
"Untung saja aku menolakmu menjadi besanku, bagaimana nantinya jika keponakanku memiliki mertua yang kekanak-kanakan seperti dirimu?" Sean mencoba memancing amarah musuhnya. Karena memang yang mengibarkan bendera perang adalah pihak musuh karena Sean menolak jika Diva menjadi menantunya.
"Lebih baik aku berperang denganmu dari pada aku
harus menerima pinangan orang yang serakah sepertimu ," tegas Sean di sana.
"Haha... kau rela menolakku dan berperang denganku hanya karena keponakanmu bersama dengan bawahanmu, bukan?" ucapnya yang memandang remeh.
"Lebih baik dia bersama dengan bawahanku dari pada harus menjadi menantumu. Bahkan yang kau bilang bawahanku lebih bisa di andalkan dan bisa berfikir dewasa dari pada dirimu," jawab Sean dengan tegas.
"Apa kau tahu, aku lebih memilih melihat keponakanku bahagia dengan pilihannya dari pada dia tersiksa dengan pilihanku. Dan apa kau tahu, aku mengetahui bagaimana semua kebusukanmu." Sambung Sean dengan menatap tajam.
"Hahaha... kau memang uncle yang baik, kau lebih memilih orang yang tidak sebanding dengan keluargamu ." Ucapnya kembali meremehkan.
"Hahaha... justru kau lah yang tidak sebanding dengan keluargaku. Ternyata hanya umurmu saja yang tua, tapi tidak dengan fikiranmu." Sean membalas perkataan orang tersebut.
Orang tersebut ternyata secara halus mengambil senjata yang ia sembunyikan di tubuhnya, dia bergerak lembut agar tidak di ketahui oleh Sean.
"Hahaha... mari kita lihat kesombongan siapa yang akan berakhir hari ini." Ujarnya lalu mengeluarkan pistol miliknya dan di arahkan ke arah Sean.
Doorr...
Door...
Dengan gerakan cepat Sean menembak orang itu sebelum menembak dirinya, ternyata pergerakannya bisa terbaca oleh Sean. Sean menembak tangan orang tersebut hingga pistol yang ada di tangannya terjatuh.
"Hahaha... jangan kira jika aku tidak bisa melihat pergerakanmu, Jacob." Sean tertawa dengan kerasnya di sana. Jacob adalah nama dari pimpinan mafia yang sudah mengibarkan bendera perang pada Sean.
Beberapa anak buah musuh yang mendengar suara tembakan itupun segera menuju ke arah Sean. Mereka mengarahkan tembakan pada Sean.
Doorr...
Door....
Doorrr....
Sean langsung saja memberondong peluru miliknya, beberapa mengenai jantung dan beberapa lagi mengenai tepat di tengah-tengah dahi. Mereka tewas seketika karena tembakan dari Sean.
Doorr...
Doorr....
Sean kembali memberondong peluru ketika ada yang mendekat lagi. Jacob mengggunakan kesempatan untuk mengambil pistolnya yang sempat terjatuh tadi selagi Sean sibuk dengan anak-anak buahnya yang datang. Mata Sean sesekali melirik ke arah Jacob yang sedang mengambil senjata miliknya.
Doorr..
Doorr...
Doorr...
Sean menembakkan kembali perlurunya dengan dirinya berjalan ke arah Jacob.
Kleekk...
"Aaarrkh..." Sean menginjak keras tangan Jacob sebelum tangannya menyentuh kembali senjata yang terjatuh. Bahkan Sean juga memberikan tekanan pada tindakannya itu.
__ADS_1
Beberapa anak bauhnya yang melihat itu pun membelalakkan mata mereka.
Doorr...
Doorr...
Sean memberondong pelurunya lagi, kali ini Sean sengajak tidak mengenai mereka, tapi mengenai lantai-lantai yang hampir mengenai kaki mereka semua. Sean mengarahkan pistolnya ke arah kepala Jacob.
"Berhenti atau pimpinan kalian akan tewas detik ini juga." Gertak Sean. Mereka berhenti dan diam di tempat, mana mungkin mereka membiarkan pimpinan mereka tewas begitu saja.
"Jangan bodoh kalian! Dia hanya menakut-nakuti kalian." Teriaknya pada anak buahnya. Sean semakin menekankan pistolnya di kepala
"Kalian bisa memilih sendiri, pimpinan kalian berada di tanganku saat ini." Ujar Sean kembali. Mereka juga di ambang kebingunan, jika maju maka pimpinan mereka akan tewas begitu saja dalam waktu singkat. Tetapi, jika mereka diam juga pasti akan mudah terkalahkan.
Sedangkan di sisi Riko....
Dia berusaha keras untuk menahan belati yang di arahkan ke wajahnya, persaingan sengit terjadi di antara mereka berdua. Kaki tangan dari musuh itu juga tidak mau kalah, ia mendorong kuat belati yang ada di tangannya untuk di arahkan pada Riko.
"Enyahlah kau dari dunia ini." Ujarnya pada Riko dengan menekankan belatinya.
Duugh...
Riko menendang kuat orang tersebut hingga dirinya terjungkal, belati yang di bawanya juga terpental jauh dari tangannya. Riko buru-buru bangkit lalu kembali menyerang orang tersebut.
Buugh..
Buughh...
Buughhh....
"Kaulah yang harus pergi dari dunia ini." Ujar Riko dengan tangannya yang masih memberikan bogeman pada orang tersebut.
Buuugh...
Bugh...
Bugh...
Tidak henti-hentinya Riko memukul orang tersebut, orang itu tidak sempat membalas pukulan dari Riko karena Riko melakukannya dengan gerakan cepatnya.
Buugh...
Orang itu berhasil menendang Riko menjauh dari dirinya. Dengan sedikit berdarah, dia bangkit dan menyerang Riko. Riko mengelak menghindari serangan dari orang tersebut, keduanya sama-sama kuat. Sampai-sampai sulit untuk mereka berdua terkalahkan.
Buugh...
Braaak...
Bukannya mengenai sasaran, justru tendangannya mengenai barang-barang yang ada di sana. Jika keduanya sama-sama kuat, entah kapan berakhirnya peperangan itu.
Orang tersebut melihat gelas kaca lalu mengambilnya dan melemparkan ke arah Riko. Riko menghalangi wajahnya dengan lengannya agar tidak sampai terkena hantaman gelas kaca itu.
Pyaarr...
Gelas itu pecah berserakan karena mengenai lengan Riko dan terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Benar-benar, kau." Geram Riko. Merekapun kembali bergelut tidak mau kalah, mereka mempertahankan kekuatan mereka yang sepadan.
Kembali lagi ke Sean...
"Lawan orang ini, kenapa kalian takut hanya dengan gertakannya, hah?" bentaknya pada anak buahnya.
"Kau memang pemimpin yang sangat bod*h, Jacob. Mereka memikirkan dirimu agar tidak lenyap begitu saja, tapi kau malah bertingkah seperti anak kecil." Jawab Sean kembali menekankan pistolnya yang berada di kepala Jacob.
"Cepatlah kalian bergerak!" Jacob berteriak pada anak-anak buahnya yang terdiam. Mereka benar-benar bingung.
"Hey, apa kalian tidak dengar dengan apa yang aku perintahkan?" Jacob kembali membentak mereka. Merekapun menunjukkan pergerakan mereka untuk melawan Sean.
Doorr...
Doorr...
Door...
Dengan gerakan cepat Sean menembak beberapa anak buah Jacob yang mendekat. Tidak perlu berlama-lama mereka tertembak mengenai sasaran. Sean berjalan memutari Jacob dengan tersenyum remeh.
Sebenarnya, Jacob sudah terlihat sedikit memucat karena darah yang sedari tadi menetes dari tubuhnya karena luka tembak yang di berikan oleh Sean padanya.
"Apa kau masih ingin lanjut?" Sean meremehkan Jacob di sana.
"Dasar sombong!" pekiknya lalu melawan Sean dengan tangan kosong. Mereka kembali melakukan baku hantam, Jacob berusaha keras untuk melawan Sean walau dirinya terluka.
Buugh...
Buughh...
Buugh...
Dengan mudahnya Jacob bisa terkalahkan oleh
Sean.
"Jika kau yang mengawalinya, maka aku yang akan mengakhirinya." Ujar Sean kembali melayangkan tendangan pada Jacob.
Braak...
Pyaarr...
Jacob terpelanting jauh mengenai meja kaca hingga pecah berserakan karena mendapat tendangan dari Sean.
Sean melangkah dengan cepat lalu mencengkram kerah baju Jacob.
Buugh..
Bugh..
Sean memukul wajah Jacob dengan keras. Tidak ada perlawanan dari Jacob karena tenaganya sudah mulai terkuras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TINGGALKAN JEJAKMU DENGAN CARA KOMEN, LIKE, GIFT AND VOTE
__ADS_1
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN NYA