Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 198


__ADS_3

"Setahuku tidak," jawabnya singkat.


Mereka berdua memutuskan untuk mendekat ke arah Fany. Mereka berdua menyapa Fany dan teman laki-lakinya, Jennifer hanya menganggukkan kepalanya saja saat laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Jennifer.


"Apa dia kekasihmu?" tanya Gerald.


"Tidak. Dia hanya teman dekatku, dia juga satu kampus sama kita-kita," jelasnya. Gerald hanya menganggukkan kepalanya.


Ya... laki-laki yang mereka lihat bersama dengan Fany adalah Richard. Jennifer memandang sedikit aneh pada Richard, Richard yang merasa di pandang oleh Jennifer itu pun menatap balik pada Jennifer lalu melengoskan wajahnya kembali.


"Ada apa, Babe?" tanya Gerald melihat Jennifer yang terus memandang ke arah Richard. Gerald merasa sedikit cemburu mengetahuinya.


"Aah... tidak apa-apa. Sebaiknya kita kembali," ajaknya. Gerald menyetujui ajakan Jennifer, mereka pun berpamitan pada Fany dan Richard.


"Ada apa, Babe?" tanya Gerald kembali di sepanjang perjalanan.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa ada yang aneh pada pria yang bersama dengan Fany," jelasnya.


"Aneh?" ulangnya. Ia ingin mendengar penjelasan yang lengkap dari Jennifer.


"Pria itu sepertinya bukan pria baik," jelasnya lagi.


"Dia seperti pria hidung belang, bukan?" sahut Gerald.


"Kau tahu?"


"Aku memang tidak tahu siapa laki-laki itu. Tapi aku juga bisa melihatnya seperti apa yang kau katakan tadi," jelasnya.


"Biarkan itu menjadi urusan mereka, Babe. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita saja," ajak Gerald. Jennifer menyetujui apa yang di katakan oleh Gerald, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke tempat lainnya.


Skiiip...


Malam hari...


Julian memberhentikan motor sportnya ketika melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Julian berhenti sedikit jauh dari tempat tersebut dan melihat ke arah orang tersebut. Julian sengaja tidak melepas helmnya agar tidak terkenal, ia melihat jika seseorang itu tengah bermesraan bersama wanita lain.


"Untuk apa orang itu berada di tempat seperti ini? Apa dia sudah memiliki kekasih?" gumamnya saat melihat orang tersebut.


"Aku akan segera mencari tahunya." Sambungnya lalu merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang yang ada di seberang sana.


Tuutt... tuutt...

__ADS_1


"Halo, cepat cari tahu dengan nama yang sudah aku kirimkan padamu." Ucapnya di saat panggilannya sudah terhubung.


"Aku tunggu besok pagi." Sambungnya lalu mematikan ponselnya.


"Orang ini kebiasaan sekali mematikan ponselnya," gerutunya di sebrang sana. tanpa pikir panjang ia pun melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Julian padanya.


Kembali lagi ke sisi Julian ...


"Jangan sampai aku tahu siapa dirimu sebenarnya, Richard. Jika aku tahu siapa dirimu maka bersiap-siaplah kau," gumamnya.


Benar sekali jika orang yang Julian lihat itu adalah Richard. Julian yang sedang menikmati udara malam itu kebetulan melintas di sekitar club itu, Julian tidak sengaja melihat Richard di salah satu club. Ia bersama perempuan dengan sangat mesra. Jika dia sudah memiliki kekasih, untuk apa dia mendekati Fany, pikirnya.


Setelah Richard masuk ke dalam, Julian pun memutuskan untuk pergi dari sana dan melanjutkan perjalanannya mencari udara segar di malam hari.


Keesokan harinya...


Kriing...


Kriing...


Suara dering telfon terdengar cukup kencang, sang pemilik itu hanya menutup telinga mendengarnya. la masih berbaring di atas tempat tidurnya, ponselnya masih berdering tapi sang pemilik tidak mau menghiraukan.


Kriing...


Kriing...


"Apa kau tidak bisa melihat jam? Pagi-pagi sudah menggangguku saja!" kesalnya karena tidurnya terusik.


"Harusnya kau yang melihat jam. Sudah jam berapa ini, kau masih saja belum terbangun," alasnya di seberang sana. Julian pun kembali menatap jam dan melihat jam yang ada di layar ponselnya, ia melotot melihat jam yang sudah menunjukkan angka 8 pagi.


"Kenapa kau diam? Apa kau baru sadar?" sambung orang di seberang sana.


"Ada apa kau menghubungiku?" tanya Julian.


"Aku sudah menemukan yang kau minta semalam. Aku mengirimkannya atau kau datang ke markas?"


"Lebih enak kalau aku akan datang ke markas," ujar Julian. Ia pun mematikan panggilan telfonnya secara sepihak lalu segera bersiap sebelum sang kena semprot oleh sang mami.


Orang di seberang sana hanya mendengus sebal, dengan Julian yang kebiasaan memutuskan panggilan seenaknya sebelum lawan bicaranya menyahut.


Skiipp...

__ADS_1


Markas Kingdom...


"Ini semua data yang aku dapatkan. Dia pria yang suka bermain dengan banyak perempuan, untuk sisanya bisa lihat sendiri." Ucapnya memberikan berkas yang ia bawa.


"Kau ini, dengan atasan tidak ada formal-formalnya." Protes Julian di sana.


"Lalu saya harus bagaimana, Tuan Muda?" ujarnya memformalkan bahasanya setelah mendengar protes Julian.


"Cih, dasar!" decih Julian dengan wajah tengilnya.


Orang itu pun memutar kedua bola matanya dengan malas. "Biasa salah, formal. Terus aku harus bagaimana?"


"Tidak tau." Julian menggedikkan bahunya.


Julian melihat hasil yang ia mintai semalam, matanya dengan jeli membaca. Tanpa sadar jika wajahnya berubah menjadi marah, rahangnya mengeras dengan wajah yang memerah.


"Dasar laki-laki brengsek!" Julian melempar semua lembaran yang baru saja ia baca.


"Santai Brother... kenapa kau marah-marah begitu ?" ucapnya. Julian langsung tersadar dan secepat mungkin mengubah raut wajahnya seperti semula.


"Tentu saja aku marah, dia laki-laki yang tidak bisa menjaga wanita," jawabnya.


"Kau marah karena laki-laki itu tidak bisa menjaga wanita atau karena dekat dengan Fany?" celetuknya yang membuat Julian gugup.


"Te-tentu saja aku marah karena laki-laki itu tidak bisa menjaga wanita. Fany kan juga wanita, tidak salah juga aku marah," jawabnya panjang lebar.


"Itukan urusannya dengan Fany. Kenapa kau yang


harus marah-marah?" ujarnya lagi karena ingin mendengar jawaban dari Julian yang sebenarnya.


"Memangnya salah kalau aku marah. Dia temanku dari kecil sama sepertimu, mana mungkin aku membiarkan Fany jatuh di tangan laki-laki seperti itu," jawab Julian dengan tegas.


"Karena teman dari kecil atau kau memang suka dengannya?" celetuknya.


"Dasar tidak sopan! Jangan asal bicara," jawab Julian dengan ketus. Tapi wajahnya terlihat jika dirinya sedang ada yang ia rasakan.


"Pipimu terlihat merona." Godanya dengan menunjuk ke arah Julian. Julian seketika memegang kedua pipinya.


"Bwahahaha... kau menyukainya, kan?" godanya lagi.


"Diam kau! Atau aku lempar dirimu ke dalam kandang leorpard sana!" kesalnya karena sedari tadi dirinya di goda. Orang tiu hanya bisa tertawa hingga terpingkal-pingkal melihat reaksi Julian yang sangat terlihat jika memiliki rasa pada Fany.

__ADS_1


"Kalau kau terus tertawa, aku sumpahin kau tidak bisa tertawa lagi!" sengal Julian. Orang itu tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Julian, Julian yang merasa kesal itu pun segera pergi dari sana dan segera datang ke kampus.


__ADS_2