Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 111


__ADS_3

Untung saja putri kecil Rika tidak menangis karena Julian sudah mengibuli dirinya. Dia hanya menghentakkan kedua tangannya.


"Ana....kenapa putramu itu sedari dulu tidak pernah berubah?" keluh Rika yang sedari dulu menyaksikan kejahilan Julian.


"Dia memang terlihat sangat aktif." Jawab Ana yang juga terheran dengan putranya.


Jennifer yang melihat si kecil itu pun mendekat dan menyapanya. Tidak seperti Julian, dirinya bersikap cuek bebek dengan apa yang baru saja ia lakukan. Dirinya memilih untuk menikmati kembali ice cream miliknya.


"Mami, biscuit." Pinta Julian pada Ana.


Ana memberikan biscuit yang biasa di makan anak-anaknya. Julian kembali mendekat pada si kecil.


"Apa kau mau?" tawarnya.


Si kecil yang ada di pangkuan Rika itu pun kembali membuka mulutnya lebar-lebar dan mencoba meraih biscuit yang ada di depan mulutnya.


"Tidak boleh, nanti kau kesedak." Namun, lagi-lagi Julian mengambilnya kembali dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri. Putri dari Rika itu pun akhirnya menangis karena sudah dua kali dia di kerjain oleh Julian. Ternyata bukan kakak-kakaknya saja yang ia jahili, anak orang pun dia juga jahil.


Rika mencoba menenangkan putrinya yang menangis akibat Julian. Julian yang menjadi tersangka itu pun tidak merasa bersalah sama sekali. Dia menikmati cemilannya dan tidak menghiraukan ocehan Rika di sana. Jennifer ikut mencoba menenangkan si kecil dengan memberikan mainannya.


Untung saja si kecil itu tidak berlama-lama menangis, dia terdiam saat Jennifer memberikan mainannya.


"Maafkan Julian, ya." Ucap Ana merasa tidak enak pada Rika karena ulah putranya.


"Tidak apa, Ana. Anak-anak seperti mereka memang lagi aktif-aktifnya." Ucap Rika yang memang memahami bagaimana sikap anak-anak..


"Jika ada Clare, mungkin makin rame di sini." Ucap Ana.


"Pasti itu, tapi, mungkin Julian akan membuatnya menangis seperti apa yang dia lakukan pada putriku." Ucap Rika, Ana nyengir kuda mendengar perkataan Rika.


"Auntyy....." teriaknya yang baru pulang dari sekolah. Suaranya yang cempreng memenuhi mension. Siapa lagi pelakunya jika bukan Diva. Si kecil yang ada di pangkuan Rika pun sampai terjingkat kaget mendengar suara Diva yang begitu kerasnya.


"Astaga..." pekik Rika.

__ADS_1


"Kalau datang jangan teriak-teriak, Diva. Si kecil sampai terkejut."


"Kayak kak Rika gak teriak aja kalau datang." Skak mat dari Diva.


"Beda lagi itu." Ujar Rika tidak mau kalah.


"Beda apanya? Pasti tadi tida di sini juga teriak-teriak ." Tebak Diva yang memang ada benarnya.


"Sepertinya, kau hafal sekali." Diva yang mendengar perkataan Rika itu pun memutar malah kedua bDiva matanya.


Diva memilih untuk pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengganti seragamnya dengan baju santainya. tidak lama kemudian, Diva datang kembali dan ikut bergabung bermain di sana.


Lagi-lagi ulah Julian yang jahil itu membuat putri Rika menangis tidak henti-hentinya. Ana hanya bisa meringis melihat putranya yang begitu jahil pada semua orang. Untung saja Rika tidak mengeluarkan tanduknya karena Julian.


Malam harinya...


Lita masih berkeliaran di luaran sana karena tidak menemukan tempat untuknya tinggal. Bagaimana bisa dirinya bisa tinggal, uang yang ia bawah saja hanya tinggal beberapa lembar. Itupun, hanya cukup untuk dirinya makan.


"Aaaakh.... Harus kemana lagi aku, tinggal di mana aku." Ujarnya mengacak-acak rambutnya lagi. Ia di buat frustasi kali ini.


"liiuu... kotor sekali tempat ini." Ucapnya melihat bagian dalam rumah tersebut. Ia mengibas-ibaskan tangannya di depan hidung.


la rasanya enggan untuk berada di sana, rumah yang sudah usang berdebu karena sudah lama kosong. Barang yang ada di sana pun semua sudah tidak pada tempatnya.


"Haahh... terpaksa aku akan tinggal di sini dari pada aku tertangkap oleh suami Ana kembali, aku akan bersembunyi di sini sebelum aku membalas Ana." Ucapnya lagi, meskipun dirinya sangat risih di sana, namun bagaimana lagi. Teman-temannya pun tidak ada yang mau membantunya, dia juga tidak punya siapa-siapa lagi di kota itu.


"Tunggu pembalasanku, Ana. Kau harus membayar semuanya." Ujarnya lagi pada dirinya sendiri.


Mau tidak mau, dirinya terpaksa merapikan sedikit barang-barang yang tersisa di sana. Dari pada dirinya terlunta-lunta di jalan, lebih baik ia tinggal di rumah yang sudah tidak berpenghuni itu. Lita menyingkirkan segala rasa takutnya.


Sedangkan di mension Sean....


Sean sedang berkutat di ruang kerjanya kali ini. Entah apa yang ia kerjakan, biasanya dirinya akan berkumpul dengan anak-anak dan keponakannya.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Sean melalui sambungan telfonnya. la sedang menghubungi anak buahnya yang ada di luar.


"Kami menemukannya, tuan. Dia sedang bersembunyi di rumah kosong yang tidak berpenghuni lagi." Jawab anak buahnya di ujung sana.


Sean mendengarkan setiap penjelasan anak buahnya yang ia tugaskan di luaran sana.


"Kau awasi dirinya, jangan sampai lepas." Perintah Sean dengan tegas. Ia memutuskan sambungan telefonnya.


"Apa kau mau bermain-main denganku lagi? Jangan sampai kau dan keluargamu aku kirim ke alam lain setelah ini." Sean bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Kau memang cukup berani, Lita." Sambung Sean.


Sean memang sudah mengetahui jika Lita kembali ke kota lagi, tapi ia tidak memberitahukan hal ini pada Ana. Sean tidak mau jika Ana akan bertemu dengan kakak sepupunya kembali Jika Ana tahu, mungkin dirinya juga akan meminta Sean untuk di pertemukan dengan sepupunya itu.


"Jika kau berani macam-macam, maka aku tidak akan memberimu ampun kali ini." Ujar Sean dengan sorot matanya yang tajam.


Di sisi jauh dari kota...


Kedua orang tuanya terus saja cemas menghawatirkan putrinya yang pergi meninggalkan rumahnya. Sudah dua hari ia tidak mengetahui bagaimana keadaan putrinya.


"Pa, bagaimana dengan Lita ya, mama sangat khawatir dengannya. Mama takut dia kenapa-napa nanti." Cemasnya khawatir.


"Kita doakan saja dia tidak kenapa-napa." Jawab suaminya.


"Ayo kita susul dia saja, pa. Mama tidak mau jika Lita nanti di tangkap oleh suami Ana." Sambungnya.


"Jangan bodoh, ma. Sebaiknya kita berdiam diri dulu di sini, Lita pasti akan kembali nanti." Ujarnya menenangkan sang istri yang terus-terusan khawatir dengan sang putri.


Bagaimanapun Lita, kedua orang tuanya pasti tetap akan mengkhawatirkan dirinya. Walaupun dirinya sangat keras kepala dan susah di atur.


"Haii papiii..." sapa Julian melihat sang papi datang untuk bergabung dengan mereka semua.


"Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Ana melihat sang suami datang.

__ADS_1


"Sudah." Jawab Sean singkat. Ia bersandar di pundak Ana saat ini.


__ADS_2