
Julian yang baru saja sampai melihat mereka berdua merasa tidak suka, di hatinya merasa ada yang mengganjal. Ia pun segera mendekat ke arah keduanya dengan cepat. Tanpa berkata-kata Julian langsung saja menarik tangan Fany.
"Eeh... ehh...." Fany menoleh ke arah Richard saat Julian menariknya pergi.
." Berontak Fany hingga tangannya terlepas "Lepas." dari Julian.
"Apa kau gila? Kenapa kau menarikku begitu saja? Apa kau tidak lihat jika aku sedang berbicara dengan temanku?" sengalnya pada Julian. Julian pun melihat ke arah Richard dengan tatapan sedikit tengil.
"Masih juga tampanan aku. Kenapa kau mau berteman dengannya?" ucapnya.
"Karena dia lebih baik darimu. Tidak seperti dirimu yang petakilan dan suka jahil dengan orang-orang!" sengal Fany yang membuat Richard menunjukkan senyum tipisnya.
"Orang ini tidak memujimu. Jangan terlalu PD." Ujar Julian dengan gaya tengilnya. Senyum Richard pun seketika langsung luntur mendengar ucapan Julian.
"Jangan dengarkan dia, kau memang lebih lebih lebih baik dari pada orang ini," ucap Fany pada Richard.
"Sepertinya matamu butuh di periksa," ucap Julian padanya.
"Kau...." Belum juga Fany menyelesaikan ucapannya, Julian sudah menariknya kembali dan membawa pergi untuk menjauh dari Richard. Richard yang melihat hal itu terdiam memandang kepergian Julian membawa Fany, ia mengepalkan tangannya dan menunjukkan tatapan benci karena Julian sudah mengganggunya untuk mendekati Fany.
"Lepaskan tanganmu!" teriak Fany pada Julian. Julian pun akhirnya melepaskan Fany karena mereka sudah berada jauh dari pandangan Richard. Wajah Fany terlihat sangat tidak bersahabat saat ini.
Bugh... bugh...
Fany memukuli Julian menggunakan tas miliknya. Julian menghalau pukulan demi pukulan itu dengan tangannya. "Kenapa kau suka sekali menggangguku, hah! Banyak orang di sini kenapa kau tidak mengganggu yang lainnya saja!"
"Eng... eng... kau jauhi orang itu. Aku tidak suka kau dekat dengannya." Ujarnya gugup dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
"Hah! Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kau tidak suka aku dekat orang lain?" sinis Fany karena baru kali ini Julian mengatakan jika tidak suka dirinya dekat dengan orang lain.
"Kau itu tidak kenal seluk beluk orang itu. Bagaimana jika orang itu berbuat apa-apa denganmu?"
elaknya pada Fany. Dia juga tidak tahu kenapa sangat tidak suka jika Fany dengan Richard.
"Memangnya kau tahu seluk beluk orang itu?" Fany berkacak pinggang. Julian pun menggelengkan kepalanya cepat karena dirinya juga tidak tahu seluk beluk Richard.
Fany memutar kedua bola matanya malas, ia sudah menduga akan hal itu. Yang di lakukan Julian hanyalah wujud jahilnya, pikir Fany. Karena memang Julian tidak pernah ada habisnya jika mengganggunya.
"Dasar sinting!" Fany pun berlalu pergi dengan perasaan kesal meninggalkan Julian di sana sendiri. Julian memincingkan bibirnya setelah kepergian Fany, ia pun segera pergi dan menuju kelasnya sebelum jam pertama kuliah di laksanakan.
Motor sport mewah itu memasuki halaman kampus, ia memalkirkan dengan rapi di sana. Tidak lama kemudian, ia melepaskan helm yang ia kenakan dan segera turun. Ia menatap sekeliling bangunan megah dari kampus tempat ia melanjutkan study-nya nanti.
Tanpa pikir panjang ia melangkahkan kakinya untuk mencari kelas yang ia tempati. Sebelum ia menuju kelas, orang tersebut sedang mencari seseorang yang ia dambakan. Sejauh matanya memandang, tapi dia tidak menemukan orang yang ia cari.
"Hai, tampan. Apa kau butuh petunjuk? Sepertinya, kau baru masuk di sini?" ucapnya dengan sangat centil. Orang tersebut hanya menatap tajam pada wanita itu.
Wanita tersebut mencoba mendekat dan menggait tangan orang tersebut, belum juga wanita itu menyentuh orang tersebut, tangannya sudah di pelintir kebelakang dengan cepatnya. Wanita itu meringis kesakitan dan banyak pasang mata yang syok melihat hal tersebut. Mereka semua berbisik-bisik dengan apa yang di lakukan pria itu, ada juga yang mengkapokkan wanita itu karena memang dirinya sangat centil dan suka mengganggu yang lainnya.
"Jangan coba-coba untuk berani menyentuhku, Nona!" suara beratnya sangat terdengar jelas.
"Aish...lepaskan tanganmu, ini sangat sakit. Apa kau pengecut? Beraninya hanya dengan perempuan," ledeknya pada pria itu. Bisik-bisik semakin terdengar dengan jelas di sana, bahkan dari sana mulai berkumpul untuk melihat apa yang terjadi.
"Heh, aku bukanlah pengecut seperti apa yang kau katakan. Tapi aku melindungi diriku dari wanita penggoda sepertimu," jawabnya dengan sangat tegas di hadapan banyak orang di sana.
"Apa kalian semua percaya dengan omong kosong pria ini?" ujarnya pada banyak orang di sana agar dia mendapat pembelaan.
__ADS_1
"Jangan mencari pembelaan di hadapan umum, Nona. Cara yang kau lakukan sungguh murahan sekali." Jawabnya dengan tersenyum sinis.
"Lepaskan tanganmu!" teriaknya karena tangannya masih di pelintir kuat oleh pria itu.
Di lain sisi...
"Jen, ada apa di sana? Kenapa ramai sekali?" ujar Thea melihat kerumunan yang terlihat ramai. Ia melihat jika di tengahnya ada satu pasang laki-laki dan perempuan, tapi tidak terlihat jelas di matanya karena tertututp dengan banyak orang.
"Sepertinya tidak penting. Kita ke kelas saja sebelum jam di mulai," tolaknya. Karena memang Jennifer tidak pernah memperdulikan hal yang tidak penting menurutnya.
"Aku penasaran, ayo kita ihat." Thea menarik tangan Jennifer untuk melihat apa yang terjadi. Jennifer hanya bisa pasrah di sana.
Kembali lagi antara pria dan wanita tadi...
"Beraninya kau mengataiku murahan? Apa kau tidak tahu siapa aku!" pekiknya. Pria itu semakin melintir tangan wanita itu tanpa pandang bulu. Wanita itu pun semakin merasakan sakit dan meringis.
"Aku tidak peduli siapa dirimu. Aku akan mematahkan tanganmu jika dengan berani menggodaku ," tegasnya. Ucapannya menunjukkan tidak main-main.
Sesampainya di kerumunan itu, Thea membelalakkan kedua matanya dengan apa yang terjadi. la berpikir kenapa pria bisa seenaknya dengan wanita tanpa melihat siapa pria itu. Bagi Jennifer itu adalah hal yang tidak penting, apa lagi di lingkungan kampus seperti ini.
Jennifer menajamkan pandangannya, ia sepertinya mengenal postur tuur dari pria itu. Dia tidak bisa melihat wajah pria itu karena posisinya ia berada di belakang pria tersebut.
"Jen, postur tubuh pria itu sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana, ya?" Thea juga sepertinya mengenali postur pria tersebut.
"Entahlah," jawabnya singkat.
"Apa yang sudah kau lakukan, Tuan? Apa kau tidak malu jika harus melawan seorang wanita?" ucap Jennifer dengan lantang. Ia berinisiatif untuk membuyarkan kerumunan yang tidak penting itu.
__ADS_1