
Mereka memutuskan untuk kembali pulang sebelum waktu semakin larut. Mereka juga memutuskan untuk menyetujui tawaran Sean mengenai putra putri mereka. Semua akan baik-baik saja, keputusan mereka juga tidak akan salah jika menerima tawaran Sean.
Walaupun cara Sean yang terbilang suka seenaknya sendiri dan sedikit memaksa.
Asap mengebul setelah ia hembuskan ke udara, sesekali dirinya melihat beberapa foto yang ia dapatkan dari bawahannya selama di sana.
"Mereka tampak bahagia sekali," ujarnya dengan memandang sipit pada foto tersebut.
"Apa tidak ada yang lain?" sambungnya bertanya pada bawahannya.
"Kami belum mendapatkannya lagi, Tuan. Kami hanya mendapat foto dari dua anak mudah itu," jawabnya dengan jujur.
"Kalian awasi juga keluarga William lainnya. Aku ingin mengambil celah dari mereka semua," perintahnya lagi.
"Bagaimana kalau kita ketahuan oleh mereka, Tuan?"
"Kalian harus pintar untuk menyamar. Kalian pikir sendiri bagaimana caranya, itu tidak sulit," jawabnya yang seperti tidak mau tahu. Yang dia mau bawahannya harus berhasil, bagaimanapun caranya.
"Aku ingin keluar. Ingat kataku, jangan sampai kalian ketahuan. Kalian harus berhasil."
"Baiklah, Tuan," ujarnya dengan membungkukkan sedikit badannya.
Orang yang ia sebut tuan itu melangkahkan kakinya keluar, ia memutuskan untuk mencari udara segar di malam hari.
Sedangkan di sisi lain, Julian sedang berkeliling menggunakan motor sportnya sendirian. Sedari tadi dia hanya memutari jalan-jalan, ia hanya melihat ke kanan dan ke kiri jalan tanpa ada niatan untuk berhenti. Sepertinya dia sedang gabut, kalau tidak kenapa juga dia hanya memutari jalanan kota bolak-balik.
"Tidak ada yang asik," gerutunya. Setelah berpikir-pikir, Julian menentukan tujuannya. Julian kembali melajukan motornya dengan cepat.
Setelah menempuh beberapa menit, akhirnya Julian tiba di tempat tujuannya. Ia berhenti dan melepas helm full face nya. Ia berjalan tidak jauh dari tempat yang ia tuju. Ternyata Julian kembali ke Sungai Spree, sungai yang ia kunjungi siang tadi bersama Fany.
Namun, kali ini Julian berada di jembatan yang berada di sungai tersebut. Jembatan tersebut memiliki arsitektur yang istimewa, di mana terdapat dua menara besar di tengah jembatan tersebut. Waktu malam seperti ini, jembatan tersebut terlihat bercahaya sehingga jembatan itu terlihat sangat cantik.
__ADS_1
Julian melihat pemandangan malam yang ada di sekitar sungai itu, hembusan angin membuat suasana sangat sejuk dan menenangkan. "Kenapa aku tidak mengajaknya waktu malam saja tadi," gerutu Julian lagi setelah menikmati pemandangan malam di sana, dirinya menghela napasnya sedikit kasar.
Beberapa menit dirinya sudah berada di sana yang hanya di temani angin malam dan beberapa orang-orang yang tengah melintas di sana.
"Apa itu anda, Tuan Muda William?" Julian menoleh ke arah sumber suara ketika mendengar nama William.
"Kau siapa?" tanya Julian yang tidak mengenali seseorang yang mendekat ke arahnya. Mungkin karena efek dari kurang pencahayaan.
"Aaah... sepertinya anda lupa denganku. Kita bertemu waktu di Venezuela waktu lali, di museum," jawab orang itu dengan menampilkan senyumnya.
"Owwh... aku tidak terlalu mengingatmu," ucap Julian singkat.
"Aahahaa... tidak apa-apa, tuan Muda William. Wajar saja kalau anda tidak terlalu mengingatku, kita baru saja bertemu." Julian hanya memanggutkan kepalanya di sana.
"Apa yang anda lakukan di sini sendiri, Tuan William?" sambung orang itu berbasa-basi.
"Aku? Sendiri? Kata siapa aku sendiri, saat ini ada dirimu di sini," jawab Julian.
"Apa yang anda lakukan di sini, Tuan Muda?" tanya orang itu lagi pada Julian.
"Sedang melihat lampu yang berjejeran." Julian menjawab asal pertanyaan itu. Entah karena dirinya tidak mood, atau memang dirinya memang seperti itu? tetapi
kalau orang yang sudah mengenal Julian pasti tidak kaget dengan jawaban yang di berikan oleh Julian.
Orang itu hanya bisa sedikit meringis dengan jawaban Julian. Ia tidak tahu lagi apa yang ingin di ucapkan pada Julian, sepertinya jawaban yang sama akan ia terima dari Julian.
"Bagaimana dengan mafia yang anda pimpin, Tuan Muda? Apa semua berjalan dengan lancar?" tanyanya lagi. Julian memandang orang tersebut dengan wajah datarnya.
Orang itu seakan-akan tahu dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh Julian. "Eeeh ... maafkan saya, Tuan Muda. Aku tidak bermaksud membuat tersinggung atau kepo, saya hanya ingin berbagi pengalaman dengan anda saja."
"Kau santai saja, kenapa kau terlihat takut padaku?" ucap Julian saat melihat orang itu seperti sedikit takut padanya. Orang itu terlihat sedikit tersenyum di depan Julian.
__ADS_1
"Hmm... semua anggotaku baik. Mereka tidak pernah ada kendala, aku juga suka dengan kinerja mereka. Jadi tidak ada masalah dengan mafiaku," jelas Julian singkat.
"Bagaimana anda mengurus mafia sebesar itu, Tuan Muda. Pasti tidaklah muda," tanya orang itu lagi.
"Bagaimana, ya...." Julian berpikir-pikir dengan meletakkan jari telunjuknya di dagunya.
"Aku juga tidak tahu," sambung Julian. Lama dia berpikir, tetapi tidak ada jawaban yang ia berikan. Orang itu kembali meringis mendengar jawaban Julian yang sedari tadi tidak ada yang serius.
"Lalu, bagaimana jika tiba-tiba ada musuh yang menyerangmu atau pun tiba-tiba menyerang markas?"
"Tentu saja aku menghajarnya detik itu juga. Mau bagaimana lagi? Memangnya, apa yang akan kau lakukan jika ada musuh datang? Apa kau mau menampungnya?" jawab Julian secara beruntun pada orang itu.
"Hahaha... tentu aku juga akan melawannya seperti
yang anda lakukan." Tawa garingnya terdengar di telinga Julian. Julian hanya menganggukkan kepalanya untuk meladeni ucapan orang yang ada di hadapannya.
"Bagaimana jika seandainya aku adalah musuhmu, Tuan Muda?" Julian kembali menoleh ke arah orang itu.
"Heh, kenapa kau masih bertanya soal itu? Tentu saja aku akan melawanmu. Meskipun kau terlihat dekat denganku di awal-awal," jawab Julian tegas di sana.
"Musuh tetaplah musuh, tidak akan menjadi teman. Bukankah begitu?" sambung Julian dengan ekspresi wajahnya yang menunjukkan seperti psikopat.
"Aahaaa... benar, Tuan," jawab orang tersebut dengan sedaikit kaku. Jawaban yang di berikan Julian seperti peringatan untuknya.
"Baguslah kalau kau paham. Kalau kau benar musuhku, maka kau juga harus bersiap jika aku melawanmu." Bergantian saat ini, orang itu memandang Julian dengan wajah datarnya.
"Heh, kau sangat serius sekali, padahal aku hanya sekedar bercanda." Julian berusaha dengan
"Bersenang-senanglah, aku akan pulang," sambung Julian lalu melangkah pergi meninggalkan orang itu di sana dengan senyumannya yang menunjukkan wajah tidak takutnya.
Orang tersebut hanya melihat kepergian Julian hingga punggungnya tidak terlihat lagi, dia juga tersenyum miring saat Julian tidak ada di hadapannya. " Aku akan buat kau dan orang-orangmu runyam."
__ADS_1