
Kembali lagi ke sisi di mana dua orang tadi yang sedang asik menikmati jalan-jalan mereka...
Setelah beberapa menit mereka melihat pemandangan sungai itu, mereka segera turun dari perahu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
"Aku ingin itu." Tunjuk Fany yang kebetulan ada satu penjual ice cream di dekat sana.
"Sepertinya sangat enak di saat cuaca terik seperti ini," sambungnya lagi. Wajahnya menunjukkan wajah ceria, tidak seperti biasanya yang selalu bar-bar dan suka ngegas.
"Hmm... apa pun untukmu. Kalau bisa aku akan memborong nya sekalian agar kau puas memakannya," ujar Julian.
"Untuk apa membelinya semua? Bagaimana aku
menghabiskannya? Kau jangan mengada-ada," serunya pada Julian. Untuk apa juga Julian membeli semuanya, satu porsi saja sudah cukup untuknya.
"Biar kau bisa memakan sepuasnya," jawab Julian enteng.
"Tidak perlu, kau jangan aneh-aneh!"
"Ayo cepat." Tanpa di sadari jika Fany menyeret tangan Julian saat menuju ke salah satu penjual ice cream tersebut. Julian tersenyum simpul ketika Fany tiba-tiba menyeretnya begitu saja dengan semangat. Julian hanya menurut saja apa yang di lakukan Fany padanya.
Setibanya di sana, mereka memesan masing-masing satu dengan rasa yang berbeda. Setelah menerima masing-masing pesanan mereka, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan memakan ice creamnya di sepanjang jalan. Benar-benar tidak ada rasa jaim pada mereka berdua, seperti sudah sangat terbiasa makan di sepanjang jalan.
"Cobalah milikku." Julian menyodorkan ice cream miliknya pada Fany.
"Tidak... aku juga sudah ada," tolak Fany dengan menunjukkan ice cream yang ia bawa.
"Kau pasti akan suka, cobalah sedikit." Dengan sedikit memaksa Julian memberikannya pada Fany. Fany mencoba sedikit ice cream yang ada di tangan Julian.
"Hmmm... enak. Cobalah juga punyaku." Fany menyodorkan ice cream miliknya pada Julian. Entah mereka sadar atau tidak jika mereka saling suap ice cream di sana.
"Hmm... enak." Julian menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Coba sekali lagi." Julian meminta ice cream milik Fany kembali. Dengan tanpa penolakan Fany kembali memberikan ice cream di tangannya.
Tanpa di duga, Julian ternyata melahap habis ice cream milik Fany. Fany membelalakkan kedua matanya karena ice cream miliknya habis di makan Julian.
"Hah, kenapa kau menghabiskannya!? Kau kan punya sendiri!" kesalnya pada Julian karena ice ceram yang ada di tangannya hanya tertinggal sedikit. Mungkin hanya tersisa ujung cone ice cream itu.
"Aku hanya mencobanya, kau jangan pelit," jawabnya dengan tampang tidak bersalahnya.
"Kalau mencoba hanya memakan sedikit. Kalau sampai melahap habis itu bukan mencoba!?" sengal Fany. Padahal mereka baru saja terlihat adem ayem, tetapi justru Julian yang membuat Fany kembali ke setelan pabriknya.
"Dasar, kau!"
Bugh...
Bugh...
Bugh...
"Aduh-aduh, hentikan pukulanmu itu. Kau makan saja milikku." Julian menyodorkan ice cremanya di tengah-tengah Fany memukuli dirinya.
"Tidak! Aku sudah tidak tertarik lagi. Rasakan ini." Fany masih memukuli Julian bahkan menggunakan tas slempang kecilnya. Julian menghalau setiap pukulan dari Fany.
"Benar-benar kau, ya,'
"Iya, iyaa... sorry sorry...," ujar Julian.
"Dasar menjengkelkan!" Fany berjalan pergi meninggalkan Julian dengan rasa kesalnya.
"Hey, tunggu. Kau mau ke mana?" teriak Julian saat Fany berjalan cepat meninggalkan dirinya.
Julian mengejar Fany yang saat ini sedang marah dan kesal padanya. Sepanjang perjalanan Fany menggerutu kesal tidak ada hentinya. Kalau Julian tidak mencari perkara sepertinya hidupnya sangat sunyi, pasti akan ada saja ulahnya yang membuat Fany kesal padanya.
__ADS_1
"Jalanmu cepat sekali," ujarnya saat dirinya berhasil menyusul Fany.
"Pergi, kau. Jangan mendekatiku!" ketus Fany yang benar-benar kesal karena ice crema miliknya di lahap habis oleh Julian.
"Tidak mungkin aku pergi darimu." Tanpa rasa bersalahnya dia juga melahap ice ceream miliknya di depan Fany.
Fany yang melihatnya semakin di buat kesal Julian, ice cream miliknya sudah di habiskan, dan sekarang dengan tanpa rasa berdosanya Julian memakan ice cream miliknya di depan matanya. Sebenarnya tidak heran kalau Julian bersikap seperti itu, karena memang itulah Julian yang sesungguhnya. Fany kesal karena Julian tidak peka sama sekali.
"Kenapa wajahmu seperti kepiting rebus?" ujar Julian melihat wajah Fany yang terliat merah. Entah kenapa dia tidak peka sama sekali, malah dia enak-enakan menghabiskan ice cream miliknya.
"Kau masih bertanya kenapa, hah! Kenapa kau tidak peka sama sekali, hah!" kekesalan Fany pada Julian bertubi-tubi kali ini.
"Memangnya aku kenapa?" wajah Fany sudah tidak bisa di gambarkan lagi mendengar pertanyaan Julian dengan menunjukkan tampang bod*hnya. Entah sebenarnya dia memang sengaja atau memang benar-benar tidak tahu dengan apa yang dia lakukan hingga membuat Fany kesal.
"Kau sudah menghabiskan ice creamku, dan dengan wajah tidak berdosamu itu kau memakan ice cream milikmu itu di depan mataku! Dan kau masih bertanya kenapa? Ingin aku lempar ke dalam sungai sana," jelas Fany dengan napas memburu.
"Ooohh... jadi kau marah padaku karena aku menghabiskan ice creammu?" sudah jelas Fany mengatakannya tetapi dirinya masih saja bertanya. Sepertinya ada yang salah dari Julian.
"Sudahlah, aku lelah berbicara denganmu. Dasar laki-laki tidak peka." Fany kembali melangkahkan kakinya pergi dari Julian.
"Waaahh... ternyata lucu jika dirinya marah seperti itu. Hmm... biarkan aku memberikan kejutan untuknya nanti," ujar Julian yang sepertinya merasa gemas dengan Fany yang sedang marah padanya.
Julian merogoh ponselnya dan mencari salah satu nomor ponsel milik anak buahnya. "Halo, kau kirimkan ice cream yang banyak untuk alamat yang aku kirimkan."
Setelah mengucapkan itu, Julian memutuskan panggilannya secara sepihak. Ia pun memilih untuk mengejar Fany sebelum terlalu jauh. Tanpa Julian tahu, jika sedari tadi dirinya dan Fany tengah di awasi oleh seseorang yang berada jauh dari keduanya.
Setelah hampir seharian Fany berkeliling, akhirnya ia sampai juga di rumahnya. Sepanjang perjalanannya tadi dia merasa badmood sekali karena tingkah Julian yang menjengkelkan. Ia menghempaskan dirinya di atas sofa.
"Kau dapat ice cream itu dari mana? Kenapa kau tidak membaginya untukku?" ujar Fany saat melihat adiknya sedang asyik memakan ice cream yang ada di tangannya.
"Kalau Kakak mau mabil saja sendiri, aku tidak mau membaginya dengan Kakak," jawab adiknya dengan jujur.
__ADS_1
"Ambil di mana? Apa kau kira rumah ini kedai ice cream? Hingga sesuka hatiku mengambil ice cream yang aku mau," sengal Fany. Ternyata nada bicaranya yang suka ngegas itu tidak memandang siapa punitu. Bahkan dengan adiknya saja dirinya juga suka neggas. Entah bagaimana kehidupan mereka di rumah, pasti sangat ramai.