
Orang itu menahan sekuat tenaga untuk tidak emosi, padahal dalam hatinya sangat emosi dengan ucapan Julian. "Waaah... anda sungguh di luar dugaan, Tuan Muda. Pasti pimpinan dari anak buah itu terkejut dan sangat marah."
Orang itu pun juga mengikuti akting Julian, dia berpura-pura tidak tahu apa-apa. Padahal sudah jelas-jelas dialah yang di maksud oleh Julian. Keduanya beradu akting dengan sangat baik kali ini, entah siapa yang akan menjadi pemenangnya.
"Hmm... aku tidak yakin untuk itu. Hadiah yang aku berikan sepertinya sangat biasa, pimpinan anak buah itu tidak ada pergerakan sama sekali. Sepertinya dia sangat bod*h." Julian memang benar-benar sangat baik dalam beradu akting. Fany yang ada di sana hanya menyimak keduanya untuk berbincang-bincang, dia menjadi penonton setia di antara ke dua orang itu.
"Aku masuk dulu ke dalam, Tuan. Apa kau ingin bergabung dengan kami?" Julian mengakhiri aktingnya dengan orang itu.
"Aahh terima kasih atas tawaranmu, Tuan Muda William. Mungkin lain kali, ada yang harus aku cari," tolaknya dengan ramah. Padahal dalam hatinya sangat berapi-api.
"Owwh... baiklah. Aku akan masuk ke dalam café di depan itu." Tunjuk Julian pada café yang hanya berjarak 1 0 meter darinya.
"Baiklah, Tuan Muda. Semoga waktumu dan kekasihmu tidak ada yang mengganggu." Julian menanggapinya dengan anggukan kepala.
"Berhati-hatilah, Tuan. Musuhmu juga pasti banyak di sini, aku hanya memberitahumu. Aku harap kau baik-baik saja di sini. Aku berdoa kalau kau tidak bernasib sama dengan anak buah musuhku tadi." Julian menepuk pundak orang itu dengan menunjukkan smirknya, tidak berlama-lama ia melanjutkan perjalanannya bersama Fany.
Julian memberikan peringatan yang sangat-sangat halus padanya, orang itu mengepalkan kedua tangannya dan menahan semua kemarahannya pada Julian." Ternyata anak itu tahu siapa diriku! Baiklah, kita lihat saja nanti." Orang itu pun meninggalkan lokasi tersebut dengan kekesalan dan kemarahan yang ia pendam.
Sedangkan di dalam café, Fany bertanya pada Julian sembari menunggu pesanan mereka datang. “ Siapa orang tadi?"
"Orang tadi? Tidak penting, kau tidak peru tahu siapa dia." Julian tidak ingin memberitahukan Fany tentang orang itu.
"Kau menyebalkan sekali," gerutu Fany karena Julian tidak ingin memberitahunya.
"Nanti kau akan tahu. Sebaiknya nikmati saja minuman dan makanannya, kasihan nanti mereka menangis karena kau menganggurkannya," ujar Julian saat pesanan mereka datang.
__ADS_1
Fany hanya memincingkan bibirnya dan memakan menu yang ia pilih. Beberapa saat mereka terdiam untuk menikmati makanan masing-masing.
Braakk...
Braak...
Pyaar...
Semua barang-barang yang ada di ruangannya ia hancurkan, ruangan yang tadinya terlihat rapi dan bersih itu kini seketika berubah menjadi kapal pecah. Barang-barang dengan jumlah mahal itu pun tidak membuatnya terlihat sayang, justru semuanya berubah menjadi pecahan-pecahan kecil yang berserakan di lantai.
"Dasar kau bocah ingusan! Apa kau sudah mengancamku!? Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!" teriaknya dengan sekencang-kencangnya. Para bawahannya yang berad di luar berlari ke dalam untuk melihat apa yang sudah terjadi. Mereka terkejut melihat semua brang-barang itu tidak berbentuk lagi.
"Haaakkh...." Brak... brak ... braak... ia kembali menghancurkan semua barang-barang di sana.
Semua bawahannya terlihat menepi, takut jika terkena lemparan-lemparan barang-barang yang di layangkan oleh sang bos. Siapa lagi bosnya kalau bukan dia yang sedang mengawasi Julian dan lainnya. Setelah bertemu Julian dirinya mengamuk meluapkan semua emosinya, untung saja tidak ada bawahannya yang terkena lemparan-lemparan barang darinya.
"Diam!" bentaknya sebelum bawahannya itu menyelesaikan ucapannya. Bawahannya itu mengurungkan niatnya untuk berbicara.
Mereka semua kembali terdiam menunggu sampai sang bos itu tenang kembali, percuma jika mereka berbicara, pasti akan kena amuk. Lebih baik diam terlebih dahulu dari pada harus menyela. Sampai sepersekian detik, akhirnya orang tersebut sedikit tenang.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Kalau tidak ada hal yang penting sebaiknya pergi saja dari sini," uajrnya dengan wajah yang masih terlihat kesal.
"Emm... begini, Tuan. Kalau kita tidak bisa melawan anak itu, kita bisa gunakan yang lain. Saya membawa ini untuk anda, Tuan. Siapa tahu jika ini bisa Tuan gunakan." Salah satu bawahannya itu memberikan sebuah berkas lengkap pada sang bos. Di lihatnya beberapa lembar foto yang menunjukkan sepasang suami istri dengan menggendong satu balita yang sangat lucu.
Satu per satu ia lihat beberapa lembar foto itu, sambil melihatnya, bawahannya itu mencoba menjelaskan sedikit demi sedikit. "Dia adalah satu-satunya keponakan dari Tuan William. Dan wanita itulah yang dulu ingin Tuan Jacob jadikan menantu untuk anda."
__ADS_1
"Karena Tuan William menolak, Tuan Jacob meminta untuk berperang, dan kelompok mereka yang sudah menghabisi semuanya," sambugnya dengan
Sudah pasti bisa menebak siapa orang yang di maksud itu, yang ia maksudh adalah Diva. Foto-foto itu foto keluarga kecil Diva yang tengah dalam masa bahagianya. Karena sedikit sulit berhadapan dengan Julian, mereka memilih jalan lain untuk mebnghancurkan keluarga William.
"Jadi wanita ini yang dulu pernah di maksud? Tidak buruk. Bagaimana jika kita mulai dari wanita ini? Bukankah dulu Papaku meminta William untu menjadikan wanita ini menantu? Bagaimana jika aku merebut wanita ini?" alisnya terangkat sebelah, sangat terlihat wajah jahatnya di sana.
"Kalian pergilah dan bawa wanita dan anak kecil ini ke sini. Tidak perlu kita mengawasinya lagi. cepatlah bertindak, jangan berlama-lama," pintanya dengan rasa tidak sabar.
"Baik, Tuan." Mereka menunduk hormat lalu pergi melaksanakan apa yang bos mereka perintahkan.
"Keluarga William, tunggu aku!" tangannya mengepal kuat dengan di selingin senyuman jahat di wajahnya.
Kalau dia tidak bisa melawan Julian, maka akan ada cara lain untuk mengambil celah dari keluarga William lainnya. Padahal Julian tidak melakukan apa-apa, tetapi mereka kesulitan untuk melawan Julian.
Setelah dirinya pergi bersama Fany, dia memutuskan untuk ke markas seperti biasanya. Di sana tentu saja ada Robert, saat ini mereka sedang bermain catur untuk menghilangkan kebosanan di antara ke duanya. Julian berpikir-pikir langkah apa yang akan dia ambil untuk mengalahkan Robert.
"Cepatlah, kau lama sekali!" Robert sudah geram menunggu Julian telalu lama berpikir.
"Diamlah! Aku sedang fokus," jawabnya yang tidak kalah neggas dari Robert.
"Kau fokus atau apa!? Aku jengah menunggumu hampir satu jam, tapi tidak jalan sama sekali," gerutunya karena Julian tidak berjalan sedari tadi. Kalau saja Julian ikut dalam perlombaan catur di dunia, mungkin sudah kalah terlebih dahulu kalau begitu caranya.
"Kalau tidak jalan, akan aku kacaukan semuanya!" karena saking geramnya ia mengatakan akan mengacaukan permainan mereka berdua.
"Kau tidak sabar sama sekali." Akhirnya Julian menjalankan satu pion ke depan satu langkah.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang giliranku." Robert menjalankan satu pion kuda. Di sana menunjukkan jika posisinya Julian terkalahkan oleh permainan Robert.