
Beberapa jam sudah mereka mengudara, akhirnya mereka sampai juga di Bandara New Chitose. Bandara tersebut merupakan bandara yang berjarak 45 kilometer dari pusat Sapporo dan merupakan bandara terbesar di Hokkaido yang terhubung melalui penerbangan-penerbangan langsung dengan 30 kota di Jepang.
Mereka tiba di sana sudah menjelang siang karena memang perbedaan zona waktu di antara kedua negara tersebut.
Sean dan beberapa bawahannya segera membangunkan satu per satu keluarga Sean karena sudah sampai di tempat tujuan.
Sean membangunkan sang istri secara lembut." Ana, ayo bangun. Kita sudah sampai." Sean mengelus kepala Ana.
Ana yang merasa ada yang mengelus kepalanya itu pun terbangun. "Enngh... apa kita sudah sampai?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Sudah, kita baru saja sampai. Ayo," ajak Sean. Sean menggendong salah satu dari twin J dan membawanya turun dari sana.
Sean dan rombongan keluarganya langsung saja menuju hotel yang sudah di pesan. Sepanjang perjalanan, Ana melihat-lihat jalanan yang tertutup salju
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka semua sampai di salah satu hotel mewah yang ada di Hokkaido. Udara di sana cukup dingin saat ini, karena memang sedang musim dingin di tambah lagi salju turun.
Sean segera mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam hotel dan masuk ke dalam kamar yang sudah di pesan agar tidak berlama-lama di luar.
Sesampainya di kamar masing-masing, Ana membaringkan tubuh Jennifer lalu berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan kota dari atas. Setelah membaringkan putranya Sean mendekat ke arah Ana.
"Apa kau suka?" tanya Sean berada di belakang Ana.
"Emm... aku sangat suka." Jawab Ana.
"Aku ingin makan, aku sudah sangat lapar." Rengeknya sambil mengelus-elus perutnya. Sean terkekeh melihat muka Ana yang menunjukkan dirinya sedang kelaparan.
"Aku akan pesankan makanan, kita makan di sini saja. Sekalian menjaga mereka." Jawab Sean. Sean segera menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan khas jepang yang di nikmati saat musim dingin seperti ini.
Beberapa menit kemudian, pintu di ketuk. Sean segera membukakan pintu untuk melihatnya.
Sean mempersilahkan karyawan di sana untuk masuk dan meletakkan makanan yang ia pesan di atas meja. Setelah karyawan tersebut keluar, Ana segera mendekat dengan antusiasnya. Sepetinya, memang dirinya sangat kelaparan.
Ana menjilat bibirnya sendiri saat melihat hidangan di depannya itu, makanan itu sangat menggiurkan di mata Ana.
"Waahh... ini ramen." Ucapnya. Sean terkekeh melihat Ana yang mendadak seperti Diva.
Ngomong-ngomong dimanakah Diva? Dia sedang bersama grandma dan grandpa-nya saat ini, jadi anteng dirinya tidak mengganggu waktu berdua aunty dan uncle-nya.
Ana langsung saja mencicipi makanan khas jepang tersebut. "Hmmm... ini sangat enak." Ucap Ana lalu kembali memakannya dengan sangat lahap.
"Pelan-pelan, sayang. Tidak ada yang merebut makananmu." Ucap Sean. Ana tidak memperdulikan ucapan Sean kali ini, ia sangat lahap memakannya. Sean hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya.
Sedangkan di atas kasur ukuran king size, Julian hidungnya mengendus-endus mencium aroma harum dari makanan. Padahal dirinya masih tertidur, sepertinya hidungnya tidak bisa bohong jika terdapat makanan yang menggunggah selera di sana.
Julian segera membuka matanya dan kembali mengendus-endus bau makanan di sana. Ia menoleh ke arah sang mami dan papi yang sedang asik makan berdua.
"Mamiiii..." ucapnya memanggil sang mami.
Sean dan Ana pun sontak menoleh ke arah Julian yang sedang memanggilnya. Ia turun dari ranjang dan berjalan cepat ke arah mami dan papinya.
"Mami makan apa?" tanyanya dengan muka bantalnya.
"Mami dan papi makan ramen, apa Julian mau?" tawar Ana pada buah hatinya. Julian mengangguk tanpa penolakan.
Ana mencoba memangku Julian tapi Sean melarangnya." Biarkan dia bersamaku, sayang. Jangan sampai nanti kau kesakitan karena bekas lukamu."
Sean memanggil Julian untuk ke arahnya, untung saja kali ini dirinya sangat menurut.
"Aku sudah membaik, kau tidak perlu khawatir." Ucap Ana.
__ADS_1
"Tidak boleh. Kau tidak boleh mengangkat yang berat-berat." Ucapnya yang terlihat posesif.
Julian menyendok ramen milik sang papi dan memasukkan ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit. Julian sangat menikmati makanan itu hingga dirinya lupa dengan papinya.
Ana yang melihat itu pun mencoba menyuapi Sean dengan ramen miliknya. Sean tersenyum dan menerima suapan yang di berikan oleh sang istri.
Julian tidak peduli dengan aktifitas mami dan papinya, yang ia utamakan saat ini adalah makan. Sampai-sampai tidurpun hidungnya masih sangat tajam mencium bau makanan.
Keesokan harinya....
Mereka semua menuju destinasi wisata yang ada di sana yang memang pas di kunjungi saat musim seperti ini. Diva dan twinj terlihat sangat antusias untuk keberangkatan mereka. Ana memakaikan baju tebal untuk kedua anaknya.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah kebun binatang Asahiyama. Kebun binatang tersebut merupakan tempat popular bagi berbagai kalangan.
Di sana terdapat banyak hewan yang menjadi lebih aktif saat musim dingin. Di sana ada pawai penguin yang berjalan 500 meter selama 30 menit. Twin J terlihat sangat girang melihat hewan lucu itu berjalan. Julian ingin berlari menyusulnya, tapi dengan cepat Diva memegang baju tebalnya agar tidak lari menuju ke penguin-pinguin berjalan itu.
Di mata Julian, mereka semua terlihat lucu dengan berjalan menggunakan kaki-kaki mungil mereka.
"Eeehh... kau mau kemana Jul?" cegah Diva.
"Aaa... mamii... Julian mau itu, mami." Rengeknya meminta pada sang mami untuk mengambilnya. Ana memandang Sean mendengar pemintaan anaknya itu.
"Julian diam saja di sini, ya. Kita lihat saja dulu mereka berjalan, oke." Bujuk mami Sean di sana. Diva terus saja memegangi baju Julian agar tidak bisa kemana-mana.
"Tidak mau, grandma. Julian mau itu..." rengeknya yang masih ingin berlari ke arah penguin-pinguin itu. Diva yang memegang ujung jaketnya hingga dirinya tidak bisa berlari ke arah sana.
"Julian, biarkan mereka berjalan-jalan dulu, ya. Nanti mereka bisa menangis kalau di pisahkan dari kelompoknya." Ana mencoba membujuk putranya yang meonta-ronta ingin berlari ke sana.
Dengan segala bujukan dari Ana, akhirnya Julian menurut dengan ucapan sang mami.
Setelah melihat-lihat penguin itu, mereka melanjutkan untuk melihat hewan-hewan lucu lainnya seperti anjing laut dan beruang kutub.
Jennifer melihat beruang kutub itu dengan gemas, apalagi di sana terdapat anak dari beruang kutub yang terlihat putih bersih dan menggemaskan.
pada sang papi. Sean meringis kali ini mendengar anak-anaknya yang meminta hal aneh-aneh. Tadi Julian yang meminta penguin, sekarang tiba Jennifer yang meminta anak beruang kutub.
"Jen... Kalau kita membawanya pulang nanti mereka tidak bisa bertahan hidup. Biarkan dia ada di sini, oke." Bujuk Sean pada putrinya.
"Benarkah papi? Apa mereka tidak bisa bertahan di
sana?" Jennifer bertanya dengan rasa penasarannya. "Benar, jika mereka tidak bisa bertahan, mereka akan punah." Jawab Sean.
"Punah?" Jennifer masih dalam penasarannya.
"Iya, punah. Punah itu mereka akan habis, tidak ada beruang kutub lagi di dunia ini." Sean mencoba memberi pengertian pada putrinya. Entah kenapa putrinya tiba-tiba saja meminta beruang kutub di sana.
"Baiklah papi." Jawabnya yang akhirnya faham.
Setelah dari sana, Sean mengajak semua keluarganya untuk berkunjung ke tempat lainnya.
Setelah mengunjungi beberapa tempat yang popular, mereka berakhir mengunjungi kota Sapporo di sana.
Di sana bisa melakukan beragam aktifitas seperti bermain ski, snowboarding dan snowshoeing. Selain itu mereka bisa menikmati festival dan atraksi yang luar biasa di sana. keluarga Sean menikmati semua aktifitas mereka, mereka melakukan beberapa kegiatan di sana.
Setelah menikmati beberapa festival dan beberapa antraksi di sana, Diva dan twin J saling lempar salju yang di bulatkan kecil-kecil. Tawa mereka terlihat sangat lebar tanpa beban.
Sean dan Ana membiarkan mereka bermain yang di damping oleh grandma dan grandpanya.
"Apa kau senang?" tanya Sean di sana.
__ADS_1
"Bukan hanya senang, aku bahkan sangat bahagia. Aku bahagia berada di lingkungan keluarga kalian. Aku sangat bahagia bisa memiliki malaikat kecil seperti mereka." Ucap Ana.
"Terima kasih kau sudah menerimaku, Sean. Kau memang suami terbaik untukku, aku beruntung bisa memilikimu." Ana mencium bibir Sean sedikit lama di sana.
Sean tersenyum senang melihat Ana yang sudah tidak malu-malu lagi. "Sepertinya, kau sudah cukup berani." Ujarnya pada Ana.
"Aku menirukanmu." Jawab Ana yang membuat Sean kembali tersenyum.
"Aku bahkan lebih beruntung karena bisa memilikimu, sayang. Aku beruntung bisa mendapatkan istri terbaik seperti dirimu. kau lebih dari apapun. Karena dirimu, semua kehidupan yang aku jalani berubah bewarna. Diva juga terlihat sangat bahagia setelah kehadiranmu." Ucap Sean pada Ana.
"Kau lihat, Diva sangat bahagia sekarang. Aku memang tidak bisa menjadi papa sekaligus mama yang terbaik untuknya. Tapi, berkat didikanmu, dia menjadi anak yang pintar dan penurut." Sambung Sean sambil melihat aktifitas Diva dan twin J yang sedang berlari-lari di sana.
"Itu bukan berkatku, memang dari awal Diva sudah sangat penurut karena didikanmu." Jawabnya.
"Kau sudah berhasil suamiku. Kau sudah behasil menjadi papi yang baik untuk Diva dan kedua anak kita. Aku bangga memilikimu. Aku beruntung bisa menjadi istri dari Sean William, seorang konglomerat muda dan pimpinan mafia yang menguasai daratan Eropa." Ucap Ana memuji Sean.
"Dan kau adalah satu-satunya istri dari Sean sang penguasa daratan Eropa ini." Ucapnya tersenyum lalu mencium bibir Ana. Ana memejamkan kedua matanya tidak menDivak ciuman dari suaminya.
Mereka di sana saling menumpahkan rasa bahagia dan mencurahkan satu sama lain. Tidak mudah bagi Ana hidup di keluarga besar Johnson, banyak juga musuh dari Sean yang mengincarnya dan anak-anaknya.
Sean memeluk Ana dengan erat karena rasa sayangnya pada sang istri yang memang tidak bisa di kalahkan oleh apapun.
"Twiin... lihatlah papi dan mamimu di sana. Mereka sepertinya lupa dengan kita di sini." Ujar Diva pada kedua adiknya. Julian dan Jennifer mengikuti arah tunjuk Diva pada sang mami dan papinya yang berada sedikit jauh dari sana.
Diva membentuk bDiva-bDiva kecil dengan salju dan melemparkan ke arah Sean yang sedang berpelukan bersama Ana di sana.
Pluk...
Plukk...
Diva melempar dua kali ke arah Sean. Sean yang mendapat lemparan dari Diva itu pun seketika menoleh.
"Ayo uncle, aunty... kita bersenang-senang." Teriak Diva pada mereka berdua. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum lalu ikut bergabung dengan Diva dan kedua anaknya.
"Baiklah, Uncle dan aunty akan bermain," jawab Sean.
Sean ikut membuat bola-bola kecil dan ikut bermain degan kedua anaknya dan keponakannya.
Hingga pada akhirnya, salju pun turun di sana.
Diva mendongakkan kepalanya melihat salju-salju yang berjatuhan. Jennifer dan Julian ikut mendongakkan kepalanya ke atas melihat salju yang turun dari atas.
Diva membuka kedua telapak tangannya di ikuti oleh Jennifer yang membuka tangan mungilnya.
Jennifer mencoba menggenggam salju yang terjatuh di tangannya, rasanya dingin baginya. Tapi dengan sekejap, salju yang ada di tangannya itu pun sirna. la melakukannya berulang-ulang kali. Sedangkan Julian, ia menjulurkan lidahnya dan mencoba bagaimana rasa salju
itu. Rasa penasarannya sangat tinggi.
"Jul, jangan melakukan itu." Tegur Diva. Tapi, Julian tidak menggubris ucapan dari Diva. Dirinya terus saja melakukannya.
Ana yang berdiri di dekat Sean itu pun juga membuka lebar-lebar tangannya memandang ke atas. la melihat salju itu jatuh ke tangannya.
Liburan kali ini membuat Ana sangat bahagia, karena dirinya bisa menikmati waktu itu dengan keluarga kecilnya dan juga keluarga dari suaminya. Ia terasa sangat beruntung berada di keluarga besar itu.
Sean mendekat dan tersenyum lalu memeluk Ana sangat erat, rasa kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini tidak bisa di gambarkan lagi. Dirinya yang mendapat istri sempurna seperti Ana, dan mempunyai dua malaikat kecil.
Sean mencium kening Ana tanpa peduli siapa saja yang memandangnya. Twin J berlari-lari mengelilingi mami dan papinya yang sedang berpelukan. Mereka berlari di bawah salju yang turun.
Ana memandang wajah tampan suaminya lalu membalas mencium pipi suaminya. Mereka saling berpelukan kembali.
__ADS_1
Rasa syukur dan bahagia bercampur menjadi satu menyelimuti keluarga kecil itu....
End...