
"Lah, mobilku kenapa bisa di mensionmu, Jul? Bukannya Jenni tadi yang membawanya, ya?" tanya temannya bingung karena mobil miliknya yang di bawa oleh Jennifer tadi berada di halaman mension Julian.
"Udah masuk saja, nanti juga tahu sendiri." Jawab Julian.
"Ma...."
"AUNTYY....." sebelum Julian berteriak, Fany sudah mendahului berteriak di sana. Semua yang ada di sana menutup telinga karena mendengar teriakan Fany yang sangat cempreng.
Julian memberikan jendulan pada Fany setelah dirinya berteriak, "jangan teriak-teriak di rumah orang, tidak sopan." Sengal Julian padanya.
"Kenapa kau ini?" kesal Fany yang tidak terima mendapat jendulan dari Julian.
"Memangnya kau juga bagaimana kalau bertamu, hah?" Fany tak kalah membentak Julian. Karena kebiasaan Julian juga suka berteriak-teriak jika datang bertamu ke kediamannya dan Robert. Ia berteriak sesuka hati seperti di hutan.
Teman-teman Julian hanya bisa memandang heran pada keduanya. Kalau Robert, dia sudah biasa melihat kedua orang itu bertengkar. Mereka memang tidak pernah akur sedari kecil.
"Sudah jangan rebut, cepat masuk. Ajak teman-temanmu, Julian." Suara Ana terdengar. Dirinya tadi segera keluar setelah mendengar teriakan suara yang sangat ia kenal.
Julian pun mengajak teman-temannya masuk ke dalam mension, Fany berlari terlebih dahulu mencari Jennifer yang ada di dalam. Ia sepertinya tidak bisa jauh-jauh dari Jennifer.
Mereka semua yang memang baru pertama kali datang ke mension Julian itu terkagum-kagum melihat kemewahan dan kemegahan di sana. Selama masuk di gymnasium, memang baru pertama kali ini Julian membawa teman-temannya ke mensionnya. Bukannya apa, karena memang tidak bisa sembarang orang untuk datang ke sana.
"Ini rumah atau istana?" gumam salah satu teman Julian.
"Jangan malu-maluin." Sahut salah satunya. Teman-teman Julian terdiri dari tidak orang di sana.
Salah satu dari mereka yang melihat foto keluarga cukup besar terpajang di sana itu pun memukul pundak teman yang lainnya.
"Apa siihh.." sengalnya karena bahunya mendapat pukulan.
"Lihat foto itu?" tunjuknya. Ia melihat foto di sana yang terdiri dua lelaki dan tiga perempuan.
"Jul... bukankah perempuan yang satunya itu Jenni? Apa kalian memang ada hubungan khusus, sampai-sampai dia ada di foto keluarga kalian?" tanyanya pada Julian.
"Kita duduk dulu, nanti aku jelaskan." Ajak Julian pada teman-temannya.
Beda lagi dengan Fany yang sudah bercengkrama asyik dengan Jennifer di ruang berkumpul di sana.
__ADS_1
Julian dan semua teman-temannya duduk di sofa yang ada di sana. Mereka melihat peredaan Jennifer saat di sini dan di sekolah. Jenni terlihat lebih hangat saat berbicara dengan Fany di sana.
Para maid membawakan minuman dan beberapa cemilan untuk Julian dan teman-temannya. Ana memilih untuk menuju ke taman belakang untuk melihat bunga-bunganya. Ia membiarkan Julian bersama teman-temannya agar lebih leluasa.
"Jul... Jull... coba jelaskan foto tadi." Ucapnya yang memang benar-benar penasaran.
"Foto mana?" Julian berlagak lupa.
"Jangan pura-pura lupa." Kesal salah satu temannya pada Julian.
"Memang apa yang harus aku jelaskan pada kalian?"
"Itu... kenapa bisa foto Jenni ada di foto keluarga kalian?"
"Ya kan dia saudara kembar gua, ya pasti lah dia ada di foto keluarga sana." Jawabnya dengan santai. Salah satu temannya yang sedang meneguk minuman itu pun menyemburkan keluar mendengar jawaban dari Julian.
"Gila ni anak." Marah mereka yang terkena semburan.
"Sorry-sorry..." ujarnya menyengir kuda.
"Apa yang kau katakan serius?" lanjut mereka dalam perbincangan.
"Iyaa-iyaa santaiii..." sengalnya pada Fany.
"Jadi...???" tanya mereka bersamaan.
"Iya... Jenni sebenarnya saudara kembarku. Dia kakakku, memang papi sengaja menutup identitasnya selama ini. Mereka memang tahu kalau papi dan mami memiliki anak perempuan, tapi papi tidak pernah menunjukkan kak Jen di depan publik. Dia juga selama ini
tinggal bersama grandma dan grandpa," jelas Julian pada teman-temannya.
"Kenapa seperti itu?" tanya mereka yang penasaran.
"Kau tanyakan saja pada papi." Jawab Julian yang sangat mengesalkan.
"Pantas saja kalian sering pergi bersama, belum lagi kalau lo sangat marah."
"Jelas lah gue marah, orang gue, mami dan papi saja tidak pernah berbuat kasar pada dia." Sengal Julian.
__ADS_1
"Ehh... tapi, gimana Cindy nanti kalau tau jika Jenni sebenarnya saudara kembar lo. Dia kan mengancam mengeluarkan Jenni tadi."
Julian pun mengingat-ingat ucapan yang Cindy katakana, apalagi tadi Jennifer sudah mematahkan tangan Cindy.
"Kau benar juga, papi pasti akan merobohkan sekolah itu kalau tau permasalahannya." Jawab Julian membayangkan bagaimana sang papi nanti yang akan marah jika tahu Jennifer sudah mendapat perlakuan kasar dari orang lain.
Julian berfikir keras kali ini, bagaimana nanti jika sang papi tahu. Tapi, Julian juga tidak mungkin membiarkan sang kakak di keluarkan begitu saja karena memang dia tidak bersalah. Meskipun dirinya tidak tahu apa yang terjadi sebelum-sebelumnya, tapi Julian sangat tahu bagaimana sang kakak. Dia tidak akan bertindak jika tidak ada yang mengusik dirinya.
Malam hari...
Julian datang ke kamar Jennifer untuk membicarakan sesuatu. Jennifer yang tau kehadiran sang adik itu pun menaikkan sebelah alisnya, karena tidak biasanya jika Julian datang ke kamarnya.
"Apa?" tanyanya singkat.
"Kau ketus sekali," ucap Julian dengan komuknya yang tidak bisa di kondisikan. Jennifer memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Aku mau bertanya padamu." Jennifer menaikkan sebelah alisnya lagi.
"Jawab jujur. Apa orang yang kau maksud kemarin bermain-main denganmu itu, Cindy?"
"Kau bisa kira sendiri." Jawab Jennifer singkat.
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku jika dia selalu mengganggumu?" kali ini Julian sedikit meninggikan suaranya.
"Aku bisa menanganinya sendiri,” jawabnya.
"Ya... bukan begitu, Jen. Aku di sini saudaramu, payah sekali aku jika tidak tahu apa yang terjadi denganmu selama tidak bersamaku." Terang Julian yang merasa jika dirinya tidak berguna untuk sang kakak.
"Jangan salahkan dirimu, aku tidak mengatakan padamu karena memang aku bisa mengatasinya sendiri."
"Tapi, bagaimana jika papi tahu akan hal ini? Pasti dia akan sangat marah," ujar Julian.
"Kau jangan bilang masalah ini pada papi, aku tidak mau merepotkannya."
"Tapi, Cindy akan mengeluarkanmu. Bagaimana aku bisa diam saja ketika melihat dirimu di keluarkan, padahal bukan dirimu yang salah."
"Percaya padaku, oke. Aku akan mengatasi hal ini, jangan beritahu papi. Ini adalah masalahku sendiri, Jul." Jennifer memohon pada sang adik.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak janji." Jawab Julian.
"Aaahh... ayolah, Jul. Kau kan adikku yang baik hati dan tidak somboong." Jennifer mengedipkan kedua matanya pada Julian. Bukannya terpengaruh, justru Julian merasa ngeri ketika Jennifer bersikap seperti itu.