
"Apa kau benar akan melanjutkan di Autrali kak?" Tanya Julian memastikan.
"Entahlah, aku juga belum memastikannya." Jawab Jennifer yang masih di ambang kebingungan.
"Kenapa kau tidak di mension saja? Kita dalam keadaan tidak aman, kau harus berhati-hati." Ucap Riko pada Diva yang berada di markas bersamanya saat ini.
"Hmm... Yaa aku tahu... Tapi aku juga sangat bosan hanya berdiam diri," jawab Diva.
"Tahanlah sebentar sebelum kita dalam keadaan aman, mereka bisa saja membawamu pergi," tutur Riko padanya.
"Apa kau tidak rela jika mereka membawaku?" Diva menaik turunkan kedua alisnya di sana.
"Rela tidak rela kalau kau di bawa mereka aku yang di susahkan di sini." Jawab Riko yang tidak ada manis-manisnya.
"Kenapa kau tidak bisa romantis sedikit saja," Diva memincingkan bibirnya. Niat hati ingin mendengar kata-kata manis dari Riko, tapi yang di dapat ternyata bukan kata-kata manis yang ia inginkan.
"Aku berbicara benar, nanti yang di susakan pasti juga aku." Jawabnya dengan jujur. Karena memang itu benar adanya, pasti dirinya yang akan turun tangan dengan yang lainnya.
"Memang susah kalau berbicara pada orang yang tidak ada manis-manisnya." Gerutu Diva. Riko yang mendengar ucapan Diva terlihat cuek tidak peduli, memang begitulah mereka. Jarang sekali kalau bersikap romantis atau manis seperti orang-orang di luaran sana, setiap pasangan pasti akan ada cara sendiri untuk. menjalaninya.
Pagi harinya....
Matahari sudah menampakkan dirinya dengan terangnya, ada sebagian orang yang masih tertidur dalam gulungan selimut, ada juga yang sudah melakukan banyak aktifitas di pagi hari.
Gerald terbangun dari tidurnya setelah mendengar alarm yang berbunyi, ia meraba ponselnya dan melihat jam.
"Huuuh..." Helaan nafasnya terdengar setelah melihat jam. la ingin kembali tidur tapi ia teringat akan janjinya pada Sean semalam. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Skiiippp...
Markas Kingdom...
Gerald tiba di markas milik kelompok Sean, kedatangannya di sambut oleh anak buah Sean yang tahu siapa dirinya. Anak buah Sean mengantarkan dirinya untuk masuk ke dalam dan menemui Sean.
__ADS_1
"Kau sudah datang, duduklah." Ucap Sean mempersilahkan Gerald untuk duduk.
"Terima kasih, pi." Gerald mendudukkan dirinya di sofa empuk yang ada di sana.
"Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Sean to the point.
"Aku mendapat laporan dari anak buahku jika Jenni selama dua hari ini dalam pengawasan musuh. Aku dengar jika orang itu orang yang mengibarkan bendera perang pada Papi," terang Gerald langsung ke intinya.
"Kau tahu apa yang terjadi?" Gerald mengangguk menjawab pertanyaan Sean.
"Mereka sepertinya mencari cela pada Julian dan Jenni saat ini, jika mereka menyerang langsung mungkin merasa kesulitan." Jelas Gerald lagi.
"Kenapa Papi tidak melawannya langsung?" Tanya Gerald yang ingin tahu apa alasan Sean tidak segera melawan musuhnya.
"Kita menunggu kedatangannya ke sini, bukankah lebih enak jika kita menyambutnya di sini?" Jawab Sean yang sepertinya ada rencana tersembunyi.
"Bukankah lebih enak melawan mereka di sarang mereka sendiri, Pi. Kita juga bisa mengambil alih wilayahnya nanti." Ucap Gerald yang ada benarnya juga.
"Ucapan Mu memang benar, nak. Tapi akan ada konsekuensi yang akan kita tanggung nanti." Jawab Sean.
"Baik, Pi. Apapun yang terjadi nanti, aku akan siap membantu Papi." Jawab Gerald.
"Kau memang calon menantuku, temuilah Jenni, mungkin dia akan senang jika kau datang." Ujar Sean yang di angguki oleh Gerald. Gerald pun pergi dari sana karena urusannya dengan Sean sudah selesai.
Gerald nampak berfikir kembali saat berada di dalam mobil miliknya, sepertinya dia sedang berfikir apa yang akan dia lakukan saat ini. Gerald kembali mengingat ucapan Sean saat berbincang dengannya tadi.
"Jika ke sana banyak konsekuensi, kenapa papi tidak mencoba memancing mereka untuk ke sini?" Gumamnya pelan di sana. Gerald merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Halo," ucapnya saat panggilan telfonnya terhubung.
"Ada apa kau menghubungiku?" Sengal orang yang ada di seberang sana.
"Slow, kakak ipar. Kenapa kau galak sekali?" Jawab Gerald. Ternyata Gerald tengah menghubungi Diva kali ini. Entah kenapa dia tiba-tiba menghubungi Diva, biasanya tidak sama sekali.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kau bertengkar dengan Jenni? Tidak biasa sekali kau menghubungiku," Ucap Diva panjang lebar di sana.
"Tidak, aku dan Jenni baik-baik saja. Aku hanya ingin bantuanmu sedikit," ucapnya yang membuat Diva bingung di sana.
"Cepatlah katakan, jangan bertele-tele atau aku tutup telfonmu." Sengal Diva yang tidak sabaran.
"Ajak Jenni keluar untuk berbelanja, nanti aku kirimkan uangnya. Terserah belanja apa aja," ucapnya pada Diva.
"Kenapa kau tidak kembali saja dan mengajaknya pergi sendiri, kau ada-ada saja." Ucapnya.
"Aku masih belum bisa ke sana, sudah jangan banyak protes. Hanya sekali ini saja," ujarnya lagi.
"Apa kau hanya meminta Jenni berbelanja? Apa kau melupakan aku?" Diva mencoba merayu Gerald di sana, Gerald hanya memutar kedua matanya malas.
"Kau matre sekali..." Ujar Gerald yang mengerti maksud Diva.
"Ya sudah kalau gitu, aku juga tidak mau mengajaknya keluar." Jawab Diva.
"Huuh, ya sudah terserah berbelanja lah sesuka hati. Aku akan mengirimnya untuk kalian bersenang-senang." Gerald pasrah dan memutuskan panggilan telfonnya. Gerald meminta anak buahnya untuk mengirimkan sejumlah uangnya pada Diva. Diva yang berada di seberang sana sangat antusias melihat sejumlah uang masuk ke rekening miliknya.
Tanpa berlama-lama ia pun mengajak Jennifer sesuai permintaan Gerald padanya. Diva membujuk rayu Jennifer untuk keluar bersamanya, mau tidak mau Jennifer ikut bersama Diva.
"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Jennifer karena tidak biasanya Diva mengajaknya keluar tiba-tiba.
"Kita pergi ke mall berbelanja sesuka hati, sudah ayo ikut saja. Jangan banyak bertanya," ajak Diva menyeret tangan Jennifer.
"Apa kalian melupakan aku?" Sahut Julian yang melihat keduanya bepergian.
"Ini urusan perempuan, kau tidak perlu ikut." Diva menolak jika Julian ikut dengan mereka.
"Ya sudah kalian pergi sana, kalau bisa tidak usah pulang." Sengalnya. Sepertinya dia ngambek karena kedua kakaknya tidak mengajaknya pergi. Diva tidak peduli dengan ucapan Julian kembali melangkahkan kakinya menyeret Jennifer keluar.
"Aku doakan kempes nanti ban mobil kalian," Julian benar-benar ngambek kali ini.
__ADS_1
Kembali lagi ke sisi Gerald...
la kembali menghubungi seseorang, "kau ikuti dan awasi mereka." Perintahnya pada anak buahnya. Sepertinya Gerald mempunyai rencana lain, padahal dia bisa saja mengajak Jennifer keluar sendiri. Tanpa berlama-lama, Gerald menyalakan dan melajukan mobilnya untuk meninggalkan markas kelompok Sean.