Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 159 Season 2


__ADS_3

"Terima kasih untuk jamuannya, Tuan William. Kami akan segera pamit," Tuan Carles berpamitan pada keluarga William.


"Kenapa kau harus buru-buru, Tuan Carles?"


"Satu jam lagi kita akan kembali ke Amerika, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Mereka semua juga pasti membutuhkanku," terang Tuan Carles.


"Baiklah, Tuan Carles. Hati-hati, jika ada apa-apa hubungi saja aku. Aku dan anak buahku pasti akan membantumu," ucap Sean.


"Terima kasih, Tuan William."


"Calon mantuku, datanglah bersama Gerald ke sana. Kami akan menunggumu," sambung Tuan Carles pada Jennifer.


"Baiklah, Dad. Aku akan ke sana nanti," jawab Jennifer tersenyum ramah.


Keluarga Gerald beranjak dari duduknya dan berpamitan dengan keluarga besar William, mereka memutuskan untuk pulang, termasuk dengan Gerald. Dia akan ikut mengantar kedua orang tuanya ke bandara.


Bandara...


"Hati-hati, Dad." Ucap Gerald merangkul sang Daddy.


"Baiklah, Son. Jaga dirimu baik-baik di sini, kau juga harus jaga hubunganmu dengan Jenni. Jangan sampai nanti kau mengecewakannya," tutur sang Daddy.


"Tentu, Dad. Aku akan menjaganya," jawabnya melepas rangkulan dari sang Daddy.


"Mommy, jangan lupa jaga kesehata. Gerald akan pulang jika musim liburan lagi," ujarnya.


"Mommy akan menunggumu, ajak sekalian Jenni ke sana." Gerald mengangguk dengan ucapan sang Mommy.


Keduanya masuk ke dalam dan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum mengudara.


.


.


Kembali lagi ke Mension Sean...


"Naah... Tuan putriku sudah tunangan? Kak Diva kapan nii?" Fany mencoba menggoda Diva yang ada di sana.


"Memangnya kalau aku menikah apa yang kau berikan padaku?" Tanya Diva. Fany berfikir-fikir sejenak.

__ADS_1


"Aku akan berikan hadiah spesial untukmu." Jawabnya dengan santai.


"Aku tidak mau kado murahanmu, aku akan meminta pulau padamu sebagai hadiah pernikahanku." Jawab Diva yang membuat mata Fany terbuka lebar-lebar.


"Yang benar saja? Kau kan lebih kaya dariku, kenapa harus meminta pulau padaku. Mintalah pada tuan Sean, pasti dia akan menurutinya." Sengal Fany di sana. Mereka sangat klop jika sudah berkumpul, mereka tidak akan mau mengalah salah satu.


"Beda doong... Beda orang ya harus beda hadiahnya." Diva tidak mau kalah dengan Fany.


"Aku sangat miskin, kau tidak pantas meminta hadiah yang besar padaku. Apartemenku saja tidak cukup membeli pulau untukmu." perdebatan mulai merambah semakin luas.


"Itu urusanmu, bukan urusanku." Diva memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.


"Sepertinya, dirimu suka sekali memoroti orang lain. Pantas saja kau semakin kaya," ketus Fany.


"Oohh tentu.... Harus pintar-pintar doong." Diva menjawab dengan santainya. Bukannya tersinggung, Diva justru semakin tidak mau kalah dengan Fany.


Fany dan Diva terlihat berdebat, beda lagi dengan Julian dan Robert. Mereka sedang asik bermain game hingga tidak memperdulikan orang lain. "Yaahh... Yah... Yah..." Muka masam Julian terlihat karena dirinya telah terkalahkan.


"Aku menang, kau kalah." Ledek Robert.


"Aahhh sudahlah, tidak asik. Kau main saja sendiri," Julian kesal karena sudah kalah berkali-kali dengan Robert sedari tadi.


"Bagaimana caranya?"


Sudah biasa dia menyikapi Julian, Robert ikut berdiri dan berkumpul dengan yang lain. Sedari tadi dialah yang sangat anteng di antara lainnya, bahkan dia tidak berbicara sama sekali sedari tadi.


.


.


.


Satu tahun kemudian....


Julian dan kawan-kawan, Jennifer dan Thea saat ini sudah menyelesaikan masa gymnasiumnya. Tertinggal Robert dan Fany saja di sana, mereka harus menunggu satu tingkatan lagi baru mereka lulus.


Kehidupan mereka terbilang baik, walau terkadang ada saja batu kerikil yang berada di tengah-tengah jalan.


Untuk Diva dan Riko, mereka terbilang baik. Bahkan semakin hati semakin lengket mereka.

__ADS_1


Kali ini, Diva dan Riko yang pergi berlibur ke luar negeri. Mereka sepertinya bukan hanya liburan, tapi ada tujuan lain yang mereka lakukan. Saat ini mereka berada di meksiko dengan misi tertentu yang di perintahkan oleh Sean langsung.


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" Tanya Diva yang sepertinya merasa bosan.


"Apa kau bosan?" Diva mengangguk mengiyakan. Pasalnya mereka sudah satu minggu berada di sana.


"Ayo kita ke luar, siapa tahu kita akan menemukan sesuatu di luar." Ajak Riko.


"Oke, ayo." Diva sangat bersemangat.


Mereka ke sana bukan hanya berdua, tentu saja bersama dengan beberapa anak buah Sean yang lain. Di sana juga ada beberapa anak buah Tuan Carles, sepertinya mereka kembali bekerjasama dalam melakukan misi.


Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Riko mengajak Diva pergi ke Palacio de Bellas Artes.


Palacio de Bellas Artes adalah sebuah galeri seni yang mempunyai gaya arsitektur Neoklasik yang sangat megah dan indah. Selain keindahan arsitekturnya, tempat itu juga menyuguhkan berbagai pertunjukan seni mulai tarian, musik, opera, dan teater. Selain itu tempat ini juga menampilkan karya-karya fotografer, dan pelukis kelas dunia.


Setibanya mereka di sana, banyak sekali orang-orang yang berkumpul di depan gedung megah tersebut. Ternyata di sana sedang ada pertunjukan ballet, mereka berdua memutuskan untuk melihat pertunjukkan tersebut.


Diva terpukau dengan penampilan yang di suguhkan di depan matanya.


"Waahhh... Kalau aku ikut mereka pasti menyenangkan." Ujar Diva saat melihat orang-orang tersebut menampilkan tarian ballet yang indah.


"Kau jangan yang aneh-aneh, kalau kau melakukannya, yang ada semua orang di sini akan kabur." Riko mengejek Diva.


"Oowhh... Tentu saja tidak, yang ada mereka akan terpukau dengan penampilanku yang hebbat." Diva memuji dirinya sendiri.


"Tidak akan, aku akan mencobanya." Diva melangkahkan kakinya, baru juga dua langkah Riko sudah meraih baju Diva. Ia menariknya kebelakang dan kembali ke tempat awalnya.


"Kau mau kemana, aku sudah bilang jangan aneh-aneh." Ucap Riko.


"Aku kan hanya membuktikan padamu..."


"Suut.... Diamlah dan nikmati pertunjukan yang ada." Potong Riko sebelum Diva melanjutkan pembicaraannya. Tidak akan selesai jika membiarkan Diva berbicara terus-terusan. Keduanya kembali menikmati pertunjukan yang ada di sana.


Hingga beberapa menit berlangsung, keduanya melihat beberapa gerak-gerik yang mencurigakan di sana.


"Apa kau melihatnya?" Diva memulai membuka suara.


"Iya, aku melihat beberapa orang yang mencurigakan di sini. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi." Ucap Riko pada Diva. Mereka bersiap siaga jika akan ada sesuatu yang terjadi.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, di sana menjadi pertunjukkan yang berujung tragis. Orang-orang terlihat mencurigakan tadi menembak orang-orang yang ada di sana yang tidak bersalah.


Semua yang ada di sana lari tunggang langgang ingin menyelamatkan diri sendiri dari aksi penembakan yang di lakukan oleh orang-orang tersebut.


__ADS_2