
"Kirimkan anak buah menyusup kesana." Perintah Sean lagi. Kali ini Sean tidak akan tinggal diam. Sean akan bergerak cepat dari pada Leon.
"Pantau terus, jika ada orang mencurigakan langsung saja tangkap mereka." Sambung Sean lagi.
Leon bukanlah tandingan dari Sean, karena memang kekuatannya tidak sebanding dengannya. Tapi, Leon selalu ingin merebut wilayah kekuasaan Sean. Maka itu tidaklah mudah untuknya.
Anak buah Sean segera melakukan tugasnya masing-masing setelah mendapat perintah. Mereka langsung saja bergerak dengan cepat.
Sedangkan di sisi rumah sakit yang cukup besar, seorang pria baru saja tersadar dari tidurnya selama tiga hari. Ia berdesis karena merasakan sekujur tubuhnya sakit semua dan remuk.
Kedua orang tuanya terjingkat melihat putranya sudah sadar.
"Kau sudah sadar, Andy?" tanya sang mama.
Yaa... peria itu adalah Andy. Dia tidak sadarkan diri selama tiga hari setelah mendapat pelajaran dari Sean.
Sang mama segera memencet tombol untuk memanggil dokter. Tidak lama kemudian, dokter datang dan memeriksanya.
Dirinya masih terlihat lemah, untuk bergerak pun dirinya masih merasakan sakit yang teramat.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya papanya.
"keadaannya memang sedikit membaik, tuan. Tapi sepertinya ada sedikit kerusakan di dalam jantungnya." Jawab dokter.
Mama Andy langsung menutup kedua mulutnya tidak percaya mendengar jawaban sang dokter.
"Kenapa bisa begitu, dok?" tanya papa Andy.
"Saya melihat jika tuan muda Andy mendapat banyak pukulan, tuan. Kemungkinan dia juga mendapat pukulan yang sangat kuat di bagian dadanya." Terang dokter tersebut.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan, dok?" sahut mama Andy.
"Kami akan periksa dulu melalui CT Scan, nyonya. Baru nanti kami bisa memutuskan bagaimana langkah yang kita ambil." Jelas dokter itu lagi.
Papa Andy mengepalkan tangannya dengan kuat hingga semua kuku-kukunya berubah bewarna putih.
"Kami permisi dulu, nyonya, tuan." Pamitnya lalu melangkahkan kakinya keluar.
__ADS_1
"Pa... bagaimana ini?" tanya mama Andy pada suaminya.
Wajah papa Andy berubah menjadi merah karena marah jika Andy mendapat perlakuan buruk.
"Papa akan cari tahu dan membuat perhitungan pada orang itu." Jawabnya dengan sorot mata tajam.
Coba saja jika dia bisa menemukan siapa yang sudah membuat Andy seperti itu, jika bisa pun pasti dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa jika mengetahui siapa orang sudah membuat Andy terkapar tak berdaya hingga tak sadarkan diri selama tiga hari.
Keluarga Andy memang termasuk keluarga yang kaya dan mempunyai usaha yang cukup terbilang besar. Tapi di banding dengan Sean, keluarganya masih di bawah jauh.
Mension Sean...
Diva, Julian dan Jennifer sedang bermain kejar-kejaran di taman yang sedikit becek karena hujan semalam.
Kondisi badan mereka sekarang kotor semua penuh lumpur, bahkan bajunya pun berubah menjadi warna coklat. Entah kemana perginya Ana hingga anak-anak dan keponakannya bisa bermain kotor-kotoran seperti itu.
Mereka sangat menikmati waktu mereka bermain, bahkan mereka juga bermain di kubangan air. Tawa riang mereka bersahutan satu sama lain.
Entah siapa yang akan di salahkan kali ini jika melihat ketiganya yang sudah tidak bisa di kenali wajahnya.
"Aaarrkkhh.... Astaga kalian." Teriak Ana saat melihat ketiganya sudah penuh dengan lumpur.
Sedangkan Julian, dia masih menikmati bermain di dalam kubangan air hujan itu.
"Kenapa kalian nakal sekali, hah?" ucap Ana berkacak pinggang sambil menunjukkan wajah
garangnya.
"Aunty.... Jangan marah-marah deh ya. Nanti cepat tua kayak grandma." Ucap Diva mengejek Ana.
"Mam... mam... mam..." Jennifer menggelengkan kepala pada sang mami.
"Huaa... Seaaaann.... Bagaimana bisa kau mempunyai anak dan keponakan seperti ini?" bisa-bisanya dia meneriaki Sean, padahal mereka juga nak-anaknya. Yang melahirkan adalah dirinya.
Ana di buat frustasi dengan setiap tingkah anak dan keponakannya.
"Ayo cepat mandi." Perintah Ana.
__ADS_1
Ana mendekat kearah ketiganya dan menuntun twin J kearah kran air terlebih dahulu agar lumpur-lumpur yang ada di seluruh badannya hilang. Ana terpaksa harus memandikan keduanya di halman seperti itu, jika langsung saja masuk ke dalam, mungkin dalam mension juga ikut penuh lumpur karena jejak mereka.
Beda lagi dengan Diva, dia langsung saja masuk ke dalam mension tanpa sepetahuan Ana.
Ana mencoba mengguyur twin J dengan air mengalir. Mereka kembali tertawa senang karena bisa bermain air di halaman rumah. Jarang-jarang sekali mereka bisa bermain dan mandi di halaman sana. Jika saja Sean juga tahu bagaimana kelakuan anak dan keponakannya saat dirinya tidak ada, mungkin dirinya hanya bisa menggelengkan kepala saja.
"Bi... tolong ambilkan sabun, shampoo dua handuk kecil ya." Ucap Ana pada salah satu maid yang sedang melintas di sana.
Maid itu pun segera masuk ke dalam melalui pintu lain untuk mengambil perlengkapan mandi buat twin J.
Tidak lama kemudian, maid itu kembali membawakan perlengkapan mandi dan di berikan pada Ana.
Ana memandikan keduanya di luar di bantu oleh maid tadi. Setelah mereka bersih, Ana memakaikan handuk kimono kecil pada keduanya.
Ana mengajak keduanya masuk ke dalam sebelum mereka masuk angina karena sedari tadi mereka bermain air.
"Astaga... astaga.... Jejak kaki siapa ini?" pekik Ana melihat jejak kaki yang kotor masuk ke dalam.
Di perhatikannya jejak itu sampai ke jauh ke dalam.
Ana menepuk jidatnya karena itu pasti kelakuan Diva.
"DIVAAA.... Apa ini?" teriak Ana. Twin J terkejut mendengar suara teriakan Ana yang sangat melengking. Sedangkan Diva, ia mendengar samar-samar teriakan Ana dari bawah.
Dia hanya cekikikan di dalam kamar mandinya. la sudah tahu jika aunty-nya pasti akan marah dengannya.
Kali ini Ana di buat darah tinggi oleh Diva, entah kenapa dia ada-ada saja tingkahnya jika sudah bersama twin J.
Sedangkan twin J, mereka juga mau-mau saja jika di ajak Diva. Mungkin mereka masih kecil dan selalu penasaran apa yang di lakukan oleh Diva, jadi mereka berdua ngikut saja apa yang di lakukan oleh Diva.
Ana memerintahkan para maid untuk membersihkan rumah yang kotor itu karena jejak kotor dari Diva.
Ana memakaikan baju pada twin J dan memakaikan bedak bayi agar mereka kembali harum.
"Nah... sudah cantik dan ganteng. Gak boleh bermain kotor-kotoran lagi, oke." Tutur Ana pada keduanya. Mereka hanya mengangguk faham apa yang diucapkan oleh sang mami.
Keduanya bermain di karpet bulu tebal yang berada di kamarnya. Hingga tak lama kemudian, akhirnya mereka tertidur dengan sendirinya. Entah karena kelelahan bermain atau memang sudah mengantuk. Mereka tidur dengan nyamannya tanpa terusik.
__ADS_1
Ana yang melihat keduanya tertidur itu pun tersenyum dan mengelus pucuk kepala keduanya.
Sedari tadi Diva juga tidak terlihat, mungkin dirinya juga tertidur di kamarnya karena lelah bermain.