Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 89


__ADS_3

Diva mengajak Jennifer untuk ke dapur mengambil makanan yang manis-manis.


Seperti biasa Diva pasti akan mengambil desert yang memang sudah tersedia di sana. Ia mengambil satu dan tak lupa dua sendok. Satu untuknya dan satu lagi untuk Jennifer.


Mereka berdua duduk di lantai dan memakan desert itu. Jennifer menyendok desert itu sedikit demi sedikit.


Tidak lama kemudian, Ana dan Sean turun membawa tas ransel dan satu koper lalu berjalan ke ruang biasa yang ia tempati berkumpul.


Mereka hanya melihat Julian sendirian dengan tablet yang masih di biarkan menyala.


"Kemana kedua kakakmu, Jul? Kenapa tidak ada?" Ana clingukan mencari dua pasukannya yang tidak terlihat.


"Biar aku yang mencarinya, bereskan Julian dulu. Paling mereka tidak jauh dari dapur." Ucap Sean yang memang sudah hafal dengan Jennifer dan Diva jika hanya berdua. Mereka tidak jauh-jauh dari dapur.


Ana pun mendekat ke arah Julian dan membereskan barang yang di sana. Sedangkan Sean berjalan ke dapur.


"Wah waahh.... Sepertinya enak sekali, ya." Ucap Sean melihat mereka menikmati desert duduk di lantai.


"Papii... papii..." ujar Jennifer mengangkat sendok miliknya. Sean berjongkok menyetarakan tinggi mereka berdua.


"Kenapa adiknya di tinggal sendiri, hmm?" tanya Sean lembut.


"Anakmu itu sangat nakal, uncle. Jenni terjatuh karena di dorong olehnya, untung saja tidak menangis. Dan wajahku di pukul olehnya. Ya sudah, aku dan Jenni pergi ambil makanan. Ya kan Jeennn..." adu Diva pada sang uncle dengan menunjukkan raut wajah kesalnya. Jennifer hanya mengangguk.


Sean yang melihat keduanya itu tersenyum. Jarang-jarang sekali dirinya bersama anak-anaknya dan keponakannya karena sibuk bekerja.


"Yasudah ayo, kita berangkat dulu ke mension grandma dan grandpa. Nanti kita makan-makan lagi di sana." Ajak Sean. Jennifer langsung saja merentangkan kedua tangannya meminta untuk di gendong sang papi.


Sean dengan senang hati menggendong putrinya. Diva mengikuti langkah sang uncle setelah meletakkan sisa desertnya yang mereka makan membereskan barang yang di sana. Sedangkan Sean berjalan ke dapur.


Hari ini Sean memutuskan untuk memboyong semua keluarga kecilnya untuk sementara tinggal di mension utama. Sean hanya tidak mau jika mereka dalam bahaya jika tidak ada di rumah.


Sean tidak mau mengambil resiko terbesar jika membiarkan Ana dan anak-anaknya hanya tinggal sendiri di mension sana. Lebih baik membawa mereka ke tempat yang aman dari pada mereka terluka.


3 hari kemudian...


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan wanita itu ?" tanyanya.

__ADS_1


"Sudah, tuan. Saya menemukannya, wanita itu pagi tadi mengantar anak kecil ke sekolah." Jawabnya.


Orang itu pun tersenyum penuh kemenangan mendengar laporan dari anak buahnya. Ia akan menggunakan kesempatan emas yang ia punya. Ia juga sudah membuat rencana untuk hal ini.


"Kerja bagus. Tetap dalam penyamaran kalian, jangan sampai dia tahu." Pujinya pada anak buahnya.


"Hubungi David untuk mengantarkan jet ke sini." Perintahnya.


Benar jika orang itu adalah Leon, dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Ana. Mereka mengandalkan foto yang pernah tertangkap waktu salah satu anak buah Leon berada di mall dulu.


Mereka melihat saat Ana pergi mengantarkan Diva bersekolah.


"Kau lakukan yang aku perintah, aku ingin mencari udara segar dulu." Ujar Leon pada anak buahnya.


Leon melangkahkan kakinya keluar dari sana. la menuju mobilnya dan melajukan mobilnya membelah jalanan kota.


la berkeliling mencoba mencari sesuatu yang menyenangkan baginya. Tidak lupa jika mengenakan topi dan kacamata hitamnya agar tidak mudah di kenali oleh anak buah Sean nantinya.


Cukup lama dirinya berkeliling mengamati pemandangan kota di sana, hingga dirinya memutuskan untuk datang ke sekolah Diva.


la memberhentikan mobilnya sedikit jauh dari sana agar tidak terlalu mencolok. Leon mengamati semuanya dari balik kaca mata hitamnya.


Leon datang ke sana tepat waktu, karena saat itu adalah jam pulang untuk sekolah.


Ana keluar dari dalam mobil sendiri dan berjalan masuk ke dalam lingkungan sekolah.


"Aku menemukanmu." Leon tersenyum jahat saat


melihat Ana berjalan ke lingkungan sekolah Diva.


"Kau memang cantik, pantas saja jika musuhku memilihmu menjadi istrinya." Sambungnya. la masih mengamati keadaan di sana.


Tidak lama kemudian, Ana keluar bersama Diva bergandengan menuju mobil.


Leon memutuskan menyalakan mobilnya dan berjalan mendekat ke arah Ana, Leon melajukan mobilnya pelan. Ia terus saja memandang wajah Ana dengan senyum jahatnya saat berpapasan dengan mobil Ana.


Setelah puas dengan apa yang ia lihat, Leon kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan segera kembali ke tempat singgahnya. Dari pada ia nanti tertangkap oleh ana-anak buah Sean.

__ADS_1


Sepertinya dirinya sudah mempunyai segudang cara untuk apa yang akan di lakukan.


Sedangkan di sisi Ana....


"Kenapa Jul dan Jenni tidak ikut?" tanya Diva.


"Tidak, tadi mereka bermain dengan grandma sama grandpa." Jawab Ana.


Mereka masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian mobil pun meluncur ke arah mension utama.


Untung saja Leon tidak mengikuti mobil Ana yang berjalan ke mension utama saat ini. Dia langsung saja bergegas kembali. Mungkin dia akan menyiapkan strategi.


Mension utama...


Diva dan Ana turun dari mobil dan masuk ke dalam. Diva berlari karena dia sudah ingin sekali bertemu dengan twin.


"Jeenn... Ijuulll... kakak pulaang." Teriak Diva memanggil kedua adiknya.


Jennifer antusias mendengar suara Diva yang terlalu riang dan cempreng. Dia mengulurkan kedua tangannya pada Diva. Beda dengan Julian yang tidak peduli dengan kedatangan Diva di sana. Dia hanya diam dan bermain dengan sang grandpa.


Jennifer lari ke arah Diva dan memeluk kedua kaki Diva. "Kau memang menggemaskan, Jen." Diva mencium keduan pipi gembul Jennifer.


"Kakak ganti baju dulu, oke. Nanti kita bermain." Jennifer mengangguk. Diva bergegas lari ke kamarnya dan berganti dengan baju santainya.


Kembali ke sisi Leon...


Setibanya di kediamannya, dia langsung saja turun dan masuk ke dalam. Semua anak buahnya yang berada di sana menunduk hormat padanya.


"Jet peribadi akan sampai besok tuan, tadi tuan David memberitahu saya." Ucap anak buahnya.


"Apa dia tidak ikut kemari?" tanyanya.


"Saya kurang tau tuan. Tuan David tidak memberitahu saya." Ucapnya lagi.


"Hmmm... jangan lupa pantau terus wanita itu." Perintahnya lagi.


"Apa yang akan tuan lakukan selanjutnya?"

__ADS_1


"Tunggu jika jet itu sudah tiba di sini. Aku akan memberitahu kalian apa yang harus kalian lakukan.” Jawab Leon.


"Apa tuan sudah yakin? Kami tidak mau jika tuan nanti terluka lagi seperti waktu itu." ujar anak buahnya yang menghawatirkan dirinya.


__ADS_2