
"Kalau ada Robert enak kali yah." Ucapnya yang mengingat jika Robert tidak ikut dengan mereka.
"Fotokan aku, fotokan aku." Fany memintanya pada Julian. Dia tidak mau mengganggu Jennifer dengan Gerald di sana.
Dengan malas Julian menerimanya, Julian mengambil setiap gambar dengan asal. Bahkan dia membidik setiap detiknya, Fany berpose dengan cantiknya. Mulai gaya candid dan masih banyak lagi.
"Sini lihat," Feny meminta ponselnya kembali. la menerimanya dengan senyum yang sangat cerah dan menggeser-geser setiap hasil gambarnya.
"Kenapa blur semua? Ini juga, kenapa hanya kakiku yang kau foto? Dan ini, hanya tanganku. Kau ini...." Ucapnya kesal dengan Julian. Susah payah dirinya berganti pose. Dan ternyata yang di foto hanya kaki dan tangannya, yang lainnya pun terlihat blur.
"Kan bagus itu, harusnya kau berterima kasih padaku." Yang menjadi tersangka tidak ada rasa bersalahnya, justru dia membanggakan dirinya.
"IYA, MAKASSIIH." Ketus Fany, dia benar-benar kesal dengan Julian. Dia berharap jika hasil fotonya bisa bagus, tapi ternyata di luar dugaan. Yang ada hanya membuat emosi saja, Fany pun menghapus semua hasil jebretan Julian tadi.
Meksiko....
Karena berhubung Diva dan Riko di sana, mereka memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Mereka berjalan-jalan sebentar di sana, sayang jika di lewatkan.
Kali ini mereka tengah menghadiri sebuah pameran lukisan yang di gelar di salah satu tempat yang ada di sana.
Banyak sekali pengunjung yang menghadiri pameran tersebut, ada yang ingin membelinya ataupun sekedar melihat-lihat. Saat keduanya brbincang-bincang, ada salah satu wanita yang berdandang cukup menor mendekati keduanya.
"Haaii tampan, apa kau juga menikmati pameran ini ?" Ucapnya dengan sedikit genit. Orang itu mendekati Riko, Diva yang melihatnya menaikkan sebelah alisnya.
"Kalau kita ke sini tidak menikmati pameran di sini lalu apa lagi, nona?" Ucap Diva sedikit ketus. Riko diam tidak bisa berkutik melihat Diva yang sepertinya akan marah.
"Santai, nona. Jangan marah-marah, aku sedang berbicara padanya." Ucap wanita itu lagi.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini, masih banyak pria di sini." Ketus Diva pada wanita itu.
__ADS_1
"Aku hanya tertarik pada pria ini," ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Riko. Diva yang melihatnya sangat kesal dengan sikap genit wanita itu.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini! Lihat, ini adalah cincin yang dia berikan padaku. Dia adalah calon suamiku, sebaiknya kau pergi tidak baik mengganggu kesenangan orang lain." Diva menunjukkan cincin pada jari manisnya yang di berikan oleh Riko padanya.
"Sebaiknya kau lihat lagi dandanan mu itu yang sudah seperti nenek, sana pergi." Ejek Diva pada wanita itu, wanita itu hanya bisa menganga dengan ucapan.
"Sudah diam, dan sebaiknya kau pergi dan perbaiki dandanan mu," belum juga wanita itu berbicara, Diva sudah memotongnya dan mendorong wanita itu untuk pergi dari hadapannya.
Diva mendorongnya pada kerumunan ramai orang, dasar pengganggu!" Diva mengusap kedua tangannya setelah mendorong wanita itu. "
"Apa kau cemburu?" Riko mencoba menggoda Diva.
"Hah, aku? Cemburu? Dengan wanita itu? Tidak layak wanita sepertiku cemburu dengan wanita modelan nenek-nenek." Elak Diva. Padahal memang yang di rasa benar adanya, dia tidak suka jika ada wanita lain yang mendekati laki-lakinya.
Riko menahan tawanya mendengar Diva mengatakan jika orang itu adalah nenek-nenek. "Tapi yang aku lihat, kau cemburu dengan wanita itu." Riko semakin menggoda Diva.
"Untuk apa aku cemburu dengannya? Bahkan aku lebih cantik darinya, hah." Ucap Diva mengibaskan rambutnya kebelakang.
"Sudah diamlah, jangan terus berbicara. Kau cerewet sekali," ujar Diva lalu pergi meninggalkan Riko untuk melihat-lihat lukisan yang ada di pameran. Riko hanya tersenyum melihat tingkah Diva. Meskipun mereka jarang sekali romantis seperti pasangan lainnya, tapi hubungan mereka lebih bewarna dan asik karena tingkah random dari mereka.
Riko mengikuti langkah Diva yang meninggalkan dirinya jauh di belakang.
Amerika...
Fany masih terlihat sangat kesal dengan Julian, dia tidak berbicara sama sekali dengan Julian. Setelah dari Disneyland, Gerald mengajak mereka semua ke Universal Studio Hollywood, tempat itu tidak terlalu jauh dari Disneyland. Di sana Fany tidak seperti biasanya, jika saja Jennifer tidak bersama Gerald mungkin dirinya sudah memilih bersama Jennifer.
Dalam Universal Studio Hollywood ini tidak hanya ada berbagai macam setting untuk pembuatan film dan layar hijau. Universal Studio Hollywood sekarang juga difungsikan sebagai taman bermain yang canggih dan menarik.
Kali ini, mereka melihat ke salah satu wahana studio tour. Mereka menaiki kereta tur panjang bersama dengan pengunjung lainnya untuk melihat studio pembuatan film-film ternama, seperti, Jaws, Earthquake, King-kong dan Fast & Furious.
__ADS_1
"Jadi seperti ini mereka membuat film-film ternama? Tidak heran jika semua film-film yang mereka produksi banyak yang suka." Ujar Jennifer.
"Memang beginilah mereka memproduksi film."
Jennifer hanya menganggukkan kepalanya, mereka melanjutkan untuk ke lokasi lainnya. Tidak hanya itu, mereka juga melihat ke The Wizarding world of Harry Porter, Jurassik Park dan wahana lainnya.
"Sudah cukup untuk hari ini, sebaiknya kita kembali. Kita lanjutkan besok lagi," ajak Jennifer. Mungkin dirinya lelah, atau karena dirinya yang tidak terlalu suka di keramaian.
Mereka memutuskan untuk kembali ke mension Gerald. Memakan waktu beberapa menit akhirnya mereka sampai, Fany masih saja terlihat kesal. Tidak berbicara dengan Julian, dia hanya melirik jika Julian berbicara padanya.
"Kami pulang, Mom." Ucap Gerald
"Beristirahatlah, kalian pasti lelah." Ucap sang Mommy.
"Daddy di mana, Mom?" Tanya Gerald yang tidak melihat adanya sang Daddy di sana.
"Oohh... seperti biasa, Daddy mu pergi ke markas untuk mengurus orang-orang yang beberapa bulan lalu membantai banyak warga di sini." Terang Mommy.
"Rasanya aku ingin melihat markas dari Tuan Carles." Sahut Julian yang merasa penasaran.
"Datang saja ke sana, biar nanti Gerald yang mengajakmu untuk berkunjung ke sana. Mereka pasti akan menyambutmu," Mommy Gerald mempersilahkan Julian untuk datang ke markas milik Daddy Gerald.
"Sekarang kalian istirahat dulu, kalian bisa datang ke sana besok." Sambungnya.
Mereka menuju ke kamar masing-masing dan segera membersihkan diri setelah seharian bermain di luar.
Sedangkan di markas...
Tuan Carles mengumpulkan semua orang yang sudah di bawa oleh anak buahnya ke sana, mereka di ikat menjadi satu hingga sulit untuk bergerak.
__ADS_1
"Kami siap melaksanakan perintah, Tuan." Ujar anak buahnya.
"Mati saja tidak cukup untuk mereka semua, itu terlalu mudah untuk mereka." Ujar Tuan Carles dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya. la memandang tajam orang-orang yang sudah berulah di wilayahnya.