
"Paa... paa..." teriaknya memanggil sang papa.
"Ck, menyebalkan." Decaknya karena sang papa tidak mau membantunya.
"Ada apa sih, sayang?" tanya sang mama menghampirinya.
"Ma... Cindy menyukai putra dari keluarga William. Tapi Cindy sulit sekali mendekatinya, apa lagi dengan kakaknya. Dia sangat cuek dan tidak peduli dengan Cindy." Rengeknya mengadu pada sang mama.
"Kakaknya sangat menyebalkan untukku, dia sudah menolak Cindy mentah-mentah, ma." Adunya lagi pada sang mama. Ia berharap jika sang mama akan membantunya.
"Benarkah? Beraninya dia sudah menolakmu mentah-mentah. Mama tidak akan membiarkan hal itu," ucap sang mama yang terhasut dengan putrinya.
"Kau tenang saja, sayang. Kau juga berhak mendapatkan apa yang kau mau, mama akan membantumu." Ucap sang mama pada Cindy. Cindy yang mendengar itu pun terlihat sangat bahagia.
"Apa mama beneran?" ucapnya antusias. Sang mama pun menganggu dengan ucapan Cindy.
"Memangnya, apa yang akan mama lakukan pada kakak Julian?" tanyanya penasaran.
"Ada saja, kau tenang saja. Pasti dia akan menerimamu nanti," jawab sang mama yang sepertinya mempunyai rencana yang akan ia gunakan.
Keesokan paginya....
Kali ini, Cindy kembali mendatangi Jennifer ke kelasnya. Dia tahu jika Jennifer jarang sekali untuk keluar kelas waktu jam makan siang.
"Hai, Jen." Sapanya. Jennifer tidak memperdulikan kedatangan Cindy.
"Maafkan aku, Jen. Aku ke sini hanya meminta maaf padamu, sungguh. Bahkan aku juga ingin mengajakmu untuk makan di luar sebagai tanda maafku." Ucapnya dengan nada sedikit lesu agar Jennifer meu menerima ajakannya.
"Kenapa kau tidak mengajak teman-temanmu, saja?" ucap Jennifer yang tanpa melihat ke arah Cindy.
"Aku ingin mengundangmu sebagai permintaan maafku, pliisss." Cindy memohon pada Jennifer. dia menunjukkan wajah seriusnya agar Jennifer percaya padanya.
"Aku mohon padamu, mau yah." Ajaknya dengan memelas.
"Aku sibuk, gak bisa di ganggu." Cuek Jennifer pada Cindy.
"Cuma sekali ini saja, oke." Ujarnya lagi masih memaksa Jennifer. Jennifer yang sudah jengah mendengar ocehan Cindy itupun meletakkan buku yang ia baca di atas meja dengan kesal.
"Di mana tempatnya?" tanyanya dengan ketus karena sudah merasa sangat jengah dengan Cindy yang terus saja mengganggunya.
"Di restoran A nanti setelah pulang dari sekolah." Jawab Cindy.
__ADS_1
"Aku cuma punya waktu setengah jam." Jawabnya dengan singkat padat jelas.
"Baiklah tidak apa, aku senang jika kau menerima ajakan aku." Ujar Cindy terlihat sangat senang.
"Nan..."
"Kau bisa keluar sekarang." Usir Jennifer sebelum Cindy melanjutkan ucapannya. Cindy pun melangkahkan kakinya keluar dengan segera setelah di usir oleh Jennifer.
Jennifer memandang kepergian Cindy dengan tersenyum misterius, "heh, dasar bod*h." Ucapnya lalu kembali membaca buku yang ia baca sedari tadi.
Sepulang sekolah...
Sesuai yang di katakana oleh Cindy tadi, ia mengajak Jennifer untuk makan di luar. Tapi, kali ini di sana Cindy mengajak sang mama. Sepertinya, sang mama memiliki rencana untuk Jennifer sesuai yang di katakan semalam. Mereka berada di ruang khusus yang sudah di pesan oleh mama Cindy tadi.
"Makanlah, Jen." Pinta Cindy pada Jennifer untuk memakan hidangan yang ada di sana.
"Cepat katakan, apa tujuan kalian sebenarnya?" cetus Jennifer yang seolah-olah tahu dengan tujuan Cindy dan sang mama untuk memintanya datang ke sana.
"Kau sepertinya sangat tahu dengan maksud tujuan kami memintamu untuk datang ke sini." Sahut mama Cindy padanya.
"Aku tidak sebod*h putrimu, nyonya. Gerak gerik kalian saja aku tahu," ejek Jennifer pada mama Cindy.
"Apa kau sudah mengatakan anakku bod*h?" sengal mama Cindy pada Jennifer.
"Kau memang benar-benar sombong." Ketus mama Cindy.
"Siapa yang sebenarnya di sini yang sombong, nyonya? Aku? Atau kalian?" Jennifer memang tidak bisa di ajak main-main.
"Kau mengajakku ke sini hanya karena kau meminta bantuan mamamu untuk membujukku dekat dengan adikku, bukan?" tebak Jennifer yang memang tidak meleset.
"Jangan harap untuk itu. kaeluarga kami tahu siapa yang lebih pantas dengan adikku. Walaupun kalian keluarga terpandang atupun berpengaruh di kota ini, keluargaku tidak akan menerima orang yang sombong dan tidak tahu malu seperti kalian." Celetuk Jennifer.
"Bersikaplah sopan santun di depan orang yang lebih tua darimu!" sengal mami Cindy. Niatnya dia yang ingin menakut-nakuti Jennifer dengan ancamannya justru dia kalah telak dengan ucapan Jennifer.
"Aku tahu pada siapa aku harus memberikan sopan santunku, nyonya." Ucap Jennifer yang suka sekali mengejek mama Cindy. Cindy hanya mengepalkan tangannya mendengar setiap ucapan yang di lontarkan Jennifer padanya dan sang mama.
"Sepertinya, waktuku terbuang sia-sia di sini. Tidak bermutu sekali," ucap Jennifer melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tidak semudah itu anak manis." Jawab mama Cindy saat Jennifer beranjak bediri dari tempat duduknya.
Jennifer mengerutkan dahinya dengan ucapan mama Cindy.
__ADS_1
Prok.. prok...
Mama Cindy menepuk dua kali tangannya, tidak lama kemudian beberapa orang bertubuh kekar datang masuk ke sana. Ternyata itu adalah kode dari mama Cindy untuk memanggil orang-orang suruhannya. Jennifer tersenyum misterius melihat orang-orang yang datang ke sana.
Entah kapan mama Cindy sudah mempersiapkan semua ini, tapi dia sangat berniat sekali. Tapi dirinya tidak tahu berhadapan dengan siapa.
"Aku memberikan pilihan untukmu, kau membiarkan putriku bisa berkencan dengan adikmu atau mereka membawamu pergi dari sini?" ternyata mama Cindy cukup berani mengancam Jennifer yang notabennya adalah keturunan dari keluarga William.
"Kau mengancamku? Ternyata kau dan putrimu sama-sama bodoh." Jennifer kembali mengejek dengan ekspresi wajah yang sangat menjengkelkan.
"Kau masih saja sombong, aku pastikan nanti kau akan berubah fikiran setelah mereka membawamu." Ucap mama Cindy dengan sangat percaya diri.
"Bawa dia." Perintahnya pada orang-orang tersebut.
Mereka mendekat ke arah Jennifer ingin mencekal tangan Jennifer dan menyeretnya.
Dugh..
Dugh..
Bugh...
Sebelum mereka mencekal tangan Jennifer, Jennifer sudah lebih dulu menendang kaki mereka dengan keras hingga terjatuh. Mama Cindy dan Cindy membelalakkan mata tidak percaya.
"Kalian mau membawaku? Coba saja kalau bisa." Jennifer menantang orang-orang tersebut.
"Dasar sombong." Mereka pun kembali berdiri dan menangkap Jennifer.
Bugh..
Bugh...
Bugh...
Brakk.. pyaar...
Jennifer kembali melawan mereka hingga salah satu terpelanting di atas meja dan semua sajian di sana jatuh berserakan.
Jennifer mengudara lalu menendang mereka satu persatu hingga jatuh tersungkur. Nafasnya memburu dengan tatapan tajam menatap orang-orang tersebut.
"Berani kalian menyentuhku, maka nyawa kalian akan melayang." Ucapnya pada orang-orang itu.
__ADS_1
"Apa kalian bisa terkalahkan hanya dengan anak perempuan ini?" ucap mama Cindy yang tidak bisa terima jika orang-orang suruhannya bisa di kalahkan dengan Jennifer seorang.