
Hari ini, tibalah saat dimana Sean akan mengajak Ana untuk berbulan madu.
Sean memilih keberangkatan pada tengah malam di saat Diva dan Ana tertidur. Sean sengaja tidak memberitahukan Diva dan Ana untuk keberangkatannya ini.
Sean menghubungi kedua orang tuanya untuk datang dan menjaga Diva saat dirinya pergi. Entah bagaimana nanti jika Diva tahu dirinya tengah di tinggal oleh sang uncle.
"Hati-hati, son. Buatkan papi dan mami cucu yang lucu." Ucap papi Sean.
Ana saat ini tengah tertidur di dalam mobil, Sean sengaja tidak membangunkannya karena ia ingin memberikan kejutan untuk Ana.
"Papi dan mami tenang saja. Aiden berangkat dulu, mi, pi." Pamit Sean. Sean pun masuk ke dalam mobilnya dan menuju bandara.
Bandara...
Sean segera turun dan membopong tubuh Ana untuk masuk ke dalam jet pribadi miliknya. Kepergian Sean di jaga ketat oleh anak buahnya kali ini.
Sean membawa Ana ke kamar tidur yang ada di jet pribadi miliknya.
Tanpa berlama-lama, jet itu pun melayang di udara. Negara yang di tuju Sean kali ini adalah korea. Entah kenapa James memilihkan korea sebagai tempat bossnya itu untuk berbulan madu.
Sean juga tidak keberatan dengan tempat tujuan yang di pilihkan oleh James untuknya. Sean memilih untuk tertidur terlebih dahulu, karena perjalanan mereka masih menempuh beberapa jam.
Tak berselang lama, Ana terbangun karena merasa haus.
la melihat sekeliling yang nampak berbeda dari kamar yang ia tempati bersama Sean.
"Ehh... dimana aku? Kenapa kamar ini berbeda?" Ana bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Sean..." Ana mencoba membangunkan Sean yang baru saja tertidur.
"Enngh... ada apa?" Tanya Sean dengan suara seraknya khas bangun tidur..
"Ini kita di mana? Kenapa kamar kita berbeda?" Tanya Ana menghilangkan rasa penasarannya.
"Kita sedang ada di jet pribadiku. Kembalilah tidur, kita masih punya waktu untuk istirahat sebelum sampai." Jawab Sean.
"Jet pribadi? Memangnya kita mau kemana?" Ana terkejut mendengar jawaban dari Sean.
"Kau akan tau nanti. Ini kejutan untukmu." Jawab Sean lagi.
"Tapi... bagaimana dengan Diva? Apa dia juga ikut?" Tanya Ana teringat dengan keponakan kecilnya.
"Tidak... Diva di rumah sama mami dan papi."
"Kenapa kita tidak mengajaknya? Pasti dia akan sangat sedih." Ana sedih mengingat bagaimana Diva nanti mencarinya.
"Tenanglah... dia tidak akan sedih. Dia pasti juga akan senang nantinya." Ucap Sean memeluk Ana. Sean mencoba menenangkan Ana saat ini.
Sebenarnya sudah biasa jika Sean meninggalkan Diva bepergian, tapi sepertinya kali ini akan berbeda. Karena Diva sangat dekat dengan Ana, mungkin dia akan menangis sejadi-jadinya karena Ana tidak ada di mension.
"Sekarang kembalilah beristirahat. Untuk Diva, biar nanti aku yang mengurusnya." Bujuk Sean. Mau tidak mau, Ana pun menurut apa yang di katakan oleh Sean. Ingin putar balik pun juga tidak bisa.
__ADS_1
Bandara Internasional Incheon...
Ana dan Sean tiba di bandara negara Korea pada siang hari. Karena perbedaan waktu korea lebih cepat 7 jam dari Berlin.
"Waahh... Sean. Kita di korea?" Ucap Ana terkagum. Ia langsung saja tahu di mana dia berada saat ini.
"Iya... kita di korea saat ini. Apa kau suka?" Jawab Sean melihat ekspresi Ana yang sepertinya sangat antusias.
"Aku senang sekali. Aku dari dulu ingin sekali datang ke negara ini, aku ingin berkeliling sepuasnya di sini." Terang Ana dengan mata berbinar-binar. Sean tersenyum mendengar Ana yang sangat bahagia saat ini.
"Keinginanmu terwujud sekarang. Kau bisa bersenang-senang dan berkeliling di sini." Sahut Sean.
"Ayo kita ke penginapan dulu. Nanti kita bisa jalan-jalan." Ajak Sean. Ana mengangguk menyetujui ajakan dari Sean.
Sedangkan di mension pribadi Sean, suara tangis Diva pecah memenuhi mension.
Bangun tidur dia mencari Ana, namun Ana dan Sean tidak ada di mension. Diva menangis sejadi-jadinya.
"Huuuaahhh.... Kenapa uncle tidak ajak Diva Uncle jahat." Tangis Diva tidak bisa berhenti.
Grandpa dan grandma-nya pun di buat kuwalahan melihat tangis Diva yang histeris. Baru kali ini mereka melihat dan mendengar Diva menangis begitu kencangnya.
"Diva sayaang... sudah ya. Diva tidak boleh nangis lagi. Kan ada grandma sama grandpa di sini." Bujuk mami Sean.
"Tidak... Diva mau sama uncle dan aunty. Huuaahh.... ." Sentak Diva di akhiri dengan tangisannya.
Mami Sean hanya diam mengerjapkan matanya mendengar sentakan dari Diva.
"Diva... sini. Grandpa kasih tau sesuatu." Panggil papi Sean. Diva pun menurut dengan panggilan sang grandpa.
"Apa benar grandpa?" Tanya Diva di saat tangisannya terhenti. Papi Sean menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Diva.
Mami Sean di buat penasaran, memangnya apa yang sudah di bisikkan suaminya itu pada Diva. Bisa-bisanya Diva langsung berhenti menangis.
"Grandpa tidak bohong kan?" Tanya Diva memastikan.
"Tidak, grandpa tidak bohong." Jawab papi Sean meyakinkan Diva.
"Sekarang Diva mandi dulu ya." Perintah papi Sean. Diva mengangguk setuju, ia menuju ke kamarnya dan di bantu oleh salah satu maid di sana.
Karena sedari tadi menangis, sampai-sampai ia bolos sekolah.
"Apa yang papi katakana pada Diva?" Tanya mami Sean penasaran.
"Papi tidak mengatakan apa-apa. Tadi papi hanya mengatakan jika nanti uncle sama aunty bawa oleh-oleh adik kecil untuknya." Jawab papi Sean dengan jujur. Mami Sean hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
Kembali ke korea...
Sean dan Ana tengah menikmati makan siang khas korea kali ini. Ana dan Sean mencoba kimchi, bibimpab dan kimbab di salah satu resto ternama di sana.
"Apa kau suka?" Tanya Sean melihat Ana yang sangat antusias.
__ADS_1
"Suka, nanti kita jalan-jalan mencoba banyak makanan di sini." Jawab Ana dengan mulut penuh makanan.
"Apapun untukmu." Jawab Sean dengan menampilkan senyum manisnya.
Setelah makan siang, Sean mengajak Ana untuk ke hotel di mana mereka tempati selama berada di korea nantinya.
James memilihkan hotel bintang 5 untuk tuan dan nyonya nya. Hotel tersebut menampilkan pemandangan kota Seoul yang indah dari 235 kamarnya. Hotel tersebut juga terhubung ke stasiun bawah tanah Jamsil dan menyediakan akses wi-fi gratis seluruh areanya.
"Waahh pemandangan di atas sini sangat indah." Ana memandang takjud dengan pemandangan kota Seoul saat ini.
Sean melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ana dari belakang.
"Apa kau menyukainya?"nanti." Imbuh Ana.
"Sangat suka. Aku ingin melihat suasana kota malam nanti " imbuh Ana.
"Tapi...kenapa kau membawaku ke sini?" Tanya Ana.
"Aku membawamu untuk kita honeymoon. Aku ingin menikmati waktu hanya berdua denganmu." Sean meletakkan dagunya di pundak Ana.
"Bukankah sama saja di rumah ataupun di sini?"
"Jelas saja berbeda, anak tuyul itu akan menyita banyak waktumu dariku." Keluh Sean pada Ana.
"Siapa yang kau maksud anak tuyul? Begitu juga dia keponakanmu." Geram Ana mendengar Diva di kata anak tuyul.
"Aku menginginkanmu Ana." Bisik Ana di telinga Sean. Ana merasa merinding dengan bisikan dari Sean.
"Tapi ini masih siang, Sean." Elak Ana.
"Siang atau malam bagiku sama saja." Sean langsung saja membawa Ana dalam gendongannya.
Ana yang terkejut dengan aksi Sean yang tiba-tiba itupun langsung saja mengalungkan tangannya di leher kokoh Sean.
Sean membawa Ana ke atas kasur berukuran king size di hotel itu.
Sean merebahkan tubuh Ana dengan pelan. Tanpa meminta persetujuan Ana, Sean menempelkan bibirnya ke bibir milik Ana.
Cukup lama, hingga Ana terengah-engah karena tidak mendapat pasokan oksigen.
Tangan nakal Sean mulai menelisik ke dalam baju milik Ana. Suara-suara indah dari Ana pun keluar karena sentuhan-sentuhan yang di lakukan oleh Sean.
Sean yang mendengar suara dari Ana, adrenalin nya seperti merasa semakin terpacu.
Sean menanggalkan baju dan baju Ana lalu membuangnya ke sembarang arah hingga mereka tidak memakai sehelai benangpun.
Hingga pada akhirnya, siang itu mereka lalui dengan penyatuan raga tanpa gangguan dari siapapun.
Suasana yang mendukung untuk mereka melakukan olahraga di siang hari.
Mereka melakukan hingga sama-sama mencapai ******* bersama. Setelah melakukan olahraga yang cukup melelahkan, mereka akhirnya tertidur di bawah gulungan selimut yang sama.
__ADS_1
Sean mencium kening Ana yang sudah tertidur lebih dulu darinya karena merasa kelelahan.
"Aku ingin segera hadir Sean junior darimu." Gumam Sean. Sean yang juga merasakan kantuk itu pun menyusul Ana yang sudah berlayar di pulau mimpi terlebih dahulu.