Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 304


__ADS_3

Malam hari telah tiba...


Jennifer membuka pintu mobilnya dan memandang ke arah pistol yang ia bawa dengan tersenyum. Mungkin banyak orang yang melihatnya senyuman itu terlihat manis, tetapi senyuman itu memiliki banyak arti. "Kau akan ke mana, Kak?" tanya Julian saat melihat Jennifer berada di ambang pintu mobilnya.


Jennifer menoleh ke arah Julian yang memandangnya penasaran, "Ada benalu singkirkan," jawabnya. yang harus aku


"Kau yakin tidak ingin aku temani?" tawar Julian.


"Eeemm... tidak perlu. Aku akan mengurusnya sendiri, dia bukanlah musuh yang sepadan denganku." Jennifer masuk kedalam mobilnya lalu menutupnya.


Tanpa mau berlama-lama, Jennifer menyalakan mobilnya dan melaju tanpa berpamitan terlebih dulu pada Julian.


"Ck, anak itu," decak Julian melihat mobil kakaknya yang melaju begitu saja. la ingin sekali ikut, tetapi dia takut jika nanti mendapat amukan dari sang kakak. Julian percaya pasti kakaknya bisa mengatasi masalahnya sendiri, jika di perlukan nanti dia pasti akan datang.


"Ikuti dia, jika ada apa-apa beritahu aku," perintah Julian pada beberapa anak buahnya. Malam ini mereka berada di markas seperti biasa. Untuk Jennifer dia mengambil senjata miliknya yang baru saja ia rakit. Beberapa anak buah itu pergi menyusul Jennifer atas perintah dari Julian.


Menempuh perjalanan satu jam lebih, Jennifer telah sampai di tujuan. Ia membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah megah itu, tidak lupa dengan pistol yang ia bawa tadi. Sesampainya di dalam, ia pun mencari tempat untuk dirinya bersantai.


Tanpa berselang lama, mobil mewah tengah tiba di sana. Terlihat pria berjas dengan langkah kaki tegas keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Guratan-guratan wajah sombong terlihat pada dirinya.


"Tidak ada takut di kamus Tuanku, dia memang tidak ada di rumah sebaiknya pergilah dari sini," jawabnya lagi dengan tegas.


"Siapa yang datang?" Jennifer tiba-tiba muncul dari dalam.


Jennifer memandang pria berjas itu dengan tersenyum sinis, yang di tunggu-tunggu sudah datang ternyata. "Ternyata kau lagi, Tuan Brown yang terhormat


"Ada keperluan apa lagi kau datang ke rumah calon suamiku, Tuan. Kau masih menuntut hal yang sama?" tanya Jennifer.


Benar sekali jika saat ini Jennifer berada di rumah megah Gerald yang ada di Berlin, dan tuan Brown tengah datang untuk melakukan rencana yang ia rencanakan siang tadi. Dia masih belum menyerah dengan tuntutan hukumnya.


"Heh, ternyata kau di sini. Jadi tidak perlu aku mencarimu susah-susah." Senyum remeh ia perlihatkan di hadapan Jennifer.


"Oooh... ternyata kau sedang mencariku?


Sayangnya aku tidak merasa tersanjung di cari orang penting sepertimu." Jennifer juga bisa bersikap sombong di hadapan orang yang sombong.


"Jangan terlalu percaya diri, Nak. Kalau kau di sini


"Di mana Tuanmu yang ingusan itu?" tanyanya berada di ambang pintu rumah mewah itu.


"Tuanku sedang tidak ada di rumah, Tuan. Sebaiknya kau kembali, Tuanku tidak memperbolehkan orang lain masuk ke dalam rumahnya," jawab orang itu.


"Jangan pernah menipuku. Apa Tuanmu itu takut padaku?" Nada bicaranya sangat sombong sekali, seolah-olah dia paling di takuti.

__ADS_1


akan sangat bagus, aku membawakan surat hukum untukmu. Kau harus mendapat hukuman setimpal dengan perbuatanmu pada putriku," ujar daddy Wendy di sana.


"Hahaha... hukum? Aku sudah katakan padamu, Tuan. Hukum yang kau ajukan itu tidak akan berarti apa-apa, hukum tidak berlaku untukku. Lagi pula, kau tidak tahu namaku, bukan? Bagaimana kau mengisi surat itu? Apa itu atas nama calon suamiku lagi?" Jennifer berbicara panjang lebar, dan setiap ucapannya benar adanya.


"Jangan sampai orang-orang di sini menertawai kebod*hanmu itu, Tuan," ledek Jennifer.


Mendengar itu, daddy Wendy seketika murka pada Jennifer. Rahangnya mengeras dengan apa yang ia dengar. "Beraninya kau berbicara seperti itu padaku!" daddy Wendy tidak terima mendapat hinaan dari Jennifer.


Jennifer kembali tersenyum sinis melihat daddy Wendy yang terlihat emosi, "Aku dengar juga kau datang ke perusahaan William, apa itu berhasil? Aku yakin jika kau mendapat penolakan mentah-mentah dari mereka."


Dalam benaknya, daddy Wendy bertanya-tanya. Bagaimana bisa Jennifer tahu tentang itu, tidak ada yng tahu mengenai hal ini. "Heh, kau salah besar, Nak. Aku mendapat jackpot hari ini." Daddy Wendy berbohong menutupi rasa malunya jika perusahaan William telah menolaknya.


"Aku tidak yakin jika mereka akan menerima orang bod*h sepertimu, Tuan." Jennifer kembali mengejek daddy Wendy.


"Dasar kurang ajar!" murkanya dengan mengangkat tangannya berniat untuk memukul Jennifer.


Klek...


Dengan gerakan gesitnya, Jennifer menodongkan pistolnya itu ke arah daddy Wendy. Sekali tekan saja, peluru itu akan menembus dirinya. Terlihat daddy Wendy terkejut melihatnya karena bisa-bisanya seusia Jennifer membawa senjata.


Wajahnya pias melihat jelas senjata di depannya. Melihat seperti itu, anak buah Gerald menendang kaki daddy Wendy hingga dirinya bertekuk lutut." Berhati-hatilah, Tuan. Aku bisa melakukan apa saja padamu," tegas Jennifer.


Sebenarnya tuan Brown merasa takut, tetapi dia mencoba bersikap biasa. Ia menetralkan detak jantungnya yang mulai tidak aman. "Heh, kau menggertakku dengan mainan itu? Jangan harap aku akan takut padamu."


"Aku dengar jika putrimu sdah membuka mata, jangan sampai dia kembali menutup matanya selama-lamanya. Buang semua ambisimu, laki-laki yang kau incar tidak akan pernah manjadi bagian keluargamu. Jika kau masih melakukannya, maka putri dan istrimu tidak akan selamat detik ini juga." Jennifer memberikan ancaman pada tuan Brown.


Bukannya takut, justru tuan Brown tertawa di sana," 4 Hahaha... kau tidak akan bisa mengancamku, Nak. Kau bukanlah siapa-siapa di bandingkan denganku."


Dia tidak tahu sebenarnya siapa Jennifer, maka dari itu dia masih bisa bersikap sombong. Ia menyombongkan kekuasaannya. Jennifer tersenyum remeh mendengar ucapan daddy Wendy yang lagi-lagi selalu mengandalkan kekuasaannya.


"Kau yakin, Tuan. Kita lihat saja kali ini."


"Ambilkan ponselku di dalam." Jennifer meminta anak buah Gerald yang ada di sana untuk mengambil ponsel miliknya.


Hanya sebentar anak buah Gerald kembali datang dengan membawa ponsel miliknya. Jennifer mencari salah satu kontak lalu melakukan sambungan telfon. Jennifer menyalakan speakernya agar tuan Brown bisa mendengarnya.


"Bagaimana?" ujar Jennier pada orang di seberang sana.


"Anak dan istrinya sudah berada di tangan kami, Nona, "jawab orang di seberang sana.


"Biarkan istrinya berbicara dengan suami tercintanya ini." Jennifer mengernyitkan alisnya di hdapan tuan Brown.


"Daaad... tolong Mommy, Dad. Mereka semua membawa senjata, Mommy masih ingin menikmati hidup. Selamatkan kami berdua!" suara teriakan dari seberang sana terdengar jelas di pendengaran Tuan Brown. Wajahnya sangat syok mendengar teriakan sang istri yang meminta pertolongan.

__ADS_1


Jennifer melihat bagaimana ekspresi tuan Brown di sana, seketika wajahnya berubah mendengar teriakan istrinya. "Daadd... cepat tolong Mommy dan Wendy!" suara teriakan kembali terdengar dari sana.


"Jangan matikan telfonmu sebelum aku memberikan perintah lagu untuk kalian," pinta Jennifer. Jennifer ternyata sudah menyiapkan segala rencananya.


Di rumah sakit mommy Wendy sesenggukan dan berteriak meminta untuk di lepaskan. Dia juga di todongkan senjata oleh anak buah Jennifer. Mereka datang ke sana untuk membungkam keluarga Wendy. Bahkan bodyguard mereka juga di ikat, mulutnya di sumpal agar diam.


Anak buah Jennifer yang lain berjaga di depan pintu untuk menghalangi siapa saja masuk ke dalam sana.


Kembali ke sisi Jennifer ...


"Bagaimana, Tuan? Aku bisa melakukan apa saja pada istri dan putrimu. Semua anak buahku hanya menunggu perintah dariku. Kau hentikan ambisimu, atau mereka berdua tidak bisa lagi kau lihat!" Jennifer menunjukkan kekuasannya di sana.


"Berani-beraninya kau!" daddy Wendy berdiri ingin menyerang Jennifer.


Dengan cepat Jennifer kembali menodongkan pistol miliknya di hadapan tuan Brown, "Peluru ini terisi penuh, Tuan. Jika kau bergerak sedikit saja, peluru ini akan menembus kepalamu. Bahkan anak dan istrimu juga tidak akan selamat detik ini juga."


"Aku memberikan pilihan untukmu, kau pergi dari sini dan tidak mengganggu milikku, atau peluru ini mnembus kepalamu beserta anak dan istrimu," gertak Jennifer.


"Apa kau sudah siap?" tanya Jennifer pada anak buahnya di seberang sana.


"Siap, Nona,"


"Kau bisa lakukan sekarang," pintanya.


Anak buah Jennifer di seberang sana siap menarik pelatuknya, "Daaadd... "


"Hentikan...!" teriak tuan Brown karena takut jika terjadi apa-apa pada istrinya. Anak buah Jennifer di sana menghentikan aksinya mendengar Jennifer berucap.


"Jangan pernah menyentuh istri dan putriku!" sambungnya.


"Jika begitu, kau juga harus pergi dari sini. Jangan pernah menggangguku dan mengganggu milikku. Jika kau masih berani melakukannya, anak buahku tidak segan-segan menghabisi seluruh keluargamu,"


"Baiklah, aku akan pergi dari sini. Tapi jangan menyentuh anak dan istriku!"


"Hmmm... tergantung. Jika ucapanmu bisa aku percaya maka mereka akan selamat,"


"Pergi dan jangan kembali lagi ke sini, jangan pernah menampakkan dirimu lagi di sini. Kembalilah ke negaramu dan jangan pernah mengganggu milikku. Anak buahku akan mengawasimu dan keluargamu di mana pun berada, jika kau masih berani, maka detik itu juga kalian tidak bisa menghirup tenaga segar.," gertak Jennifer dengan sungguh-sunggh.


"Sekarang pergilah. Aku sudah muak melihatmu! Ingat apa yang aku katakan!" sambungnya.


"Aku akan pergi saat ini juga." Jennifer meminta anak buah Gerald membiarkan daddy Wendy pergi dari sana.


Tuan Brown akhirnya pergi dengan tergesa-gesa, ia juga terlihat sangat khawatir dan cemas pada anak dan istrinya yang berada di rumah sakit. Jennifer memandang kepergian mobil itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Sangat beruntung jika tuan Brown tidak mendapat tembakan dari Jennifer.

__ADS_1


Kita lihat saja nanti bagaiman tuan Brown, ia masih berani atau tidak. Jennifer akan selalu mengawasi keluarga Brown di mana pun berada. Sepertinya mereka sudah masuk ke dalam daftar hitam Jennifer yang tidak bisa lepas lagi.


__ADS_2