Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 183 Season 2


__ADS_3

"Kalian kan juga sering ngedate keluar, kenapa suka sekali kalau menunda pernikahan." Julian kembali menyahuti. Jennifer mencubit keras Julian agar terdiam tidak ikut campur urusan orang dewasa.


"Auuwh... sakit tau," ujarnya merasa kesakitan.


"Kau bisa diam tidak sih, jangan ikut campur urusan orang dewasa." Tutur Jennifer.


"Iyyaa...iyaa..." akhirnya Julian memilih terdiam, entah jika nanti.


"Bagaimana, Ko. Kami di sini semua sudah sepakat, apa kau mau jika nanti Diva menjadi milik orang lain? Aku harap kau memilih keputusan yang tepat untuk ini," ucap Sean yang menunggu keputusan Sean.


"Jika tuan dan nyonya sudah sepakat, maka aku juga tidak akan menundanya lagi." Jawab Riko yang menyetujui.


"Wuhuu... good uncle, akhirnya kau akan menikah juga." Lagi dan lagi Julian kembali menyahut, tapi kali ini Jennifer membiarkan saja apa yang di lakukan Julian. Dia hanya bisa menggelengkan kepala saja karena bagaimanapun Julian di larang pasti juga dia tetap bertingkah.


"Baiklah, jika kau sudah menyutujuinya maka minggu depan kalian akan melangsungkan acara pernikahan." Jelas Sean.


"Apa tidak terlalu mendadak tuan?"


"Tidak, lebih cepat lebih baik. Tidak ada bantahan, biar yang lain yang mengurusnya. Kalian tinggal mempersiapkan diri dan fitting baju," jawab Sean yang tidak bisa di bantah lagi.


"Baiklah, tuan. Apapun yang anda katakan pasti itu yang terbaik." Jawab Riko. Tidak ada sanggahan atau protes Riko kali ini, jika Sean sudah mengatakannya maka itu adalah keputusan yang baik untuknya atau yang lain.


Ana memandang Diva dengan wajah tersenyum, ada kebahagian yang terukir di sana.


"Lalu bagaimana dengan dirimu, boy?" Sean beralih ke arah Julian.


"Aku kenapa? Aku kan tidak kenapa-kenapa, memangnya ada apa?" Julian bingung di sana.


"Yang di katakan oleh kakakmu tadi siang," Julian melototkan kedua matanya.


"Apa sih, pi. Jangan dengarkan ucapan kan Jen, kenapa papi percaya dengan ucapannya. Tadi dia hanya bercanda saja, kenapa papi menanggapinya serius?" Keluh Julian karena sang papi tengah menanggapi yang di ucapkan oleh Jennifer tadi siang. Jennifer hanya tertawa kecil dengan hal itu, dia tidak mengira jika sang papi akan menanggapinya.


"Kalau beneran juga tidak apa-apa, papi yang akan mengurusnya sekalian. Nanti bisa di langsungkan dengan acara pernikahan Diva," ujar Sean kembali.

__ADS_1


"Tidak, tidak. Jul tidak mau ya pi, Jul masih kecil. Jul masih ingin bermain dan menghabiskan waktu," tDivak Julian.


"Apa selama ini waktu bermainmu tidak cukup?"


"Aaah... ayolah, pi. Kenapa papi menanggapinya serius," Julian berusaha membujuk sang papi.


"Kalau iya aku setuju dengan papi, jodohkan saja mereka biar mereka bisa diam." Sahut Jennifer yang memanas-manasi suasana di sana.


"Diamlah, aku tidak berbicara denganmu. Ini semua gara-gara dirimu kan papi jadi begini," Julian tidak terima di sana.


"Hahaha... aku kan hanya mencarikan jodoh yang tepat untukmu. Dari pada kau nanti mendapat nenek-nenek." Ujar Jennifer meledek Julian di sana.


"Masih banyak wanita di luaran sana, kenapa kau memilihkan dia untukku? Apa tidak ada yang lain?" Julian merasa keberatan.


Tidak ada yang lain lagi, hanya dia yang cocok untukmu. Kalian klop jika di satukan," jawab Jennifer.


"Memangnya kenapa? Apa yang di katakan oleh Jenni padamu?" Ana bertanya pada Sean.


"Memangnya kenapa kau menolak, Jul? Bukankah Fany juga anak yang baik, kau cocok dengannya." Ana ikut menimpali pembicaraan itu.


"Aaahh... kenapa mami ikut-ikutan sekali, kenapa kalian suka sekali jika aku tersiksa dengannya nanti." Keluhnya lagi karena kali ini sang mami ikut menimpali pembicaraan.


"Jangan seperti itu, biasanya yang menolak dengan keras itu akan menjadi jodoh. Awas nanti kalau kau akhirnya jatuh hati dengannya," kali ini Diva yang menyahuti. Ana menanggapinya dengan anggukan.


"Ooowh.. astaga, kenapa tidak ada yang di pihakku sama sekali." Jennifer semakin terkekeh melihat Julian yang terlihat frustasi di sana.


"Bagaimana, boy? Apa kau mau?" ucap Sean kembali. Sebenarnya Sean hanya bercanda untuk hal itu, ia ingin melihat bagaimana reaksi Julian.


"Tidak, aku tidak mau." Jawab Julian dengan tegas di sana.


"Baiklah-baiklah, papi tidak akan memaksamu. Tapi jika kau berubah fikiran bilang saja pada papi, papi akan mengurusnya nanti." Ujar Sean. Julian menggelengkan kepalanya dengan ucapan sang papi.


"Aku doakan kau nanti dengan nenek-nenek," Jennifer tidak henti-hentinya menggoda Julian.

__ADS_1


"Akan aku buktikan jika nanti aku bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik di luar sana," ujar Julian dengan percaya diri sekali.


"Benarkah? Kita lihat saja nanti, aku yakin jika kau akan berpindah haluan melirik Fany." Jennifer mengatakan hal itu dengan sangat yakin.


"Akan aku buktikan jika ucapanmu salah." Julian juga sangat percaya diri dengan apa yang ia katakan itu.


Malam itu menjadi pertemuan keluarga untuk membicarakan masalah pernikahan, sedangkan Jennifer kembali untuk membuat Julian kesal dengan menggodanya. Terlihat sekali jika Julian juga frustasi karena semua keluarganya ikut menggodanya.


Keesokan harinya...


Hari ini yang lainnya tengah berkumpul di mension Sean, Fany, Robert dan Gerald mereka sedang ada di sana untuk bermain-main. Mereka sedang menikmati cemilan yang tersaji di sana, bahkan mereka juga berebut satu cemilan.


"Berikan padaku," Fany merebutnya dari Robert.


"Ya sudah sana bawa, habiskan sekalian dengan wadahnya." Sengalnya pada Fany memberikan cemilan yang bawa tadi. Robert mengambil yang lain untuk dia makan.


"Ihhiiiyy... yang sebentar lagi jadi menikah, gimana tuh perasaannya?" Fany menggoda Diva yang tengah menuruni tangga.


"Aku kan belum pernah menikah, ya tidak tahu lah aku gimana perasaannya. Kenapa kau tidak mencoba saja dengan Julian," Diva membalikkan kata-kata Fany.


"Ogah sekali aku dengannya, lebih baik aku menjomblo dari pada harus sama dia." Ujar Fany dengan memincingkan mulutnya.


"Memangnya kau kira aku mau denganmu? Aku juga ogah sekali," Julian bergidik di sana.


"Sekarang sok-sok ogah, besok juga bakal bucin." Sahut Robert di sana.


"Anak kecil diamlah, tidak usah ikut campur." Sengal Fany padanya. Robert memenyekan bibirnya menirukan Fany.


"Kau benar, Land. Bahkan kemarin mereka di café juga saling suap-suapan, tapi bilangnya ogah di sini." Timpal Gerald yang akan mulai menjahili Julian.


"Jangan mengada-ada ya, tidak ada yang saling suap-suapan. Sepertinya matamu bermasalah," celetuk Fany pada Gerald.


"Benarkah? Lalu ini apa?" Gerald menunjukkan foto yang ada di ponselnya, yang mana foto itu terlihat jika Fany terlihat menyuapi Julian. Julian yang mendengar hal itu seketika berjinggat untuk melihatnya, Julian melototkan kedua matanya setelah melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2