Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 220


__ADS_3

Fany yang ingin lepas dari Julian, di tengah-tengah perjalanannya memiliki ide kecil terbesit di kepalanya. Tanpa menunggu lama lagi, Fany segera melancarkan aksinya agar bisa terlepas dari Julian. Fany menggigit kuat tangan Julian yang sedang mencekal tangannya sedari tadi.


"Aarkh...," teriak Julian kesakitan karena Fany menggigit pergelangan tangannya.


Julian melepaskan cekalan tangannya pada Fany." Apa yang kau lakukan!"


"Rasakan itu!" Fany menginjak kaki Julian dengan keras lalu segera berlari menjauh dari Julian.


Julian meringis karena ulah Fany, tangannya di gigit di tambah lagi Fany menginjak kakinya. "Aush ... benar-benar anak itu. Hey... kembali kau!"


Teriakan Julian tidak di perduli kan oleh Fany, justru ia berlari semakin jauh dan menjulurkan lidahnya pada Julian. Fany berlari dengan kencang dan menghilangkan jejak agar Julian tidak mengejarnya. Pengunjung di sana juga cukup ramai, jadi tidak sulit kalau Fany menghilangkan dirinya dari Julian.


"Cepat sekali. Kemana larinya?" Julian memegang pergelangan tangannya yg di gigit oleh Fany. Pergelangan tangannya terlihat bekas gigitan Fany.


"Haiish... ternyata cukup kuat dia menggigitku," keluhnya melihat bekas gigitan Fany.


Di tengah-tengah perbincangan asik Jennifer dan Thea, tiba-tiba saja Fany duduk di hadapan mereka. Keduanya sedikit terkejut dengan kedatangan Fany yang secara tiba-tiba.


"Bagaimana kau bisa tahu kami ada di sini?"


"Apa kalian lupa denganku, hah! Aku sudah mengirim banyak pesan pada kalian tapi tidak ada balasan apapun," sengalnya pada kedua orang itu. Mereka sudah terbiasa dengan Fany yang memang tidak pernah bisa santai.


"Kapan kau mengirim pesan pada kami?"


"Kalian saja ponsel kalian masing-masing. Kalian memang sepertinya lebih suka jika tidak ada aku," ketusnya lagi. Mereka pun segera melihat ponsel mereka masing-masing dan benar saja jika terdapat banyak pesan dari Fany.


"Hehehe... sorry. Kau kan sudah dengan Julian, tentu saja kami tidak mau mengganggumu,"

__ADS_1


"Heh, alasan!" Fany memicingkan bibirnya.


"Lalu, bagaimana bisa kau tahu kalau kami di sini?" ujar Thea yang juga sedikit penasaran.


"Tadi ada burung berkicau sedang melintas. Aku bertanya pada mereka," jawabnya dengan konyol.


"Tentu saja aku bertanya pada Gerlad tadi di saat kalian sibuk sendiri," sambungnya dengan sedikit menyindir.


Setelah terlepas dari Julian tadi, Fany mengirim banyak pesan pada Jennifer dan Thea. Sayangnya tidak ada jawaban sama sekali dari mereka. Fany mencoba mengirim pesan pada Gerald, jelas saja Gerald pasti tahu di mana keberadaan Jennifer dan Thea.


Mereka hanya cengengesan melihat Fany yang sedang kesal, justru mereka juga semakin menggoda Fany sampai dirinya cemberut.


Satu bulan kemudian...


Satu bulan sudah berlalu, keluarga Sisca masih mencari di mana keberadaan Sisca berada. Bahkan semua kumpulan body guard keluarga mereka di kerahkan keseluruhan untuk mencari Sisca. Namun, tidak ada hasil yang mereka temukan, semuanya kembali dengan keadaan kosong.


"Hiks... hiks... Dad, ke mana perginya Sisca? Apa dia marah dengan Mommy sampai-sampai dia pergi tidak kembali," lirihnya dengan bercucuran air mata.


"Mommy sabar dulu, ya. Kita pasti akan menemukan Sisca," bujuk kakak perempuan Sisca agar sang Mommy tidak terus-terusan menangis. Selama satu bulan mommy Sisca terus saja menangis, ia juga tidak mau memakan sesuap pun. Berat badannya juga turun drastis.


"Mau sampai kapan, Cia! Kau selalu berkata pada Mommy akan menemukan adikmu, tapi sampai sekarang adikmu tidak ada di hadapan Mommy," sentak mommy Sisca. Mungkin dia sudah bosan mendengar kata-kata itu.


"Semua yang kau katakan pada Mommy itu hanya kalimat penenang! Tapi tidak ada bukti apapun!" sambungnya lagi.


"Diamlah, Mom! Kami juga masih berusaha untuk mencari Sisca. Tangisanmu saja juga tidak bisa membuat dia berada di depan kita semua!" sepertinya Daddy dari


Sisca mulai merasa jengah dengan sikap mommy Sisca yang selalu terus-terusan menangis dan menangis.

__ADS_1


Mungkin daddy Sisca juga bingung dan frustasi, tetapi dia masih terus berusaha sepenuhnya dan mengerahkan semua bodyguardnya. Isakan tangis mommy Sisca semakin menjadi-jadi setelah mendapat bentakan dari sang suami. Gracia atau biasa di panggil Cia itu pun mencoba menenangkan sang mommy yang sedang menangis.


"Dad, jangan membentak Mommy. Mommy sedang tidak baik," bela Cia.


"Katakan pada Mommy mu itu, Cia. Daddy juga di sini sedang bingung, apa kalian kira Daddy juga tidak memikirkan Sisca. Bahkan perusahaan Daddy sampai tidak terurus," marahnya pada sang istri dan putri pertamanya.


Bagaimana dirinya tidak marah, dia juga sangat frustasi dan bingung mencari keberadaan Sisca. Bahkan perusahaan sampai tidak terurus karena ia sibuk mencari keberadaan putri bungsunya. Namun saat di rumah dia melihat sang istri yang terus-terusan menangis dan meminta Sisca untuk segera di temukan.


Keduanya terdiam, Sisca merangkul sang mommy yang sedang menangis. Dengan kesal daddy Sisca keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan kerasnya. Cia hanya terjinggat melihat sang daddy yang sedang marah, Cia memberikan pundaknya untuk sang mommy agar sedikit tenang.


"Haaahh ,"teriakan frustasinya terdengar. la bernapas kasar dan berkacak pinggang, beberapa bodyguardnya menunduk di sana mendengar teriakan sang majikan.


"Bagaimana kerja kalian di luar sana, hah! Apa kalian hanya bermain selama satu bulan ini?" marahnya pada para bodyguardnya.


"Maafkan kami, Sir," jawabnya dengan rasa salah.


"Kalian memang benar-benar tidak becus! Percuma aku membayar kalian semua!" sambungnya dengan meninggikan suaranya hingga terdengar menggelegar di sana.


"Haaaahkh...," teriaknya lagi dengan mengacak-acak rambutnya. Daddy Sisca benar-benar terlihat frustasi dan sangat pusing.


Di lain tempat...


Ctaass... ctaass...


Suara cambukan itu terdengar bercampur dengan teriakan demi teriakan. Mereka yang mendapat cambukan dan siksaan itu hanya bisa pasrah, yang lainnya pun juga merasa takut ingin sekali lepas dari tempat terkutuk itu, pikir mereka. Siksaan demi siksaan hampir setiap hari mereka lihat dengan mata kepala sendiri.


Setelah melihat para tawanan terlihat lemah itu pun ia menghentikan siksaannya, ia memerintahkan anak buahnya untuk menggantikan dirinya. Di balik siksaan-siksaan itu, gadis cantik yang tertawan itu selalu menutup telinga dan matanya agar tidak melhat hal mengerikan di depan matanya. Rasanya ia sangat tidak sanggup melihat dan mendengar siksaan yangada di depannya.

__ADS_1


Orang tersebut mendekat ke tempat di mana gadis itu di tawan. Ia memandang wajah yang tadinya terlihat cantik itu pun sekarang terlihat sangat berantakan, bahkan tubuhnya juga terlihat kurus karena dia tidak mau makan selama ia di kurung. Wajah jahatnya sangat terlihat jelas, bahkan dia juga tidak merasa kasihan sama sekali.


__ADS_2