Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 44 Pergi Kerumah Sakit


__ADS_3

"Kau belum mandi?" Ucap Ana saat menyusul Diva dan Sean.


"Sebentar lagi."


"Sudah sana, kau bau." Ucap Ana lagi. Seketika, Sean mengendus-endus dirinya sendiri untuk memastikan.


"Diva... apa uncle bau." Sean pun beralih bertanya pada Diva. Diva ikut mengendus-endus di dekat Sean lalu menggeleng cepat. Entah kali ini apa yang akan di lakukan oleh Ana.


"Cepatlah Sean. Aku tidak tahan." Ana menutup hidungnya rapat-rapat.


"Tapi, aku tidak bau sayang." Ucap Sean.


"Tidak, kau bau sekali." Ujar Ana lagi.


"Sudah sana. Atau kau jangan mendekatiku." Sambung Ana. Sean pasrah dengan apa yang di perintah Ana. Ia melangkah menuju kamarnya lalu membersihkan dirinya.


Saat Sean menuju kamarnya, mami dan papi Sean datang berkunjung ke mension miliknya. "Hai cucu grandma..." ucap mami Sean pada Diva.


"Mami, papi, kenapa tidak bilang dulu kalau kesini." Ucap Ana mememluk mami Sean. "Tadi mami dan papi lagi keluar jalan-jalan, sekalian mampir saja ke sini." Terang mami Sean.


"Di mana Sean, Ana?" Sahut papi Sean.


"Sean lagi di kamar, pi. Dia baru pulang dari kantor."


Jelas Ana. Papi Sean hanya memanggutkan kepalanya saja. Ana mempersilahkan mami dan papi Sean untuk duduk, kemudian dirinya mengambil beberapa cemilan dibantu oleh maid.


Sesaat kemudian, Sean kembali turun untuk bergabung dengan Diva dan Ana. "Mami, papi, kapan kalian datang?" Tanya Sean melihat kedua orang tuanya berada di sana.


"Baru saja." Jawab mami Sean.


"Mi, ada yang Sean mau bicarakan sama mami." Ucap Sean.


"Ada apa? Sepertinya serius sekali?" Tanya mami Sean yang merasa penasaran. Tidak biasanya saja Sean berbincang-bincang dengan sang mami jika tidak benar-benar serius.


"Penting sekali." Sean pun melangkah pergi sedikit menjauh dari sana dan di ikuti oleh mami Sean. Sedangkan papi Sean, ia membiarkan saja. Ia memilih untuk bermain dengan Diva.

__ADS_1


"Ada apa, Sean? Apa ada sesuatu?" Mami Sean bertanya to the point. "Tidak ada, mi. Sean Cuma mau bertanya saja."


"Tanya apa?"


"Akhir-akhir ini, Ana sangat aneh sekali. Dia sering sekali marah-marah tidak jelas, setelah itu dia akan berubah sangat manja seperti anak kucing. Dia terkadang meminta makanan yang tidak biasa dia makan, tadi Diva juga bercerita jika Ana membuat jus di campur pabrika. Belum lagi, dia mengatakan jika aku bau." Jelas Sean panjang lebar.


Mami Sean yang mendengar penjelasan dari anak bungsunya itu sepertinya faham apa yang sedang terjadi dengan sang mantu saat ini. Ia menanggapinya dengan tersenyum simpul.


"Kenapa mami malah tersenyum?" Tanya Sean melihat sang mami tersenyum setelah mendengar penjelasannya.


"Apa kau tidak merasakan sesuatu?" Bukan menjawab, justru mami Sean bertanya balik pada Sean.


"Merasa apa, mi? Sean tidak merasakan apa-apa."


"Kau itu jadi suami kenapa tidak peka sama sekali." Ketus mami Sean. Karena passalnya, Sean jarang sekali merasakan kepekaan saat di rumah. Beda lagi kalau dia berurusan dengan musuh-musuhnya.


"Bawa Ana kerumah sakit, dan ajak dia ke dokter untuk memastikan sesuatu." Imbuh mami Sean.


"Kenapa harus ke rumah sakit dan dokter, mi? Apa Ana gejala sakit?"


"Tidak, Ana tidak sakit. Sudah, bawa dia besok ke dokter yang biasa mami temui. Nanti kau akan tau jawabannya di sana." Ucap sang mami lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan Sean.


"Mami kenapa tersenyum begitu? Sepertinya sangat bahagia sekali?" Tanya papi Sean saat melihat sang istri kembali untuk bergabung.


"Tidak ada." Jawabnya singkat. Sean ikut kembali bergabung dengan keluarganya dan membicarakan banyak hal.


Malam harinya...


Sean berdiam diri di balkon kamarnya dengan menikmati semilir angin malam hari. Jangan di tanya lagi dimana Ana, dia sudah tertidur pulas.


Sean tidak bisa tidur memikirkan jawaban dari sang mami tadi. Tak lama kemudian, Sean kembali masuk ke dalam kamarnya dan menyusul Ana yang sudah tertidur.


"Kenapa kita ke rumah sakit, Sean? Siapa yang sakit?" Tanya Ana bingung.


"Tidak ada yang sakit. Aku hanya ingin memastikan sesuatu karena perinta mami kemarin." Jawab Sean.

__ADS_1


"Pakai maskermu." Perintah Sean pada Ana. Karena memang tidak ada yang tahu jika Sean sudah. menikah. Sean juga tidak ingin orang lain mengetahui Ana. Sean juga tidak lupa memakai masker miliknya agar tidak ada yang mengetahui dirinya yang berada di rumah sakit saat ini.


Sean segera masuk ke dalam ruangan yang sudah di beritahukan oleh sang mami tadi. "Selamat datang tuan muda, silahkan duduk." Sambut dokter tersebut.


Sean dan Ana pun duduk berhadapan dengan dokter perempuan itu. "Tadi, nyonya besar sudah memberitahukan saya jika anda akan datang kesini. Apa ini istri anda, tuan?" Ucap dokter tersebut memulai pembicaraan.


"Iya. Dia istri saya." Jawab Sean singkat. "Saya ucapkan selamat atas pernikahan kalian, tuan, nyonya." Ujarnya memberikan selamat.


"Bagaimana, nyonya? Apa Anda merasakan sesuatu yang mengganggu akhir-akhir ini?" Tanya dokter memulai pembicaraan yang serius.


"Tidak, dok. Saya tidak merasakan apa-apa? Memangnya kenapa?" Ana bingung. Karena dokter itu menanyakan padanya.


"Mungkin ada rasa mual, atau pusing?" Sambung dokter.


"Tidak ada dokter."


"Kapan terakhir anda datang bulan?" Tanyanya lagi. Ana mencoba mengingat-ingat kapan terakhir dia datang bulan


"Aku lupa, sepertinya aku tidak datang bulan lagi setelah menikah." Jawab Ana. Dia masih merasa bingung kali ini. Dokter itupun tersenyum mendengar jawaban dari Ana.


"Mari ikut saya, nyonya." Ajak dokter itu pada Ana. Dokter tersebut pun membuka gorden yang tertutup di ruangannya.


"Silahkan berbaring terlebih dahulu, nyonya." Sambung dokter itu lagi. Sean hanya diam mengamati setiap pergerakan yang di lakukan oleh dokter dan istrinya. Ana mengikuti setiap perkataan dari dokter itu.


Dokter tersebut mengoleskan sedikit gel di atas perut Ana lalu menggerakkan alatnya memulai memeriksa. Dokter perempuan itu adalah dokter kandungan dari mami Sean waktu dulu. Mereka juga masih berhubungan baik sampai sekarang, mami Sean juga masih sering bertemu dengan dokter perempuan itu.


"Tuan bisa mendekat kesini." Ujar dokter tersebut. Sean pun berjalan mendekat ke arah sana.


"Tuan dan nyonya bisa melihat ke arah monitor itu." Ucap dokter menunjukkan monitor yang terpampang di sana. Sean dan Ana pun mengikuti apa yang di ucapkan oleh dokter tersebut.


"Memangnya, apa yang terjadi dok? Apa istri saya sakit?" Tanya Sean dengan harap-harap cemas.


"Aku baik-baik saja Sean. Aku tidak sakit." Sengal Ana kali ini. Dokter yang memeriksa Ana hanya bisa tersenyum.


"Tidak, tuan. Nyonya tidak sakit." Jawabnya.

__ADS_1


"Apa nyonya dan tuan tidak tahu? Lihat ada dua titik di sini." Jelas dokter menunjukkan dua titik di sana.


"Memangnya itu apa?" Tanya Sean. Sepertinya dia tidak tahu akan hal ini.


__ADS_2