
"Emm... sementara ini kalian di sini dulu. Jangan kemana-kemana sebelum aku datang, kalian jangan keluar apapun yang terjadi di luar," pintah Sean pada semua yang ada di sini.
"Sean, apa terjadi sesuatu?" Ana menebak jika saat ini terjadi sesuatu yang tidak baik.
Tanpa Sean menjawab, Ana sudah bisa melihat raut wajah Sean yang memang mengatakan jika saat ini tidaklah baik-baik saja. Ana mendekat ke arah Sean dan menangkup ke dua pipi Sean dengan tangannya yang lembut.
"Berhati-hatilah. Kau dan Twin J harus kembali dengan keadaan yang utuh tidak ada lecet sedikit pun," ujar Ana dengan halus. Meskipun mereka sudah lama menikah, tetapi rumah tangga mereka masih terlihat sangat harmonis.
Sean menggenggam tangan Ana dengan tatapannya yang teduh. "Kau percayakan saja padaku, tidak akan terjadi apa-apa. Semua kan baik-baik saja."
Ana menganggukkan kepalanya faham. Ia harus mengizinkan Sean untuk ikut bertempur kali ini, biasanya hanya Julian yang melakukakannya, sekarang Sean juga harus turun tangan, berarti keadaan memang benar-benar tidak baik-baik saja.
"Kalian semua jangan ada yang keluar dari sini apa pun yang terjadi," pintah Sean yang di angguki oleh mereka semua.
Sean mengecup singkat kening Ana lalu melangkahkan kakinya keluar, Ana menatap kepergian Sean dengan tatapan yang sedikit sendu. Sean meminta anak buahnya untuk menjaga keamanan di sana sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Selesai berpesan pada anak buahnya, Sean pergi menuju ke markas untuk bergabung dengan Julian dan lainnya.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Nyonya?"
tanya salah satu maid yang bekerja di mension Sean.
Ana tersenyum lembut sebelum menjawab pertanyaan dari maid itu. "Semuanya akan baik-baik saja. Percayakan semuanya pada Tuanmu."
Ana mencoba untuk tenang di sana, walau hatinya tidak bisa bohong dengan apa yang ia rasakan sebenarnya. Ia tidak mau jika para maid di sana ikut cemas dan tidak tenang dengan apa yang akan terjadi.
Sementara di sisi lain di waktu bersamaan...
"Semua sudah siap, Tuan," lapornya pada orang yang ia panggil 'tuan'. Siapa lagi kalau bukan putra dari Jacob.
__ADS_1
"Bagaimana dengan nereka semua?" Yang ia maksud adalah keluarga William.
"Sepertinya, mereka sedang bersenang-senang menikmati waktu mereka," jelasnya dengan singkat.
"Bersenang-senanglah kalian semua, setelah ini, kalian tidak akan bisa menikmati waktu kalian lagi. Hahaha...." .." Gelak tawanya terdengar sangat keras. Dirinya sangat percaya sekali jika keluarga William akan ia kalahkan. Dia tidak tahu saja jika Julian sudah bergerak lebih cepat darinya.
"Bersiaplah kalian semua. Sesuaikan dengan kelompok yang sudah aku bagi, setelah itu kalian bergegaslah menyebar. " titahnya pada bawahannya. Anak buahnya menunduk hormat sebelum pergi dari sana.
Tangannya mengepal dan wajah yang jahat itu sangat terlihat. "Kalian akan merasakan apa yang aku rasa, tunggu pebalasanku."
Dirinya sangat percaya jika kali ini pasti Julian tidak akan bisa melawan serangan darinya karena ia memecah semua anggotanya. Kita lihat saja bagaimana dirinya dan semua anggotanya melawan kekuatan dari keluarga William dan anggota Julian.
Sean berjalan dengan cepat memasuki markas dan pandangan lurus ke depan. "Bagaimana dengan semuanya, Boy?"
Semua yang ada di sana sudah berkumpul, Fany, Robert, Jennifer dan Gerald. Tinggal menunggu aba-aba selanjutnya dari Julian. sepertinya pernag besar-besaran babak ke dua akan di mulai kembali, bahkan dengan kelompok yang sama. Hanya pemimpin dari musushnya yang berbeda.
"Semuanya sudah beres, Pi. Kita semua tingal satnd by saja di posisi masing-masing. Nanti aku akan ikut memancing mereka untuk datang ke tempat yang sudah kita sepakati. Papi dan Kak Riko, stand by saja di mension masing-masing. Anggota kita juga sudah berjaga-jaga di sana," jelas Julian panjang lebar.
Semua orang bergegas pergi menuju posisi masing-masing, sedangkan Julian menyeret Fany untuk pergi bersamanya. Awalnya Fany menolak dengan ajakan Julian, tahu sendiri jika Julian tidak mau menerima penolakan sama sekali. Mau tidak mau jika Fany ikut bersama dnegan Julian.
"Kenapa juga kau mengajakku ke sini?" protes Fany. Wajahnya terlihat sangat malas untuk berada di sana.
"Sudah diam saja. Aku ingin melihat mereka di sini, akan sangat senang jika bisa menipu mereka," jawab Julian dengan memandang ke sekeliling untuk melihat pegerakan dari putra Jacob.
"Apa akan terjadi perang besar-besaran lagi?"
"Eeemm... sepertinya tidak akan sebesar waktu lalu. Aku sengaja memecah semua anggota untuk di posisi lain, agar lebih mudah mengalahkan mereka," jelas Julian.
__ADS_1
"Aku sedikit tidak sabar untuk berhadapan dengan mereka. Sudah lama sekali aku tidak ikut berperang dengan mereka-mereka. Otot-otoku sepertinya mulai kaku." Fany meregangkan semua otot-otonya, dia tak Julian tersenyum miring dengan apa yang di lakukan oleh Fany. "Heh, ternyata kau dan Jen tidak ada bedanya. Yang membedakan hanya sikap kalian saja."
"Kita kan sehati, tentulah kita pasti akan sama." Fany berucap sedikit sombong dengan mengiaskan rambutnya kebelakang.
Julian mengacak-acak rambut lurus Fany hingga tidak berbentuk lagi, rambut yang semula rapi kini terlihat seperti rambut singa. "Hentikan!" Fany merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Julian.
"Kau lebih terlihat cantik kalau seperti itu," ledek Julian.
"Sebaiknya kau diam!" Fany yang sudah kesal memukuli Julian dengan tas miliknya. Sebisa mungkin Julian menghalau pukulan-pukulan dari Fany.
Benar saja apa yang di katakan Julian, musuh pasti tengah mengintai mereka. Di sana terdapat beberapa yang tengah mengawasi Julian bersama Fany saat ini.
Sementara di sisi lainnya...
Putra Jacob bersiap dengan melihat beberapa bawahannya yang pergi dengan cara bergantian.
"Bagaimana dengan semuanya?"
"Semua sudah siap, Tuan," jawab bawahannya.
"Kita berangkat sekarang. Aku tidak mau menunda-nunda lagi. Ratakan mereka semua menjadi tanah." Para bawahannya itu pun menunduk hormat padanya.
Mereka segera bergegas dan memasuki kendaraan masing-masing. Sebagian dari mereka sudah pergi lebih awal. Putra Jacob sudah tidak sabar lagi untuk bisa melawan Julian.
Mension ...
Di sekitar mension Sean, sudah terdapat beberapa yang berada di sana. Mereka nampak mengamati keadaan sekitar, para pekerja di rumah Sean sebagian itu adalah anak buahnya yang tengah menyamar. Mobil Sean terlihat memasuki halaman mensionnya yang megah.
__ADS_1
Para pengintai itu memberikan kode kepada teman-temannya yang lain. Mereka segera melakukan pergerakan sedikit demi sedikit, mereka berencana akan masuk ke mension itu. Entah mereka akan berhasil atau tidak menyerang di kediaman Sean, Sean juga yang pastinya tidak akan membiarkan mension megahnya rusak begitu saja dengan para-para musuhnya.
Di posisi Riko, ia juga sudah sampai di kediamannya yang terbilang megah itu. Anak-anak buah Julian dan beberapa penjaga yang ada di sana sudah mulai waspada jika musuh tiba-tiba saja datang menyerang. Mereka semua tidak tahu kalau rumah megah itu sudah kosong tidak ada siapa-siapa karena mereka semua sudah di bawa ke tempat yang aman.