Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 66


__ADS_3

Diva mengibas-ibaskan tangannya di depan hidungnya untuk mengusir bau menyengat di depannya.


"Kau kecil tapi kenapa kentutmu bau sekali. Apa yang kau makan tadi?" Keluh Diva karena bau busuk itu tidak hilang-hilang.


Ana dan mami Sean tidak bisa berhenti tertawa dengan ulah Jennifer. Tidak biasanya Diva mendapat hadiah indah seperti itu darinya, ini pertama kali untuk Diva.


Diva beranjak sedikit menjauh agar tidak mencium bau kentut Jennifer.


"Jennifer... tidak boleh begitu, sayang. Kasian kakak Diva nya. Nanti kalau dia tidak mau bermain dengan Jennifer lagi bagaimana?" Tutur Ana lembut. Jennifer hanya tertawa, seolah-olah dirinya ikut menertawakan Diva.


"Divaa... maafkan adiknya, ya." Ucap Ana pada Diva.


"No problem, aunty. Tapi baunya tidak hilang-hilang dari hidung Diva." Jawab Diva dengan raut wajah yang sepertinya sedikit kesal.


"Hahaha... Diva sabar ya. Adiknya kan masih kecil, dia belum tau apa-apa." Ujar mami Sean agar Diva tidak ngambek nanti.


"Tidak apa-apa, grandma. Diva mengerti." Jawab Diva.


Hari ini sepertinya hari sial untuk Diva. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja ia mendapat hadiah yang tidak terduga dari Jennifer. Untung saja di sana tidak ada Sean saat ini, jika saja Sean juga berada di sana. Mungkin dirinya tertawa paling keras di sana.


Untuk sang grandpa, ia memang jarang ikut berkumpul. la masih memegang perusahaan cabang, jadi beliau tidak sering-sering berkumpul seperti ini.


Tapi meskipun begitu, Diva tidak pernah marah dengan adik nya. Ia tetap menyayangi Jennifer seperti adik kandungnya sendiri.


Malam harinya...


Setelah pulang dari kantor, Sean melihat Twin J yang sedang berada di box bayi miliknya. Rasa lelahnya seketika lenyap melihat dan mendengar suara celotehan dari Twin J yang memang sedang aktif-aktifnya berceloteh.


"Eehh.. eehh... jangan pukul kakaknya. Nanti sakit, Julian." Ujar Sean yang melihat Julian memukul kakak perempuannya.


Sean sepertinya tidak akan membiarkan siapa saja yang menyakiti anak-anaknya.


"Sean, bersihkan dulu dirimu lalu kita makan. Aku sudah siapkan air hangat untukmu." Ucap Ana saat baru keluar dari kamar mandi.


"Terimakasih." Jawab Sean mengecup sengkat kening Ana.


Tanpa berlama-lama Sean pun segera bergegas untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum kembali bermain dengan anak-anaknya. Sean harus dalam keadaan steril sebelum menyentuh Twin J.


Setelah 30 menit kemudian, Sean keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah fresh. Sean segera berganti dengan pakaian yang di pilihkan oleh Ana.

__ADS_1


"Apa mereka tidak rewel hari ini?" Tanya Sean dengan tangannya melingkar di pinggang Ana. la memeluk Ana dari belakang dan mencium lembut pipi Ana.


"Tidak, mereka tidak rewel. Mungkin hanya Julian yang susah tidur tadi, jadi dia sedikit rewel." Jawab Ana memandang wajah Twin J.


"Tapi, apa kau tau. Jennifer sangat usil hari ini, Diva mendapat hadiah yang dahsyat darinya. Aku dan mami sampai tidak bisa berhenti tertawa di buatnya." Sambung Ana.


"Memangnya, apa yang sudah ia lakukan pada Diva?" Tanya Sean dengan wajah penasarannya.


"Tadi siang Diva mengajaknya bermain. Diva menggelitik perutnya dengan hidungnya yang mancung itu, hingga dirinya tertawa geli tidak berhenti. Tiba-tiba saja dia kentut saat Diva menggelitik perutnya." Cerita Ana dengan singkat.


Sean tertawa mendengar cerita dari Ana. Bagaimana bisa dirinya ketinggalan momen langkah itu.


"Hahaha... lalu, bagaimana dengan Diva? Apa dia marah karena mendapat serangan dari Jennifer?" Sean semakin penasaran di buatnya.


"Untung saja dia tidak marah. Dia sedari tadi mengibaskan tangannya karena kentut Jennifer sangat bau." Sambung Ana.


"Kenapa di saat seperti ini aku tidak bersama kalian, jika saja ada diriku. Pasti aku orang yang tertawa paling keras."


"Jangan seperti itu, bisa-bisa ngambek tujuh hari tujuh malam dia." Tegur Ana pada Sean.


"Kalian kalau mengerjai kaka Diva jangan tanggung-tanggung, ya." Ucap Sean pada kedua anaknya.


"Aku tidak mengajarkan yang buruk, sayang. Aku hanya request pada mereka kalau nanti mengerjai Diva kembali."


"Sama saja." Ketus Ana mendengar jawaban dari suaminya. Bisa-bisanya dirinya menginginkan anaknya nanti semakin jahil.


Hening pada beberapa saat setelah candaan mereka.


"Emm... Ana, apa tadi kau bertemu dengan seseorang?" Tanya Sean.


Ana mengingat-ingat karena sedikit lupa. "Ahh... iya.. aku bertemu dengan Andy tadi." Jawab Ana yang sepertinya sangat kesal dengan Andy.


"Apa kau tidak merindukannya?" Tanya Sean yang sepertinya mengetes perasaan Ana.


"Untu apa aku merindukannya Sean? Tidak ada perasaan lagi untuknya. Aku sudah mempunyai dirimu." Jawab Ana dengan jujur.


"Benarkah itu?" Sean mendekat tanpa sekat dengan Ana.


"Benar. Jika aku masih mempunyai perasaan padanya buat apa aku menikah denganmu?"

__ADS_1


"Mungkin karena waktu itu dirimu terpaksa menikahiku." Sahut Sean.


"Hemmm... awalnya memang iya. Kita baru saja bertemu, bahkan aku tidak kenal dekat denganmu. Tapi, meskipun begitu. Aku sudah berjanji pada diriku untuk menjalani pernikahanku ini. Aku juga sama sepertimu, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Sesuai dengan yang kau ucapkan dulu, cinta pasti akan tumbuh dengan sendirinya. Dan itu sudah terjadi padaku. Aku hanya mencintaimu saat ini." Jawab Ana panjang lebar.


Ini yang membuat Sean suka dengan Ana. Dia selalu berkata jujur, meskipun terkadang apa yang ia ucapkan bar-bar dan membuat dirinya sedikit kesal yang terkadang Ana tidak nyambung dengan apa yang di uacpkannya.


"Apa yang bisa kau buktikan padaku jika dirimu hanya mencintaiku?" Tanya Sean yang ingin mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Ana.


"Apa kau tidak melihat bukti yang nyata di depanmu sekarang. Mereka berdua hadir di tengah-tengah kita." Ucap Ana menunjuk kedua anaknya dengan kepalanya.


Sean tersenyum mendengar jawaban Ana yang memang sedikit bar-bar itu. Tapi, jawaban Ana juga tidak ada salahnya.


"Kenapa jawabanmu selalu saja bar-bar setiap kali aku bertanya?" Sean tersenyum simpul.


"Tidak, biasa saja." Jawab Ana dengan menunjukkan gaya tengilnya.


Sean mengecup singkat bibir Anna karena merasa gemmas.


"Apa kau marah?" Kali ini Ana bertanya pada Sean.


"Iya aku marah padanya. dia sudah berani menyentuhmu." Jawab Sean.


"Apa kau tau?" Sean menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja aku tau semua yang terjadi padamu. Apa kau lupa jika anak buahku ada di mana-mana?" Jawab Sean. Ana sedikit lupa akan hal itu, mustahil sekali Sean tidak mengetahui apa saja yang ia ucapkan.


"Maaf." Ucap Ana lirih.


"Aku tidak menyalahkanmu. Tapi aku tidak suka dengannya menyentuhmu begitu saja. Aku tidak suka jika dirimu di sentuh orang lain." Ucap Sean


"Maafkan aku." Ucap Ana kembali merasa tidak


enak.


Cup...


Sean mengecup singkat kening Ana tanpa menjawab apa-apa. Dia tidak marah dengan Ana, tapi Sean tidak suka jika ada orang lain menyentuh Ana.


"Ayo kita makan. Kau pasti belum makan sedari tadi." Ajak Ana. Sean pun mengangguk setuju dengan ajakan Ana. Karena memang dirinya sudah sangat lapar.

__ADS_1


Ana menitipkan Twin J sebentar kepada maid yang ada di sana.


__ADS_2