Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 266


__ADS_3

"Kenapa harus mundur? Bukankah dia sendiri yang ingin menyerang ku? Hah, dasar pecundang." Julian tersenyum miring di sana mendengar jika Dario mengundurkan diri dan menarik para bawahannya.


"Apa ada lagi?" sambung Julian.


"Tidak ada, Tuan Muda,"


"Kau boleh kembali, perintahkan semua untuk kembali ke markas," pinta Julian yang di angguki oleh anak buahnya. Atas perintah dari Julian, mereka semua yang ada di sana membubarkan diri dan kembali ke markas.


"Ada apa, Boy?" tanya Sean mendekat ke arah Julian.


"Gimana negejelasinnya ya." Julian nampak berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Sean. Padahal jawabannya juga tidak rumit untuk di jabarkan, memang ada saja tingkahnya.


"Hmmm... bagaimana tadi yang ada di mension dan kediaman Kak Diva?" bukannya menjawab pertanyaan yang di berikan Sean, dia justru bertanya balik dengan penyerangan yang tadi terjadi di mension dan kediaman Diva.


"Apa kau tidak melihat penampilan kami saat datang?" bukannya Sean, justru Riko yang menyahuti pertanyaan Julian.


Memang dari penampilan mereka yang terdapat noda-noda merah itu sudah menjelaskan bagaimana yang terjadi di dua titik tadi. Julian kembali menatap sang papi dan Riko secara bergantian.


"Apa yang terjadi, Boy?" tanya Sean kembali. Julian berdesis panjang sebelum menjawabnya." Hmmm... pimpinan mereka memutuskan untuk mundur dan menarik sisa dari pasukannya. Konyol, bukan? Dia sendiri yang ingin menyerang terlebih dulu, dia juga yang mundur. Aku sebagai mafia sangat malu dengan tindakannya itu."


Seperti biasa jika Julian menjelaskan sesuatu dengan sedikit tengil di sana. tidak pernah berubah sama sekali dia dalam keadaan apa pun.


"Kalau dia meminta anak buahnya mundur kenapa tidak dari awal saja?" sahut Riko yang sepertinya juga terlihat kesal.


"Kalau kau mau marah, marah saja dengannya. Jangan padaku," ujar Julian yang tidak menerima keksesalan Riko di sana.


"Di sini tenagaku berlari tadi juga sia-sia, ternyata dia memilih mundur," sambung Julian beradu nasib dengan Riko.

__ADS_1


"Dia tahu jika dia akan kalah dengan mudah, Boy. Dia memutuskan mundur sebelum semua bawahannya habis secara sia-sia. Kau harus tetap waspada, dia memutuskan untuk mundur bukan berarti dia akan berhenti begitu saja


"Orang itu pasti membuat rencana yang lainnya. Anak-anak buahnya sudah sebagian tewas, kita hanya menunggu dari mereka lalu semuanya selesai," jelas Sean yang sangat tahu bagaimana situasi saat ini.


Kalau musuh memutuskan mundur memang bukan berarti mereka akan berhenti begitu saja, bisa saja mereka akan kembali dengan rencana lain yang tidak bisa di duga. Tentu saja Sean memahami semua situasi yang terjadi, dia juga berkecimpung lama di dunia bawah.


"Awasi pergerakannya selanjutnya, mungkin dalam waktu dekat dia akan kembali lagi. Tidak akan lama dia akan kembali menunjukkan dirinya." Sean menjelaskan smeuanya pada Julian.


"Julian paham, Pi. Julian tidak akan tinggal diam untuk ini." Julian memahami betul semua pesan dari Julian padanya. Sean dan Riko memutuskan untuk kembali terlebih dulu, mereka akan menemui istri mereka masing-masing yang mungkin saat ini sudah sangat khawatir di sana.


Di tempat itu tersisa Julian dan yang lainnya, Fany, Robert, Jennifer dan Gerald juga di sana stand by dari awal. Di sana masih ada beberapa anak buah Julian yang berjaga di tempat itu.


"Bagaimana?" ucap Jennifer padanya.


"Yaa... seperti yang kau tahu. Dia mengundurkan diri sebelum berperang. Hah, terlihat sekali jika dia seperti anak kecil," jawab Julian dengan meremehkan Dario dan lainnya.


"Kau lebih perketat lagi setelah ini. Bisa-bisa dia datang dengan rencana besar. Anak buahku siap membantumu jika kau mau." Gerlad menawarkan bantuan pada Julian tanpa pikir panjang.


"Haaaah... bisa-bisanya dia mundur begitu saja. Apa dia kira aku tidak lelah harus berlari untuk memancingnya datang ke sini. Belum lagi ice cream ku jatuh karena mereka," keluh Fany di sana. Dia kesal jika dalam pelariannya tadi ice cream miliknya jatuh sebelum ia menghabiskannya.


"Yang kau pikirkan hanya makanan saja. Apa tidak ada pikiran lain di kepalamu itu?" Julian menyentil jidat Fany dengan pelan di sana.


"Hiisshh... apa yang kau lakukan. Tidak ada, yang ada di pikiranku hanya banyaknya makanan yang belum bisa aku rasakan," ketus Fany.


"Apa sesekali di pikiranmu itu tidak ada aku?" protes Julian pada Fany.


"Babe, adikmu sepertinya sudah tahu bagaimana cinta yang sebenarnya," bisik Gerald pada Jennifer yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Hmm... kau benar. Kita lihat saja bagaimana nanti dia nanti. Kita lihat saja bagaimana anak tengil itu nenti kalau benar-benar merasakan cinta." Gerald mengangguk menyetujui apa yang di katakan oleh Jennifer.


"Tidak! Buat apa juga aku memikirkanmu?" ketus Fany menolak keras.


"Aku tidak percaya dengan yang kau katakan itu." Julian mencoba untuk memnacing Fany.


"Hmmm... sebaiknya aku kembali saja dari pada


harus melihat kalian. Aku seperti patung di sini," protes Robert yang merasa dirinya sendiri di sana yang tidak memiliki pasangan.


Dia sedari tadi hanya diam menyaksikan kedua pasangan itu sedang berinterkasi. Cukup nelangsa sekali dia tidak ada teman untuk ia ajak berbicara.


"Ya sudah kau pergi saja. Aku tidak membutuhkanmu," usir Julian. Ia berlaga seperti tidak membutuhkan Robert, padahal Robert yang selalu ia repotkan selama ini.


"Dasar, kacang lupa kulitnya!" Robert berjalan pergi meninggalkan mereka yang ada di sana, dari pada dia hanya berdiam diri menyaksikan interaksi keduanya.


Meskipun dia berkata seperti itu, tetapi dia tidak marah. Itu hanya gurauan darinya, ia tidak pernah marah sungguhan di sana. Kata-kata yang sedikit nyletuk memang sudah jadi kebiasaan mereka, justru sudah jadi makanan mereka sehari-hari kalau itu.


"Sebaiknya kita juga kembali. Tidak adak yang di tunggu di sini," sahut Jennifer yang mengajak untuk kembali. Buat apa juga mereka berada di sana, lebih baik ke markas dan membahas yang harus mereka bahas.


Mereka akhirnya pergi dari sana. Gerald yang merangkul pundak Jennifer dan berjalan lebih dulu dari Julian dan Fany. Julian yang melihat apa yang di lakukan oleh Gerald itu mencoba ia tiru, ia merangkul pundak Fany.


Namun sayangnya, Fany menolak apa yang di lakukan oleh Julian. Ia mendorong Julian agar sedikit menjauh darinya. Di tengah-tengah perjalanannya pun mereka berdebat karena penolakan Fany.


Julian yang tidak menghiraukan Fany itu tetap merangkul pundak Fany. Sering kali Fany menolak yang di lakukan oleh Julian, tetapi Julian langsung menariknya begitu saja. Dia benar-benar tidak menerima penolakan oleh siapapun.


Dua hari kemudian...

__ADS_1


Pyaarrr...


Gelas kaca yang berisi anggur merah itu melayang dan pecah hingga berserakan tidak berbentuk lagi. Sang pemilik itu sepertinya dalam keadaan marah, terlihat sekali wajahnya yang merah dengan napas yang memburu. Siapa lagi kalau bukan Dario, ia masih uring-uringan karena usahanya yang tidak berhasil melawan Julian.


__ADS_2