Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 114


__ADS_3

Wanita yang melihat Ana jatuh pingsan itu bergetar ketakutan.


"Ada apa?" tanyanya saat sampai di sana.


"Nyonya?" pekiknya melihat Ana pingsan dengan banyak darah di sana.


"Kau bawa nyonya ke rumah sakit. Aku akan mengurusnya di sini." Ujar rekannya. Ia pun mengangguk dan membawa Ana keluar dari sana.


"Nyonya, apa tadi anda melihat kejadiannya?" tanya salah satu anak buah Sean pada wanita tadi.


"T-tidak, tuan. Tadi aku juga baru sampai di sini, saat aku membuka pintu, wanita tadi sudah pingsan dengan banyak darah." Jawabnya yang merasa takut melihat banyak darah.


Anak buah Sean mencoba mencari barang bukti di sekeliling toilet itu, ia menemukan pisau yang bersimbah darah tidak jauh dari sana.


Sedangkan di luar, Clare dan Rika melihat tubuh Ana yang di bopong oleh anak buah Sean itu pun bertanya-tanya.


Mereka mencoba melihat apa yang sudah terjadi. "Ana." Pekiknya bersamaan melihat Ana yang tidak sadarkan diri dengan banyak darah. Mereka kaget hingga tidak bisa berkata-kata. Air mata keduanya mengalir melihat keadaan Ana.


Seketika rumah makan di sana menjadi ramai di perbincangkan.


"Nyonya, saya tidak ada waktu. Saya harus menyelamatkan nyonya terlebih dahulu, saya titip tuan dan nona kecil pada kalian." Ujarnya lalu keluar dengan terburu-buru.


Anak buah Sean segera membawa tubuh Ana ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.


"Aunty, mami kenapa? Kenapa kami ditinggal?" tanya Julian melihat sang mami dalam gendongan anak buah Sean dan sudah melajukan mobilnya.


"Julian, Jenni, kalian sama aunty ya. Kita susul mami ." Ujar Clare dengan sedikit tenang agar kedua anak Ana tidak menangis.


Mereka segera membayar lalu keluar bersamaan dan menuju rumah sakit di mana Ana di larikan. Anak buah Sean yang lainnya masih berada di sana untuk mencari semua bukti-bukti yang ada.


Sedangkan Lita, ia sudah berada jauh dari sana. la segera mencari tempat untuknya bersembunyi terlebih dahulu.


Di dalam mobil, Rika menghubungi James karena tidak punya nomor ponsel dari Sean.


Rika sudah sangat gugup, hingga tubuhnya merasa gemetar.


"Ayo, Jams. Cepat angkat." Ucapnya karena James belum juga mengangkat telfon darinya.


Dirinya mencoba menghubungi James kembali.

__ADS_1


"Halo, sayang." Ucap James di seberang sana. Rika yang mendengar suara James pun bernafas lega.


"Apa tuan Sean ada bersamamu sekarang? Cepat suruh dia datang ke rumah sakit sekarang, ini sangat genting." Ujarnya dengan gugup.


James mendengar perkataan Rika itu pun menoleh ke arah Sean yang sedang ada di mejanya.


"Memangnya ada apa? Coba katakan dengan jelas." Ujar James lagi dengan lembut.


"Tadi, Ana pingsan di toilet tempat kita makan. Dia bersimbah banyak darah, hiks... hikss.." ucap Rika di sana. James membelalakkan matanya lebar-lebar lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Tuan..." ucap James lirih.


"Apa, Jams? Katakan saja." Ucap Sean yang masih fokus membolak-balikkan dokumen yang ia pegang.


"Tuan, istriku bilang sebaiknya anda ke rumah sakit sekarang." Ujar James. Sean yang mendengar kata rumah sakit itu pun menghentikan aktifitasnya lalu menatap James.


"Nyonya di larikan ke rumah sakit. Mereka menemukan nyonya pingsan bersimbah banyak darah di toilet tempat mereka makan." Jawab James hati-hati takut jika Sean akan mengamuk.


Ekspresi Sean tidak bisa di gambarkan lagi kali ini.


"APA KAU BILANG?" bentaknya. James sudah menduga akan hal ini, dia hanya bisa memejamkan matanya melihat kemarahan Sean di depannya. Wajah Sean terlihat sangat merah kali ini.


"Siall.." geramnya kesal.


"Tuan, sebaiknya anda segera ke sana. Ini sangat genting."


"Kau ikut denganku." Ujar Sean. la segera mengambil jas miliknya lalu melangkahkan kakinya terburu-buru.


Kembali lagi ke sisi Rika yang berada di dalam mobil bersama dengan kedua anak Ana dan Clare.


"Aunty.... Memangnya mami kenapa?" tanya Jennifer polosnya. Dia belum tahu bagaimana keadaan sang mami, keduanya hanya tahu jika maminya tadi berada di gendongan anak buah Sean.


"Mami tadi jatuh di toilet, sekarang kita menyusul mami." Jawab Clare pada twin.


Tidak lama kemudian, mobil yang mereka gunakan sudah sampai di rumah sakit. Mereka segera berlari ke arah ruang operasi, di mana Ana sedang di tangani saat ini.


"Di mana Ana?" tanya Rika pada ank buah yang membawa Ana tadi.


"Dokter masih menanganinya, nyonya." Jawabnya.

__ADS_1


Rika terus saja meneteskan air matanya, hingga putrinya yang ada di gendongannya itu memandangnya sedari tadi.


"Rika, sudah tenangkan dirimu. Nanti anak-anak ikut menangis." Clare mencoba menenangkan Rika yang sedari tadi meneteskan air matanya. Rika menghapus air matanya setelah mendengar ucapan dari Clare.


Beberapa menit kemudian, Sean dan James tiba di rumah sakit. la segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Setibanya di sana...


Bugh...


Sean memberikan bogeman kuat pada anak buahnya di sana. Clare dan Rika berteriak kaget melihat Sean yang tiba-tiba saja membogem anak buahnya. Julian yang biasa sangat jahil itu pun ketakutan melihat sang papi marah dan memukul anak buahnya. la memeluk erat sang kakak dengan raut wajah yang sedang ketakutan.


Anak buahnya hingga terhuyung karena saking kerasnya bogeman dari Sean.


"Apa saja yang kalian lakukan di luar sana, hah?" bentaknya. Ia terlihat sangat marah.


Sean ingin melayangkan bogemannya kembali namun James dengan cepat menghalangi aksi Sean.


"Tuan, cukup. Jangan membuat anak-anak takut." Lerai James karena memang terdapat banyak anak kecil di sana. Jangan sampai mereka merekam dan mencatat adegan kekerasan tersebut di fikirannya.


"Maafkan kelalian kami, tuan." Ujarnya menunduk takut.


Sean mengusap wajahnya kasar lalu memukul tembok rumah sakit dengan keras.


"Papii..." Lirih Jennifer di sana. seketika Sean tersadar saat Jennifer memanggil namanya.


La mendekat ke arah kedua anaknya dan mensejajarkan tinggi badannya pada keduanya. Sean memeluk kedua anaknya untuk menghilangkan ketakutan mereka.


"Maafkan papi." Ucap Sean pada keduanya.


Sean mencoba untuk tenang agar kedua anaknya itu tidak ikut cemas. Sean terus saja mondar mandir merasakan kecemasan yang tidak ada hentinya.


"Sebaiknya kalian pulang, tidak baik jika anak-anak kalian berada di sini." Ucap Sean pada kedua teman Ana.


"Tapi, kita mau menunggu Ana."


"Kalian bisa kembali besok, kasihan anak-anak kalian." Keduanya pun mengikuti perkataan Sean dari pada nanti Sean kembali marah.


Tidak lama kemudian, anak buah Sean yang sedari tadi yang berada di lokasi sudah tida di rumah sakit. la menghampiri Sean dan menunjukkan rekaman cctv yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2