
Jika di rumah dia selalu kalah dengan Rika dan Fany, tapi di luar dia yang tidak mau kalah dengan lainnya.
"Kami kembali dulu, kau tenangkan dirimu. Semoga lancar tidak ada halangan apapun untuk kalian, semoga pernikahan kalian awet samai maut memisahkan." Pamit James sebelum Sean marah padanya nanti.
"Semoga lancar dan di permudah, kau harus ingat, jaga nona dengan baik-baik. Berikan dia kasih sayang dan kebahagiaan." Tutur Erick yang di angguki oleh Riko.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing dan membantu Sean untuk bersiap. Di sana tinggal ada Riko yang menerawang jauh bagaimana kehidupannya setelah ini, tiba-tiba saja ia berfikir bagaimana nanti jika dirinya tidak bisa membahagiakan Diva untuk waktu lama.
Hari yang di tunggu telah tiba, kini adalah hari di mana Diva dan Riko akan mengucapkan janji suci sekali seumur hidup mereka. Pengucapan janji tersebut akan di lakukan di halaman salah satu hotel ternama yang ada di sana, untuk resepsi nanti juga akan di adakan di tempat yang sama. Diva masih sibuk dengan para perias yang merias dirinya.
"Anda sungguh cantik, Nona. Bak seorang putri kerajaan," puji perias itu. Diva melihat hasil dandanan para perias-perias itu.
Tidak lama kemudian, Sean dan Ana datang menghampirinya Diva yang baru saja selesai di make up dengan membawa sekotak merah di tangannya. Para perias itu mundur dan memberi ruang keluarga itu untuk berbincang.
"Cantiknya ponakan Aunty ini," puji Ana melihat make up yang di pakai Diva terlihat sangat pas, tidak berlebihan.
"Aunty, terima kasih sudah merawat Diva selama ini. Maafkan Diva jika Diva selalu membuat Aunty marah karena kenakalan Diva." Diva memeluk Ana di sana.
"Apa kau melupakan Uncle?" Sean merasa sedikit cemburu karena ia terabaikan di sana. Diva beralih menatap sang uncle.
"Bagaimana aku melupakanmu, Uncle. Justru Diva sangat berterima kasih pada Uncle yang sudah merawat Diva sejak kecil, pasti sangat susah apalagi permintaan Diva yang tidak ada habisnya," ucap Diva pada Sean.
__ADS_1
"Terima kasih Uncle, Aunty. Kalian sudah menjadi orang tua ke dua Diva, berkat kasih sayang Aunty dan Uncle, Diva tumbuh seperti saat ini. Kalau tidak ada Aunty dan Uncle, Diva tidak tau jadi apa sekarang. Terima kasih," sambungnya.
"Kau tidak perlu mengucapkan itu, Diva. Itu sudah kewajiban Aunty dan Uncle menjagamu, kau dan twin tidak ada bedanya. Kau sudah seperti anak Uncle dan Aunty, sekarang waktunya dirimu menjemput kebahagiaanmu." Sean memeluk Diva. ia menggantikan peran orang tua Diva yang sudah tidak ada lagi.
"Jangan pernah bersedih, Diva. Dirimu tidak sendiri di sini, ada Aunty, Uncle dan twin. Grandma grandpa juga ada, jangan pernah merasa sendiri. Kami semua menyayangimu, dan sekarang kau sudah menemukan teman hidupmu. Aunty selalu berdoa untuk kebahagianmu selalu," ujar Ana yang melihat Diva ingin menumpahkan air matanya.
"Ini adalah harimu, Diva. Jangan pernah bersedih di hari bahagiamu, mama dan papamu pasti tidak suka melihat ini. Sekarang ayo kita turun, semua orang sudah berkumpul di sana." Diva menghapus kedua matanya mendengar ucapan sang uncle.
Sean meminta kotak yang berada di tangan Ana dan membukanya, kotak itu berisi kalung dengan berbandul bulan dan di tengahnya terdapat bintang kecil. Bandul tersebut di penuhi dengan berlian yang berkilau.
"Ini adalah kalung yang dulu pernah di pakai oleh mamamu, Uncle menyimpannya untuk kau kenakan nanti. Dan sekarang Uncle sendiri yang akan memakaikan padamu." Sean mengambil kalung itu dari kotak yang ia bawa, Sean memberikan kotak tadi kepada Ana kembali.
Diva kembali berkaca-kaca melihat kalung itu, Sean segera memakaikannya di leher Diva.
"Sekali lagi terima kasih, Uncle." Diva kembali berhambur ke pelukan sang uncle. Sean menepuk pelan punggung Diva agar merasa tenang.
"Sudahlah, mau sampai kapan kau berada di sini? Jangan pernah bersedih, nanti kau terlihat jelek. Sekarang kita turun, semua orang sudah menunggu." Sean memberikan tangannya yang kokoh pada Diva, Diva menggaitkan tangannya dengan tersenyum. Ana ikut tersenyum melihat suami dan keponakannya yang nampak saling menyayangi.
Mereka segera turun dan menuju altar, dimana mempelai pria di sana sudah menunggu. Ana berjalan di belakang keduanya.
Semua orang memandang kedatangan Diva yang sedang di gandeng oleh Sean, Ana menuju ke tempat yang sudah di sediakan untuknya dan keluarga yang lainnya. Di sana Fany dan Jennifer bersiap di posisinya dengan membawa keranjang berisi bunga untuk di taburkan.
__ADS_1
"Jangan grogi, tenangkan dirimu. Sambut pengantinmu, dia terlihat sangat cantik bukan." James menepuk lengan Riko lalu kembali menuju ke tempat yang sudah tersedia untuknya di sana.
Sean membawa Diva berjalan menuju altar, Riko tengah berdiri menunggu kedatangan Diva dengan senyum di wajahnya. Senyum itu tidak pudar sama sekali, bahkan wajahnya tidak terlihat tegang. Jennifer dan Fany mulai menaburkan bunga untuk Diva bersama dengan yang lainnya.
"Aku berikan Diva kepadamu, jaga dia baik-baik, kau sudah tau bukan apa resikonya jika dirimu menyakitinya?" ucap Sean yang memang berbeda dari yang lain. Di saat yang lainnya berkata lembut, maka Sean dengan sedikit mengancam Riko di sana.
"Aku akan menjaganya segenap hidupku," jawab Riko yang tidak merasa takut sama sekali. Sean memberikan tangannya dan di terima dengan Riko dengan senang hati. Sean turun dan berkumpul dengan Ana di sana.
Diva dan Riko menghadap pendeta yang berada di sana, "apa kalian sudah siap?" tanya pendeta pada keduanya.
"Siap pak pendeta," jawab keduanya bersamaan.
"Tuan Riko Austerlitz, bersediakah engkau menjadikan Nona Diva Alecia William sebagai pendamping hidupmu? Bersediakah engkau mencintainya dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang dan menjaganya sampai akhir hayat?" Ucap sang pendeta.
"Aku Riko Austerlitz, menyatakan di hadapan Tuhan, bahwa aku bersedia menjadikan FebiDiva Alecia William sebagai pendamping hidupku satu-satunya. Menerimanya dalam suka ataupun duka, dalam keadaan sakit ataupun sehat, dalam susah ataupun senang dan selalu mencintai dan menjaganya sampai akhir hayatku," ucap Riko dengan lantang.
Pendeta pun beralih menatap kearah Diva.
"Nona FebiDiva Alecia William, apakah engkau menerima tuan Riko Austerlitz sebagai suamimu? Menerimanya dalam suka ataupun duka, dalam sakit ataupun sehat, dalam senang maupun susah serta saling mencintai satu sama lain?"
"Iya... aku bersedia." Jawab Diva. Semua tamu undangan bersorak tepuk tangan mendengar jawaban dari Diva. Akhirnya mereka sudah sah menjadi suami istri.
__ADS_1
"Dihadapan Tuhan dan para saksi, kalian resmi menjadi suami istri. Untuk mempelai pria, di persilahkan untuk mencium mempelai wanita," Ucap pendeta setelah pengucapan jani suci.