Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 136 Season 2


__ADS_3

"Tuan... kenapa anda berantakan seperti ini? Apa nyonya marah padamu?" tanya James.


"Huuuhh... Ana ngambek denganku. Dia cemburu karena kemarin salah satu karyawan datang ke sini untuk menjelaskan semua pekerjaannya." Jawab Sean pada James.


"Sabar, tuan. Wanita memang susah di mengerti." Jawabnya, karena kadang dirinya juga di buat frustasi oleh Rika.


"Apa istrimu juga seperti itu?" Sean bertanya pada James.


"Istriku malah lebih parah, tuan. Bahkan aku pernah sampai memasak sendiri karena dia tidak memasakkan untukku." Saat ini boss dan anak buah sedang bercerita bagaimana nasib mereka masing-masing.


"Kau kan memang dari dulu kan memasak sendiri untuk dirimu." Jawab Sean.


"Itu beda lagi, tuan. Waktu dulu kan aku masih lajang, kalau tidak memasak sendiri siapa lagi yang memasakkan untukku." Jawabnya pada Sean.


"Aku bahkan di tendang oleh Ana tadi pagi." Jawabnya dengan lesu.


"Waahh... ternyata nyonya hebat. Hanya dia yang berani menendang anda tuan." Jawab James memuji Ana.


"Kau itu berpihak pada siapa sebenarnya?" sengal Sean.


"Aku tidak berpihak pada siapa-siapa, tuan." Jawab James.


"Aahh.. terserah kau saja." Sean frustasi lalu kembali melanjutkan membolak-balikkan berkas dengan tampilan yang acak-acakan.


Kembali ke sisi Jennifer


Bughh...


Buuggh...


Jennifer terjatuh karena mendapat pukulan di sana. Anak buah Sean pun menolongnya untuk berdiri.


"Maafkan saya, nona. Apa anda tidak apa-apa?" tanyanya membantu Jennifer.


"Tidak, lupakan untuk itu. Aku adalah musuhmu," ucapnya lalu Jennifer kembali memberi serangan.


Setiap pukulan berhasil Jennifer halau dan tangkis menggunakan tangannya, ia juga berhasil menghindar dari serangan demi serangan.


Buugh...


Bugh...

__ADS_1


Buughh...


Akhirnya anak buah Sean pun terjatuh karena mendapat tendangan dari Jennifer.


"Lain kali jangan lengah, tetap fokus. Kita akhiri untuk hari ini." Ucapnya lalu melenggang pergi dari sana. Jennifer mengakhiri latihan hari ini yang memakan waktu sedikit lama.


Malam hari....


Sean sudah pulang dari perusahaan, kali ini ia membawa rangkaian bunga yang cantik dan harum untuk membujuk Ana agar tidak marah lagi padanya.


"Dia pasti akan suka kali ini." Gumamnya melangkahkan masuk ke dalam dan membawa bunga itu.


"Ciee papi... mau bersikap romantis sama mami." Sahut Julian melihat sang papi pulang membawa


rangkain berbagai bunga di sana.


"Papi berdoa yang banyak, supaya mami mau menerima bunga pemberian papi. Kalau mami tidak mau, nanti papi bisa kasihkan itu buat Jul." Ujar Julian yang senang sekali menggoda sang papi.


"Kau jangan macam-macam, Jul. Papi potong nanti uang jajan kamu." Ancam Sean pada sang putra.


"Ahh papi, dikit-dikit uang jajan mulu. Julian doakan nanti mami tidak menerima bunga itu dari papi." Julian tidak mau kalah dengan sang papi.


"Kau memang benar-benar, ya. Bukannya mendukung papinya, justru mendoakan yang tidak-tidak." Ujar Sean yang merasa geram dengan putranya. Mata Sean melebar mendengar ucapan Julian.


Sean hanya bisa memejamkan matanya dan menahan kekesalannya pada sang putra. Jika dia buka putranya mungkin Sean sudah mengusirnya keluar.


"Julian, anak papi. Sebaiknya masuk saja, ya. Siap-siap makan malam." Ucap Sean yang geram dengan kejahilan Julian.


"Ini kan Julian sudah di dalam, papi. Mau masuk ke mana lagi?" Julian memang persis dengan Diva yang pandai sekali menjawab setiap ucapan orang-orang. Sean sampai tidak bisa berkata-kata lagi dengan Julian.


Mereka yang di luar bisa takut dengannya, tapi tidak saat di rumah. Anak dan keponakannya sering sekali membuatnya naik darah.


"Sebaiknya Julian bantu para maid menyiapkan makanan, dari pada membuat papi naik darah."


"Makanya papi jangan suka marah-marah, nanti cepat tua. Kalau sudah tua nanti mami enggak cinta lagi sama papi." Ujarnya. Semakin lama, Julian semakin membuat sang papi darah tinggi.


"Iyaudah terserah kamu aja, papi mau ke atas." Jawab Sean yang sudah kehabisan kata-kata karena putranya. Sean juga tidak habis fikir, bagaimana bisa putra memiliki sifat yang seperti itu. Dulu dia sangat berharap jika putranya bisa mewarisi sikapnya, justru hanya Jennifer yang sangat terlihat seperti dirinya. Untung saja Jennifer tidak seperti Julian, meskipun sekali berbicara Jennifer juga tidak kalah menohok.


Sean terus saja melangkah menaiki tangga menuju kamar yang biasa ia tempati bersama Ana.


la masuk membuka pintu kamar dan melihat jika Ana sedang beberes kamar yang mereka tempati. Sean melangkah selangkah demi selangkah mendekat ke arah Ana.

__ADS_1


"Maafkan aku, sayang." Ujar Sean memeluk dari belakang dan memberikan rangkaian bunga itu pada Ana. Ana sedikit terjinggat karena Sean datang tiba-tiba dan memeluknya.


"Apa kau ingin menyogok ku dengan bunga ini?" ucapnya pada Sean.


"Aku tidak menyogok mu, sayang. Ini hadiah dariku spesial dariku." Jawab Sean.


"Apa bedanya?" Ana menaikkan sebelah alisnya.


"Sejak kapan kau tau masalah seperti ini? Biasanya kau juga tidak seperti ini." Ketusnya pada Sean.


"James yang memberitahuku."


"Maafkan aku, maaf sudah membuatmu cemburu seperti ini. Aku tidak ada niatan sedikitpun untuk berpaling darimu, kau adalah satu-satunya wanita kesayangan dari Sean." Sean mencium pipi Ana dengan lembut.


"Aku juga sudah memindahkan dirinya ke devisi lain, aku tidak mau jika ada kesalahpahaman lagi nanti." Sambung Sean menjelaskan pada Ana.


Ana pun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Sean.


"Apa aku berlebihan?" tanya Ana yang sedikit merasa tidak enak.


"Tidak, sayang. Kau tidak salah, wajar jika kau merasa cemburu. Karena aku suamimu," ujar Sean tersenyum pada Ana.


"Tapi kenapa kau harus memindahkannya?"


"Biar dia juga belajar menghadapi lingkungan baru."


"Apa kau masih marah denganku?" Sean kembali bertanya pada Ana.


"Sedikit." Jawab Ana singkat.


Sean yang merasa gemmas dengan wajah sang istri itu pun mencium seluruh wajah Ana.


"Sudah, bersihkan dulu tubuhmu. Setelah itu makan malam." Perintah Ana pada Sean.


"Tidak mau, aku masih ingin seperti ini denganmu." Sean memeluk erat tubuh Ana. Dia tidak membiarkan Ana pergi begitu saja.


Di sisi lain...


"Papa, Cindy mau berbicara dengan papa." Ujarnya pada sang papa.


"Ada apa?" tanyanya pada sang putri.

__ADS_1


"Papa... sebenarnya Cindy menyukai putra dari tuan William. Tapi Cindy sangat kesulitan mendekatinya, Cindy ingin bantuan dari papa." Ucapnya menyampaikan maksud pada sang papa.


"Huuhh... sebaiknya kau cari lelaki lain saja, papa tidak mau lagi berurusan dengan keluarga mereka." Sang papa pun pergi meninggalkan putrinya kembali ke tempat kerja. Sepertinya, papa Cindy sudah cukup malu jika berhadapan dengan keluarga William.


__ADS_2