
Julian tengah berjalan dengan santainya memasuki mension. Ia menghentikan langkahnya saat melihat orang yang ia kenal berada di dalam mensionnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" celetuk Julian melihat siapa yang datang ke sana. Ia memang tidak bsia bersantai dalam berbicara.
"Memangnya kenapa? Apa ada masalah?" tanyanya yang tidak kalah songong dari Julian. Julian ikut duduk bersama orang-orang di mensionnya termasuk orang yang baru saja ia bajak berbicara.
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu, Son?" kali ini Sean bertanya. Keputusan apa yang sebenarnya ia tanyakan itu.
"Aku sangat yakin dengan setiap keputusan yang aku buat, Pi," jawabnya dengan tekad yang kuat. Julian yang baru datang itu hanya bertanya-tanya apa yang sedang mereka bahas saat ini.
"Yakinkan aku dengan keputusanmu itu, Son," ujar Sean lagi.
"Sebentar-sebentar, sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan saat ini. Kenapa aku tidak mengerti sama sekali," potong Julian sebelum ke duanya melanjutkan percakapan mereka. Baru juga dia datang, bagaimana dia paham dengan pembahasan kali ini. Yang ia tangkap hanya sebagian saja.
"Gerald memutuskan untuk segera menikahi Kakakmu dalam waktu dekat," jawab Sean.
Julian yang mendengar jawaban sang papi membulatkan ke dua matanya lebar-lebar. Dirinya sungguh-sungguh terkejut mendengarnya. "H-hah! Menikah!?" pekiknya dengan keras.
Keterkejutan Julian tidak bisa di bohongi, rasanya seperti di terjang tsunai dirinya saat ini. Ia menatap bergantian ke arah sang papi dan Gerald. "Apa itu benar? Menikah? Kenapa cepat sekali?"
Rasa-rasanya Julian seperti belum siap jika sang kakak akan segera menikah. Dia belum siap jika suatu saat mereka akan terpisah, setelah menikah pasti mereka akan berpisah.
"Memangnya kapan?" tanya Julian lagi. Ia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Memangnya apa yang harus lakukan untuk meyakinkan Papi?" tanya Gerald mengenai apa yang di katakan Sean tadi.
"Apa kau yakin?" Sean seperti tidak akan mudah membiarkan Gerald menikahi Jennifer begitu saja. la ingin melihat pembuktian dari calon menantunya itu terlebih dulu. Walau Sean tahu bagaimana Gerald, dia juga ingin melihat bagaimana pembuktian calon menantunya itu. Apakah bersungguh-sungguh atau tidak.
Malam harinya...
Selesai makan malam Julian mengikuti sang kaka masuk ke dalam kamarnya, ia berjalan tepat di belakang Jennifer. la buru-buru masuk sebelum sang kakak mengunci pintu kamarnya. Melihat tingkah aneh Julian, Jennifer mengerutkan keningnya bertanya-tanya.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau mengikutiku?"
Julian menyeret Jennifer untuk duduk di sofa yang ada di kamar Jennifer, semakin di buat bingunglah dia dengan tingkah laku Julian yang tiba-tiba aneh.
"Apa kau benar-benar akan segera menikah dengan Gerald? Kapan? Apa kau juga akan segera pergi dari sini?" serentetan pertanyaan di lontarkan pada Julian padanya. Jadi perkara inilah yang membuat adiknya itu bersikap sedikit aneh.
__ADS_1
"Suatu saat nanti, aku pasti akan menikah. Tapi aku tidak tahu kapan waktunya," jawab Jennifer. Julian semakin percaya di sana, padahal Jennifer sendiri juga belum tahu pasti dirinya menikah kapan. Itu baru rencana Gerald aja.
"Jadi ... kau benar akan menikah dengannya?" tanya Julian lagi. Ekspresi wajahnya mulai sediki berubah mendengar jawab-jawaban dari sang kakak.
"Memangnya aku akan menikah dengan siapa lagi kalau bukan dengannya? Apa kalu lihat aku memiliki laki-laki lain selainnya?" Jennifer menanggapinya dengan santai.
"Kenapa cepat sekali? Apa kau tidak bisa menolaknya saja?"
Mendengar ucapan Julian, Jennifer memukul pelan kepala Julian, "Kau gila sekali."
"Sudah sana kembalilah ke kamarmu, jangan ikuti
aku," usir Jennifer.
Julian mengerucutkan bibirnya karena ia di usir begitu saja, ia kan masih ingin tahu apa yang terjadi padanya. "Sudah kae kembalilah ke kamarmu. Jangan menggangguku," usirnya.
"Tapi...."
"Sudah kau sana," Jennifer mendorong tubuh Julian keluar dari kamarnya. Jennifer kembali ke dalam kamarnya dan mereahkan dirinya di atas kasur king size miliknya. Julian dengan langkah galau dia kembali ke dalam kamarnya.
Gerald berdiri di atas balkon dan menerawang jauh, entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Sepertinya agak sedikit mengganggu pikirannya. Ia menarik napas panjang lalu kembali masuk sebelum udara semakin dingin.
Keesokan harinya...
Seperti biasa Julian akan pergi ke tempat di mana ke dua temannya berlatih. Dirinya terlihat melamun dan bibirnya mengerucutkan ke depan. Tepat seperti anak kecil yang tengah merajuk saat ini.
Ke dua temannya itu di buat bingung dengan Julian yang tidak biasanya melamun seperti itu. Biasanya dia sangat petakilan dan tidak bisa diam di mana pun berada.
"Kenapa dengan anak itu?" Marcus menyenggol Reiner yang ada di sampingnya. Pandangan mereka berdua akhirnya tertuju pada Julian yang melamun seorang diri.
"Mungkin dia tengah bertengkar dengan Fany," jawabnya begitu saja.
"Iya kah? Tumben sekali dia bertengkar dengan Fany? Biasanya juga tidak segalau itu," jawab Marcus yang tidak percaya jika Julian bisa seperti itu saat bertengkar dengan Fany.
"Siapa tahu saja, mereka kan tidak pernah akur," jawabnya lagi.
"Mereka kan sudah terbiasa gaduh tidak bisa diam. Bertengkar atau tidak itu tidak bisa terlihat, kau tahu sendiri bukan bagaimana mereka berdua?" Marcus tidak sependapat dengan jawaban Reiner, karena dia tahu bagaimana ke duanya. Mana mungkin jika mereka bertengkar begitu saja dan membuat Julian terlihat galau akut.
__ADS_1
"Coba saja samperin dia." Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menghampiri Julian. Dia benar-benar galau, tetapi bukan karena dirinya bertengkar dengan Fany, melainkan karena tahu jika Jennifer akan segera menikah.
"Ada apa denganmu?" tanya salah satu dari mereka tetapi tidak ada sahutan dari Julian.
"Kau tidak apa, kan? Apa kau bertengkar dengan Fany?" tanya salah satu lagi. Julian masih tidak merespon mereka berdua, dia terlalu memikirkan apa yang baru ia tahu.
Mereka berdua menggucang tubuh Julian untuk menyadarkan Julian tetapi hasilnya nihil. Julian tidak bergeming sama sekali, pikirannya terlalu terbang jauh saat ini.
"Woooyyyyy.... ." Karena lelah tidak ada jawaban dari Julian, Marcus dengan kencang berteriak di telinga Julian.
Seketika Julian terjinggat kaget dengan teriakan yang berdenging di telinganya. "Kenapa kau berteriak, bod*h!" Julian memekik di hadapan ke dua temannya.
Hatinya sangat kesal karena dia harus di teriaki dengan kencang tepat di telinganya, salah sendiri jika jika dirinya terus-terusan melamun tanpa memperhatikan orang lain.
"Salah kau sendiri kau sedari tadi melamun. Kami sudah beberapa kali mengajakmu berbicara sampai-sampai kami mengguncang tubuhmu tapi sama saja. Aku kira nyawamu hilang tadi," celetuknya dengan enteng.
"Kalau nyawaku hilang aku akan menyeretmu bersamaku," jawabnya kesal. Untung saja jika ke dua temannya itu tidak mendapat tendangan darinya karena terkejut.
"Memangnya kau kenapa? Sedari tadi dirimu melamun, apa hubunganmu berakhir dengan Fany?" tanya Reiner pada Julian.
"Jangan ngawur, sepertinya kau suka sekali aku putus dengannya,"
Blag...
Reiner memukul keras Julian, pertemanan antara lelaki bisa di lihat sendiri. Pasti tidak jauh dari tendangan dan pukulan jika berbicara satu sama lain.
"Kau ini! Aku bertanya baik-baik padamu, lama-lama aku rebut Fany juga darimu," jawabnya dengan kesal.
"Kalau kau berani hilang nyawamu." Julian sepertinya tengah PMS, setiap jawabannya terdengar sedikit ngegas. Efek dari dirinya yang tengah galau.
Reiner memutar ke dua matanya malas pada Julian," Apa sebenarnya yang membuatmu melamun? Kau tidak seperti biasanya." Reiner kembali mempertanyakan hal yang sama pada Julian.
"Huuhh... Jen sebentar kagi menikah," jawab Julian dengan malas.
"Hah! Menikah!? Kapan!?" pekik ke dua temannya secara bersamaan, mereka tidak kalah terkejut dengan apa yang Julian katakan.
Julian menganggukkan kepalanya dengan malas, hari ini benar-benar membuatnya sangat malas sekali untuk melakukan apa-apa. Seperti hilang separuh nyawanya.
__ADS_1