Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 92


__ADS_3

Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa orang yang mengawasi Ana tadi pun juga mulai menyalakan mobilnya dan mengikuti ke mana mobil Ana pergi.


Siapa lagi mereka kalau bukan anak buah Leon, mereka stand by di sekolah Diva karena perintah dari Leon.


Mobil Ana terus melaju, tidak lupa beberapa orang tadi terus saja mengikuti dari belakang.


Mobil Ana mulai memasuk kawasan yang sepi tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Anak buah Leon mengambil kesempatan ini, ia menyalip mobil Ana dan langsung menghadang jalan.


Ckiitt...


Mobil yang di tumpangi oleh Ana berhenti mendadak karena tiba-tiba di hadang. Diva dan Ana hampir saja terjungkal ke depan karena mobil yang berhenti mendadak.


"Astaga pak." Pekik Diva yang hampir terjungkal ke depan.


"Maaf, nona. Ada mobil yang tiba-tiba menghadang jalan kita." Ucap supir itu.


Tidak lama kemudian beberapa orang langsung keluar dari dalam mobil yang menghadang mobil Ana. Mereka memakai baju serba hitam.


"Mereka siapa, Diva? Apa anak buah uncle-mu?" Ana bertanya pada Diva. Karena memang biasanya anak buah Sean memakai pakaian serba hitam


Diva memandang intens orang-orang yang berjalan mendekat itu." Entahlah aunty. Sepertinya bukan." Ujar Diva yang masih melihat-lihat wajah mereka.


"Keluaarr!!" Teriak dari mereka dari luar.


Ana langsung saja memeluk tubuh Diva. "Aunty... sepertinya mereka musuh dari uncle." Ucap Diva yang mulai ketakutan.


"Keluar kalian!!!" mereka kembali berteriak dan menggedor kaca mobil dengan kasar.


"Pak, jalan paakk." Ucap Ana takut tapi dia masih bisa untuk berteriak.


"Tidak bisa nyonya, sepertinya mereka sudah mengepung kita." Jawab sang supir yang melihat ke arah spion melihat jika di belakang juga ada mobil yang menghalangi.


Yaa... anak buah Leon tidak hanya menggunakan satu mobil, mereka mengikuti dari jauh sedari tadi..


"Keluar, atau kaca ini kami pecahkan." Mereka mengancam.


Diva memeluk erat tubuh Ana karena takut.


Salah satu mereka menjebol pintu mobil itu dengan paksa. Tenaga mereka bisa di bilang cukup kuat.


Ana di tarik paksa dari oleh anak buah Leon, mereka juga membawa Diva dalam gendongannya. Diva mencoba memberontak memukul-mukul mereka dengan keras.


"Tidak, lepaskan aku." Berontak Ana.

__ADS_1


Sang supir itu pun keluar untuk menolong Ana.


Bugh...


Anak buah Leon memukul sang supir hingga jatuh tak sadarkan diri di sana.


"Tidaaak...lepaskan aku." Berontak Ana lagi. "Diam dan masuk." Anak buah Leon mendorong paksa tubuh Ana agar masuk ke dalam mobil.


Ana dan Diva sudah berada di dalam mobil, mereka segera melajukan mobilnya dengan cepat untuk segera sampai di rumah singgah Leon saat ini.


Ana di sana terus saja berteriak untuk di lepaskan.


"Lepaskan kami atau kami akan melompat." Ancam Ana pada mereka.


"Cobalah jika kau bisa, nyonya." Sahut salah satu dari mereka.


Ana mencoba membuka pintu mobil itu, tapi hasilnya nihil. Mobil terkunci tidak bisa terbuka.


"Hikss... hikss... aunty... hikss" tangis Diva begitu kencang di sana.


"Lepaskan kami. Apa kalian tidak dengar, hah?" Ana berteriak kencang tak kalah dari tangisan Diva.


"Sebaiknya kalian diam, atau peluru ini menembus kepala kalian." Gertak salah satu dari mereka menodongkan pistol.


'Sean... tolong kami... selamatkan kami...' batin Ana menangis dalam diam.


Diva masih menangis sesenggukan di sana. Dia tidak kalah takut karena mendapat gertakan seperti itu.


Kembali lagi ke sisi mobil Ana tadi...


Anak buah Sean berhenti saat melihat mobil Ana terhenti di sana dengan kondisi pintu terbuka dan sang supir jatuh tak sadarkan diri di sana.


Mereka bergegas keluar dari dalam mobil dan menghampiri mobil Ana yang terhenti.


"Heeyy kauu... bangun." Salah satu anak buah Sean membangunkan sang supir dan satunya lagi melihat dalam mobil yang sudah tidak ada siapapun di sana.


"Siiaall... kita kecolongan. Tuan bisa marah besar kali ini." Kesal mereka.


Entah apa yang sudah lakukan tadi, bisa-bisanya sampai kecolongan.


"Bawa orang ini kembali, aku akan menghubungi tuan Sean." Perintah salah satu dari mereka.


Mereka akhirnya membagi tugas masing-masing.

__ADS_1


Di sisi Sean...


Kriing...


Kriinngg...


Ponselnya berbunyi di saat dirinya tengah sibuk. la merogoh ponselnya dan melihat siapa yang sudah menghubungi dirinya.


Sean melihat nama yang tertera di sana lalu mengernyitkan satu alisnya.


"Ada apa?" tanya Sean to the point.


"M-maaf tuan. Nyonya dan nona kecil Diva di culik." Ucap anak buahnya di seberang sana.


"Apa yang kau katakan, hah?" teriak Sean hingga menggelegar seisi ruangan.


James yang kebetulan di sana tersentak kaget mendengar suara Sean yang menggelegar dan mengelus dadanya.


"Apa saja yang sudah kalian lakukan di sana?" Sean kembali berteriak. Rahangnya mengeras dan wajahnya sudah berubah menyeramkan karena marah mendengar kabar jika Ana dan Diva di culik.


"Ma-maafkan kami, tuan." Ucapnya merasa takut dengan kemarahan Sean.


Sean langsung mematikan sambungan telfonnya secara sepihak.


la mencari nomor ponsel lain dan menghubungi secepat mungkin. "Ko, cepat cari keberadaan Ana. Aku akan segera ke sana. Siapkan anak buah kita." Perintah Sean langsung mematikan ponselnya.


Sebenarnya ponsel Sean juga bisa langsung terhubung dengan alat pelacak yang ada pada Ana. Tapi tidak ada waktu lagi untuk melihat.


Sean bergegas pergi meninggalkan perusahaan dengan langkah terburu-buru sampai tidak mengatakan apa-apa pada James di sana.


James bingung dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Bagaimana semua pekerjaan ini?" dia bingung melihat banyak tugas hari ini dan Sean meninggalkan dirinya begitu saja tanpa sekata apapun Setibanya di bawah, Sean menyalakan mobilnya dan melaju cepat membelah jalanan kota. Kecepatannya di atas rata-rata, hingga dirinya tidak peduli jika menerobos lampu merah. Bahkan banyak pengendara lain menyumpah serapah karena melihat mobil Sean sangat ugal-ugalan.


Kembali lagi ke sisi Ana....


Mobil yang membawa Diva dan Ana tadi sudah tiba di sana. Mereka kembali menyeret kembali Ana dengan kasar untuk keluar dari dalam mobil.


"Keluar atau kalian tidak akan selamat?" anak buah Leon kembali menodongkan pistol untuk Ana dan Diva.


Mau tidak mau mereka keluar dengan rasa takut. Ana dan Diva berjalan masuk ke dalam karena dari mereka menodongkan pistol dan siap untuk di tembakkan.


Anak buahnya masuk dan melaporkan hal ini, jika mereka sudah berhasil membawa Ana dan Diva ke sana.

__ADS_1


"Lapor, tuan. Kami sudah berhasil membawa keduanya ke mari." Lapor anak buahnya.


__ADS_2