Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 168 Season 2


__ADS_3

"Iya tau, bukan itu maksudku. Aahh sudahlah, berbicara denganmu membuatku stress saja." Ujar Gerald yang tidak mau memperpanjang perbincangannya dengan Julian. Yang ada di akan lelah sendiri.


"Ada berapa anggota di sini?" Tanya Jennifer penasaran dengan jumlah anggota di sana.


"Sebelum aku ke Berlin, yang aku tahu kurang lebih ada 3500 orang di sini. Tidak tahu sekarang, sepertinya bertambah. Dan masih banyak anggota yang menyebar di luar." Jawab Gerald.


"Bagaimana Tuan Carles memberikan mereka makan?" Fany mencoba memikirkan dan membayangkan bagaimana bisa merawat begitu banyaknya anggota. Wajahnya seperti orang linglung memikirkan apa yang tidak harus dia pikirkan.


"Bagaimana papimu memberikan makan para mafiamu, Tuan Putri?" Fany pun beralih bertanya pada Jennifer, sepertinya dia sangat penasaran.


"Kenapa tidak kau tanyakan langsung ke papi!" Jennifer menaikkan sebelah alisnya.


"Oohh... Bagaimana nasib koki yang memasak masakan untuk mereka? Apa tangan mereka tidak keriting?" Mereka yang ada di sana hanya bisa menepuk jidatnya masing-masing. Gerald menggaruk keningnya yang tidak gatal di sana, tentu saja untuk semua itu ada bagian masing-masing. Dari pada memikirkan ucapan Fany, mereka kembali melanjutkan untuk berkeliling di sana.


Julian mencoba ikut berlatih dan mencoba berbagai senjata yang ada di sana, ia ingin merasakan kecanggihan senjata yang di miliki oleh kelompok mafia Tuan Carles.


Gerald membiarkan saja apa yang dilakukan julian atau yang lainnya, Jennifer pun juga sesekali mencoba yang ada di sana.


.


.


Satu minggu sudah berlalu....


Selama satu minggu twin J dan Fany berada di Amerika, saat ini mereka sudah berada di bandara yang ada di negaranya. Diva dan Riko juga sudah pulang lima hari yang lalu, untuk Gerald? Dia tidak ikut kembali ke Berlin. Sepertinya ada hal yang ia urus, atau mungkin dia mengambil perkuliahan di negaranya sendiri.


Mereka masuk ke dalam mobil jemputan untuk kembali ke rumah masing-masing.


Sedangkan di sisi Diva....


Saat ini dirinya sedang berada di markas, ia melihat Riko yang sedang tertidur di sofa panjang dengan nyenyak nya. Diva yang melihatnya itu pun memiliki ide jahil, ia berjalan mendekat dengan perlahan, jaket yang ia bawa tadi juga ia letakkan pelan di salah satu sofa di sana. la merogoh ponselnya dan memilih musik yang akan ia putar.


Diva mendekatkan ponsel itu di telinga Riko lalu membunyikannya dengan full volume, seketika Riko langsung terbangun dan terduduk kaget karena mendengar alunan musik yang begitu keras di telinganya.


Diva tertawa puas melihat Riko terkejut dengan apa yang di lakukan, Riko dengan wajah kantuknya melihat Diva yang sangat bahagia dengan apa yang baru saja ia lakukan. Mau marah pun dia tidak bisa, antara takut dengan Sean atau bagaimana nantinya.

__ADS_1


"Apa kau puas?" Ucap Riko dengan suara seraknya karena baru saja terbangun.


"Belum, bahkan aku belum melakukan apa-apa." Jawabnya dengan santai, bahkan dia tidak merasa bersalah atau apa. Riko hanya bisa pasrah, ia menghelah nafas panjangnya.


"Apa tidak ada yang kau lakukan saat ini?"


"Tidak ada, semua pekerjaan sudah beres. Aku hanya ingin menikmati waktu saja," jawabnya lalu kembali membaringkan dirinya di sofa panjang.


"Dasar pemalas," ejek Diva melihat Riko yang kembali membaringkan tubuhnya. Padahal tadi dirinya baru saja tertidur, tapi Diva datang dan berulah di sana.


"Aku bukan pemalas, aku hanya menikmati waktuku sebelum kembali bertugas." Jawab Riko yang berbicara dengan mata terpejam.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan setelah ini?


Biasanya juga pasti dirimu memerintahkan yang lainnya, kau tinggal diam saja." Ujar Diva.


"Aku tidak diam, tapi aku membagi tugas dengan yang lainnya." Jawab Riko, ternyata dia masih belum tertidur. Buktinya dia menyahuti ucapan Diva, entah jika beberapa saat lagi.


"Mana ada? Yang aku lihat kau diam saja," ucap Diva kembali tapi sudah tidak mendapat sahutan dari Riko.


"Memangnya apa lagi yang akan kau kerjakan nanti?" Sambungnya. Riko tidak menyahuti ucapan Diva, sepertinya dia sudah kembali tertidur.


Buugh...


Lemparan itu tepat mengenai wajah Riko dengan kerasnya, Riko kembali terbangun. Kesabarannya kali ini di uji oleh Diva yang selalu mengganggunya, tidak Diva namanya kalau tidak bisa diam.


"Huuuhhh... Ada apa lagi?" Riko menahan kekesalannya pada Diva.


"Tidak ada, lupakan saja. Aku juga sudah lupa apa yang aku ucapkan," Diva terlihat kesal di sana.


"Huuuhh... Tuan memintaku untuk mengawasi dan bersiaga, sepertinya ada yang ingin mengibarkan bendera perang." Jelasnya, dari pada nanti Diva kesal tidak ada ujungnya.


"Perang? Memangnya ada apa? Bukankah kita tidak pernah mengusik mereka yang di luar, mau apa lagi mereka semua?" Sepertinya Diva geram untuk kali ini. Namanya juga kehidupan di lingkungan mafia, pasti akan


ada saja yang mengganggu walaupun tidak mengusik kelompok lain.

__ADS_1


"Nanti saja aku jelaskan, aku masih mengantuk." Ucapnya kembali memejamkan kedua matanya. Diva membiarkan saja saat Riko kembali tertidur, mungkin semalam dia terlalu begadang.


"Kalian sudah pulang?" Suara Ana terdengar saat melihat twin J sudah tiba di mension.


"Yes, Mamikuuu... Aku merindukanmu." Ujar Julian mendekat ke arah sang mami dengan merentangkan kedua tangannya seperti anak kecil.


"Sudah sana masuk dan istirahat." Pintah Ana pada keduanya.


"Mam, dapat kiriman dari Mommy." Jennifer memberikan bingkisan kecil yang ia bawa sedari tadi.


"Apa ini?" Tanyanya penasaran.


"Itu almond, Mommy memberikan khusus untuk Mami," jawabnya.


"Aahh.. Terima kasih... Tau saja kalau Mami sedang ingin memakannya. Sudah istirahat sana, sampaikan salam Mami padanya." Ucap Ana di angguki oleh Jennifer. Dia masuk ke dalam kamar lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur miliknya. Dia menatap langit-langit kamar, entah apa yang dia renungkan.


Sedangkan di sisi Julian...


"Aahh... Akhirnya aku bertemu dengan kasur kesayanganku." la melompat ke atas tempat tidur merebahkan dirinya di sana. Terasa nyaman baginya berada di atas tempat tidur. Tidak lama kemudian, Julian tertidur begitu saja tanpa melepaskan sepatu yang ia kenakan.


Jika saja itu di lihat oleh Ana, mungkin dia sudah mendapat ceramah agama yang tidak pernah ada ujungnya.


Kriiing...


Kriiing...


Bunyi ponsel Jennifer terdengar dengan nyaring, ia melihat siapa yang tengah menghubunginya. Tidak perlu berlama-lama Jennifer menekan tombol hijau pada ponselnya.


"Hello, Babe." ucapnya. Emm... Siapa lagi kalau bukan Gerald yang menghubungi dirinya.


"Sudah sampai?" Tanya Gerald berada di seberang sana.


"Yaa... Baru saja."


"Bagaimana perjalananmu? Apa menyenangkan?" Tanya Gerald.

__ADS_1


"Hmmm... Tidak ada yang menyenangkan, sama saja bagiku." Jawabnya.


"Mungkin akan menyenangkan jika aku berada di sana bersamamu." Gerald mencoba berbicara manis pada Jennifer saat ini.


__ADS_2