
"Apa yang sedang kau baca? Serius sekali," ucap Julian melihat sang kakak membawa selembaran kertas di tangannya.
Julian mencoba mengintip apa yang sedang Jennifer baca di sana. Kebetulan ke duanya kali ini berada di markas.
"Data siapa yang ada di tanganmu itu?" tanya Julian kembali setelah melihat isi dari lembaran yang di bawa oleh Jennifer.
"Ini? Hanya sebongkah kerikil." Jennifer tersenyum miring dengan mengangkat selembaran di tangannya. Jennifer melembar lembaran itu ke atas meja lalu menyelipkan rambut panjangnya ke telinga bagian belakang.
"Sebongkah kerikil? Apa ingin aku bantu?" tawar Julian.
Julian pasti faham dengan apa yang di maksud oleh Jennifer. Sebongkah kerikil yang di maskud berarti ada yang tengah mengganggu. Namun, itu hanya hal sepele bagi Jennifer jika dia menganggapnya sebongkah kerikil.
Pasti itu adalah masalah yang ia lihat tadi saat Gerald bersama dengan wanita asing. Ternyata Jennifer bekerja cepat juga dia, dia mencari tahu lebih awal.
"Tidak perlu. Kau fokus saja pada Fany. Hanya berhadapan dengan seorang obsesi tidak sulit untukku," tolak Jennifer.
"Paling kau ingin membantuku juga ada niat sesuatu darimu," sambung Jennifer.
"Astaga! Kenapa kau menuduhku sembarangan. Tentu saja tidak ada maksud apa-apa. Siapa pun yang mengganggumu tentu saja aku harus pasang badan," pekik Julian saat mendapat tuduhan dari Jennifer.
Tentu saja dirinya pasti akan menjadi garda terdepan untuk sang kakak kalau terjadi sesuatu. Apa lagi ada yang mengganggunya.
"Tapi... siapa yang berani bermain denganmu? Aku tidak yakin orang itu akan baik-baik saja di tanganmu," tebak Julian.
Jennifer terlihat tenang selama ini tidak ada gangguan, saat seperti ini dia akan menunjukkan tanduknya. Julian sangat faham dengan kakaknya itu.
"Yaah... semoga saja dia selamat." Jawaban Jennifer tidak meyakinkan. Pasti dia akan melakukan sesuatu pada wanita itu.
"Aku tidak yakin dari jawabanmu itu." Julian nampak
ragu dengan kakaknya sendiri. Siapa yang tidak ragu kalau melihat lagat Jennifer. Nampaknya saja biasa, kalau sudah melakukan aksinya bisa habis nanti.
petakilan dan satunya lagi terlihat tenang dan santai seperti tidak ada apa-apa. Namun, mereka juga bisa lebih ganas kalau berhadapan dengan musuh.
"Kau yakin tidak memerlukan bantuanku?" tawar Julian lagi pada Jennifer.
"Kau meragukanku?"
"Tidak. Aku kan hanya menawarimu saja. Siapa tahu kau butuh tangan tambahan." Julian menaik turunkan ke dua alisnya dengan ekspresi menjengkalkan.
Jennifer memandang sedikit sinis pada Julian." Tidak perlu! Ujung-ujungnya kau pasti ada maksud sesuatu."
Memang sikap twin J itu berbeda, yang satu sangat petakilan dan satunya lagi terlihat tenang dan santai seperti tidak ada apa-apa. Namun, mereka juga bisa lebih ganas kalau berhadapan dengan musuh.
"Kau yakin tidak memerlukan bantuanku?" tawar Julian lagi pada Jennifer.
"Kau meragukanku?"
"Tidak. Aku kan hanya menawarimu saja. Siapa tahu
kau butuh tangan tambahan." Julian menaik turunkan ke dua alisnya dengan ekspresi menjengkalkan.
Jennifer memandang sedikit sinis pada Julian." Tidak perlu! Ujung-ujungnya kau pasti ada maksud sesuatu."
Jennifer kembali menolak tawaran Julian. Jennifer sudah hapal dengan trik dari adiknya, nanti pasti ujung-ujungnya dia akan meminta sesuatu darinya. Entah itu uang, tlaktiran atau yang lainnya.
Lebih baik Jennifer memilih melakukannya sendiri. Karena ini adalah masalah dirinya, jadi Jennifer memutuskan untuk mengatasinya.
"Kenapa kau bisa tahu?" dengan polosnya Julian berkata seperti itu. Sudah bisa di tebak sekali kalau pasti ujung-ujungnya nanti Julian ada mkasud tersembunyi.
"Trikmu terlalu klasik!" jawab Jennifer dengan ketusnya. Setelah mengucapkan itu Jennifer beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Pria di seberang sana terlihat sedikit kesal dan khawatir saat panggilan telponnya tidak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali dia mencobanya tetapi sama saja.
"Ke mana pergimu, Babe? Kenapa kau tidak menjawab telfonku?" gumamnya. Ia kembali melakukan panggilan lagi, tetapi jawabannya tetap sama, tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
Gerald, sedari tadi dia menghubungi Jennifer tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Saat di kampus dia tidak melihat keberadaan jennifer sama sekali, maka dari itu dia mencoba menghubungi Jennifer. Hingga akhirnya dia sedikit kesal karena tidak ada jawaban dari sang kekasih.
"Tuan Muda." Badannya sedikit menunduk sebagai tanda penghormatan pada tuannya?"
la pun berbalik ke arah sumber suarah. "Bagaimana
"Menurut dari laporan yang saya dapat, wanita itu tiba di sini semalam. Dia sengaja datang ke sini untuk mendekati Tuan Muda. Dia masih mengincar Anda, Tuan Muda," jelasnya.
"Wanita itu benar-benar gila!" Gerald terlihat sangat kesal di buatnya.
"Dan untuk Nona Muda Jhonson, tadi... dia sempat melihat saat Anda bersama dengan wanita itu, Tuan Muda." Wajah Gerald seketika pias mendengar penjelasan anak buahnya itu.
"Dia melihatnya?" Gerald mulai berpikir tidak-tidak
di sana.
"Apa karena ini dia tidak menjawab panggilan dariku ?" gumam Gerald dengan mengacak-acak rambutnya frustasi. Gerald berpikir pasti Jennifer akan salah paham karena melihatnya saat bersama wanita tadi.
Dia takut sekali jika Jennifer akan marah padanya, padahal dia dan wanita itu tidak memiliki hubungan apa-apa. Wanita itu adalah wanita yang selalu terobsesi dengan Gerald sejak dulu.
"Aku akan pergi sebentar. Kalian jaga rumah ini, jangan biarkan orang lain masuk," pinta Gerald lalu melangkahkan kakinya pergi.
Gerald menyambar kunci mobilnya dan pergi bergitu saja. la menuruni tangga dengan terburu-buru sekali.
"Hai...," sahut seorang perempuan di sana.
Gerald menoleh ke arah sumber suara, wanita itu melambaikan tangannya ke arah Gerald dan menunjukkan senyumnya. Terlihat wajah Gerald sangat tidak dengan kehadiran wanita di rumahnya saat ini. Wanita itu tak lain adalah orang yang sama saat di kampus tadi, entah dia mendapatkan alamat Gerlad dari mana, padahal tidak ada yang tahu alamat rumahnya kecuali teman-teman circlenya.
"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke sini?" nada suara Gerald terlihat sangat berat.
"Emm... aah... tadi aku mengatakan pada mereka kalau aku adalah orang terdekatmu. Mereka membiarkan aku masuk begitu saja," jawabnya dengan penuh percaya diri.
Dia mengaku sebagai orang terdekat Gerald, padahal dari dulu Gerald tidak dekat dengan siapa pun. Bahkan di bangku sekolah dulu dia tidak pernah memiliki teman dekat, kecuali saat dirinya pindah ke Berlin. Gerald mengepalkan tangannya, ternyata wanita di depannya ini sangat lancang dan berani memasuki rumahnya begitu saja.
"Cegah wanita itu. Aku akan pergi, jangan biarkan dia mengikutiku," pinta Gerald pada anak buahnya di sana.
"Apa yang kalian lakukan! Lepaskan aku!" berontaknya karena anak-anak buah Gerald mencekal tangannya kuat.
"Aku hanya mengikuti ucapan Tuanku, Nona."
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dengannya!"
Serasa mobil Gerald sudah jauh, anak-anak buah Gerald membawa wanita itu keluar dengan paksa.
"Sebaiknya kau pergilah dari sini, Nona. Jangan sampai Tuan Muda murka denganmu," usir anak buah Gerald.
"Hah! Tanpa kalian minta aku juga akan pergi dari sini. Awas saja kalian!" wanita itu mengancam anak buah Gerald. Dia tengah berhadapan dengan orang-orang yang salah.
Wanita itu pun berlalu ke arah mobilnya dengan uring-uringan. Sudah mendapat perlakuan cuek dari Gerald, di tambah lagi dia di usir secara tidak hormat dari rumah Gerald. Akhirnya wanita itu pergi meninggalkan rumah Gerald.
Sebenarnya dia juga ingin mengejar ke mana perginya Gerald, tetapi dia sudah kehilanagn jejak. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke hotel tempatnya tinggal.
Gerald turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mension megah itu. Karena tidak ada jawaban dari Jennifer, Gerald langsung saja menuju ke mension Sean. Dia benar-benar takut kalau Jennifer marah padanya atau salah paham mengenai apa yang dia lihat tadi.
Salah satu maid meminta Gerlad untuk menunggu di ruang tamu. Ana yang mendengar Gerald datang itu segera menemuinya.
"Makanlah. Jangan biarkan perutmu kosong." Ana memberikan perhatian pada calon menantunya itu.
"Jenni di mana, Mi?" Gerald to the point tanpa berbasa-basi di sana. Pikirannya sedang berkelana jauh sedari tadi.
"Dia belum kembali sedari tadi. Mami kira kau ke sini bersamanya. Tunggulah sebentar, mungkin dia sedang keluar dengan teman-temannya," jawab Ana. Ana terlihat santai di sana, memangnya mau ke amna lagi jennifer kalau tidak bersama dengan teman-temannya.
Berbeda dengan Gerald yang cemas sedari tadi karena tidak dapat jawaban dari Jennifer. "Tidak, Mi. Justru aku ke sini mencarinya. Sedari tadi dia tidak menjawab panggilanku."
Gerald tidak berani mengatakan pada Ana, takut jika nanti Ana juga salah paham padanya dan berpikir yang tidak-tidak. Lebih baik dirinya menyelesaikannya sendiri dengan Jennifer.
__ADS_1
"Coba kau tanyakan pada Julian atau yang lainnya," saran Ana.
Benar juga apa yang di katakan oleh Ana, kenapa dia tidak berpikir sampai situ sedari tadi. Dirinya sudah terlalu cemas dan memikirkan sesuatu.
Sementara di sisi Jennifer dalam waktu bersamaan Dia sedang berada di hotel megah di kotanya, Jennifer berjalan menuju ke lantai tertinggi di hotel tersebut. Apa yang sedang dia lakukan di sana? Dia tengah mencari keberadaan wanita yang kini tengah menjadi incarannya. Tanpa takut Jennifer datang ke sana seorang diri, tidak lupa juga kaca mata hitamnya ia kenakan.
Sesampainya di lanyai atas, ia melangkahkan kakinya dengan santai sambil melihat sisi kanan dan kiri nomor dari setiap kamar di sana. Jennifer berdiri di depan kamar dengan nomor yang ia ketahui, dia hanya diam tanpa berbicara menatap pintu itu. Cukup lama Jennifer berdiri di sana, ia pun memutuskan untuk kembali
Di tengah-tengah perjalanannya Jennifer melihat wanita yang pernah ia lihat wajahnya itu kembali. Mereka berjalan berpapasa, karena tidak saling kenal jadi mereka tidak saling sapa. Jennifer tersenyum miring, sedangkan wanita itu kembali dengan wajah yang nampak kesal.
Jennifer menoleh kebelakang melihat wanita itu masuk ke dalam kamar tempatnya tinggal.
Jennifer kembali tersenyum miring di sana tanpa membuka kaca mata hitamnya. "Sampai jumpa besok, Nona."
Pasti ada sesuatu yang sudah di rencanankan oleh Jennifer di sana. Jennifer kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana untuk pulang sebelum sang mami mencarinya.
Kriing...
Kriing...
Telfonnya terdengar nyaring, di ambilnya ponsel miliknya di saku celananya.
"Halo...."
"Kau ke mana saja. Mami mencarimu, pulanglah. Gerald juga berada di sana. Sedari tadi dia menghubungimu. Di mana kau sekarang?" ujar orang di seberang sana tanpa hentinya.
"Aku sedang mencari keberadaan mangsa. Ini juga dalam perjalanan pulang." Jennifer memutuskan panggilan telfonnya secara sepihak. Orang di seberang sana menggerutu kesal karena belum selesai berbicara.
Jennifer melihat memang banyak sekali pesan dan panggilan dari Gerald. Sedari tadi dia sibuk mencari informasi wanita yang bersama Gerald, jadi dia tidak menjawab semua panggilan itu. Sesampainya di palkiran mobil, Jennifer langsung tancap gas dan kembali ke mension.
Malam hari...
Selesai makan malam, Jennifer kembali ke kamarnya. Namun tidak dengan Julian, ia menyusul kakanya ke kamarnya. Entah apa lagi yang akan dia lakukan.
"Kau dari mana tadi? Apa kau datang ke tempat wanita itu? Apa yang kau lakukan padanya?" Julian sangat penasaran. Dia sangat bersemangat menanyakan hal itu pada kakaknya. Yang sedang menelfon Jennifer siang tadi memanglah dirinya.
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Jennifer santai.
"Kenapa tidak? Kalau aku jadi dirimu akan aku beri pelajaran langsung orang itu." Bukannya Jennifer justru dirinya yang menggebu-nggebu di sana.
"Tempat itu tidak cocok untuk memberinya pelajaran." Jennifer tengah asyik bermain ponsel tanpa menoleh ke arah Julian.
"Kalau begitu kita culik saja dirinya dan bawa ke markas. Kau bisa memberi pelajaran sesuak hatimu di sana." Jennifer menoleh ke arah Julian dengan tatapan yang berbeda.
"Yang beraksi di sini aku, bukan kau! Sudah sana kembalilah ke kamarmu, jangan menggangguku," usir Jennifer.
"Aku kan memberimu saran, kenapa kau galak sekali. Memang kau sama seperti King," gerutu Julian di sana.
"Ulangi sekali lagi!" tatapan tajam ia tujukan pada Julian.
"Tidak, tidak. Aku tidak mengucapkan apa-apa," elak Julian dari pada nanti dirinya kena amukan dari kakaknya.
"Sana kembali kau." Jennifer kembali mengusir Julian dari kamarnya.
"Kenapa tidak sabar sekali?" Julian pun beranjak dari duduknya dan kembali ke kamar miliknya. Jennifer hanya memutar ke dua matanya malas di sana.
Selesai kelas, Jennifer segera keluar, ia nampak terburu-buru sekali. Jennifer berjalan melewati kelas lain dengan melihat ke kanan dan ke kiri, entah apa yang sedang dia cari di sana. Tidak seperti biasanya, bahkan dia tidak menunggu Fany dan Thea yang sudah mulai kembali ke kampus.
"Nona Wendy Kathleen Brown!" panggil Jennifer pada orang yang abru saja ia lihat di sana.
Pemilik nama itu pun menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Nampak wanita berambut panjang di depan matanya dengan sedikit tersenyum sinis ke arahnya.
"Kau memanggilku, Nona?"
Yaa... nama wanita itu adalah Wendy. Jennifer sengaja untuk menemuinya saat ini tanpa sepengetahuan siapa pun. Bahkan Gerald saja tidak tahu kalau Jennifer memiliki rencananya sendiri.
__ADS_1
"Tentu saja aku memanggilmu. Apa ada nama Wendy Kathleen Brown lain di sini?"
Wendy nampak sedikit bingung bagaimana orang yang ada di hadapannya ini bisa tahu namanya begitu saja. Bahkan Wendy saja tidak pmerasa memperkenalkan dirinya pada wanita di hadapannya, yang tak lain Jennifer. Wendy menatap Jennifer dari ujung kepala sampai ujung kaki.