Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 244


__ADS_3

Perbedaan itulah yang membuat warna dari keluarga. Bukan menjadi masalah dalam satu keluarga memiliki sifat dan sikap berbeda, yang terpenting adalah hidup rukun, akur dan saling support satu sama lain. Di keluarga Johnson bukan hanya Julian yang memiliki sifat random, masih ada Diva yang juga sama seperti dirinya, tetapi Julianlah yang paling parah di bandingkan dengan Diva.


Walaupun terkadang pusing dengan tingkah Julian, tetapi keluarga Johnson hidup rukun dan bahagia. Ana dan Sean yang memiliki hidup tenang berubah menjadi ekstra sabar dengan adanya Julian. Meskipun suka membuat pusing, tetapi sikap Julian yang berbeda itu memberi warna baru untuk keluarga mereka.


"Kau pasti sangat rugi jika tidak memiliki Adik seperti aku." Terlihat sekali jika Julian membanggakan dirinya sendiri.


"Justru aku sangat rugi memiliki Adik sepertimu. Uang jajanku habis karenamu, padahal uang jajanmu juga banyak. Kau terlalu banyak tingkah dan menyebalkan, kau itu sangat sangat sangat menjengkelkan." Jennifer mengeluarkan uneg-unegnya di sana.


Namun yang di ucapkan Jennifer bukanlah yang sebenarnya, itu hanya gurauan yang di tujukan pada Julian. Bagaimana pun juga, Jennifer juga sayang pada Julian, ia sebenarnya juga bangga memiliki adik seperti Julian yang bisa di andalkan.


"Yang kau katakan itu sebaliknya, kau pasti sangat beruntung memiliki Adik sepertiku." Julian dengan percaya dirinya mengatakan itu. Julian selalu menanggapi ucapan orang lain dengan ketengilannya, dia juga tidak pernah marah dengan apa yang di katakan oleh Jennifer padanya. Dia tahu kalau ucapan Jennifer pasti tidak benar, itu hanya wujud kekesalannya saja.


"Apa wajahku terlihat berbohong?" ketus Jennifer yang tidak menampilkan wajah ramahnya. Dirinya sudah sangat kesal dengan Julian hari ini. Bagaimana tidak kesal coba, Julian yang mengajaknya untuk ke mall mencari barang couple, justru dirinya yang membayarnya.


Julian memandang wajah Jennifer dengan lekat." Haaiisshh... aku tahu siapa dirimu, Jen. Aku tahu yang kau ucapkan itu tidak sungguh-sungguh."


"Siapa sebenarnya di sini yang Kakak dan Adik?" protes Jennifer karena Julian tidak memanggilnya dengan embel-embel kakak. Bukan maksud apa-apa Jennifer protes, tetapi agar tidak menjadi kebiasaan Julian memanggil yang lebih tua hanya dengan nama saja.


"Hahaha... baiklah-baiklah. Aku hanya bercanda, kau serius sekali."


"Terserah!" Jennifer sudah terlihat sangat jengah dengan Julian. Ia memilih untuk melanjutkan memakan makanan miliknya dari pada harus meladeni ucapan Julian. Hanya memakan dan membuang-buang tenaga saja jika beradu mulut dengan Julian.


Julian juga akhirnya memutuskan melanjutkan memakan makanan miliknya. Terlihat jika sedikit jauh ada yang tengah mengintai mereka. Tanpa berlama-lama orang itu pun pergi dari sana sebelum ketahuan.


Skiippp....

__ADS_1


Jennifer melangkahkan kakinya masuk ke dalam mension, wajahnya masih terlihat sangat kesal di sana. Sekali dirinya ngambek, maka akan lama untuk pulihnya. Kalau saja Julian bukan adiknya, mungkin sudah ia cekik terlebih dulu.


"Kemana saja, kalian? Kenapa lama sekali?" sahut seseorang saat Julian dan Jennifer sudah berada di mension. Julian dan Jennifer menoleh secara bersamaan saat mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka.


"Sejak kapan kau di sini? Perasaan aku tidak mengundangmu datang ke sini," ucap Julian saat tahu ada siapa yang datang ke mensionnya.


"Aku tidak menemuimu, aku menemui tunanganku," jawabnya. Siapa lagi dia kalau bukan Gerald, sudah sedari tadi dirinya di sana menunggu kepulangan Jennifer.


"Tapi ini mensionku juga. Ada Jen, pasti ada aku juga ." Seperti biasa, Julian tidak akan mau kalah untuk berdebat.


"Kalau kau meladeninya berarti kau sama saja dengan dia." Jennifer bersuara. Sudah cukup dirinya tadi kesal, sekarang malah melihat dua orang yang saling beradu mulut.


"Sejak kapan kau di sini?" Jennifer mendekat dan mendudukkan dirinya di sebelah Gerald.


"Eeemm... aku berada di sini sejak tadi."


"Tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu waktu kalian berdua. Menyenangkan juga aku menunggumu, kebetulan aku sedang free, jadi aku ke sini untuk mengunjungimu." Dengan halus Gerald mengatakan pada Jennifer. Awalnya dirinya juga sebenarnya dirinya ingn menyusul, tetapi Gerald memberikan waktu berdua untuk 2 saudara itu.


"Helleh... jangan bersikap sok manis. Sangat membosankan sekali," sahut Julian dengan mencebikkan bibrinya.


"Kau tidak perlu iri. Kau lakukan saja dengan pasanganmu."


"Hah? Aku? Iri? Tidak ada di kamusku kata iri. Apa itu kata iri aku tidak mengenalnya." Julian bersikap sedikit sombong di hadapan Gerald. Sepertinya setelah ini mereka akan adu mekanik.


"Lalu, apa?"

__ADS_1


"Aku tidak iri denganmu. Tapi melihat kau bersikap lembut seperti itu membuat mataku gatal melihatnya.


"Kau tidak perlu melihatnya. Aku tidak memintamu untuk melihatku!"


"Aku masih memiliki dua mata yang berfungsi sangat bagus," bantah Julian yang tidak mau kalah.


"Ya sudah tutup saja kedua matamu itu!”


Jennifer menghembuskan napasnya kasar melihat ke dua pria yang ada di depannya. Kesal dan pusingnya berlipat-lipat saat ini, karena Gerald dan Julian tidak ada bedanya. Jennifer memutuskan untuk pergi dari sana menuju kamar miliknya dari pada harus mendengar dan melihat drama yang tidak akan selesai-selesai itu.


Jennifer membiarkan ke dua orang itu asik beradu mulut dari pada harus memisahkannya. Kalau lelah juga pasti akan berhenti sendiri. Gerald dan Julian masih terlibat adu mulut, Jennifer memutuskan untuk mengunci rapat-rapat pintu kamarnya.


"Tuan Muda." Julian menoleh ke arah anak buahnya yang tengah memanggilnya.


"Apa?" Julian menyahutinya dengan singkat.


"Ada sedikit gerak gerik mencurigakan di luar sana, Tuan Muda," ucapnya terjeda.


"Lanjutkan sampai kau selesai, aku tidak mood berbicara banyak." Anak buahnya itu mengangguk memahami.


"Beberapa hari ini ada yang mengawasi Anda dan keluarga Johnson yang lainnya, Tuan Muda. Kami belum tahu pasti siapa yang tengah melakukannya. Sepertinya, dia bukan dari sini," jelasnya singkat pada Julian.


"Siapa yang ingin bermain-main denganku!?" Julian berpikir-pikir, karena dirinya merasa jika tidak pernah melakukan penyerangan beberapa bulan ini. Namun mengingat di mana dia berasal, pasti ada saja yang memantaunya ataupun ingin menyerangnya.


Julian kembali mengingat-ingat siapa saja yang tengah berhadapan dengannya selama ini. Julian juga mengingat saat dirinya berada di jembatan Sungai Spree yang saat ini salah satu mafia yang ia temui saat di venezuela waktu lalu.

__ADS_1


'Apa dia? Siapa dia sebenarnya? Tidak mungkin jika waktu di Venezuela dan waktu kemarin hanya kebetulan' bathin Julian dalam hatinya.


"Kenapa aku tidak menanyakan namanya juga?" gumam Julian pelan mengingat orang tersebut. Julian mencurigai orang yang tidak sengaja ia temui kemarin. Tidak semua Julian hapal dan tau nama-nama ataupun wajah musuhnya, jika bertemu setiap hari setiap detik mungkin dia hapal dengan semuanya.


__ADS_2