah boleh terlihat polos dan tenang, tapi pintar itu harus." Sambung Diva. Jennifer hanya menganggukkan kepalanya, mereka kembali menikmati makanan yang ia beli.
__ADS_1
"Apa yang akan kita lakukan tuan? Salah satu dari mereka sudah si tangan kita, sepertinya lebih baik kita memancing mereka semua untuk datang ke sini." Usul Riko pada Sean. Sean yang baru saja berada di perusahaan ia kembali lagi ke markas setelah mendapat panggilan telfon dari Riko.
"Lebih cepat lebih baik, sebelum mereka menjadikan Nyonya sebagai incaran." Sambung Riko. Sean nampak berfikir kali ini.
"Eemm.. Aku sudah punya rencana. Kita akan adakan pesta tiga hari lagi," ujar Sean sedikit menggantung.
"Pesta? Untuk apa, Tuan? Apa itu tidak terlalu mendadak?" Riko nampak bingung, mungkin dia sedang oleng saat ini.
"Aku akan mengadakan pesta untuk memancing mereka segera datang ke sini, aku sudah tidak bisa berlama-lama lagi." Jawab Sean.
"Kalau kita mengadakan pesta, bagaimana dengan semua tamu undangan, Tuan? Mereka pasti akan terkena imbas juga nanti."
"Tidak akan ada tamu undangan dalam pesta ini, tamu undangan akan berisi semua anggota kita di sana." Ucapan Sean bisa di tangkap cepat kali ini dengan Riko.
"Kita persiapkan semuanya dari sekarang, cari tempat yang tidak terlalu ramai untuk kita gunakan nanti. Jika bisa kau cari tempat yang jauh dari sini dan tidak ada siapapun di sana. Dan satu lagi, apapun caranya pesta ini bisa sampai di telinga mereka." Sean dalam mode serius kali ini. Sepertinya, Sean sudah memikirkan rencana ini.
"Emmm.... Bagaimana jika gunakan orang tadi untuk menyebarkan acara kita nanti?" Riko mencoba memberikan masukan.
"Hubungi Gerald untuk ini, ajak dia. Sepertinya, anak itu selalu melalukan hal-hal yang tidak terduga di luar sana." Pinta Sean.
Peperangan akan di mulai, Sean yang sudah menunggu mereka itu pun akhirnya tidak sabara. Ia ingin melakukannya dengan cepat, Sean memerintahkan semua anak buahnya untuk bersiap dan melakukan apa yang ia perintah saat ini. Mereka semua segera melaksanakan apa yang di katakan oleh Sean.
Sedangkan Riko, dia sedang menuju ruang bawah tanah untuk menemui orang yang sempat di bawa Gerald ke sana.
"Buka pintunya," ucapnya pada penjag di sana. Tidak perlu berlama-lama salah satu dari mereka membukakan pintu untuk Riko.
"Lepaskan aku dari sini," berontak orang tersebut meminta untuk di lepaskan.
"Apa kau benar-benar ingin terlepas dari sini?" Riko mencoba memancing orang itu.
__ADS_1
"Lepaskan aku, aku berjanji akan menuruti semua permintaan kalian. Asal aku masih bisa hidup," orang itu mencoba membujuk Riko agar dirinya terlepas dari sana.
"Apa kau yakin?" Riko tersenyum morong dengan satu alisnya terangkat sebelah.
"Aku yakin, aku akan menuruti kalian." Ucap orang itu kembali dengan menggebu-nggebu.
"Baiklah, tapi aku ada syarat untukmu." Jawab Riko tersenyum misterius di sana.
"Apa syaratnya?"
"Kau awasi kelompok orang itu, awasi setiap pergerakannya padaku." Riko mengatakan syarat yang ia berikan.
"Apa kau tidak mau?" Riko tersenyum remeh melihat orang itu nampak kebingungan.
"Kalau kau tidak mau yaa.... Tidak apa, kau bisa membusuk di sini selamanya. Aku tidak rugi jika kau membusuk di sini," Riko memancing kembali orang itu.
"Jika kau menerima syarat yang aku berikan, kau akan aku bebaskan hari ini." Ujarnya mengiming-iming orang tadi. Orang itu pun berfikir keras di sana, sepertinya dia bingung.
"Bagaimana? Kau tidak mau? Kalau aku jadi dirimu aku akan melaksanakan tugas itu agar aku bisa keluar dari ruang penyiksaan itu." Bujukan Riko masih berlanjut untuk meyakinkan orang itu.
"Terserah kau jika tidak mau, nikmati sisa hidupmu di sini." Riko tersenyum miring lalu beranjak pergi dari sana.
"Tunggu!! Aku akan menuruti apa yang kalian minta," teriaknya saat melihat Riko yang ingin pergi dari sana. Riko tersenyum penuh kemenangan mendengarnya, Riko berbalik menatap orang tersebut.
"Kau yakin?"
"Aku akan menuruti permintaan kalian asal kalian melepaskanku dan tidak menghabisi nyawaku." Ujarnya dengan yakin. Padahal dia hanya di manfaatkan oleh Sean, mana mungkin Sean akan melepaskan orang yang sudah menempati ruang bawah tanahnya.
"Baiklah, aku akan melepaskanmu hari ini, aku juga tidak akan menghabisimu saat ini." Jawab Riko.
__ADS_1
"Lepaskan dia," Perintah Riko pada anak buah yang berjaga di sana.
"Kau berada di pihakku sekarang, awasi setiap yang mereka lakukan. Jika kau berani bermain-main, maka kau dan anak perempuanmu akan lenyap." Ujar Riko.