Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 229


__ADS_3

"Tolong jangan membuat keributan, Tuan Muda William," ucapnya seolah-olah menuduh Julian yang memulainya.


"Sebaiknya uruslah wanita-wanita penggoda yang ada di sini!" sentak Julian tanpa rasa takut sedikit pun.


"Mereka ada di sini untuk menghibur kita semua, Tuan Muda William. Kau jangan munafik, aku yakin jika kau juga tertarik," sahut salah satu orang yang ada di sana. Julian menatapnya tajam ke arah orang tersebut.


"Aku tidak sepertimu yang mudah tertarik dengan setiap wanita, terlebih lagi dengan wanita penggoda yang ada di depanmu," sarkas Julian. Orang tersebut pun tersulut emosi dengan ucapan Julian yang terdengar menghina dirinya.


"Tuan Muda William, tenangkan dirimu. Aku harap jika anda tidak berbuat keributan, duduklah kembali dan nikmati acaranya," ucap kembali orang yang menyelenggarakan acara itu.


Orang itu masih mencoba untuk menenangkan Julian di sana, padahal apa yang terjadi bukanlah salah Julian. Julian sangat tidak suka jika di dekati dengan wanita-wanita, terlebih lagi wanita itu wanita penggoda. Sebagian yang ada di sana juga sama seperti Julian yang tidak suka dengan adanya wanita penggoda, ada juga sebagian yang memang meminta wanita-wanita itu untuk menemani selama acara.


Semua yang ada di sana hanya diam memerhatikan bagaimana tindakan Julian, ada juga yang memang menyahut menyalahkan Julian. Kebanyakan para mafia yang ada di sana memang perusuh, dan sesuai apa yang di katakan oleh Julian sebelum di menghadiri acara tadi. Jika ada yang memulai terlebih dahulu, maka saat itu juga dia harus menerima resikonya.


"Tuan Muda, sebaiknya anda tenang dulu. Jangan sampai terpancing dengan mereka yang ada di sini, mereka akan memiliki kesempatan untuk menjatuhkan Tuan Muda jika sampai terjadi keributan," ujar salah satu anak buah Julian yang khawatir jika nanti akan terjadi keributan.


"Sejak kapan kau takut? Kalau kau takut sebaiknya kau pulanglah," tegas Julian. Anak buahnya pun menunduk mendengar jawaban Julian.


"Tuan ini sudah berbuat kasar padaku, Tuan. Aku hanya ingin menyapanya," sahut wanita itu dengan menunjukkan wajah ketakutan. Wanita itu ternyata pintar playing fictim.


"Jangan berbicara asal jika kau tidak ingin kehilangan nyawamu." Julian mengarahkan pistolnya pada wanita tadi. Wanita itu terkejut dengan pistol yang di todongkan ke arahnya, dia telah bermain dengan orang yang salah.


"Turunkan pistolmu itu, Tuan Muda William. Ingatlah di mana kau saat ini, ini bukanlah wilayah kekuasaanmu!" ujar salah satu yang ikut andil dalam melaksanankan acara itu.


"Siapa pun dirimu, kalian dan di mana pun tempat yang aku pijak, jika di antara kalian semua yang memulai maka saat itu juga resiko akan kalian tanggung," tegas Julian dengan menunjukkan mata tajamnya pada semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Dan kau wanita penggoda, bukankah aku sudah memintamu untuk menyingkirkan tanganmu dariku? Tapi kau justru semakin bertingkah," sambung Julian dengan menekankan setiap ucapannya.


"Wanita sepertimu memang tidak layak mendapatkan tempat di sini,"


Doorr...


Pyaarr...


Julian menembakkan pelurunya kesembarang arah. Banyak dari mereka yang ada di sana terkejut dengan suara tembakan yang tiba-tiba. Wanita yang sempat menggoda Julian itu pun menutup kedua telinganya.


Awalnya ia ingin menggoda Julian untuk bisa mendapat hati Julian, ternyata di luar dugaan. Julian bukanlah laki-laki yang mudah untuk di goda. Niat hati dia mendapatkan hati Julian, tetapi justru dia mendapat hadiah berkesan dari Julian. Entah apa yang akan di lakukan oleh Julian nanti pada wanita itu.


Yang tahu siapa Julian, mereka tidak akan banyak bicara. Namun ada saja di sana yang memang terkadang memiliki nyali besar.


"Aturan yang kau taati tidak berlaku untukku."


Doorr...


Julian kembali menembakkan pelurunya di dekat kaki orang yang meneriakinya tadi, orang tersebut pun terkejut karena tembakan ke arahnya dengan tiba-tiba.


Doorr...


Dorr...


Dorr ...

__ADS_1


Julian memberondong pelurunya ke arah benda-benda kaca di sana, barang-barang itu pecah tidak berbentuk lagi, tidak ada yang bsia menghentikan aksi Julian. Jelas sekali jika Julian sangat marah, bahkan ada salah satu dari mereka yang mengangkat senjatanya mendapat tembakan dari Julian mengenai tangannya. Julian benar-benar tidak perduli di mana dia berpijak saat ini.


"Heh, acara yang penuh dengan penjilat," ujar Julian menunjukkan senyum miringnya.


"Dan kau wanita penggoda, jangan sampai aku melihatmu lagi. Kalau tidak, kau akan kehilangan nyawamu detik itu juga." Julian langsung saja pergi dari sana setelah memberi ancaman pada wanita tadi.


Bagi Julian sangat tidak penting jika dirinya berlama-lama di acara yang di penuhi oleh para penjilat. Di saat kepergian Julian, ada salah satu dari sekian banyaknya orang di sana tersenyum sinis menatap kepergian Julian. Entah siapa dirinya, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya menunjukkan senyum sinisnya itu.


Kepergian Julian di susul oleh anak buahnya yang ikut datang ke sana. Setelah kepergian Julian, tidak lama terdengar suara yang sangat menggelegar di sana.


"Ada apa ini!" semua orang yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara dan menunduk memberikan hormat pada orang tersebut.


Orang tersebut menatap ke sekeliling melihat ada sedikit kekacauan yang baru saja terjadi di sana, ia melihat jika para pekerja membersihkan sisa-sisa barang yang pecah berserakan.


"Maaf jika ada sedikit kekacauan, Tuan." Orang yang berhadapan dengan Julian tadi menunduk hormat pada orang yang ia penggil dengan sebutan tuan. Ia tahu tatapan yang berasal dari tuannya itu.


Sepertinya orang itu sangat berpengaruh di sana, buktinya jika semuanya menunduk saat kehadirannya datang. Siapa lagi orang yang datang itu kalau bukan tuan Carlos, dia datang terlambat karena ada hal yang ia urus terlebih dahulu. Ia mendapat laporan jika ada sedikit keributan antara Julian dan orang-orang di sana, tuan Carlos pun memutuskan untuk segera datang.


Ternyata kedatangan tuan Carlos terlambat, di saat Julian sudah pergi meninggalkan tempat itu. Sepertinya tuan Carlos melewati pintu yang berbeda, maka dari itu ia tidak bertemu dengan Julian. Mereka semua yang ada di sana kembali melanjutkan acara yang sempat terjeda tadi.


Masih untung jika tadi Julian tidak terlalu emosi, jadi acara itu masih bisa berlanjut. Entah bagaimana tadi jika Julian menunjukkan taringnya, mungkin semua yang ada di sana akan hancur tidak berbentuk dan tempat itu pasti sudah di penuhi bau anyir darah.


Keesokan harinya waktu Berlin ...


Gelapnya malam itu kini berubah terang, semua orang memulai aktifitasnya masing-masing. Beda lagi dengan Fany yang yang sedari kemarin seperti tidak ada mood sama sekali, ia masih menggulung dirinya dengan selimutnya. Abigail yang melihat putrinya masih tergulung selimut itu berkacak pinggang dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2