
"Emm... Maybe yes, maybe no." Jawab Jennifer menggantung.
"Sejak kapan kau bisa berkata-kata gombal seperti itu?" Sambung Jennifer.
"Hahahah..." Gelak tawanya terdengar renyah di sana.
"Aku tidak menggombal, babe. Tapi aku mengatakan yang sejujurnya, akan terasa menyenangkan untukmu jika aku bersamamu." Jawabnya dengan mengeluarkan kata-kata manisnya.
"Sepertinya kau beralih profesi menjadi tukang gombal sekarang." Ujar Jennifer.
"Hahaha... Apapun yang kau katakan adalah pujian untukku." Ujarnya dengan percaya diri. Jennifer hanya tersenyum dengan ucapan Gerald, memang hanya dengannya Gerald berkata manis. Biasanya dengan teman-temannya dialah yang paling kalem, tapi terkadang juga bar barnya tidak di sangka-sangka.
"Istirahatlah, perjalananmu pasti sangat melelahkan ." Sambung Gerald di sana.
"Kau juga beristirahatlah, bukankah di sana larut malam? Sampaikan salam Mami untuk Mommy." Ujar Jennifer.
"Baiklah, akan aku sampaikan. I love you, babe. Sampai jumpa nanti, "Ucap Gerald tanpa malu-malu.
"Eemm.. love you too. Aku akan menunggumu," Jawab Jennifer dengan tersenyum tipis. Mereka mengakhiri sambungan telfon satu sama lain. Gerald memutuskan untuk tidur, sedangkan Jennifer memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dulu.
Setelah 30 menit, Jennifer keluar dan segera berpakaian rapi. Ia menggunakan pakaian serba hitam kali ini, entah ke mana dia akan pergi. Tidak perlu menunggu lama, Jennifer segera keluar dengan rambut panjang tanpa di ikat.
"Kau mau kemana, Jen?" Tanya sang mami melihat Jennifer memakai pakaian serba hitamnya.
"Jenni mau ke markas dulu, Mam." Jawabnya.
"Ya sudah hati-hati, kakakmu juga pasti ada di sana." Jennifer mencium pipi kanan dan kiri Ana lalu berjalan keluar. Jennifer tidak memperdulikan Julian saat ini, ia sudah menebak pasti sang adik sedang tertidur saat ini.
Jennifer menyalakan mesin mobilnya lalu melaju membela jalanan kota yang sedikit ramai kali ini.
Perjalanan memakan satu jam lebih untuk sampai di markas, kedatangannya di sambut oleh anak-anak buah Sean di sana. Jennifer melangkahkan kakinya masuk dengandengan kaki jenjangnya.
__ADS_1
la terlihat Diva yang ada di sana sedang memainkan ponselnya dengan memakan cemilan yang ada di sampingnya, sedangkan Riko sedang tidur di kursi panjang. Jennifer tersenyum jahil di sana, sesekali dia ingin berbuat jahil pada Diva. Biasanya itu adalah kebiasaan Julian, Julian tidak ada Jennifer Pun jadi.
la mendekat secara perlahan agar tidak di ketahui oleh Diva. Dann...
"WAAAHH..." Jennifer mengejutkan Diva hingga ponsel yang ia pegang ia lempar ke arah Riko. Riko yang mendapat benda jatuh ke arahnya itupun seketika terbangun karena terkejut ada yang melemparnya.
Diva berteriak kencang karena terkejut, Riko yang terlihat seperti orang linglung di sana. Sudah mendapat timpukan di tambah mendengar teriakan dari Diva, rasa kagetnya dua kali lipat saat ini.
"Hahahah..." Jennifer tertawa puas di sana, sampai-sampai dia memgang perutnya yang terasa sakit karena tertawa tidak ada hentinya di sana.
Riko hanya bisa pasrah melihatnya, sedangkan Diva seperti menahan kekesalannya saat ini.
"Apa sudah puas?" Diva berkacak pinggang melihat Jennifer yang masih tertawa.
"Hahaha... Oke.. Oke. Sorry.. Sorry.." Jenifer menunjukkan jari peace-nya.
"Tidak ada Julian kenapa kau yang menggantikannya sekarang?" Diva masih berkacak pinggang kesal karena ulah Jennifer yang membuat dirinya terkejut.
"Kalau saja kau Julian sudah aku buang dirimu ke laut." Ketus Diva pada Jennifer.
"Santai doong... Gak perlu di bawa emosi." Jennifer mendudukkan dirinya di atas sofa ikut berkumpul dengan Diva dan Riko.
"Bagaimana perjalananmu di Amerika, Nona?" Tanya Riko pada Jennifer.
"Hmm... Lumayan," jawab Jennifer singkat.
"Mana ponselku?" Diva meminta ponselnya pada Riko.
"Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah sedari tadi kau yang membawanya sendiri?" Riko masih tidak sadar jika yang mengenai dirinya tadi adalah ponsel milik Diva. Mungkin ponsel itu sedang terindih dirinya saat ini.
"Tadi aku melemparnya ke arahmu gara-gara cunguk ini." Jawab Diva sedikit kesal. Jennifer hanya tersenyum melihat kekesalan Diva, itu sudah menjadi hal biasa bagi keluarga mereka. Riko mencari di sekelilingnya, ia pun memberika ponsel itu pada Diva kembali setelah menemukannya.
__ADS_1
"Apa tuan muda tidak ikut?" Riko kembali bertanya pada Jenifer.
"Tidak, dia pasti sudah tertidur di kamarnya." Jawabnya yang memang benar walaupun Jennifer tidak melihatnya secara langsung. Tapi Jennifer sudah hafal bagaimana Julian. Riko hanya menganggukkan kepalanya.
"Aahh... Mumpung kalian berada di sini, aku akan menyampaikan sesuatu." Ucap Riko yang ingin menyampaikan tujuannya.
"Ada apa?" Tanya Jennifer singkat.
"Berhati-hatilah saat keluar, terutama kau Diva." Ujarnya menunjuk Diva.
"Hah, kenapa aku?" Diva menunjuk dirinya sendiri.
"Aku berbicara masalah perang yang aku maksud tadi." Ujarnya yang masih menggantung.
"Apa hubungannya denganku? Cepat katakan saja, jangan bertele-tele. Kau ini," sungutnya yang memang sedari tadi ia sudah merasa penasaran.
"Ada salah satu mafia sebelah yang meminta salah satu dari kalian menjadi menantu dari mereka, dan yang mereka incar adalah dirimu." Riko kembali menunjuk Diva.
"Tuan Sean menDivaknya mentah-mentah karena
Tuan tau bagaimana kelompok itu, mereka hanya ingin menguasai wilayah Tuan Sean yang ada di mana-mana. Dia ingin memgambil keuntungan sebesar-besarnya dalam hal ini. Yang jelas nanti Tuan Sean yang akan banyak di rugikan."
"Mereka tidak terima jika Tuan Sean sudah menDivaknya mentah-mentah, maka dari itu mereka mengibarkan bendera perang." Terang Riko panjang kali lebar, keduanya menyimak tanpa menyela.
"Kalian berhati-hatilah, tidak menutup kemungkinan jika mereka akan menjadikan salah satu dari kalian untuk menjadi umpan untuk kita yang ada di sini." Imbuhnya.
"Kenapa kita tidak langsung saja menyerang mereka ?" Ujar Jennifer.
"Tidak, Nona. Kita lihat pergerakan mereka seperti apa, semua yang ada di sini juga sudah mempersiapkan diri. Kalian harus berhati-hati," tutur Riko yang di dapat di pahami oleh Diva dan Jennifer. Wajah mereka berubah menjadi serius setelah mendengar hal ini, kemungkinan besar mereka berdua akan ikut terjun dalam hal ini.
Memang seperti inilah kehidupan mafia, banyak musuh di mana-mana, nyawa selalu di incar dan masih banyak lagi. Yang terlihat tenang dan tentram belum tentu memiliki kehidupan yang aman dan damai. Justru mereka yang memiliki musuh di mana-mana, bahkan menjadi incara orang-orang yang iri dengki atau merasa tersaingi.
__ADS_1
Hari demi hari berganti, hari ini Gerald kembali ke Berlin tanpa sepengetahuan Jennifer dan lainnya. Mungkin dia ingin membuat kejutan untuk yang lainnya, saat ini Gerald masih berada di dalam jet milik sang Daddy. Sedangkan twin J dan lainnya berada di markas untuk bermain-main di hari liburnya, mereka mengisi waktu luang dengan bermain ataupun berlatih.