Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 117


__ADS_3

Jennifer sangat menikmati permainan pianonya dengan Riko di sana. Dia belajar mulai dari hal dasar terlebih dahulu. Riko ikut merasa senang dengan keaktifan dari Jennifer.


"Kau sangat serius sekali, nona kecil." Ujarnya.


"Aku menyukainya, uncle." Jawabnya.


"Kenapa tidak meminta pada papimu, nona kecil. Pasti nanti akan di berikan." Ujar Riko membuat Jennifer berfikir-fikir.


"Nanti Jen minta sama papi, deh." Ucapnya setelah berfikir-fikir.


"Nanti kalau besar, Jen mau jadi pemain piano." Sambungnya dengan senyum mereka.


"Hmm... itu sangat bagus sekali, nona kecil. Aku akan mendukungmu, sekarang latihanlah supaya besar nanti menjadi pemain piano yang handal." Ucap Riko memberikan semangat pada Jennifer. Ia mengangguk senang karena ada yang mendukungnya.


Jennifer melanjutkan permainan pianonya, Riko dengan telatennya mengajari Jennifer. Meskipun salah berulang-ulang, tapi Jennifer tetap selalu mencoba. Dia tidak mau berhenti memainkannya, karena memang menurutnya itu sangat menyenangkan bermain piano.


Sean tidak ada habisnya membuat Lita berteriak kesakitan di ruang bawah tanah.


Kali ini Sean melepaskan ikat pinggangnya dan mencambukkan pada Lita.


Ctasss...


Ctass...


Sean melakukannya berulang kali, ia tidak memberi ampun pada Lita. Lita sedari tadi berteriak dengan apa yang di lakukan oleh Sean.


Tubuhnya mulai berdarah karena cambukan dari Sean begitu kuat.


"Kau memang benar-benar iblis." Bentak Lita pada Sean.


"Yaahh... aku memang iblis. Kau sendiri yang sudah membuat iblis ini bangun." Ujar Sean.


Ctaass...


Sean kembali mencambuk Lita.


"Aaakh..." teriaknya lagi.


"Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja, hah ?" dalam keadaan lemah pun. Lita masih bisa berteriak pada Sean.


"Hahaha.... Aku akan mengabulkan perkataanmu itu.


Tapi, tidak semudah itu. Kau harus membayar berkali-kali lipat dari apa yang sudah kau lakukan pada istriku." Kali ini wajah Sean benar-benar seperti iblis yang ingin membantai siapa saja.


Ctass...

__ADS_1


Sean mencambuk Lita hingga dirinya pingsan tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang lemah menahan sakit akibat dari cambukan Sean, belum lagi dengan siksaannya tadi yang mengeluarkan banyak darah.


"Heh, baru seperti saja kau sudah pingsan." Ucap Sean dengan sinis.


"Lepaskan ikatannya." Perintah Sean pada anak buahnya. Mereka yang ada di sana melepas rantai yang mengikat kaki dan tangan Lita.


Mereka membaringkan tubuh Lita begitu saja di sana.


"Masukkan air seperti tadi." Perintah Sean kembali pada anak-anak buahnya. Mereka memasukkan air ke hidung dan mulut Lita seperti tadi, agar dirinya terbangun.


Uhhuukk..


Uhuukk...


Lita kembali terbangun dengan keadaan yang terlihat lemah.


"Apa kau sangat senang menyiksaku?" sengal Lita dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Hahaha.... Aku tidak menyiksamu. Aku hanya ingin bermain-main denganmu." Jawab Sean dengan sangat enteng. Bisa-bisanya menyiksa Lita ia katakana hanya bermain-main. Mungkin itulah mainan Sean selama ini, menyiksa dan menghabisi musuh menjadi mainannya.


"Jika Ana tahu orang sepertimu adalah monster, mungkin dia akan meminta pisah darimu." Ucap Lita dengan nada suara tinggi.


Sean mendekat dan mencekik leher Lita, hingga tubuhnya terangkat. "Sebaiknya tutup mulutmu jika kau tidak tau apa-apa. Apa kau tau, Ana tidak seperti apa yang kau fikirkan. Dia tidak mempunyai pemikiran dangkal sepertimu." Geram Sean. Tangan Lita memukul-mukul tangan Sean agar ia di lepaskan. Namun, sayangnya tenaganya kalah.


Sean melepaskan cekikannya dari Lita dan membiarkan tubuh Lita terjatuh, Lita tebatuk-batuk dan nafasnya terengah-engah setelah Sean melepaskan tangannya.


Sean meraih tangan kanan Lita dengan kasar. "Apa tangan ini yang kau gunakan?" wajahnya sudah tidak bisa di jelaskan lagi.


Krataak...


Bunyi tulang tangan Lita. Lita menjerit dengan kencang saat Sean mematahkan tangan kanannya. Anak buah Sean sampai ngilu mendengarnya.


Mereka membayangkan bagaimana sakitnya Lita yang di patahkan tangannya oleh Sean. Apalagi Lita yang notabe-nya seorang perempuan, pasti sakitnya teramat sangat yang ia rasakan.


"Hiks... hikss.... Apa kau tega membuat sepupumu seperti ini, hah?" bentaknya dengan air mata yang terus bercucuran.


"Apa yang kau ucapkan tadi? Coba ulangi sekali lagi." Ucap Sean dengan remeh.


"Sepupu macam apa kau yang sudah mencelakai adik sepupunya sendiri?" tatapan Sean kembali menajam pada Lita.


Lita hanya bisa meraung-raung di sana. Sekujur tubuhnya rasanya remuk, tidak sanggup lagi menahan sakit yang ia terima.


"Bawakan aku air perasan jeruk dan garam kemari." Pintahnya pada anak buahnya.


"Bunuh saja aku, kenapa kau menyiksaku, hah?" bentaknya lagi karena sudah tidak sanggup dengan sakit di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Hahahaha.... Aku sudah katakana padamu. Aku akan mengabulkan perkataanmu, tapi tidak dengan semudah itu. Kau harus membayar mahal apa yang telah kau lakukan pada istriku." Jawab Sean dengan lantang.


"Dasar kau ibliss berbentuk manusia." Lita tidak ada habis-habisnya meneriaki Sean sedari tadi.


"Jangan teriak iblis di depanku. Kau bahkan iblis yang tidak punya hati yang menyerupai wanita." Jawab Sean.


Tidak lama kemudian, anak buah Sean datang dan membawa air perasan jeruk dan juga garam.


"Siram dia." Perintah Sean. Para anak buahnya menyiramkan air itu pada Lita.


Byurr...


"Akkhh... perih perih periih..." rintihnya menahan semua lukanya yang terkena air jeruk dan garam. Rasanya ia semakin tidak sanggup.


Sean menyambar belati dari salah satu anak buahnya di sana.


Dan sreett....


Sean menggores pipi mulus Lita.


Sreett...


Sean kembali menggores di pipi yang satunya. Darah bercucuran dari kedua pipi Lita.


"Cepat bunuh aku, dari pada kau menyiksaku seperti ini." Lita rasanya ingin segera untuk mati dari pada menanggung sakit karena siksaan Sean terus-terusan.


"Aaahh... baiklah jika itu permintaanmu. Aku akan mengabulkannya, aku sudah muak melihat wajahmu." Ujar Sean.


la mengambil pistol miliknya dan.


Door...


Dorr...


Dorr...


Sean menembak sebanyak tiga kali pada Lita. Yang pertama tepat mengenai dahi Lita, yang kedua dan ketiga tepat di jantungnya. Lita jatuh ambruk dengan bersimbah banyak darah.


Sean menatap tubuh yang sudah tidak bernyawa itu dengan tatapan tajamnya. Sean tidak peduli siapa orang itu yang sudah menyakiti kesayangannya, sekalipun itu adalah sepupu dari sang istri sendiri. Sean tidak segan-segan untuk menghabisinya.


Sedangkan di sisi seberang...


"Lita..." teriaknya terbangun dari tidurnya. Sepertinya, dia mengalami mimpi buruk saat itu.


"Ada apa, ma?" tanya sang suami melihat istrinya terbangun dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


"Pa, sebaiknya kita menyusul Lita. Mama bermimpi kalau Lita tengah di habisi oleh orang-orang jahat di sana." Ucapnya merasa takut.


__ADS_2