
Ternyata benar untuk itu, beberapa tahun putranya bersembunyi dan mengumpulkan kembali kelompok dari Jacob yang tersisa di sana.
"Jadi begitu rupanya? Jadi dia datang ke sini untuk balas dendam? Tapi kenapa dia sangat bod*h? Dia seperti orang tuanya ternyata." Julian tersenyum miring mendengar penjelasan tersebut. Di letakkan kembali berkas yang selesai ia baca.
"Kerja bagus, Land. Kau bisa menemukan siapa orang ini dengan cepat." Ya... orang yang menelfon Julian tadi adalah Robert. Terjawab sudah siapa orang yang Julian temui beberapa waktu yang lalu.
"Apa yang akan kau lakukan kali ini?"
"Apa? tidak ada yang perlu aku lakukan untuk ini," jawab Julian dengan santai.
"Apa kau tidak ingin menangkapnya langsung?" ia penasaran apa yang akan di lakukan oleh Julian setelah ini.
"Tidak. Aku tidak menangkapnya dengan cepat. Aku ingin melihat bagaimana mereka bekerja. Aku juga ingin bermain dengan mereka sebentar," jawab Julian kembali.
"Memangnya permainan apa yang akan kau ikuti?" Robert semakin penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Julian nantinya.
"Hmm... aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin bermain-main saja, aku ikut apa yang mereka lakukan." Robert hanya bisa menghela napasnya panjang mendengar jawaban Julian. sangat percuma memang jika mendengar jawaban Julian yang pasti.
Sepertinya, Julian akan memiliki rencana tersendiri yang hanya dia yang tahu. Dan mungkin itu juga tidak akan lama, sesegera mungkin dirinya akan menjalankan rencananya.
"Apa kau tidak mau memberitauku rencanamu itu?" Robert berusaha agar Julian memberitahukan dirinya.
"Apa yang harus aku beritahukan. Aku tidak ada rencana apa-apa, kita jalani saja bagaimana saat ini. aku bilang kalau aku akan mengikuti permainan orang itu. Jadi bersikaplah seperti biasa dan seperti tidak tahu apa-apa. Biarkan dia bahagia dulu dengan apa yang ia lakukan saat ini sebelum dirinya menyusul kepergian Papanya," jelas Julian panjang lebar pada Robert.
"Baiklah, aku akan ikuti apa yang kau katakan." Robert hanya bisa menyetujui dan mengikuti apa yang di katakan oleh Julian. bersikap biasa dan seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Julian memberikan dua jempol
__ADS_1
pada Robert yang dengan entengnya menurut padanya.
Hari ini Julian berencana mengajak Jennifer untuk melakukan double date. Dirinya akan pergi mengajak Fany, sedangkan Jennifer tentu saja dengan Gerald. Untuk Gerald pasti oke saja kalau pergi bersama Jennifer.
Seperti biasa jika Julian akan pergi menjemput Fany terlebih dahulu ke rumahnya. "Kau mau ajak ke mana lagi anak orang!?" dengan tiba-tiba Rika bertanya pada Julian.
"Anak orang siapa? Dia kan putrimu, bukan anak orang lain," jawab Julian yang memang tidak ada salahnya kalau Fany adalah putri Rika.
Belum juga apa-apa, Rika sudah di buat sedikit kesal dengan jawaban dari Julian. Entah siapa yang salah di sana, kalau saja Rika tidak berkata seperti itu mungkin jawaban Julian tidak akan membuatnya kesal. “ Kau ini memang benar-benar ...,"
"Tampan. Aku tahu kok, kau tidak perlu mengatakannya, Aunty. Semua orang tahu kok kalau aku benar-benar tampan," potong Julian sebelum Rika menyelesaikan ucapannya.
"Aku tidak mengatakan kau tampan. Kau benar-benar sangat menyebalkan!" kesal Rika di sana.
"Menyebalkan yang bagaimana? Yang aku katakan kan benar, aku mengajak putrimu, bukan anak orang lain "Julian keukeh membenarkan ucapannya.
"Keraskan suaramu itu, Aunty. Aku tidak mendengarnya," sela Julian yang tidak bisa mendengar gumaman Rika.
"Tidak ada yang pelrlu kau dengar." Rika berjalan pergi meninggalkan Julian di ruang tamu.
"Fe... cepatlah, jangan berlama-lama!" teriak Rika agar Fany segera turun dari kamarnya. Rika berteriak memanggil Fany agar terhindar perdebatan dengan Julian. berdebat dengan Julian hanya akan membuang tenaga, satu minggu pun pasti akan terlaksana jika melawan Julian.
Beberapa saat kemudian, Fany pun turun dari kamarnya dengan dandanan terlihat simple dan sederhana. Julian nampak tersenyum melihat Fany yang sedang menenteng sepatu sportnya yang akan ia kenakan. Fany berhenti sejenak dan memakai sepatu miliknya, dengan sekejap dirinya pun bersiap untuk segera pergi.
"Mom... aku pergi!" teriaknya dengan keras pada sang mommy.
__ADS_1
"Iya... suruh anak nakal itu berhati-hati!" sahut Rika yang tidak kalah berteriak dengan kereas. Mereka seperti adu mekanik, kalau saja ada lomba siapa yang paling keras teriakannya, mungkin Rika bisa menang.
"Anak nakal siapa yang di maksud. Aku akan anak baik-baik," ucap Julian tidak terima saat Rika menyebutnya anak nakal.
"Sudah ayo, atau tidak jadi?" ketus Fany. Mereka berdua pun akhirnya berjalan bersamaan dan pergi menuju tempat yang sduah di setujui.
Sesampainya di lokasi, Fany segera turun dari motor sport Julian. Julian membenarkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Mereka datang ke salah café yang baru saja di buka, Fany berjalan lebih dulu dan di susul Julian di belakangnya.
Bruugh...
Tanpa sengaja Fany tertabrak oleh salah satu pengunjung di sana. Dengan sigap Julian menangkap tubuh Fany sebelum dirinya terjatuh.
"Apa kau tidak bisa berhati-hati!" Julian terlihat marah saat tubuh Fany hampir terjatuh. Kalau Julian sudah marah, tidak akan pandang bulu. Dia tidak ingin melihat orang-orang yang di sayangi merasakan sakit sedikit pun. Kemarin Jennifer, dan sekarang Fany.
"Aaah... maafkan aku, Tuan," ujarnya mmeinta maaf pada Julian yang terlihat marah. Orang yang tengah menabrak Fany itu segera pergi dari sana.
Fany menatap Julian dengan lekat, hidung yang terlihat mancung, alis tebal dengan rahang yang terlihat sempurna. Wajah yang sangat sempurna untuk di kagumi, Fany cukup terkesima saat memandang Julian dengan
posisi yang masih sama. Julian belum melepaskan tangannya dari Fany, ia masih memandang orang yang baru saja menabrak Fany.
"Sudah puas kan menatapku. Aku tahu aku sangat tampan," ujar Julian yang membuat Fany tersadar di sana.
"Lepaskan aku?" pinta Fany dengan sedikit malu karena Julian tengah melihat dirinya sedang terkesima. Pipi yang sedikit merona itu terlihat jelas di mata Julian.
Julian melepaskan tangannya dari Fany karena banyak pasang mata yang juga melihat mereka. Keduanya menuju meja di mana Jennifer dan Gerald sudah menunggu di sana. Julian tersenyum saat melihat pertama kalinya Fany terkesima dan tersipu padanya.
__ADS_1
"Kalian lama sekali!" protes Gerald yang melihat Julian dan Fany yang baru datang.
"Padahal kau sendiri juga senang bukan kalau aku tidak ada di sini?" ujar Julian membalikkan ucapan Gerald. "Tentu saja senang. Karena tidak ada mulut berisikmu itu!"