Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 260


__ADS_3

"Aku akan membagi menjadi lima kelompok. Kelompok satu, kalian akan berjaga di kediaman Tuan Riko, kalian berbaur di sana. Mereka akan datang ke sana untuk membuat kekacauan. Kelompok dua, kalian akan berjaga di mension pribadi. Kalian bersiap untuk menunggu mereka,"


"Kelompok 3, kalian akan tetap berjaga di markas. Kelompok 4, aku akan meletakkan kalian di tempat kita yang sedikit jauh dari sini. Kalian tahu bukan?" sambung Julian bertanya pada anak buahnya.


"Kita semua tahu, tuan Muda," jawab mereka serempak.


"Kelompok 5, aku hanya butuh beberapa dari kalian. Aku menugaskan kalian untuk memancing sisa dari mereka datang ke tempat yang sudah aku tentukan. Aku akan mengamankan semua keluarga William terlebih dahulu, jadi, di saat mereka datang, hanya berisi rumah kososng tanpa penghuni. Kalian yang sudah aku tugaskan di masing-masing tempat harus bersiap jika mereka datang." Julian menjelaskan semua rencananya pada anak-anak buahnya.


Selesai Julian menjelaskan semua, mereka yang mendapat bagian bersiap menunggu aba-aba lagi dari Julian, saat ini mereka masih menunggu laporan selanjutnya. Di perkirakan jika anggota musuh baru tiba nanti malam, Julian bergerak cepat sebelum mereka semua datang untuk menyerang. Julian juga sudah membagi pemimpin setiap kelompok yang sudah terbentuk.


"Kau hubungi Papi dan Kak Riko. Beritahu mereka untuk datang ke mari dengan cepat," pintah Julian pada Robert.


Robert mengangguk dan melaksanakan perintah dari Julian. Julian juga akan membeitahu Fany dan Jennifer mengenai hal ini. Mereka tentu saja akan ikut andil dalam masalah ini.


"Ada apa, Boy?" tanya Sean saat tiba di markas. Sean memang tidak suka untuk berbasa-basi.


Sean dan Riko tiba di sana dalam waktu bersamaan, mungkin mereka mengendarai mobil dengan kecepatan penuh agar segera sampai. Keduanya sempat bingung saat Julian tiba-tiba saja meminta mereka datang ke markas.


"Tidak ada," jawabnya dengan enteng.


"Kalau tidak ada, kenapa kau memanggil kami untuk datang?" sahut Riko.


"Sebentar-sebentar, aku mengumpulkan tenaga dulu untuk menjelaskan semuanya." Ternyata Julian kembali ke mode tengil dari dirinya, padahal paling tenang jika Julian dalam mode serius seperti tadi.


"Cepatlah, Boy. Jangan membuang-buang waktu." Ternyata Sean juga bisa merasa kesal pada Julian.


"Baiklah-baiklah." Julian mencoba menenangkan sang papi, dari pada nanti uang jajannya di potong oleh Sean.

__ADS_1


"Aku meminta Papi dan Kak Riko mengamankan semua penghuni di mension." Julian menjeda ucapannya.


"Jangan separuh-separuh, Boy. Jelaskan semuanya!" Sean sudah tidak sabar lagi.


"Memangnya apa yang terjadi?" Riko menyahut karena penasaran. Sepertinya dia memang belum mengetahui apa yang terjadi.


"Kalian ingat waktu perang basar-besaran waktu itu bukan?" Riko dan Sean mengangguk.


"Putra dari Jacob datang untuk membalas dendam. Dia berada di kota ini, aku beberapa kali berjumpa dengannya. Malam nanti di perkirakan jika semua anggotannya tiba di sini. Mereka berencana untuk datang ke mension, dan tempat tinggalmu." Julian menunjuk Riko.


"Sebenarnya, kemarin mereka sudah mendatangi kediamanmu, aku datang ke sana dengan cepat sebelum mereka membuat ulah," sambung Julian.


"Apa yang kau ucapkan itu benar?" Riko sedikit tidak percaya. Dia juga tidak melihat cctv yang ada di sekitar rumahnya. Julian mengangguk mengiyakan.


Sean nampak berpikir setelah mendengar penjelasan dari Julian. " Keapa kau baru memberitahu Ppai, Boy?"


"Papi justru baru tahu darimu," ujar Sean bersungguh-sungguh.


"Sudahlah jangan berbohong, Pi. Tanpa aku beitahu Papi juga pasti sudah tahu semuanya." Kuekeh Julian. Julian tidak percaya jika sang papi tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Hahaha... baiklah-baiklah anak tengil. Papi sangat bangga padamu, kau bekerja cepat untuk ini," puji Sean pada putranya.


"Sebaiknya Papi dan Kak Riko cepat amankan semua yang ada di mension. Mereka akan datang ke sana untuk menyerang. Mereka akan membagi kelompok untuk menyerang di waktu bersamaan," titah Julian pada ke duanya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Aku tinggal menunggu kedatangan mereka, memangnya apa lagi?" jawab Julian dengan sangat santai.

__ADS_1


"Kalian bawa saja mereka semua ke tempat yang sudah aku siapkan untuk menampung semuanya." Ternyata Julian menyiakan semuanya dengan matang, sampai-sampai dia juga menyiapkan tempat untuk semua penghuni dua rumah megah itu. Sepertinya akan ramai di sana karena mereka semua di kumpulkan menjadi satu.


Sean dan Riko bergegasa untuk kembali ke mension masing-masing dan segera mengamankan semua yang ada di mension dengan bantuan dari anak-anak buah Julian.


Waktu berjalan begitu cepatnya, sinar matahari kini berubah menjadi cahaya yang berasal dari banyaknya lampu yang menyala. Di sisi berlainan, sesuai dengan perkiraan dari Julian, semua anggota dari putra Jacob telah tiba di sana. Entah berapa ribu orang yang menginjakkan kakinya di sana.


Apa mereka lupa jika tanah yang mereka pijak adalah kekuasan dari Julian? Mereka cukup berani jika melawan sang tuan rumah di sana. Kalau saja Julian mau, dia pasti sudah membasminya lebih dulu sebelum mereka semua datang kesana, Julian memang ingin bermain-main pada musuhnya yang dengan senang hati datang ke sana.


"Hormat kami, Tuan.Kami datang sesuai dengan yang Tuan minta," ujar salah satu dari mereka membungkuk di hadapan orang yang ia panggil 'tuan' itu.


"Kami siap menjalankan semua perintah dari Tuan," sambungnya.


"Hahaha... baguslah jika kalian semua sudah datang. Aku menunggu kedatangan kalian semua, kita akan membalaskan dendam pada keluarga itu. Sebaiknya kalian semua beritirahatlah, kumpulkan semua tenaga kalian sebelum kita berperang," pintahnya pada para bawahannya.


Ternyata dia masih memikirkan bawahannya, ia masih peduli dengan bawahannya yang baru saja tiba. Biasanya dia sangat tidak peduli walaupun bagaimana


pun keadaan dari bawahnnya. Mereka semua menundukkan sedikit kepala lalu bergegas menjalankan perintah dari tuannya.


"Hahaha... keluarga William, tunggu saja pembalasan dendam dariku. Aku pastikan jika kalian akan merasakan apa yang aku rasakan," ujarnya dengan sangat percaya diri.


"Tenanglah, Papa. Putramu ini akan membalaskan dendam untukmu. Mereka pasti akan aku buat sengsara berlipat-lipat." Tangannya mengepal kuat, ucapannya penuh dengan keyakinan yang ia miliki.


Langit gelap pun kini sudah berganti kembali dengan langit yang terlihat sangat cerah. Semua orang kembali melakukan aktifitas masing-masing.


Terlihat saat ini mension Sean dan Riko sudah tidak ada satu penghuni. Mereka sudah membawa semua penghuni itu ke tempat yang aman dengan bujuk raju dan bahasa yang luwes agar mereka semua tidak panik dan takut dengan apa yang terjadi. Sean membawa mereka ke sana waktu pagi masih terliat gelap, agar para musuh-musuh itu tidak melihat pergerakan yang di lakukan olehnya.


"Kenapa kita semua harus berada di sini? Memangnya ada apa?" Ana terlihat sangat bingung karena tiba-tiba saja Sean mengajaknya ke tempat yang belum pernah ia tahu.

__ADS_1


Belum lagi semua penghuni mension juga berada di sana, tidak hanya itu saja, semua penghuni rumah Ola juga berada di sana. Sean sedikit bingung dari mana ia akan menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Ia juga sebenarnya tidak ingin berbohong pada Ana, tetapi dia juga tidak mungkin akan membuat semua orang di sana khawatir.


__ADS_2