Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 233


__ADS_3

Benar, kalau suara yang ia dengar itu sangat tidak asing. Suara yang beberapa hari ini tidak ia dengar. Entah ia harus melihat ke arah sumber suara itu atau bukan, ia hanya bisa diam meringis di sana.


Setelah berpikir-pikir, Fany memutuskan untuk pergi saja dari sana tanpa harus melihat ke arah belakang. Baru juga ia melangkahkan kakinya dua langkah, langkahnya sudah di tahan oleh orang tersebut. Tangannya di cekal hingga dirinya tidak bisa melanjutkan langkahnya lagi.


"Kau mau ke mana?"


"Lepaskan tanganmu! Ke mana saja itu urusanku," ketusnya. Akhirnya Fany menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing baginya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu," tolaknya.


Julian. Dari bandara Julian langsung saja ke kampus untuk menemui Fany. Hal yang tidak dia duga, dia melihat secara langsung kalau Fany berani berbuat genit pada laki-laki lain. Sedari tadi dirinya menahan api kecemburuan karena melihat tingkah Fany, untung saja para laki-laki yang di goda oleh Fany itu tidak ia tebas kepalanya.


Julian berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Fany. "Hmm... aku? Aku baru saja melakukan teleportasi, makanya tiba-tiba aku berada di sini."


Jawaban Julian benar-benar asal-asalan, Fany yang mendengarnya itu pun berpikir keras. "Teleportasi? Apa kau bisa melakukannya?"


Entah kenapa Fany sepertinya percaya dengan jawaban Julian, mungkin dirinya saat ini masih loading. Bisa-bisanya dia percaya begitu saja dengan apa yang di katakan oleh Julian.


"Kau lihat saja buktinya, aku berada di hadapnmu saat ini," jawab Julian lagi. Memang paling bisa Julian menjawab asal seperti itu. Fany melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut Julian, entah apa yang ia pastikan saat ini.


"Memangnya, kau dapat kekuatan dari mana sampai-sampai kau bisa berteleportasi?" tanya Fany yang sekan-akan dia percaya dengan ucapan Julian.


"Emm... dari makam Tionghoa yang aku datangi kemarin." Lagi-lagi jawaban Julian asal. Sepertinya, setelah dari Venezuela kerandoman Julian semakin menjadi-jadi.


"Makam Tioghoa? Memangnya apa yang kau lakukan di sana?"


"Aku sedang mencari mumi di sana. Tapi aku tidak menemukan apa-apa," jawabnya dengan tampang bodohnya ia tunjukkan pada Fany.


"Jangan bod*h! Apa kau kira aku percaya dengan jawabanmu itu!?" sengal Fany pada Julian.


"Mana bisa kau berteleportasi begitu saja!? Tidak masuk akal sama sekali," sambung Fany.

__ADS_1


"Mana ada mumi di makam Tionghoa? Kenapa jawabanmu itu sedari tadi tidak masuk akal sama sekali?" beginilah jika mereka sudah bertemu, yang satunya suka ngegas dan satunya suka berbicara asal-asalan.


"Kau kan bertanya padaku, aku hanya menjawabnya saja. Memang apa salahnya aku menjawab?" Julian tidak mau kalah dengan Fany di sana.


"Memang tidak salah kau menjawab pertanyaan orang. Setidaknya berikan jawabanmu yang masuk akal, bukan asal-asal!" bagaikan Tom And Jerry yang tidak mau mengalah salah satu.


"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau berada di luar negeri?"


Siapa kira-kira orang itu? Tentu saja dia adalah "Asal-asalan bagaimana? Yang aku jawab memang benar adanya," kuekeh Julian tidak mau kalah. Tadinya Julian ingin memarahi Fany yang tengah genit dengan laki-laki lain. Namun, sepertinya Julian melupakannya setelah berdebat dangan Fany.


"Kalu tidak asal-asalan, lalu apa, hah!?" sengal Fany kembali.


"Aku tidak asal-asalan menajwab. Aku menjawab sesuai yang keluar dari otakku," jawabnya yang tidak lupa dengan wajah tengilnya.


"Kau memang benar-benar sinting. Setiap orang yang berhadapan denganmu pasti akan stress menghadapi orang sepertimu,"


"Tentu saja tidak, aku orang yang sangat asik. Mana mungkin mereka stress karenaku," jawabnya membela dirinya sendiri.


Fany segera berlari menjauh dari Julian, ternyata perdebatannya tadi ingin megalihkan Julian. Fany tahu pasti Julian akan memarahinya atas apa yang ia lakukan tadi. Julian berdecak melihat Fany yang sudah berlari jauh.


"Hah, bukankah tadi aku ingin memarahinya karena kegenitannya? Kenapa aku bisa lupa?" Julian teringat denga niat awalnya yang ingin marah pada Fany tadi.


"Haiisshh... awas kau!"


Julian akhirnya ikut berlari mengejar Fany yang sudah tidak terlihat lagi di hadapannya. Dengan cepat Julian mencari keberadaan Fany di sana, Julian terus mencari ke sana ke mari. Entah bagaimana bisa dirinya sampai lupa dengan niatan awalnya.


Tak...


Tak...


Tak...

__ADS_1


Suara sepatu yang ia kenakan saat berjalan terdengar di telinga. Langkahnya terhenti di kaca besar yang berada di tempat ia berada saat ini. Dengan satu tangan di masukkan ke dalam saku celananya dan satu tangannya lagi sedang ia gunakan untuk memegang sepuntung rokok.


Asap putih keluar mulutnya, ia memandang pemandangan kota pada siang itu.


"Satu jam lagi waktu penerbangan, Tuan. Sebaiknya kita segera datang ke bandara," ujar salah satu bawahan orang tersebut.


"Bagaimana dengan tempat tinggal baruku di sana? Apa kau sudah mengurusnya?" tanyanya yang masih setia menghisap rokok yang ada di tangannya.


"Semuanya sudah siap, Tuan. Tuan bisa langsung saja menempatinya," jawabnya dengan sopan pada orang yang ia sebut tuan itu.


"Baiklah, kita berangkat sekarang. Kalian cek semua, jangan sampai ada yang tertinggal satu pun." la membalikkan badannya dan segera melangkah dengan gaya yang terlihat cool. Rokok yang ia pegang ia buang ke sembarang arah, untung saja di sana tidak ada barang yang mudah terbakar. Derap langkahnya terdengar berirama, beberapa bawahannya itu pun mengiktui langkahnya dari belakang.


Sesaimpainya di bawah, bawahannya membuka pintu mobil. la pun segera masuk ke dalam dan anak buahnya kembali menutup pintu. Tanpa berlama-lama, mobil yang ia tumpangi itu segera melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota.


Malam harinya...


Sriing...


Sring...


Suara kedua senjata tajam itu saling bergesekan, keduanya beradu kekuatan menggunakan salah satu senjata tajam. Gerakan keduanya sama-sama lincah dan tidak bisa di kalahkan.


"Kau sepertinya harus menyerah, Pi," ujarnya dengan mendorong penuh kekuatan.


"Tidak semudah itu, Boy. Apa kau kira Papimu ini akan kalah begitu saja?"


Mereka berdua adalah sepasang anak dan papi yang sedang berlatih bersama untuk mengisi waktu luang. Siapa lagi kalau bukan Julian dan Sean, keduanya saat ini saling beradu kekuatan. Bukan menggunakan pistol, melainkan mereka menggunakan sepasang katana yang tersimpan di markas.


Twin J sedang menikmati makan mereka. Julian terlihat sangat lahap memakan makanan miliknya, Jennifer makan dengan santai sesekali melihat Julian yang sangat lahap seperti belum makan selama tiga hari.


"Sudah berapa hari kau tidak makan?"

__ADS_1


"Dari tadi pagi aku tidak makan." Dengan mulut penuh Julian menjawabnya, hingga kata yang di ucapkan terdengar tidak jelas di telinga Jennifer.


__ADS_2