Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 297


__ADS_3

Malam hari, tepatnya di rumah sakit....


Ke dua orang tua Wendy tengah menunggu Wendy yang masih belum sadarkan diri sampai sekarang. dokter menjelaskan pada mereka jika Wendy mendapat kekerasan secara berturut-turut. Mulai dari cekikan di leher, pukulan di kepala, goresan-goresan luka dan satu lagi tamparan keras hingga membuat Wendy mengeluarkan darah dari hidungnya.


Yang membuat Wendy tidak sadarkan diri karena terjadi cidera di kepalanya akibat benturan keras dan berkali-kali, dokter akan memeriksanya lebih lanjut untuk memastikannya. Ke dua orang tua Wendy marah saat mendengarnya, terlebih lagi dengan daddy-nya. Dia selalu mengancam pihak rumah sakit, karena kekuasaan yang dia punya, seolah-olah dunia hanya tunduk denganya.


Padahal di atas langit masih ada langit, tetapi dia begitu sombong merasa jika hanya dirinyalah yang paling memiliki kekuasaan. Dia juga yang harusnya memberikan pelajaran pada putrinya itu dia urungkan setelah tahu kondisi putrinya.


"Kita harus bagaimana, Dad?" ucap istrinya.


"Aku akan mencari siapa yang sudah membuat putriku seperti ini! Berani sekali dia melakukan ini pada putriku. Apa dia tidak tahu siapa aku!" lagi dan lagi daddy Wendy pasti menggunakan kekuasaan.


Berselang beberapa detik, bodyguard yang bersamanya tadi telah tiba di sana. Dia menugaskan bodyguard tersebut untuk menncari pelaku yang sudah membua putrinya tidak sadarkan diri.


"Bagaimana?"


"Maaf, Tuan. Tidak ada bukti sama sekali di sana. Semua sudah bersih, rekaman cctv pun tidak ada. Orang itu sepertinya bukan orang sembarangan," jelasnya. Tentu saja mereka tidak akan mendapatkan bukti, semua bukti sudah di singkirkan. Rekaman cctv pun juga sudah di hapus oleh anak buah Jennifer.


"Karena kau memang tidak becus. Kalau saja kau waktu itu tidak kembali ke Amerika, putriku tidak akan seperti ini!" sentaknya.


"Maafkan saya, Tuan. Untuk alasan sepertinya Tuan sudah tahu sendiri," jawabnya. Tanpa rasa takut dia mengatakannya.


"Kau menyalahkanku!" sentaknya lagi. Bodyguard itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Cari tahu besok ke kampusnya. Tanyakan pada orang-orang di sana," pintanya.


"Baik, Tuan," jawabnya.


"Kau cari tahu juga siapa wanita yang manjedi kekasih dari putra Carlos. Berani-beraninya dia sampai menolak putriku," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Untuk apa, Tuan?" tanyanya bingung.


"Kau cari tahu saja, tidak perlu banyak tanya," sengalnya.


"Baiklah, Tuan." Bodyguard itu memilih untuk mengundurkna diri dari sana.


Harusnya dari ke dua orang tuanya memberikan pengawasan dari jauh walau Wendy tidak di dampingi bodyguard. Tetapi daddy Wendy selalu beranggapan jika tidak ada yang ebrani dengan putrinya. Dia belum tahu saja siapa yang putrinya hadapi, terjadi hal seperti ini dia malah menyalahkan orang lain.


"Tuan Muda." Kedatangannya menghadap pada tuannya untuk memberitahukan sesuatu.


"Katakan," ucapnya singkat. Dia bisa menebak, kalau anak buahnya menghadapnya pasti akan ada sesuatu yang akan di beritahunya.


"Wanita itu masih belum sadarkan diri, Tuan. Ke dua orang tuanya juga berada di sini, mereka menganggap jika kasus ini pembunuhan yang terjadi pada putrinya. Mereka juga berencana akan datang ke kampus untuk mencari tahu," jelasnya. Orang yang di maksud oleh anak buahnya tentu saja Wendy dan keluarganya.


"Pembunuhan apanya? Memang pantas jika putrinya tidak ada di dunia ini," ucapnya dengan tenangnya.


"Memangnya apa yang akan dia daparkan nanti di sana? Serasa percuma saja," sambungnya.


Hanya pukulan kecil baginya, tetapi di bagian yang terbilang fatal. Sekali menghajar membuat lawan tidak sadarkan diri sampai sekarang. Siapa lagi kalau bukan Jennifer, malam hari dia berad di markas untuk bersantai dengan adiknya.


Jarang-jarang dirinya ke sana, beda dengan Julian yang hampir tiap jam dia berada di markas besarnya.


"Sepertinya sangat seru kalau ke dua orang tuanya tahu siapa yang berbuat seprti itu pada anaknya. Seharusnya aku tidak meminta orang-orang di markas untuk menghapusnya. Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka melihat putrinya." Senyumnya terlihat sinis. Jennifer benar-enar tidak ada takut sama sekali, yang ada justru dirinya ingin melihat bagaimana dia menghajar Wendy di lihat oleh orang tuanya.


"Bersikaplah kalem sedikit, kau jangan menunjukkan kekejamanmu itu," ucap Julian melihat sisi kejam Jennifer masih terlihat di permukaan.


"Aku tidak pernah kejam pada orang lain, aku hanya ingin tahu bagaimana mereka. Sepertinya satu keluarga itu sama saja,"


"Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau mereka tahu kau yang melakukannya? Jangan bermain-main dengan orang tua. Kau tidak keren sekali, tidak lama juga mereka pasti akan menjadi abu. Kau tidak perlu susah-susah," celetuk Julian. Ucapannya memang tidak pernah bisa di kondisikan, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu.

__ADS_1


Bugh...


"Hati-hati dengan ucapanmu!" Jennifer memukulnya dengan bantal. Walau terlihat sedikit kejam, tetapi Jennifer masih bisa bersikap sopan dan berhati-hati dalam berucap.


"Tidak ada yang salah dengan ucapanku," jawab Julian membenarkan ucapannya sendiri.


"Tapi, Nona. Mereka juga ingin mencari tahu siapa anda. Menurut yang saya pahami, mereka mencari tahu anda karena putra dari keluarga Carlos menolak wanita itu secara mentah-mentah. Dia tidak terima jika putrinya mendapat penolakan," jelasnya lagi.


Jennifer mengembangkan senyum remehnya di sana, dia diam saja banyak yang mencari tahunya, apa lagi dia bergerak. "Aaahh... ternyata aku tidak butuh banyak tindakan untuk mereka. Mereka sudah datang sendiri kepadaku."


"Kau boleh kembali," pintanya pada anak buahnya. Anak buahnya pun kembali melanjutkan tgasnya yang lain.


"Apa yang akan kau lakukan nanti? Apa aku perlu menutupi identitasmu?" tawar Julian pada sang kakak.


"Tidak perlu, Jul. Kau tidak perlu melakukannya, kita lihat saja nanti bagaimana mereka. Ternyata satu keluarga sama saja, mereka memiliki otak yang sangat kecil," tolak Jennifer dan di akhiri hinaan pada mereka.


"Kau yakin?" tanya Julian memastikan.


"Tentu. Yang mereka cari hanyalah kekasih dari Gerald, bukan putri dari keuarga William. Kita lihat saja nanti bagaimana satu keluarga yang penuh obsesi itu," terang Jennifer di sana.


"Emm... baiklah. Kalau kau mengalami kesuitan, kau bisa hubungi saja aku. Aku akan selalu siap sedia untukmu." Julian menawakan dirinya sendiri, dia bersikap sebagai adik yang baik kali ini. tidak seperti biasanya yang hanya bisa membuat kakanya kesal tidak berujung dengan tingkahnya. Beberapa hari ini Julian terlihat sedikit kalem tidak banyak bertingkah, entah bagaimana satu hari atau dua hari kedepannya.


"Kau tidak perlu membuang waktumu untuk mereka, Jul. Aku sendiri yang akan mengurus mereka nanti. Markas lebih penting dari pada kau mengurus mereka,"


"Sebagai adik yang baik, aku akan selalu berusaha untuk melindungimu. Dengan begitu, kau akan merasa beruntung memiliki adik sepertiku." Baru juga dia bersikap tenang, mulailah lagi dia. Gaya bicaranya di buat dengan sangat narsis, dia membanggakan dirinya sendiri di depan kakanya.


Jennifer memutar ke dua matanya malas melihat adiknya yang mulai lagi dengan sikap adiknya yang kembali ke setelan awal. "Berhentilah kau bersikap narsis. Tidak cocok sekali denganmu itu."


"Kau tidak perlu membantah apa-apa lagi. Aku ingin pulang," potong Jennifer dengan segera sebelum Julian menjawab ucapannya. Jika di ladeni terus-terusan, Julian juga tidak akan pernah berhenti berbicara. Jennifer melangkahkan kakinya pergi meninggalkan markas membiarkan Julian tetap tinggal di san.

__ADS_1


"Hai Jul...," sapa salah satu mahasiswi perempuan yang tengah berpapasan dengan Julian.


"Juga," jawab Julian singkat padat dan jelas.


__ADS_2