Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 278


__ADS_3

Bugh...


Bugh...


Julian masih berusaha melawan bawahan Dario di sana. Sementara Dario terlihat kesal dengan apa yang di lakukan oleh sang adik yang telah membawa Thea pergi dari sana. Sebenarnya adiknya itu berpihak pada siapa, pada dirinya ataukah pada musuhnya? Dario mengacak-acak rambutnya frustasi.


Julian dengan cepat melawan mereka agar bisa menemukan Dario secepatnya. Baku hantam itu masih terus berlanjut. Di saat Julian ingin melangkah, ada saja anak buah Dario yang mendekat dan menghalangi Julian.


Julian tidak segan-segan untuk melawannya tanpa ampun. Tendangan demi tendangan Julian layangkan pada bawahan Dario.


Dorr...


Dorr ...


Dorr...


Akhirnya Julian memilih untuk menembak mereka. Sepertinya Julian teramat buru-buru untuk menemukan Dario. Julian ingin kembali melangkah untuk masuk ke gedung itu tetapi lagi-lagi dia di hadang oleh bawahan Dario.


Dorr...


Dorr...


Dorr...


"Ikut denganku." Julian mengajak beberapa anak buahnya untuk ikut dengannya.


Julian kembali meluncurkan peluru-pelurunya dengan berlari menuju pintu masuk. Di ambang pintu Julian kembali menembaki bawahan Dario yang ingin mendekat padanya. Di rasa tidak ada yang menghalanginya, Julian bergegas masuk ke gedung megah itu.


Sesampainya di dalam terdapat beberapa bawahan Dario. Julian dan beberapa anak buahnya itu beradu kekuatan. Di tengah-tengah aksinya, Julian melihat bayangan Dario berada di atas.


Ingin sekali dirinya bergegas mengejarnya tetapi anak-anak buah Dario menghalangi jalan Julian.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Julian melawan mereka yang ada di depannya. Julian mengambil kesempatan ketika mereka jatuh tersungkur. Namun, lagi-lagi Julian di halangi.


Tangannya menahan langkah kaki Julian. Karena sudah geram dan kesal, Julian menendang orang itu dengan kuat.


"Pergilah, Tuan Muda. Biar kami yang mengatasi mereka," ujar anak buah Julian. Julian bergegas melangkah menuju tangga untuk naik ke lantai atas.


Anak buah Dario yang ingin menahan Julian kembali itu pun di tahan oleh anak buah Julian. Mereka tidak akan membiarkan Julian terganggu.


Setibanya di lantai atas, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Dario. Sepertinya Dario bersembunyi saat Julian melihat dirinya. Julian kembali melangkah dengan cepat untuk mencari Dario.


Belum juga jauh, langkah Julian terhenti saat mendengar suara yang ia kenali. "Kau mencariku?"


Julian tersenyum miring mendengar suara tersebut. Julian berbalik arah dan melihat sosok berdiri menatapnya. Ia juga tersenyum smirk melihat Julian menatapnya.


"Hai, Tuan Muda William, kita bertemu lagi. Kau tidak lupa denganku, bukan?" nada bicaranya seperti mengejek Julian.


Tentu saja Julian akan tetap bersikap sangat tengang seperti biasanya. "Aaah... tentu saja, tuan Dario. Mana mungkin aku melupakan orang yang aku temui berkali-kali."


Dario tersenyum miring ketika Julian menyebutkan namanya. Tanpa dia memberitahu namanya pada Julian, ternyata Julian sudah mengetahuinya. Memang apa yang tidak Julian tahu, hanya sekedar namanya saja dengan mudah Julian bisa tahu.


"Waahh... padahal aku belum mengenalkan namaku padamu. Kau sudah tahu rupanya,"


"Aah ya... apa kau tidak tahu siapa aku? Apa kau lupa denganku? Aku adalah putra dari Sean William, aku yang menggantikannya sebagai pimpinan mafia terbesar di Eropa. Apa kau lupa? Tentu saja hanya namamu aku tahu." Julian berlagak sombong di depan Dario. Sudah tahu sendiri bukan bagaimana, Julian.


Kalau dia tidak menunjukkan tengilnya mungkin tidak Julian. Dalam keadaan apa pun dia pasti menunjukkan sifat tengilnya. Dia memang tidak pernah berubah.


"Aku juga ingin memberitahumu sesuatu. Di sini adalah wilayah kekuasaanku, apa kau tidak tahu itu. Kau payah sekali." Julian mengejek Dario, sepertinya tidak cukup sampai di situ dia akan melakukannya.


"Aku juga tahu tujuanmu ke sini untuk membalaskan dendammu atas kematian Papamu, bukan?" Julian.... Julian... Dario baru mengucapkan satu kata, tapi dirinya sudah mengucapkan banyak kata. Dario hanya bisa diam saja ketika Julian mengatakan semuanya.


"Hahaha... kau bahkan tahu semua tujuanku. Kau pasti sudah mengetahuinya sejak lama, bukan. Kenapa kau tidak langsung saja menyerangku waktu itu?"


"Ternyata kau memang benar-benar bod*h. Tentu saja aku memberikan kesempatan dirimu menghirup udara sedikit lama. Kalau saja aku menyerangmu, tidak akan asik. Pasti Papamu di sana marah kalau kau menyusulnya dengan cepat. Papamu pasti juga sangat marah melihat kebod*hanmu itu." Lagi-lagi Julian mengejek Dario.

__ADS_1


Dario yang mendengar ejekan demi ejekan dari Julian itu pun mengepalkan tangannya kuat. Dia sudah berhadapan dengan orang yang salah. Dia juga yang menyerahkan dirinya ke kandang singa, dan sekarang, anak buahnya juga sudah banyak yang habis di tangan anak-anak buah Julian.


"Kau juga waktu lalu ingin mengincar Kakakku? Waaah... apa kau tidak laku? Ck... ck... ck... kasihan sekali. Kalau aku menjadi dirimu aku pasti sudah mencari pasangan, bukan merebut pasangan milik orang lain. Apa lagi dia sudah memiliki buah hati."


Mulut Julian benar-benar tidak bisa di kondisikan. Hanya dengan setiap katanya bisa membuat naik darah, mungkin Dario juga sudah mengeluarkan dua tanduk di kepalanya mendengar lontaran kata Julian. Ketengilannya bukan main, tetapi bisa bermanfaat juga jika menghadapi musuh tanpa membuang banyak tenaga untuk melawan musuhnya.


Mafia Tengil memang julukan yang pas untuk dirinya. Banyak dari musuh yang juga terlebih emosi karena Julian. Dia memang bukanlah mafia pada umumnya, walau begitu dia berhasil membuat anak-anak buahnya menjadi lebih kuat.


"Apa kau tidak bisa menjaga ucapanmu!" Dario hilang kesabaran mendengar ucapan Julian yag sedari tadi mengejeknya tidak henti-henti.


"Memangnya kenapa dengan ucapanku?" Julian menunjukkan wajah polosnya seperti tidak pernah mengucapkan kata-kata yang ia lontarkan tadi.


"Kalau kau berani lawanlah aku!" Dario berteriak menantang Julian. Ia mengira jika Julian hanya banyak bicara saja di sana.


"Memangnya sejak kapan kau tau kalau aku penakut?" tanggapan Julian memang benar-benar membuat orang cepat naik darah. Julian selalu memainkan emosi musuh jika bertarung.


"Mati kau!"


Dorr...


Dorr...


Dorr...


Dario memberondong pelurunya, Julian yang melihat pergerakan Dario itu dengan gesit menghindarinya. Tembakan-tembakan itu tidak berhasil mengenai dirinya, Dario yang melihatnya bertambah emosi. Ia tidak berhenti mengarahkan tembakannya ke arah Julian.


Teknik-teknik bela dirinya ia gunakan saat menghindari tembakan dari Dario.


Bugh...


Tendangan saltonya mengenai tangan Dario hingga pistol yang di bawanya tepental jauh dari tangannya. Julian berdiri sigap tepat di depan Dario dengan tampang mengejek.


"Kurang ajar!"


Baku hantam pun terjadi di antara mereka berdua. Dario melayangkan pukulan-pukalan pada Julian, tetapi Julian berhasil menghindarinya. Bahkan Julian juga menangkis hanya dengan satu tangannya.


Sementara di sisi bawah...


Mereka jatuh bersamaan karena tendangan yang di lakukan Fany terlalu kuat.


"Kerja bagus." Jennifer memberikan dua jempolnya pada Fany.


"Di belakangmu, Jen!" seru Fany.


Dengan sigap Jennifer menghindari orang yang ingin memukulnya dari arah belakang. Jennifer membalasnya dengan memukul berkali-kali orang-orang tersebut. Mereka kembali melakukan baku hantam, tak jarang juga mereka melayangkan tembakan demi tembakan pada musuh.


Sisi Thea...


"Kenapa kau membawaku ke sini? Siapa kau sebenarnya? Apa kau salah satu ******* itu?" Thea sedikit cerewet kali ini. Bohong jika dia tidak merasa takut, sebenarnya dia sangat takut saat ini. Namun dia tetap mencoba bersikap tenang terlebih dahulu.


"Harusnya kau berterima kasih denganku, aku sudah membawamu dari orang-orang itu. Bisa saja kau akan lebih di siksa sebelum teman-temanmu menyelamatkanmu. Bisa jadi juga kau sudah meregang nyawa terlebih dulu di sana," ujar Arion panjang lebar. la juga tidak suka jika Thea menuduhnya seperti itu, apa lagi menyebutnya *******. Namun Arion bersikap tenang menghadapi wanita di depannya itu.


"Teman-temanku? Siapa? Mana tahu


teman-temanku kalau aku di bawa ******* sepertimu?" Thea terlihat bingung dengan ucapan Arion di sana. Passalnya dia tidak tahu siapa Julian dan lainnya, maka dari itu dia tidak tahu teman siapa yang di maksud.


Arion memutar ke dua matanya dengan malas, lagi-lagi ia di sebut ******* oleh Thea. "Apa kau tidak mempunyai teman semasa hidupmu?"


"Tentu saja aku punya. Kalau aku ******* sepertimu mungkin tidak punya!" celetuk Thea lagi. Arion bersikap sangat sabar dengan ucapan Thea di sana.


"Sudah diam dan jangan berisik. Jangan sampai kau tertangkap lagi dengan mereka!" Arion lelah menghadapi Thea. Lebih baik dia diam saja dari pada harus berurusan dengan wanita, menurutnya akan sangat rumit jika berhadapan dengan wanita seperti Thea.


Baru saja ia menghadapi Thea, bagaimana jika menghadapi Fany. Mungkin dia akan stress lebih dulu di sana.


Arion membawa Thea ke salah satu ruang tersempunyi di gedung itu, entah dari mana ia tahu jika ada ruang tersembunyi. Padahal dia juga baru pertama kali datang ke sana. Barangkali ia menggunakan insting yang ia miliki...


Bugh...


Bugh...


Pukulan demi pukulan yang di layangkan oleh Dario dapat di hindari oleh Julian. Dario sedikit kelelahan karena sedari tadi pukulannya tidak bisa mengenai Julian sama sekali. Bukan hal sulit melawan seorang Dario.

__ADS_1


Bugh...


Bugh...


Pukulan telak Julian berikan pada Dario hingga dirinya terpukul mundur. Dario meletakkan tangannya di depan dadanya karena sedikit sesak akibat pukulan dari Julian. Di sana hanya ada mereka berdua, jadi duel itu hanya di saksikan dinding-dinding yang menjadi batas ruang lainnya.


"Kau sangat payah." Julian kembali mengejek Dario.


"Kau jangan senang dulu anak muda, itu hanya pemanasan. Aku akan mengalahkanmu," ujar Dario dengan sangat percaya diri.


"Owwhh... begitukah? Aku akan melihat bagaimana kau mengalahkanku," ujar Julian remeh pada Dario.


Dario diam-diam mengeluarkan belatinya dan berlari ke arah Julian dengan cepat. "Yaaakh...."


Julian menangkap tangan Dario yang membawa belati di arahkan ke dirinya. Dengan sekuat tenaga Julain menahannya, Dario juga semakin kuat mendorongnya. la sangat ingin mengalahkan Julian, sayangnya tidak semudah itu dia bisa mengalahkan Julian.


"Akan aku pastikan kau akan mati di tanganku!" ucap Dario dengan sekuat tenaga mengarahkan belatinya pada Julian.


"Dan itu tidak akan mudah kau lakukan." Julian menendang tubuh Dario hingga akhirnya dirinya yang kembali terpukul mundur.


Dario jatuh tersungkur akibat tendangan kuat dari Julian. Sejauh ini belum ada yang terluka salah satu dari mereka, mungkin hanya pukulan-pukulan kecil yang di terima. Namun hanya Dario saja yang menerima pukulan-pukulan, Julian masih terbilang aman.


Dario kembali baku hantam dengan Julian dengan mengayunkan belatinya. Bugh... Julian berhasil memukulnya keras hingga belati itu terpental. Dario sudah tidak memiliki senjata di tangannya.


Di tengah-tengah pertarungan mereka, Jennifer dan Fany datang menyusulnya. Ia melihat sepertinya terjadi


pertarungan sengit antara Julian dan Dario. Dario kembali bangkit dan menyerang Julian kembali.


Fany ingin berlari membantu Julian, tetapi tangannya di cekal oleh Jennifer. "Biarkan dia menyelesaikan antar laki-laki kau diam saja dulu."


"Tapi, Tuan Putri...."


"Sudah lebih baik kau diam dulu, kita lihat saja." Jennifer tidak membiarkan Fany membantu Julian di sana. Jennifer yakin dengan kekuatan Julian, ia pasti bisa melawan Dario seorang diri.


Robert masih berada di bawah bersama dengan anak buah Julian yang lainnya. Ia masih melawan mereka semua yang bertahan. Sepertinya memang Dario sudah membuat strategi, maka dari itu mereka sedikit sulit untuk di kalahkan.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Baru juga Jennifer diam melarang Fany membantu Julian, Julian sudah mengalahkan Dario kembali. Ila menendang kuat Dario hingga dirinya terpental dan punggungnya membentur tembok di sana.


"Kalian sebaiknya cari keberadaan Thea. Biarkan aku yang melawan orang ini," pinta Julian yang tahu jika Fany dan Jennifer berada di sana. Dario sudah babak belur di sana, sedangkan Julian masih terlihat mulus tanpa luka.


"Sebiknya kita berpencar, Fe. Thea pasti berada di salah satu ruangan di sini," usul Jennifer. Fany mengangguk menyetujui lalu mereka mulai berpencar mencari Thea.


"Kalian tidak akan bisa menemukannya." Dario masih sempatnya ia tersenyum miring di sana sambil memgang dadanya yang terasa sakit.


"Adikku sudah membawanya pergi dari sini, percuma jika kalian mencarinya di sini. Hahaha...." Dario mencoba menghasut Julian untuk percaya dengannya. Padahal dia sendiri saja tidak tahu juga ke mana Arion membawa Thea pergi, ia juga tidak tahu jika adiknya itu memihaknya atau tidak.


"Benarkah? Apa kau yakin jika adikmu itu berada di pihakmu?" bukannya percaya Julian justru membalik situasi di sana.


Dario terlihat kesal dengan ucapan Julian karena mengingat memang adiknya tidak pernah membantunya sejak awal untuk balas dendam. Bisa saja memang Arion membawa pergi Thea karena menyelamatkan Thea darinya.


"Adikmu bahkan tidak mau membantumu, bukan? Apa kau yakin jika adikmu itu berada di pihakmu? Sepertinya adikmu menjadi musuhmu sendiri." Julian tersenyum remeh di sana. Ternyata Julian mendengar semuanya soal itu.


"Kalian semua memang pantas untuk mati!" sentak Dario lalu kembali melawan Julian.


Baku hantam kembali terjadi di antara mereka berdua. Julian selalu menangkis pukulan-pukulan Dario.


Brugh...


Julian berhasil membanting tubuh Dario ke lantai.


Dario meraung kesakitan karena punggungnya dengan keras menghantam lantai. Julian hanya memandangnya tanpa ekspresi.


"Sialan kau!" dengan susah payah Dario kembali bangkit dan melawan Julian.


Walau badannya sudah berkali-kali menghantam lantai dan tembok, tetapi dia masih tidak mau menyerah sebelum balas dendamnya terbalaskan. Ia kembali menyerang Julian, sayangnya Julian berhasil menghindarinya.

__ADS_1


__ADS_2