
"Ayo masuk, tidak baik berlama-lama di luar. Kita makan malam," ajak Mommy Gerald di sana.
Sepanjang perjalanan, Mommy Gerald merangkul pundak Jennifer. Sepertinya dia sangat senang dengan kehadiran Jennifer di tengah-tengah sana.
Mommy Gerald memperlakukan Jennifer seperti putrinya sendiri, bahkan dia juga menata kursi untuk di gunakan Jennifer. Saking senangnya dengan kehadiran Jennifer, putra dan suaminya dia lupakan begitu saja.
"Apa kau menduakan suamimu, Mom?" Ucap Tuan Carles.
"Aahh.. Daddy kan bisa sendiri, Mommy hanya ingin menyambut calon menantu Mommy." Ujarnya yang memang menduakan sang suami.
Maklum dirinya sangat senang dengan kehadiran Jennifer, karena dia tidak memiliki teman saat Gerald berada di Berlin. Sang suami juga biasanya tengah malam baru pulang dari markas, kalau tidak begitu dini hari dirinya di tinggal oleh Tuan Carles jika ada sesuatu di markas. Alhasil, Mommy Gerald sering merasa kesepian. Makanya dia sangat senang jika ada Jennifer, tapi dia juga melupakan putranya.
Gerald tidak masalah jika sang Mommy lebih menyambut tunangannya itu, dia ikut senang jika melihat kegembiraan di wajah sang Mommy.
"Ayo makanlah, kalian jangan sungkan-sungkan. Tuan muda Johnson, makanlah. Apa dia kekasihmu?" Lagi dan lagi dia mendapat pertanyaan seperti itu.
Keesokan harinya di waktu Berlin...
"Hikss... Hikss... Pa, kita harus mencari Lita kemana lagi? Kita sudah 1 tahun di sini tapi kita tidak menemukan Lita di mana pun berada." Tangisnya terdengar karena putri satu-satunya tidak pernah ia jumpai lagi.
"Atau jangan-jangan, Lita sudah tidak bernyawa lagi di tangan suami Ana?" Sambungnya menghentikan tangisannya mengingat siapa suami Ana.
Mama dan Papa Lita selalu memcari keberadaan Lita, tapi mereka tidak mendapatkan hasil apa-apa. Yang ada hanya mereka lelah di jalan, mereka mencari ke sana ke mari tapi tidak pernah ada hasil.
Dan sekarang, mereka ingin mencari keberadaan Lita lagi, mereka berharap akan menemukan Lita kali ini. Karena selama ini mereka hidup terlunta-lunta selama satu tahun belakangan ini.
"Jangan berfikiran yang aneh-aneh, Ma." Ucapnya. "Kalau dia masih hidup, pasti kita akan menemukannya, Pa. Tapi kita tidak pernah bertemu dengannya sama sekali. Jika itu benar, maka aku akan membuat perhitungan pada keluarga anak tidak tahu di untung itu." Mama Lita kembali merasakan benci pada Ana kali ini, padahal Ana tidak bersalah sama sekali.
"Memangnya, apa yang akan Mama lakukan? Kita sudah tua, Ma. Kita juga tidak punya apa-apa lagi, mana mungkin kita bisa melawannya?" Hmm... Papa Lita pun juga sepertinya mulai kembali ke sifat aslinya dulu.
__ADS_1
"Apapun akan Mama lakukan, Pa. Mama tidak akan membiarkan mereka begitu saja," ucapnya dengan sangat yakin. Padahal mereka datang ke sana saja dengan keadaan yang sudah rentan, sekali pukulan dari Sean saja bisa mematahkan tulang-tulang mereka.
"Sudah, Ma. Kita lanjutkan lagi mencari Lita, kita akan pikirkan masalah itu nanti." Ajak suaminya untuk kembali menyusuri jalan mencari Lita. Kemanapun mereka mencari, tentu saja tidak akan menemukan Lita. Lita sudah tidak bernyawa di tangan Sean beberapa tahun yang lalu.
Mereka kembali berjalan untuk mencari keberadaan Lita.
Sedangkan di arah berlainan, sebuah mobil melaju dengan kencang itu oleng ke kanan dan ke kiri. Sepertinya, mobil itu mengalami rem blong.
Orang-orang yang melihatnya berteriak karena mobil itu melaju dengan cepat.
Braakk....
"Aarkkh..." Semua orang berteriak melihat orang tertabrak mobil itu. Ada sekitar lima orang yang menjadi korban dari mobil tersebut.
Termasuk dengan Mama dan Papa Lita, mereka yang terkena mengalami luka dan cidera. Semua orang yang berada di sana mencoba menghubungi polisi untuk melaporkan kejadian tersebut.
Tidak berselang lama, polisi setempat datang ke tempat kejadian. Mereka berbindong-bondong menolong semua orang yang tertabrak tadi. Mereka membawa ke rumah sakit terdekat di sana.
Tanya Ana yang bersama Sean melintas di jalan tersebut. Ia melihat keramaian di sana. "Eemm... Sepertinya baru terjadi tabrakan," jawab Sean yang melihat ada sebuah mobil di sana.
"Semoga tidak memakan banyak korban." Ujar Ana. Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan lokasi tersebut.
Ana tidak tahu jika selama satu tahun ini paman dan bibinya berada di kota yang sama, dia juga tidak akan tahu jika paman dan bibinya menjadi korban tabrakan itu.
Pagi hari waktu Amerika...
Jennifer terbangun saat melihat jika di luar sudah menunjukkan cahaya terang benderang, Fany yang berada satu kamar dengannya masih tertidur pulas.
Mungkin mimpinya sangat indah, hingga dirinya belum juga membuka matanya.
__ADS_1
Jennifer bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Jennifer memulai ritual mandinya, ia mencoba berendam di sana untuk sesaat.
Setelah lebih dari setengah jam, akhirnya Jennifer keluar dari kamar mandi. Di lihatnya jika Fany masih tertidur. Bahkan posisinya masih sama, tidak berubah sama sekali. Sepertinya tidurnya sangat nyaman, entah karena kasur di sana lebih empuk atau suasanan di sana yang membuatnya lebih nyaman.
"Fa, bangunlah. Sudah pagi," Jennifer mengguncangkan pelan tubuh Fany agar terbangun
"Eeng... Lima menit lagi, Mom." Ujarnya dengan mata yang masih terpejam. Sepertinya, dia lupa jika dirinya sedang berada di Amerika. Jennifer menaikkan sebelah alisnya dengan tingkah Fany.
"Fa." Jennifer kembali mengguncangkan tubuh Fany agar segera terbangun.
Fany menyibakkan selimut untuk menutupi tubuhnya, rasanya ia sangat enggan terbangun.
Jennifer menarik selimut pada tubuh Fany dengan kasar.
"Apa sih, Mooom... Fany masih mengantuk." Jennifer berkacak pinggang.
"Sudah bangun atau belum, hah?" Sengal Jennifer. Fany pun membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar suara Jennifer.
"Eehehee... Tuan putri, kok ada di sini? Ada apa?" Fany sepertinya memang benar-benar lupa jika dirinya berada di Amerika.
"Bangunlah, biar kau ingat di mana kita sekarang." Ucapnya. Fany pun menoleh ke kanan dan kiri. Dilihatnya jika dekor kamar yang ia tempati bukanlah dekor kamar miliknya.
"Loh... Lohh... Kenapa kamarku berubah mewah dan luas seperti ini." Ucapnya.
"Bukan kamarmu yang berubah, memang kita tidak berada di rumah sekarang. Lihat saja ke jendela sana." Terang Jennifer pada Fany. Fany turun dari tempat tidur lalu beranjak dari tempat tidur dan melihat keluar jendela.
"Hehehe..." Fany nyengir kuda setelah melihat ke luar melalui jendela.
"Sudah ingat, sekarang mandilah. Jangan lama-lama ," ucap Jennifer pada Fany. Tidak menunggu lama Fany pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
__ADS_1
Kembali lagi ke sisi Amerika....
Mama Lita tersadar setelah kecelakaan tadi, dia mengalami luka di kepalanya, tapi tidak terlalu fatal. Dia celingukan ke sana ke mari mencari suaminya yang tidak ada di sebelahnya.