Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 292


__ADS_3

Malam hari...


Gerald menuruni tangga di rumahnya dengan santainya, ia sudah tiba di Berlin tadi pagi waktu setempat. Sesampainya di bawah, matanya tidak sengaja bertemu dengan siluet wanita yang tengah duduk di ruang tamunya. Gerald mengerutkan keningnya karena siluet itu bukan milik Jennifer.


Gerald mendekat ke wanita yang tengah duduk seorang diri di sana. "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?" nada ucapannya terdengar sangat berat, bahkan ekspresi wajahnya tidak bisa di jelaskan lagi.


Wanita itu pun menoleh ke arah Gerald dengan menunjukkan senyumnya. "Hai, Baby. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu."


Rupa-rupanya, Wendy yang tengah datang ke rumahnya. Cara apa yang dia lakukan sampai drinya bisa masuk ke sana. Padahal dia sudah memberikan perintah apda anak-anak buahnya agar tidak mengizinkan siapa saja masuk tanpa seizinnya.


Wendy berdiri dan mendekat ke arah Gerald, Gerald melangkah mundur untuk menjauhkan dirinya dari Wendy. "Jangan pernah mendekatiku, atau nyawamu yang akan menjadi taruhannya," ancamnya pada Wendy.


"Pergilah dari sini!" usirnya.


"Owwh... ayolah, Baby. Kenapa kau selalu menolak dan menghindariku? Apa yang kurang dariku? Aku bahkan jauh lebih baik dari tunanganmu itu," ucap Wendy. Dia benar-benar tidak mau menyerah sebelum Gerald berhasil ia rebut.


"Apa kau tahu, tunanganmu itu bukanlah wanita baik-baik. Dia sudah berselingkuh di belakangmu, bahkan dia di rangkul dengan laki-laki lain saat kau tidak melihatnya. Aku heran denganmu, kenapa kau lebih menyukai wanita seperti itu," hasutnya pada Gerald. Harap-harap usahanya menghasut Gerald itu akan berhasil dan membuat Jennifer di tinggalkan dengan Gerald.


Wajah Gerald hanya diam tanpa ekspresi, dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Wendy karena dirinya tahu pasti Wendy akan berbicara yang tidak-tidak untuk mendekatinya.


"Kau tidak tahu apa yang dia lakukan di belakangmu, bukan. Aku akan menunjukkan padamu." Wendy mengambil ponselnya dan membuka galeri yang berisi hasil jebretannya tadi saat di kampus.


Wendy menunjukkannya pada Gerald gambar itu." Kau lihat sendiri, bukan? Ternyata dia berselingkuh di belakangmu." Gerald hanya melihat gambar itu dengan tanpa ekspresi.


Tentu saja dirinya tahu siapa pria yang bersama Jennifer, apa yang terjadi dan apa yang di lakukan oleh Jennifer tak luput dari pengawasan anak buahnya.


"Wanita mur*han itu tidak pantas untukmu!" sambung Wendy yang membuat Gerald mengeraskan rahangnya seketika.


Gerald mendekat dan tiba-tiba saja tangannya mencekik leher Wendy. Wendy memukul-mukul tangan Gerald berharap tangan itu terlepas, namun sayangnya tidak sama sekali. Gerald murka mendengar jika Wendy mengatai Jennifer dengan sebutan wanita mur*han.


Wendy kesulitan bernapas karena cekikan Gerald sangat kuat. Dia memang tidak pernah ada kapoknya, padahal dirinya juga baru saja mendapat jambakan kuat dari Jennifer. Lalu sekarang dia mendapat cekikan dari Gerald.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu itu, Nona. Kau bahkan tidak ada apa-apanya di banding dirinya. Harusnya kau sadar diri dengan ucapanmu, kaulah wanita mur*han yang sebenarnya." Walau begitu, Gerald masih belum melepaskan cekikannya pada Wendy.


Wendy tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya memukul-mukul tangan Gerald agar Gerald melepaskan cekikannya. Wajahnya sampai terlihat merah karena tidak bisa bernapas sama sekali. Melihat Wendy yang hampir tidak bisa bernapas lagi, Gerald melepaskan tangannya dari leher Wendy.


Uhhukk... uhhuuk... uhhuk...


Wendy sampai terbatuk-batuk di sana, dirinya terduduk di lantai karena sedikit merasa lemas tidak bisa menghirup udara selama beberapa menit. Gerald benar-benar tidak pandang bulu di sana, wanita atau laki-laki yang sudah mengganggu dan mengganggu orang-orang di sekitarnya, dia tidak akan tinggal diam. Gerald menunduk menyetarakan posisi badannya sama dengan Wendy, terlihat sedikit ketakutan dalam diri Wendy melihat Gerald.


"Jangan pernah mengusikku atau kekasihku jika kau tidak ingn hal ini terjadi lagi. Aku bisa saja menghabisi


nyawamu detik ini juga. Pergi dari sini dan jangan kembali lagi, aku sudah muak melihatmu." Gerald berdiri dan meminta beberapa anak buahnya untuk membawa Wendy keluar dari rumahnya.


Gerald meninggalkan rumahnya dan membiarkan Wendy sendiri. Tidak lama kemudian beberapa anak buah Gerald membawa keluar Wendy dari sana. Dari pada harus melihat Wendy, Gerald memutuskan untuk mencari udara segar.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" protes Fany karena sedari tadi Julian melihatnya tidak ada hentinya. Bahkan dia sedari tadi juga tidak membuka suara, hanya melihat ke arah Fany yang menikmati makanan miliknya.


Tukk...


"Kau terlihat cantik," pujinya tiba-tiba.


"Aku memang cantik. Kau baru tahu?" jawab Fany dengan percaya diri. Sudah tidak ada rasa canggung lagi di antara mereka.


"Kau juga terlihat manis." Sepertinya Julian tengah kesurupan, tiba-tiba saja dia berkata-kata manis di sana. Jarag sekali dia berkata seperti itu, bahkan bisa di bilang tidak pernah.


"Kau baru menyadarinya?" jawab Fany lagi sambil memasukkan spatzle ke dalam mulutnya.


Spatzle sendiri adalah pasta yang banyak di temukan di Berlin, Fany memakannya dengan lahap tanpa ada rasa jaim.


"Aku suka melihatmu seperti ini," ujar Julian lagi. Malam ini dia penuh dengan kata-kata gombal.


Fany menyuapkan spatzle itu ke dalam mulut Julian. "Sebaiknya kau makan saja, jangan terlalu berbicara omong kosong."

__ADS_1


Julian menerima suapan itu dengan senang hati, dia hanya tersenyum sambil mengunyah makanan itu. Fany menyuapkan spatzle itu agar Julian terdiam tidak terus-terusan mengoceh. Seketika Julian terdiam karena mulutnya penuh dengan makanan. Fany tahu bagaimana cara membuat Julian terdiam di sana.


"Ini sangat enak," ujarnya tidak terdengar jelas karena dalam mulutnya penuh dengan pasta.


"Makan saja dan habiskan. Jangan terlalu banyak bicara." Walau di sumpal dengan makanan, Julian masih terus saja bebicara taanpa henti.


Julian dengan buru-buru mengunyah dan menelan yang ada di mulutnya. "Spatzle milikku sangat berbeda dengan milkmu, milikmu sangat hambar, sedangkan milikku sangat hambar rasanya," ucapnya setelah makanan itu habis dari mulutnya.


"Benarkah? Bukannya sama saja rasanya." Fany merasa penasaran dengan rasa pasta milik Julian. Padahal pesanan miliknya dan Julian sama, tidak mungkin jika rasa dari makanan itu berbeda.


Fany mengambil satu suap dan mencoba spatzle milik Julian. Ia mengunyah dan merasakan rasa dari pasta itu perlahan-lahan. "Berbeda apanya. Rasanya sama saja, rasanya juga tidak hambar sama sekali," ujar Fany setelah mencobanya.


"Bagiku sangat hambar, karena aku lebih suka spatzle dari suapanmu. Lebih enak dan panuh rasa," gombalnya pada Fany. Fany sedikit giguk dan salah tingkah dengan ucapan Julian. Malam ini Julian penuh dengan kata gombalan yang bisa membuatnya malu dan salah tingkah sendiri.


Julian tersenyum tipis melihat Fany sedikit malu mendengar karena ucapannya. Jangan modus, kau. Sebaiknya habiskan saja milikmu," ucap Fany sedikit salah tingkah.


"Berikan aku suapan lagi. Aku lebih suka jika itu berasal dari tanganmu," pinta Julian.


"Tidak! Kau makan saja sendiri. Kau tidak perlu banyak modus!" sengal Fany.


"Aku hanya mau dari tanganmu," balas Julian lagi.


"Tidak!" tolak Fany tegas.


Lama mereka berdebat akhirnya Fany menyerah, Fany menyuapkan spatzle pada Julian. Ada saja cara Julian agar Fany menyuapinya. Fany menyesal kenapa juga tad dia harus memberikan spatzle miliknya pada Julian, harusnya ia memakannya saja sendiri tadi.


"Haaakh... kurang ajar!" tas mahalnya ia banting lalu tangannya memegang lehernya yang baru saja mendapat cekikan kuat.


Setibanya di hotel tempatnya tinggal, Wendy uring-uringan sendiri sampai membanting tas mahalnya. Entah berapa uang sewa yang ia pakai saat tinggal di hotel selama ini. Wendy uring-uringan ternyata usahanya gagal membuat Gerald meninggalkan Jennifer.


Bukannya Gerald percaya dia justru mendapat cekikan, masih untung jika dirinya masih hidup saat ini juga. Terdapat bekas tangan di lehernya saat ini.

__ADS_1


"Awas kau Jennifer!" geramnya dengan Jennifer saat ini. Usahanya selalu gagal dan gagal. Memang dirinya saja yang tidak bisa sadar diri dan tidak tahu siapa yang dia hadapi saat ini.


__ADS_2