Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 105


__ADS_3

"Ada apa, Diva? Kenapa Adiknya menangis?" tanya Ana pelan.


"Diva tidak tau aunty, sedari tadi juga tidak kenapa-napa. Memang Ijulnya saja itu." Ketus Diva yang merasa kesal dengan Julian.


"Yaudah, maafin Julian, ya." Ucap Ana.


Ana menggendong tubuh kecil itu dan mengajaknya untuk ke dapur, dari pada nanti mereka akan bergaduh. Itu akan membuatnya semakin pusing.


"Julian, anak mami tidak boleh nakal, ya. Sekarang di sini sama mami, oke. Temani mami memasak." Ucap Ana yang mendudukkan Julian di kursi khusus untuknya agar tidak ke mana-mana. Ana memberikan beberapa cemilan sehat untuk Julian dan melanjutkan membuat desert yang biasa mereka nikmati di saat senggang.


Waktu berjalan dengan cepatnya, tidak terasa jika pernikahan Rika dan James tinggal menghitung jam. Hari ini Rika tengah mencoba gaun yang akan di kenakannya nanti untuk acara pernikahannya, tentu saja di temani oleh Clare.


Ana tidak bisa ikut karena harus mengurus ketiga pasukan kecilnya, takut jika nanti mereka tidak aman di sana. Ana menyuruh mereka datang ke mension setelah Rika dan Clare selesai.


"Kau sangat cantik memakainya, Rika."Puji Clare melihat Rika mencoba gaun yang ia pesan sebelumnya.


"Benarkah? Apa aku terlihat pantas memakainya?" tanya Rika sambil bercermin di depan kaca besar.


"Cocok, kok." Clare mengangguk sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Apa lagi nanti dirimu menggunakan make up, pasti lebih cantik lagi." Sambung Clare.


Sedangkan di sisi James, ia tengah melihat anak buah Sean yang sedang melakukan finish dekor untuk pernikahannya yang akan diadakan besok sore. Dan untuk malam harinya, akan ada pelepasan lampion sesuai keinginan Rika. James dan Rika memilih tema outdoor untuk pernikahan mereka.


Sesuai yang mereka sepakati, mereka memilih pernikahan yang sederhana saja. Mungkin hanya teman-teman dekat Rika yang akan hadir, sisanya akan di hadiri oleh anak buah Sean dan keluarga Sean.


"Bagaimana, James? Apa kau suka dengan dekor ini?" tanya Riko padanya.


"Aku suka, tidak terlalu ramai, tetap elegan." Jawab James mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Selamat atas pernikahanmu, bro. Semoga semuanya di lancarkan." Ucap Erick yang tiba-tiba di sana menepuk pundak James.


"Terimakasih, Erick. Bagaimana dengan dirimu? Apa kau sudah menemukan tambatan hatimu?" James melayangkan pertanyaan pada Erick.


"Aaahh, aku tidak perlu buru-buru untuk itu. Nanti juga akan bertemu sendiri jika sudah waktunya." Jawab Erick dengan santainya.

__ADS_1


"Kau itu sudah tua, Ko. Mau sampai kapan menunggu yang datang? Kalau kau tidak berusaha mana ada yang datang menghampirimu?" sarkas Riko di sana.


"Jangan menceramahi ku, kau sendiri saja juga masih jomblo." Ketus Erick.


"Ooohh santai broo... tidak perlu ngegas. Aku kan masih muda di antara kalian, jadi aku santai saja." Jawab Riko. Karena memang di antara mereka dirinya sendiri yang paling mudah, ia masih berusia 22 tahun.


"Terserah kau saja." Jawab Erick.


Kembali lagi ke sisi Rika...


Setelah selesai mencoba gaun yang akan di kenakan nanti, ia segera berganti baju yang ia kenakan saat datang ke sana.


"Aku sudah selesai, ayo kita ke rumah Ana." Ajak Rika.


"Kita ke supermarket dulu, kita cari sesuatu untuk di bawah ke sana." Clare hanya mengangguk setuju dengan ajakan Rika.


Mension Sean.....


Selang beberapa menit, Rika dan Clare sampai di sana dengan menenteng dua kresek besar yang berisi makanan ringan dan beberapa cemilan untuk twin J.


"Astaga, itu siapa sih? Kenapa juga teriak-teriak?" ketus Diva kaget mendengar teriakan Rika di sana.


"Jangan teriak-teriak, Bi. Kasihan yang ada di sini, mereka kabur mendengar suaramu itu." Sengal Clare yang sedikit geram dengan teriakan Rika yang tepat di samping telinganya.


"Ooohh, oke. Terima kasih." Jawab Rika. Keduanya berjalan masuk ke dalam.


"Hai Diva..." sapa Rika melambaikan tangannya pada Diva.


"Ohh... jadi kak Rika tadi yang teriak-teriak?" ucap Diva. Rika hanya nyengir kuda pada Diva.


Julian yang ada di sana datang menghampiri Rika dan meminta apa yang di bawanya. "Hai Jul, di mana mamimu?" tanya Rika pada Julian. Julian mengulurkan tangannya meminta apa yang di bawa oleh Rika.


"Julian mau ini?" Rika pun mengambil cemilan untuk di berikan pada Julian di sana.


"Kau itu, Jul. Selalu saja." Ucap Diva yang melihat kebiasaan Julian jika ada yang membawa barang-arang di tangannya.

__ADS_1


"Biarkan saja, Diva. Aunty-mu kemana?" tanya Rika pada Diva.


"Di kamar twin, tadi Jenni poop." Jawab Diva. Rika hanya mengangguk.


Beda lagi dengan Julian, ia sudah menikmati cemilan yang di berikan oleh Rika padanya. Dia memasukkan satu persatu cemilan itu ke dalam mulutnya.


"Kalian sudah datang?" suara Ana terdengar.


"Bagaimana persiapan pernikahanmu, Rika? Maaf aku tidak bisa ikut tadi." Ucap Ana yang tidak enak.


"Santai saja Ana, Yang penting nanti kau harus datang di hari H." Jawab Rika yang mengerti bagaimana Ana mengurus pasukan-pasukan kecilnya.


Jennifer yang turun dari gendongan sang mami itu pun mendekat ke arah Julian. Ia ingin meminta cemilan yang di makan oleh sang adik, kedua tangannya di ulurkan. Tapi, Julian tidak mau memberikannya pada sang kakak. Justru dia berbalik badan membelakangi sang kakak.


"Miii..." rengek Jennifer sambil menunjuk Julian yang sedang asik makan cemilannya.


"Sini, Jen. Aunty ada untuk Jenni." Panggil Rika. Jennifer mendekat ke arah Rika dan menerima cemilan yang sama seperti sang adik.


"Bagaimana perasaanmu, Bi? Deg-deg an, takut, cemas?" tanya Ana beruntun.


"Aaahh, entahlah. Aku merasa sedikit was-was, bagaimana nanti kalau hari H ya? Mungkin akan pingsan aku." Jawab Rika yang perasaannya tidak menentu saat ini.


"Rileks-kan saja dirimu. Aku juga dulu seperti itu, rasanya campur aduk." Timpal Ana.


"Apa semua persiapan sudah selesai?" tanya Ana lagi.


"Semua sudah beres katanya. Ini tinggal dekor finish saja. Aku berterima kasih pada tuan Sean Ana, dia sudah membantu kami banyak dalam hal ini." Ujar Rika pada Ana.


"Anggap saja itu hadiah darinya, Rika. Mungkin dia melakukan itu juga karena James sudah setia dengannya ." Jawab Ana.


Melihat lagi ke sisi James...


Semua dekor sudah terpasang rapi, tidak ada yang kurang sedikitpun.


Altar yang di hiasi dengan berbagai macam bunga warna putih dengan dekorasi yang simpel dan elegan, menuruni tiga anak tangga, tersedia untuk mempelai jika ingin berdansa nantinya.

__ADS_1


Kiri dan kanan jalan menuju altar di hiasi dengan bunga-bunga putih dengan tempat duduk untuk para tamu bewarna putih pula.


__ADS_2