Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 42 Sikap Aneh Anara


__ADS_3

Dua bulan sudah Sean dan Ana menikah. Mumpung hari ini sedang libur, Diva dan Sean merebahkan dirinya di sofa yang berada di ruang berkumpul.


Diva sedang asik menonton TV, sedangkan Sean, ia berkutat dengan ponsel miliknya.


"Kenapa kau tidak menungguku kalau turun ke bawah." Ana menghentakkan kakinya kesal karena Sean meninggalkan dirinya.


"Tadi kan kamu sendiri yang menyuruhku untuk menemani Diva dulu, sayang." Jawab Sean.


"Kan bisa tunggu aku sebentar. Apa kau sudah bosan. denganku? Apa kau sudah tidak cinta lagi denganku?" Cerca Ana pada Sean. Sean di buat kelabakan dengan ucapan Ana.


"Bukan begitu, sayang. Jelas saja aku sangat sangat


mencintaimu." Jawab Sean. "Sudah, diamlah. Aku tidak butuh alasanmu." Ketus Ana melangkahkan kakinya menuju kearah dapur.


"Aunty kenapa uncle? Kenapa dia datang marah-marah?" Tanya Diva bingung.


"Uncle juga tidak tau."


Tadi Ana sendirilah yang menyuruh Sean untuk turun ke bawah dulu menemani Diva, sedangkan ia berganti baju terlebih dulu. Entah kenapa saat dia di bawah, Sean kena semprot. Padahal tadi dirinya sendirilah yang meminta Sean turun terlebih dulu.


"DIVAAA... Mana ice cream milik aunty?" Teriakan Ana sangat memekikkan telinga.


"Astaga, telingaku mau copot." Pekik Diva mendengar teriakan dari sang aunty.


"Mana ice cream coklat aunty, Diva? Kenapa tidak ada?" Ana kembali keruang berkumpul dengan sungutnya yang keluar.


"Kemarin kan aunty sendiri yang makan, kenapa tanya Diva?" Sahut Diva.


"Iya kah? Tapi aunty tidak merasa tuh." Jawab Ana sedikit songong.


"Aunty saja memang yang pikun." Sungut Diva yang


sepertinya geram dengan Ana kali ini.


Ana mencebikkan bibirnya lalu mendekat kearah Sean. Ia memeluk erat rubuh Sean tiba-tiba.


Sean merasa senang jika Ana bermanja padanya, tapi kali ini ia merasa jika Ana sedikit aneh.


"Ada apa, hmm?" Sean mengelus lembut kepala Ana.


"Aku ingin seperti ini terus." Jawab Ana yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Tidak seperti biasanya kau seperti ini." Ujar Sean. Ana mendongakkan kepalanya menatap wajah Sean.


"Apa kau tidak suka aku peluk? Apa kau tersiksa?"


Cercanya lagi pada Sean.


"Bukan... bukan itu. Tapi, hari ini kau sangat aneh. Tidak seperti biasanya." Jawab Sean lagi.


"Jadi, kau mengataiku gila begitu? Dassaarr..." tanduk Ana sepertinya muncul setelah Sean mengatakan dirinya aneh.


la memukul bahu Sean dengan keras.


"Ampun sayang... bukan itu maksudku... aku tidak mengataimu gila. Hanya sedikit aneh saja." Sean menghalau setiap pukulan Ana.


"Aneh yang bagaimana maksudmu, hah?" Ana berkacak pinggan. Sean menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung mau menjawab apa.

__ADS_1


"Tapi, aunty hari ini memang terlihat aneh." Sahut Diva. Ana menghentikan pukulannya pada Sean.


"Aneh yang bagaimana kalian maksud? Sudahlah, kalian sama saja." Ucapnya marah melenggang pergi dari sana.


Diva dan Sean hanya melongo melihat tingkah aneh Ana hari ini.


"Aunty kenapa sih? Kenapa sedari tadi marah-marah ?" Diva yang sedang bingung menanyakan hal itu pada Sean.


"Uncle juga tidak tau, Diva. Tidak seperti biasanya auntymu begitu." Jawab Sean yang ikut merasa bingung.


Sedangkan di sisi Ana. Ia menggerutu tidak jelas tanpa hentinya.


"Dassarr... ponakan sama suami sama saja. Memangnya aku aneh yang bagaimana?" Gerutunya sambil berjalan menuju kearah taman belakang mension.


"Ada ya... suami tidak peka seperti ini. Sudah tau istrinya marah, masak iya tidak ada mengejar sama sekali, ataupun bujuk rayu. Eehh...malah dia melanjutkan menonton TV." Gerutunya lagi. Sepertinya, hari ini mood Ana sangat buruk. Mungkin dirinya tengah PMS.


"Awwaass kau Sean... bersiaplah kau tidur di luar malam ini." Sambungnya lagi sambil mengepalkan tangannya.


Sesampainya di taman, Ana terlihat senang melihat bunga-bungan bermekaran warna warni di sana. Seketika moodnya kembali membaik.


"Aku suka sekali di sini. Bunganya juga sangat terawat." Ujar Ana sambil memetik satu tangkai mawar yang ada di taman.


Di ciumnya aroma harum yang di hasilkan oleh mawar itu."Hmm... harum."


Cukup lama dirinya berada di taman, tiba-tiba saja perutnya berbunyi keroncongan sangat keras.


Krruukkk...


"Eeehh...kenapa aku merasa sangat lapar sekali. Tadi kan aku sudah makan." Ucap Ana memegangi perutnya yang baru saja berbunyi.


la memutuskan untuk kembali ke dalam menemui Sean.


Ana kembali memukul lengan Sean di sana.


"Dassar suami tidak peka. Kau membiarkan istrimu sendiri sedari tadi, sedangkan kau enak-enakan di sini." Sungut Ana pada Sean.


"Lalu, aku harus bagaimana?" Tanya Sean bingung.


"Kau ya... sudah tau kalau istri sedang ngambek tapi tidak ada bujukan sama sekali. Punya hati tidak sih." Ketus Ana.


"Tidur di luar malam ini." Sambung Ana. Sean tergagap mendengar ucapan jika dirinya harus tidur di luar mala mini.


"Ehh... eh... jangan dong, sayaang. Kenapa begitu." Sean mencoba untuk merayu Ana. Diva terkikik melihat Sean kena semprot lagi dari Ana.


"Jangan marah ya, maafkan aku. Tidak lain kali deh ... ya.. yaa..." Sean memeluk tubuh Ana agar dirinya tidak tidur di luar kali ini.


"Kau sangat cantik jika tidak marah-marah." Celetuk


Sean.


"Oohh... jadi sekarang aku jelek begitu?" Sengal Ana lagi.


"Kau ini, tadi sudah mengataiku aneh, dan sekarang jelek. Nanti apa lagi, hah?" Kesal Ana. Kali ini wajahnya sangat menyeramkan bagi Sean.


"Aduuh... bukan begitu maksudku, sayaang. Aduuhh ... gimana ya." Sean kelabakan kali ini.


"Sudahlah, aku tidak butuh rayuanmu lagi."

__ADS_1


"Ana sayangku, istriku yang paling cantik sedunia. Sudah ya, jangan marah-marah lagi. Aku janji akan menuruti apa yang kau minta. Tapi tidak dengan tidur di luar oke." Sean buru-buru membujuk Ana sebelum Ana marah lagi kali ini.


"Kau janji..." Sean menganggukkan kepalanya.


"Apapun yang aku minta?" Ucap Ana lagi.


"Iya aku janji, apapun yang kau minta. Aku pasti akan menurutinya, tapi jangan marah lagi, oke."


"Aku ingin makan sesuatu. Aku sangat lapar." Kata Ana.


"Ingin sesuatu? Apa itu?"


"Aku ingin sekali makan makanan Italia." Jawab Ana. Entah kenapa dirinya sangat ingin sekali memakan makanan Italia hari ini.


"Kenapa tumben sekali?" Sean mengangkat sebelah alisnya. la juga bingung kali ini, tidak biasanya Ana memakan makanan barbau Itali.


"Entahlah, aku sangat ingin sekali. Aku membayangkan makan pizza, pasta dan lainnya, sepertinya enak sekali." Ana membayangkan sambil mengusap-usap perutnya.


"Apa kau yakin?" Tanya Sean sekali lagi untuk memastikannya.


"Aku sangat yakin. Cepatlah Sean, aku sangat menginginkannya." Wajah Ana terlihat kembali sumringah kali ini.


"Baiklah, kau tunggu saja di mension ya. Biar aku saja yang keluar untuk mencarinya." Ujar Sean.


la mengecup singkat kening Ana lalu beranjak keluar untuk mencari restaurant khusus makanan Itali di sana.


"Jangan lama-lama yaaa." Teriak Ana saat Sean sudah melangkah jauh.


"Aunty... kenapa tumben sekali? Kan jarang sekali di sini makanan Itali." Tanya Diva yang juga sedikit bingung.


"Entahlah, Diva. Aunty sangat ingin sekali makanan itu." Jawab Ana.


"Aunty juga, sedari tadi marah-marah terus." Sambung Diva lagi.


"Ahh massaak siih... orang sedari tadi aunty diam saja kok." Jawab Ana. Sepertinya ia sudah lupa jika sedari tadi dirinya marah-marah tidak jelas. Diva melanjutkan saja menonton TV nya dari pada menyahuti Ana yang sedikit aneh hari ini.


"Kenapa Sean lama sekali, ya?" Ucap Ana di keheningan.


"Astaga aunty. Baru juga uncle keluar 5 menit yang lalu. Paling juga baru tiba di gerbang depan sana." Kali ini jawaban Diva sedikit meninggi. Bagaimana tidak coba, padahal baru saja Sean keluar dari mension. Ana sudah mengatakan jika Sean sangat lama.


"Sudah, Diva lanjut saja nonton TV nya." Cetus Ana. Diva menepok jidatnya sedikit keras.


Sedangkan di sisi Sean, ia merasa sangat bingung dengan tingkah Ana hari ini.


"Ana kenapa? Sedari tadi dia marah-marah, belum lagi dia meminta makanan Itali?" Gumam Sean merasa bingung. "Wajahnya kembali bahagia sekali saat


membayangkan makanan. Apa semua wanita seperti itu?"


Sambung Sean bermonolog pada dirinya sendiri.


"Tapi, hari ini dia tidak seperti biasanya? Apa dia habis terbentur tadi?" Ucapnya lagi menerka-nerka apa yang terjadi pada istrinya hari ini.


Tanpa mau ambil pusing, Sean melajukan saja mobilnya menuju ke salah satu restaurant khusus makanan Italia yang ada di sana.


****************


jangan lupa like dan vote ya

__ADS_1


sana gift juga


__ADS_2