Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 240


__ADS_3

"Kakak amil saja di di dapur, ada dua kulkas besar ice cream di sana." Jawaban dari adiknya itu sontak membuat kedua mata Fany terbelalak.


"Hah, dua kulkas besar? Kau jangan suka berbohong, ya," ujar Fany tidak percaya dengan ucapan adiknya.


"Ck, kau periksa saja sendiri, Kak. Aku juga tidak tahu, tadi saja tiba-tiba ada yang mengirim dua kulkas icre cream. Banyak sekali rasa-rasanya, aku sangat suka. Apa yang mengirimkannya itu kekasihmu?" celetuk sang adik pada Fany.


"Kau jangan berbicara sembarangan," ketus Fany pada adiknya. Fany rasanya masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh adiknya baru saja.


"Beruntung sekali kalau kau punya kekasih kaya raya. Kalau aku jadi dirimu aku akan meminta yang sangat sangat sangat sangat banyak untuk stock di rumah," cerocos adik Fany.


"Kau masih anak piyik, jangan berbicara yang tidak-tidak. Kau main saja sana dengan teman-temanmu itu," sungutnya pada sang adik.


Fany dengan cepat untuk mengecek apakah benar atau tidak. Di lihatnya terdapat dua kulkas besar di sana, ternyata apa yang di katakan oleh adiknya tadi benar. Fany berpikir-pikir sejenak di depan kulkas ice itu.


"Apa ini dia yang mengirimkannya?" Fany mengingat-ingat jika dirinya tadi berdebat dengan Julian hanya karena ice cream.


Fany masih bingung dengan apa yang adai hadapannya saat ini. Jika memang itu Julian yang mengirimkannya, untuk apa ice cream sebanyak itu? Bagaimana cara menghabiskannya, pikir Fany.


Waktu berjalan begitu cepatnya, cahaya matahari itu kini berganti dengan cahaya lampu di setiap penjuru kota. Malam itu, James mengajak Rika sesuai dengan ucapan Sean di waktu siang tadi. Hanya bersama Rika, Fany dan adiknya ia tinggal di rumah.


"Ada apa, membawaku?" tumben sekali dia memintamu


"Tuan Sean ada perlu padamu, jadi dia ingin


menemuimu," jawabnya yang tidak memberitahu maksud sebenarnya Sean untuk memintanya membawa Rika. Biarkan saja nanti Sean yang menjelaskannya sendiri.


"Perlu apa memangnya? Tumben sekali orang itu?"

__ADS_1


Selang beberapa menit Sean datang di sana, Sean datang seorang diri tanpa di temani oleh Ana karena baru saja dirinya dari perusahaan. Ia langsung saja mendudukkan dirinya bergabung dengan James dan Rika yang sudah menunggunya.


"Ada perlu apa kau denganku? Tumben sekali?" Rika bersikap layaknya dirinya dengan Ana, tidak ada rasa takut atau apa pun itu saat berhadapan dengan Sean. Mungkin sudah terlalu sering dirinya berhadapan dengan Sean, jadi dirinya terbiasa.


"Istrimu memang tidak berubah sejak dulu," ujar Sean yang melihat Rika memang tidak pernah ada lembut-lembutnya. Pantas saja jika Fany juga suka sekali berbicara ngegas.


"Berubah bagaimana, Tuan? Memang sedari dulu dia istriku, tidak akan berubah sampai kapanpun," sahut James yang membuat Rika sedikit tersipu mendengar ucapan James.


"Bukan itu maksudku, bod*h! Tapi sikap istrimu itu yang sedari dulu tidak pernah berubah," sewot Sean.


"Sudahlah, aku tidak mau berlama-lama. Aku memintamu bertemu karena ingin mengikat Julian dan Fany," jelas Sean yang langsung saja pada intinya.


"Hah, bagaimana maksudmu? Aku tidak mengerti." Rika masih mencerna ucapan yang ia dengar di sana.


Sean memutar kedua bola matanya malas karena Rika tidak nyambung dengan apa yang ia katakan. "Aku ingin mengikat Julian dan Fany. Dalam artian aku meminta putrimu menjadi menantuku, apa masih kurang jelas?"


"Apa kau melihat wajahku ini sedang bercanda?"


"Aku sudah membicarakan dengan suamimu siang tadi, dan sekarang aku membicarakan denganmu juga. Aku ingin menyatukan mereka," sambung Sean.


"Emm... emmm...." Rika berdehem sebelum menjawab ucapan Sean.


"Huuuh... bukannya aku menolaknya, tapi bagaimana nasibku memiliki mantu seperti putramu itu? Putramu selalu membuat orang-orang naik darah dengan tingkahnya." Rika sedikit mengeluarkan uneg-unegnya di depan Sean.


"Aku juga tidak bisa memaksakan perasaan putriku. Biarkan dia menentukan dengan siapa dirinya nanti," sambung Rika.


"Apa kau masih tidak sadar bagaimana putrimu dan putrau sebenarnya? Mereka memang memiliki cara tersendiri dalam menunjukkan perasaannya. Bukankah putraku selalu datang ke rumahmu untuk menjemput putrimu, aku hanya ingin membantu sedikit." Rika berpikir-pikir dengan ucapan Sean. Karena memang Julian sering sekali datang ke sana dan meminta izin padanya untuk mengajak Fany berjalan-jalan.

__ADS_1


"Bagaimana nanti jika putriku menolaknya?"


"Tidak akan. Serahkan saja padaku untuk itu. Kau tidak mau bukan jika putrimu akan jatuh ke tangan pria yang salah, kau pasti tidak tahu jika putrimu pernah hampir di lecehkan oleh seseorang," ujar Sean sedikit membuka apa yang Rika tidak tahu. Dia memang ada saja cara untuk Rika segera menyetujui.


Sean pasti mengetahui apa saja yang bersangkutan dengan Julian ataupun teman-teman dekat Julian. Abigal dan James sedikit terkejut mendengar ucapan Sean baru saja.


"Di lecehkan bagaimana, Tuan?" sahut James yang merasa penasaran.


"Beberapa waktu lalu putrimu sedang dekat dengan pria lain, yang sayangnya pria itu suka sekali melakukan hal yang tidak-tidak. Untung saja saat itu Julian datang menyelamatkan putrimu dari pria itu," jelas Sean dengan singkat, padat dan jelas.


"Kenapa dia tidak pernah memberitahuku tentang hal ini?" ucap Rika yang juga terkejut mendengarnya.


"Hmm... putrimu pasti tidak ingin membuatmu khawatir dengannya,"


"Aku tidak bisa menjelaskan banyak, hanya intinya saja. Aku hanya menunggu persetujuanmua, cepatlah aku tidak memiliki waktu banyak," ujar Sean sedikit memaksa.


"Kau memang sedari dulu suka sekali memaksa dan tidak sabaran. Kalau tidak begitu kau pasti mengancam," papar Rika mengingat dirinya waktu dulu juga menghadapi Sean seperti itu saat membicarakan pernikahannya dengan James.


"Aku anggap kau setuju. Aku akan pulang sebelum Ana marah." Sean melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan segera pergi meninggalkan kedua orang itu. Tanpa mendengar jawaban dari Rika terkait apa yang ia bicarakan tadi.


"Hah, apa-apaan orang itu. Selalu saja seenaknya sendiri, belum juga aku menyetujuinya," gerutu Rika melihat Sean pergi dari sana.


"Haaaiishhh... bagaimana pusingku nanti jika aku memiliki menantu seperti putraya itu. belum juga sehari kepalaku pasti sudah pecah," sambungnya mengingat bagaimana Julian.


"Percayalah, Sayang. Di balik sikap Tuan Muda yang seperti itu pasti bisa menjaga putri kita dengan baik. Aku tidak tahu nasib putriku waktu itu jika tidak ada Tuan Muda yang menyelamatkannya. Aku percaya jika nanti mereka akan berbahagia dengan caranya sendiri," ujar James dengan penuh kepercayaan.


"Huuh... aku akan selalu mendoakan kebahagiaan putri kita." James mengangguk menyetujui ucapan Rika.

__ADS_1


__ADS_2