
13 tahun kemudian...
"IJUUUULLLL.... BENAR-BENAR KAU YAAA..." Teriak Diva yang menggema di mension.
Julian yang mendengar teriakan Diva dia berlari terbirit-birit keluar, wajah Diva terlihat sangat merah padam, hingga dirinya kabur dari Diva daripada mendapat amukan. Sesampainya di luar, dirinya mengelus dadanya sambil mengatur nafasnya.
"Busseet... kakak Diva kalo udah marah singa pun kalah." ucapnya yang masih mengatur nafasnya.
la celingukan ke sana ke mari melihat Diva sedang mengejarnya apa tidak, ia berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan dengan Diva.
"Mau ke mana kau, hah?" sengal Diva dari samping lalu menjewer telinga Julian.
"Aduh duh duh... sakit tau, kak?" rengek Julian memegangi telinganya yang di jewer Diva.
"Siapa yang suruh kau berbuat jahil, hah?" bentak Diva padanya. Julian hanya menunjukkan wajah tanpa dosanya.
"Apa kau tidak bosan selalu jahil. Dari kecil kau itu sangat jahil, gede-gedenya petakilan kayak begini pula." Cerocos Diva pada Julian.
Twin J dan Diva, mereka semua sudah bertumbuh besar. Diva yang duduk di bangku perkuliahan, sedangkan twin J, Twin J dan Diva, mereka semua sudah bertumbuh besar. Diva yang duduk di bangku perkuliahan, sedangkan twin J, mereka sudah menempuh kelas Gymnasium ( seperti SMA jika berada di Indonesia)
Gymnasium merupakan sekolah menengah yang berfokus pada persiapan siswa/siswi untuk masuk universitas untuk studi lanjutan.
Di mension sana hanya ada Diva dan Julian, karena Jennifer ikut tinggal bersama grandma dan grandpa-nya. la menginginkan menghabiskan waktu bersama kedua orang tua Sean.
Hari ini, Diva sedang geram dengan tingkah Julian yang memang sedari kecil jahil tidak pernah ada habisnya. Entah siapa yang ia tiru, Sean dan Ana pun tidak memiliki sifat jahil seperti yang di miliki Julian. Waktu kecil memang Sean jahil, setelah bertumbuh besar, sifat jahil Sean itu berubah menjadi dingin. Tapi, tidak untuk Julian.
Kali ini Julian mengagetkan Diva yang sedang bersantai di sofa hingga dirinya terjerembab jatuh ke lantai karena kaget dengan ulah Julian.
"Kakak cantik, ampun yaah... Jul khilaf." Ucapnya dengan jarinya membentuk tanda peace.
__ADS_1
"Khilaf atau sengaja khilaf, hah?" sengal Diva berkacak pinggang.
"Kalo bukan anak papimu sudah aku buang kau ke kandang leopard sana." Sambungnya memarahi Julian. la berjalan pergi dengan perasaan kesalnya meninggalkan Julian di sana sendirian.
la tidak habis fikir kenapa bisa adik sepupunya mempunyai kejahilan tingkat tinggi, sampai-sampai Diva tidak bisa berkata-kata lagi dengan ulah Julian yang begitu jahilnya.
"Pantas saja kau tidak mempunyai pacar, kau sangat galak sekali." Gerutu Julian yang masih bisa di dengar oleh Diva.
Diva yang mendengar Julian itu pun kembali menoleh ke arahnya dengan menunjukkan tatapan horornya."Apa kau bilang?"
"Tidak adaa... aku hanya mengatakan kalau kakak baik hati dan tidak sombong." Elak Julian memuji Diva.
"Aku tidak tuli." Sengal Diva lalu kembali melangkahkan kakinya pergi.
Bibir Julian terlihat menyebalkan setelah kepergian Diva. Julian pun melangkahkan kakinya pergi keluar untuk nongkrong bersama teman-temannya.
Sean dan Ana tidak berada di mension saat ini, mereka tengah berlibur ke luar negeri menghabiskan waktu berdua.
Beberapa menit kemudian... dirinya sampai di cafe tempat biasa mereka berkumpul. Julian melepas helm miliknya lalu berjalan masuk ke dalam. Semua pengunjung wanita yang ada di sana menatap dirinya takjub karena ketampanannya dengan perawakannya yang tinggi. Semua yang ada pada dirinya merupakan idaman dari para kaum wanita.
Julian langsung saja duduk di tempat yang sudah ada beberapa teman-temannya.
"Big boss... di mana tuan putriku. Kenapa kau tidak mengajaknya kemari?" tanyanya melihat Julian datang seorang diri, biasanya Jennifer ikut bersamanya.
"Aku langsung saja ke sini tadi. Aku lupa tidak menghubungi dirinya." Jawab Julian enteng.
Mereka hanya bertiga di sana, karena Jennifer tidak ada di sana kali ini. seperti biasa, Julian pasti akan berkumpul dengan Fany dan Robert.
Ada yang tahu siapa kedua orang itu?
__ADS_1
Fany adalah putri dari Rika dan James, sedangkan Robert adalah putra dari Clare dan Erick. Mereka tumbuh besar dengan memilik wajah yang cantik dan tampan. Meskipun keduanya lebih mudah dari twin J, tapi mereka juga memiliki postur tubuh yang ideal. Karena memang mereka juga sering ikut latihan fisik di markas milik Sean.
Mereka berdua juga sudah memasuki bangku Gymnasium, hanya saja mereka berbeda kelas dengan Julian. Fany dan Robert masih satu tahun di bawah Julian (kelas 1 SMA).
Beda lagi dengan Julian dan Jennifer yang memang tidak mau terburu-buru. Kata mereka ingin menikmati masa-masa sekolah. Mereka bertiga di satu sekolahan yang sama, tapi tidak dengan Jennifer. Dia memilih untuk berada di sekolah lain.
"Julian Copers, kenapa tuan putri tidak bersekolah di tempat yang sama dengan kita saja. Kan enak nanti kalau kita bisa kumpul bareng-bareng." Ujar Fany.
Fany yang menyebutkan namanya nyeleneh itu pun cengoh, "sejak kapan namaku menjadi Julian Copers?" Julian tidak terima jika namanya berubah di mulut Fany.
"Sudah sama aja," Jawab Fany dengan sedikit ketus. Dia menuruni sifat Rika.
"Jelas saja berbeda Fe, namaku Julian William. Bukan Julian Copers." Jawab Julian dengan menekankan nama William pada dirinya.
"Iya aku tau, kau tidak perlu memperkenalkan dirimu padaku." Jawab Fany dengan muka sensinya.
"Aku tidak memperkenalkan diri, aku membenahi nama yang kau berikan padaku." Sengal Julian. Robert di sana jengah melihat perdebatan mereka berdua jika sudah berkumpul tidak pernah ada akurnya.
"Itu nama dariku, tidak kalah bagusnya dengan nama panjang mu kan?" ucap Fany dengan sangat bangga bisa memberikan nama bagus pada Julian menurutnya.
"Tidak ada bagus-bagusnya, nama yang kau berikan itu buruk sekali." Ketus Julian di sana.
"Nama itu sangat cocok dengan dirimu yang suka jahil dan petakilan." Ujar Fany. Julian mengangkat tangannya seperti ingin menjitak Fany dengan wajahnya yang sedikit kesal.
"Aku doakan kalian berjodoh nanti." Robert akhirnya membuka suara agar perdebatan Julian dan Fany berakhir.
"Hah.... Aku? Berjodoh dengan cecunguk ini?" ujar Fany sedikit ngegas sambil menunjuk ke arah Julian yang ada di depannya.
"OGAH." Jawab Fany dan Julian bersamaan.
__ADS_1
"Naahh... bicara saja bisa bersamaan. Sepertinya kalian punya ikatan batin, tidak salah lagi jika kalian berjodoh." Ucap Robert yang menggoda kedua orang di depannya.
"Jangan menolak seperti itu, biasanya orang yang ogah-ogah itu nanti akan berjodoh loooohhh." Sambung Robert mengenai keduanya.