
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan kami." Julian menirukan teriakan orang tadi dengan menye.
"Hahaha... tidak semudah itu untuk aku melepaskan kalian. Dan apa yang kau katakan tadi? Aku seperti banci dan memintaku berdandan seperti wanita lalu bernyanyi sepanjang jalan?" wajah yang tadi terlihat sangat tengil itu kini berubah menjadi mafia yang sesungguhnya.
Gelak tawa dan raut wajahnya seketika berubah, Julian berubah total dalam sekejap. Orang-orang tersebut terkejut melihat perubahan yang di tunjukkan oleh Julian.
"Apa kau tahu akibatnya jika sudah menghinaku? Dan apa kalian tahu akibatnya jika sudah bermain-main dengan kelompokku. Maka nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya." Julian menunjukkan senyum psikopatnya.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia," sambung Julian.
Doorr... dorr....
Doorrr... dorrr...
Dorr... dorr...
Tanpa berlama-lama Julian menembakkan pelurunya kembali. Dara mulai keluar dengan derasnya dari ke lima orang-orang itu, bau anyir darah mulai tercium dengan menyengat. Mereka kembali berteriak karena Julian tidak langsung menghilangkan nyawa mereka.
"Bagaimana? Apa kalian ingin mencoba senjataku yang lain?"
"Ambilkan aku yang lain," pintanya lagi pada anak buahnya.
"Kenapa kau harus menghentikan tembakanmu, heh?" dalam keadaan seperti itu, salah satu di antara mereka masih sempat-sempatnya berbicara seperti itu pada Julian. Yang lain hanya bisa diam, karena mereka sudah tahu siapa yang di hadapi.
Mereka terlalu bodoh jika melawan kelompok dari Julian, sudah tahu jika kelompok Julian merupakan kelompok penguasa, dan tidak akan mudah lepas jika sudah berada di tangan Julian. Entah kenapa merkea masih bisa nekad untuk bisa menggagalkan pengiriman senjata dan mengambilnya untuk untuk kelompok mereka.
"Bukankah kalian ingin mencoba senjata-senjataku? Maka aku membantu kalian dengan senang hati," jawab Julian kembali dengan mode tengilnya. Entah manusia seperti apa dia, cepat sekali dia berubah. Sebentar tengil, sebentar seperti psikopat.
Anak buah Julian kembali dengan membawa senjata yang lain sesuai yang di minta oleh Julian. Kali ini mereka membawakan senjata dengan sekali tembak mengeluarkan lima peluru.
"Bersiaplah kalian." Julian kembali mengarahkan senjatanya.
Door... dorr... dorr...
__ADS_1
Dua di antara mereka seketika langsung tewas, tinggal tersisa tiga lagi di sana.
"Lepaskan kami! Kami meminta ampun," mohonnya pada Julian.
"Emm... oke. Aku akan melepaskan kalian," jawab Julian dengan enteng.
"Tapi... setelah kalian membayar semuanya,"
Door... dor... dor...
Dorr... dorr... dorr...
Tidak mau berlama-lama Julian langsung saja menghabisi mereka. Mereka penuh dengan luka tembak dari Julian. Tumben sekali jika Julian langsung saja menghabisi mereka begitu saja.
"Lempar mereka ke kandang leopard. Aku malas sekali, harusnya aku makan enak di mension saat ini," gerutunya pada anak buahnya.
Julian melempar pistol yang ia bawa pada anak buahnya dan melenggang pergi dari sana. Ternyata dia merasa kesal karena waktu makannya terganggu, dia masih sempat-sempatnya mengingat makanannya di saat sekarang. Anak buahnya segera melaksanakan perintah Julian, seperti biasa jika tawanan yang tewas menjadi santapan leopard yang ada di sana.
Ke esokan harinya...
Menempuh waktu kurang lebih satu jam, Gerald sudah sampai di halaman kampus. Ia pun segera melepas helmnya dan turun, padahal hari ini ia tidak ada jam kuliah. Entah apa tujuannya untu datang ke kampus.
Sepanjang perjalanan banyak mahasiswi yang memandang takjud padanya. pandangan Gerald hanya fokus ke depan tanpa melihat kanak dan kiri. Tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang mendekatinya dan berbicara padanya.
"Hai, kita berjumpa lagi? Apa kau sangat sibuk? Aku kemarin tidak melihatmu sama sekali," sapanya. Tanpa berbasa-basi ia mengajak Gerald berbicara.
Gerald pun menoleh ke arahnya, ia pun tersenyum lebar karena pertama kalinya Gerald menatap menoleh ke dirinya. "Hai, juga senang bertemu denganmu."
Senyum lebarnya semakin terlihat, karena akhirnya Gerald menoleh ke arahnya dan meresponnya. Berhari-hari ia selama ini mendekati Gerald, tetapi usahanya tidak pernah berhasil. Siapa lagi orang itu kalau bukan Sisca, dia merasa sangat senang karena kali ini bisa berbicara dengan Gerald.
"Aku lebih senang bisa bertemu denganmu,"
jawabnya dengan terlihat malu-malu. Di hadapan Gerald saja ia seperti gadis pemalu, padahal di hadapan yang lainnya dia seperti kucing garong.
__ADS_1
Gerald kembali memfokuskan padangannya ke depan dan melanjutkan perjalanannya. Sisca mengikuti ke mana saja langkah Gerald.
"Apa kau hari ini sibuk?" tanyanya pada Gerald.
"Emm... kebtulan aku free. Ada apa?" Sisca semakin bersemangat dengan respon yang di tunjukkan Gerald padanya.
"Aku ingin mengajakmu untuk makan siang, apa kau bersedia?"
"Hmm... siang ini sepertinya aku tidak bisa. Mungkin malam nanti jika kau tidak keberatan," jawab Gerald melirik sedikit ke arah Sisca.
"Tidak-tidak, aku sangat tidak keberatan." Sisca terlihat sangat antusias mendengara jawaban dari Gerald.
"Oke, aku yang akan menentukan tempatnya. Berikan ponselmu, agar nanti aku bisa dengan mudah menghubungimu." Gerald mengulurkan tangannya meminta ponsel milik Sisca. Tanpa berlama-lama Sisca segera memberikan ponselnya pada Gerald dengan senang hati.
Gerald menscroll-scroll layar ponsel milik Sisca, entah apa yang sedang ia cari. Gerald pun menulis nomor ponselnya dan mencoba untuk menghubungi nomornya sendiri.
Kriing... kriing...
Bunyi ponselnya terdengar, Gerald menunjukkannya pada Sisca dan memberikan ponsel milik Sisca kembali." Nanti aku hubungi untuk tempatnya."
Sisca menganga tidak percaya, akhirnya dia juga bisa memiliki nomor ponsel milik Gerald. Ternyata semuanya sangat mudah, pikirnya.
"Kau harus datang sendiri, tidak perlu membawa siapa-siapa, termasuk teman-temanmu," ujar Gerald.
"Ahh.. iya... iya...." Sisca mengangguk sangat antusias. Gerald tersenyum miring lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sisca yang sedang berbahagia.
"Yeess... akhirnya aku bisa mendapatkan nomor ponselnya. Dia juga mengajakku dinner? Waahh... bagaimana jika putri keluarga William tahu tentang ini?" Sisca tersenyum jahat di sana.
"Hah, aku akan mengirimkan gambar makan malamku nanti bersamanya," sambungnya yang memiliki rencana busuk.
"Sebaiknya aku pergi dan bersiap untuk malam ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," ujarnya lalu pergi dari sana.
Gerald yang bersembunyi di sana kembali tersenyum miring melihat Sisca yang begitu antusias. "Heh, dasar gadis bodoh!"
__ADS_1
Gerlad pun pergi dari sana dan melanjutkan perjalanannya.
Setelah mendapat ajakan Gerald, Sisca langsung meluncur ke salah satu mall untuk berbelanja. la memilih-milih baju yang akan ia kenakan nanti. Dia benar-benar sangat antusias, ia tidak mau melewatkan momen ini.