Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 88


__ADS_3

Mension Sean...


la sampai di mensionnya pukul 11 malam. la membahas banyak hal bersama Riko di markas, sampai-sampai kelewat jam mereka berbicara.


Sean masuk ke dalam dengan membawa beberapa paper bag dan dilihatnya suasana mension sudah sangat sepi karena semua orang mungkin sudah tertidur.


la melangkah menuju kamar twin J. Pintu terbuka dan memperlihatkan twin j sudah tertidur lelap. Sean mengelus pucuk kepala Jennifer dan mencium lembut. Setelah itu ia beralih ke Julian dan melakukan hal yang sama pada keduanya.


Tanpa berlama-lama Sean menuju kamar lantai atas di mana Ana berada di sana sedang tidur.


Di bukanya pintu kamar, ia melihat jika Ana belum tidur. Dirinya masih duduk di pinggiran kasur dengan membawa buku di tangannya. Entah apa yang ia baca, sepertinya sangat serius.


"Kenapa belum tidur?" ucap Sean saat baru masuk. Ana mendongakkan kepalanya melihat siapa yang baru saja tiba.


"Aku belum bisa tidur. Aku membaca buku ini." Jawab Ana dengan menunjukkan buku yang ia bawa.


Sean meletakkan beberapa papper bag yang ia bawah. "Apa yang kau bawa? Banyak sekali." Tanya Ana penasaran.


"Aku ada sesuatu untukmu." Jawab Sean mengambil satu kotak berukuran sedang dari paper bag itu.


"Apa itu?" tanya Ana lagi. Sean membuka kotak itu.


Mata Ana terbelalak melihat kalung yang berhias berlian itu. "I-ini... kalung berlian?" tanya Ana terbata. Padahal belum apa-apa bagi Sean, jika saja tadi Sean yang mencarikan untuknya, mungkin kalung itu menyeluruh melingkar dengan butiran-butiran berlian.


"Aku pakaikan." Sean mengambil kalung itu dari kotaknya.


Sean pun memakaikan Ana kalung yang ia bawa. Ana memegang bandul dari kalung itu.


"Apa aku pantas memakainya?" tanya Ana berbalik menghadap ke arah Sean. Sean tersenyum melihatnya.


"Kau sangat cantik dan cocok memakainya." Jawab Sean sambil memandang wajah Ana. Wajah Ana semakin terlihat cantik meskipun dia sudah menjadi ibu dari dua anak sekaligus.


"Jangan pernah melepasnya."


"Memangnya kenapa?"


"Kau sama sekali tidak memakai perhiasan, biarkan kalung ini melekat di dirimu." Jawab Sean yang tidak memberitahu apa alasan sebenarnya.


"Ini pasti harganya sangat mahal." Ucapnya melihat kalung sudah bertengger di leher jenjangnya.

__ADS_1


"Tidak seberapa. Cuma enam belas ribu Euro." Jawab Sean. Seketika Ana melototkan matanya mendengar harganya.


"Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya memastikan.


Sean hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Itu jumlah yang sangat banyak Sean, mungkin aku bisa gunakan itu untuk makan selama satu tahun." Ucap Ana yang tidak kalah kaget dari Rika mendengar harga kalung itu.


Sean terkekeh mendengar jawaban dari Ana. Padahal barang yang dia pakai sehari-hari pun ada yang kisaran harga fantastis. Tapi memang Ana tidak tahu.


"Dirimu memang beda dari wanita lain, di saat mereka memikirkan barang mahal dan branded, yang kau pikirkan hanya makan." Ucap Sean mencoba menggoda Ana.


"Makan kebutuhan utama, kalau tidak makan nanti bisa mati kelaparan." Jawab Ana sedikit merasa sewot. Sean kembali terkekeh mendengar jawaban Ana yang terlihat kesal.


"Lalu, yang lainnya itu apa?" tanya Ana lagi.


"Itu buat Diva dan twin J. Aku sengaja belikan kalian hadiah." Ucap Sean tersenyum.


"Benarkah. Coba lihat punya twin." Ana antusias. Sean mengambil paper bag lain dan membuka milik twin J.


Kotak itu berisi dua gelang couple rantai dan memiliki nama. Bahkan di samping nama mereka terdapat lambang mahkota.


"Tidak. Temanmu tadi yang memilihkan." Jawab Sean dengan jujur. Ana mengerutkan keningnya.


"Tadi aku menyuruh James untuk mencarikan semua barang ini karena pekerjaan tidak bisa aku tinggal. Aku memberikan waktu utnuk mereka berkencan sementara waktu." Terang Sean yang mengerti ekspresi Ana.


"Maksudmu... James dan Rika?" Ana bertanya memastikan. Sean hanya mengangguk menanggapi Ana.


"Jadi, mereka sudah berpacaran. Kenapa tidak memberitahuku dia. Awas saja orang itu." Ucap Ana menggebu-nggebu.


"Sudah, ayo tidur. Sudah malam, kita besok akan pergi ke mension utama."


Ana menerima ajakan dari Sean karena memang dirinya juga sudah mengantuk. Mereka tidur di bawah selimut yang sama.


Pagi harinya...


Bertepatan hari ini adalah hari minggu, jadi Diva saat ini sedang bermain santai dengan adik-adiknya yang sedari sudah terbangun.


Saat ini Ana sedang bersiap untuk mengemas barang-barang mereka untuk di bawa ke mension utama. Jadi, Diva sedang duduk santai bersama twin sambil menunggu sang aunty.

__ADS_1


Twin J memang diam kalau bersama Diva, tapi tidak pernah aman. Tingkahnya pasti membuat Ana akan naik darah.


Kali ini, twin J di berikan Ana tablet untuk mereka menonton.


Tiba-tiba saja Julian mendorong tubuh Jennifer hingga jatuh terjerembab. "Eh.. eh... apa yang sudah kau lakukan Jul? Jangan nakal." Tegur Diva pada Julian. Julian ingin menguasai apa yang mereka tonton sepertinya.


Diva membantu Jennifer untuk berdiri dan duduk bersamanya. "Juull..." ujar Jennifer menunjuk ke arah Julian yang masih asik menonton.


Sepertinya dia mengadu pada Diva kalau Julian sudah mendorongnya. Untung Jennifer bukan anak yang cengeng, jadi dia tidak sampai menangis.


"Iya... biarkan saja oke. Nanti kita tinggal sendiri dia, biar tidak ada teman bermain ljulnya." Ucap Diva. Jennifer hanya mengangguk dengan lucunya.


Diva memberikan cemilan pada Jennifer, mereka hanya menikmati berdua tanpa Julian. Jennifer menggambil lagi dan lagi cemilan itu dari bungkusnya menggunakan tangan mungilnya.


Julian yang melihat kedua kakanya sedang menikmati cemilan itu pun mendekat. "Mamamam..." ucapnya.


"Tidak boleh. Kau sudah nakal, harus di hukum." Ucap Diva. Jiwa jahilnya sepertinya mulai muncul di dalam dirinya.


Diva sengaja mengambil cemilan dan memakan di depan Julian berniat mengiming-imingnya.


Julian merengek meminta snack itu dari Diva. Hingga dirinya menghentakkan kakinya marah.


"Tidak ada untuk Ijul." Ucap Diva lagi. Jennifer sedari tadi diam menikmati cemilan yang ia ambil.


Julian merengek menghentakkan kakinya hingga menangis.


"Ni... ni...ni..." Diva pun akhirnya memberikan snack itu pada Julian agar tidak menangis kejjer dia.


"Kau ini laki-laki, kenapa cengeng sekali? Bagaimana kalau kau sudah besar? Pasti semua cewek kabur darimu kalau tahu dirimu itu cengeng." Ejek Diva pada Julian. Jiwa Julid Diva mulai keluar, untung saja Julian belum begitu faham dengan apa yang di katakana Diva. Jika sudah beranjak dewasa mungkin akan berdebat setiap hari.


Pukk...


Wajah Diva mendapat pukulan dari Julian.


"Kau ya, Jul. Lama-lama aku buang ke laut kau." Geram Diva.


Pukk...


Julian kembali memukul wajah Diva dengan keras kali ini.

__ADS_1


"Ayo, Jen. Kita tinggal saja anak ini." Ajak Diva pada Jennifer. Jennifer pun beranjak dan mengikuti langkah Diva. Julian di tinggalkan sendiri di sana, tapi dirinya sepertinya tidak peduli jika kedua kakaknya meninggalkannya. Ia menikmati snack yang di berikan oleh Diva tadi.


__ADS_2