
"Tuan." Sapanya saat dirinya tiba di sana.
"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya pada manajer itu.
"Maafkan kelalaian kami, tuan. Terjadi kerusuhan di sini, mereka berdua lah yang menjadi dalang di balik semua ini." Jawab manajer itu tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Pemilik itu pun menoleh ke arah orang yang di maksud oleh manajer restoran itu.
Cindy bersembunyi di belakang sang mama setelah melihat siapa yang datang di sana. Sepertinya, dirinya takut melihat orang itu.
"Kau harus bertanggung jawab dengan semua ini, nyonya." Ujarnya.
"Bukan aku yang harusnya bertanggung jawab, gadis tadilah yang harus bertanggung jawab. Dia yang sudah membuat kekacauan di sini." Elaknya.
"Apa kau kira tidak tahu dengan semua yang terjadi di sini?" ucapnya membuat mama Cindy terdiam.
Setelah mengucapkan itu, ia menelisik wajah yang bersembunyi itu.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada putriku?"
bentaknya di sana hingga membuat Cindy dan mamanya terjinggat terkejut dengan suaranya yang begitu keras.
Manajer di sana hanya bisa menunduk melihat kemarahan dari sang boss. Siapa lagi orang itu kalau bukan Sean. Ia langsung saja datang ke lokasi setelah mendapat beberapa laporan mengenai putrinya.
Sean marah besar pada Cindy dan sang mama karena sudah bermain-main dengannya, apa lagi mereka sudah menyentuh putrinya.
"Apa kau masih ingin bermain-main dengan putriku?" sarkasnya dengan tatapan yang terlihat menakutkan.
"Apa yang kau lakukan pada putriku kali ini?" Sean kembali membentak mereka berdua. Jika satu kali dua kali Sean membiarkan tapi tak di indahkan, maka bersiap saja jika kali ini dia tidak akan memberikan ampun pada orang-orang itu.
"Keluarga kalian memang tidak tahu diri dan tidak tahu malu." Sentak Sean.
"Anda sebagai orang tua harusnya mengajarkan putrimu yang baik, bukan mengajak dia ke dalam hal buruk. Percuma jika satu kota memuji keberhasilan yang kalian capai, tapi kalian sendiri bertindak seperti orang bod*h." Sambung Sean.
"Jangan pernah menyalahkan ku dan putriku, putrimulah yang bersalah di sini." Elak mama Cindy. Sudah salah tapi tidak mau terlihat salah.
"Putriku tidak akan pernah bertindak bodoh seperti yang kalian lakukan."
"Bawa mereka." Perintah Sean pada anak buahnya.
__ADS_1
Anak buah Sean membawa paksa Cindy dan mamanya untuk pergi dari sana. Cindy merengek pada sang mama tidak mau di bawa oleh anak-anak buah Sean, sedangkan sang mama memberontak meminta untuk di lepaskan.
"Kau urus kekacauan di sini." Perintahnya pada manajer restoran di sana.
Di saat Cindy dan mamanya di bawa paksa oleh anak-anak buah Sean, banyak pasang mata yang melihat dan mencibirnya. Tentu saaja mereka stahu siapa Cindy dan mamanya, mereka juga tidak menyangka jika mereka yang berpengaruh di kota bisa bertindak seperti itu.
Sedangkan di satu sisi...
Papa Cindy yang mendapat laporan seperti itu pun terlihat sangat marah merutuki tindakan anak dan istrinya.
"Apa yang mereka lakukan, hah? Sudah aku katakan jangan pernah berurusan dengan keluarga Johnson." la frustasi dengan tingkah anak dan istrinya. Pasti setelah ini reputasinya akan hancur karena ulah Cindy dan mamanya yang konyol itu.
"Nyonya tengah menyewa orang-orang untuk di gunakan membantu nona Cindy bisa dekat dengan putra keluarga William." Jawabnya.
"Bodoh.... Bodoh.... Bodoh..." ia mengusap kasar wajahnya dengan masalah ini.
"Kemana mereka membawa istri dan putriku?"
"Mereka sepertinya membawa ke tempat tersendiri, tuan. Keluarga mereka tidak pernah berhadapan dengan polisi setempat."
"Anak itu memang sulit di atur." Papa Cindy bingung harus apa yang ia lakukan kali ini. Berurusan dengan keluarga Johnson, sama saja mereka bermain dengan takdir.
"Kau dari mana kak? Kenapa kau baru pulang?" tanya Julian yang terlihat kepo.
"Kau kan tidak biasanya."
"Aku sedang bermain-main sedikit di luar." Jawab Jennifer.
"Main-main, kenapa kau tidak mengajakku. Harusnya tadi aku ikut denganmu saja kalau begitu." Ujar Julian yang sepertinya mengerti dengan ucapan dari sang kakak.
"Iya, harusnya aku mengajakmu tadi bertemu dengan pacarmu itu."
"Pacarku yang mana?" Julian menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa lagi kalau tidak anak konglomerat se antero kota itu." Jawab Jennifer dengan memincingkan bibirnya.
"Dia anak konglomerat, kita anak triliuner." Julian menaikkan turunkan alisnya dengan wajah terlihat konyol.
"Jangan sombong!" ketusnya.
__ADS_1
"Aku tidak sombong, tapi yang aku katakan kenyataan."
"Memangnya, apa lagi yang dia lakukan padamu?" Julian bertanya pada sang kakak.
"Biasa, tindakan konyol yang tanpa memikirkan siapa lawannya." Jennifer memakan cemilan yang ia bawa.
Julian melipat kedua tangannya di depan dadanya, sepertinya ia berfikir sesuatu.
"Aku heran dengan anak itu, kenapa yang dia lakukan selalu konyol? Apa dia tidak pernah berfikir dengan apa yang akan dia lakukan?" ucapnya.
"Kau tanyakan saja pada pacarmu itu." Sengal Jennifer yang selalu mengejek Julian.
"Enak saja, ogah sekali aku dengannya. Memang tidak ada wanita lain apa?" Julian menggelengkan kepala.
"Kalau gitu kau dengan Fany saja, kau sepertinya pantas dengannya. Kau dan dia sama-sama biang resseh." Kali ini Jennifer tidak ada cueknya pada sang adik. Biasanya dia paling cuek jika berbicara dengan Julian.
"Kau yang benar saja, kak." Ucapnya tidak terima jika dirinya di sandingkan dengan Fany.
"Sudah tidak usah menolak, biasanya yang suka nolak itu berjodoh." la semakin menggoda sang adik.
Julian menggerutu tidak bisa diam saat sang kakak Fany adalah wanita yang paling resseh yang ia temui.
memilihkan Fany seagai pasangannya. Bagi Julian, Padahal dirinya pun sebenarnya juga sama dengan Fany. Entah dirinya itu sadar atau tidak.
Malam harinya....
"Ma.... Tempat apa ini?" rengeknya pada sang mama saat berada di tempat yang menurutnya sangat menakutkan.
"Mama juga tidak tahu." Jawab sang mama sedikit ketus.
"Menyeramkan sekali, kenapa papa tidak menolong kita?" rengeknya kembali pada sang mama.
"Kau diamlah, pasti papamu akan menolong kita. Jangan seperti anak kecil," ujar sang mama yang seperti tidak ada takut-takutnya saat berada di sana.
"Hei kau yang di luar, cepat lepaskan kami. Jangan sampai kau nanti berhadapan dengan suamiku." Ucapnya yang masih saja sombong.
Orang yang di teriyaki oleh mama Cindy tidak menggubris sama sekali. Dia menulikan pendengarannya tanpa memperdulikannya.
"Hey.... Apa kau tidak takut jika suamiku akan datang?" teriaknya lagi. Sepertinya, dia juga lupa siapa yang sudah dia hadapi saat ini. Padahal, dirinya belum apa-apa jika dengan orang yang ia hadapi sekarang.
__ADS_1
"Diamlah, nyonya. Jangan buat kami membungkam mulutmu," sarkasnya.
"Dasar, kurang ajar." Celetuknya pada orang itu. Orang tersebut pun tidak peduli hinaan dan teriakan mama Cindy.